
Pintu ruangan itu terbuka. Seorang pria berkacamata hitam, masuk ruangan, diikuti dua orang lainnya. Cahaya terang membias masuk dari arah luar, membuat silau pandangan. Hingga yang terlihat hanya siluet tiga orang tinggi tegap dan atletis.
Namun ketiganya melihat keheranan pada pemandangan di depannya. Dua orang yang mereka kurung di dalam, tergeletak di lantai. Terlihat seperti orang pingsan.
Setelah mengamati sebentar, "Tampaknya mereka senang berada di sini. Kalau begitu, aku tak perlu membuang waktu percuma. Tempatkan saja mereka sebagai pelayan atau pekerja di perkebunan. Jadi bisa tinggal di sini, selamanya!" ujar pria berkacamata hitam.
"Baik, Tuan!" jawab pria di sampingnya.
Ketiganya melangkahkan kaki lagi menuju ke luar ruangan.
"Tunggu!" terdengar seruan seorang pria.
Tiga pria yang hendak pergi tadi menghentikan langkah. Salah satu menoleh dengan wajah tak senang ke arahnya.
"Beraninya kalian bersiasat!" hardiknya marah. "Tidak tau diri!"
"Aku ... maafkan kami. Kami tidak tahu siapa dan apa tujuan kalian," sahut pria itu. "Tapi, aku seperti mengenal suara tadi," tambahnya.
Namun pria berkacamata itu tetap melanjutkan langkah keluar ruangan. Panggilan pria di dalam, tak dihiraukannya lagi. Dua pria berseragam mengikutinya ke luar. Pintu ruangan kembali dikunci dari luar.
"Mereka tak bisa dikelabui. Kita salah strategi!" sesal Oscar.
"Tadi kau bilang, mengenal suara itu. Coba kau ingat-ingat, siapa rekan bisnismu yang suaranya seperti itu. Yang perawakannya tinggi dan atletis begitu," saran Nathalie.
Oscar terdiam. Dia berusaha mengingat satu persatu rekan bisnis dan orang-orang yang dikenalnya. Hingga kepalanya merasa sangat sakit. Tak lama, hidungnya mimisan, dan dia pingsan. Hal itu membuat Nathalie panik.
"Oscar ... Oscar! Kau kenapa?" teriaknya ketakutan.
"Orang-orang itu! Semoga belum jauh," harapnya. Dia berlari ke arah pintu, dan menggedor-gedornya.
"Tolong!" teriaknya panik. "Tolong Oscar! Dia berdarah dan pingsan!" teriaknya keras. Lalu menggedor pintu lagi.
Nathalie dapat mendengar langkah kaki berlari menuju pintu itu. Dia terus menggedor dan berteriak.
"Tolong!"
"Ya, kami mendengarnya. Kau, mundur dari depan pintu jika sayang nyawamu!" teriak seseorang di luar.
"Ya!" Nathalie menjawab patuh, dan menjauh dari pintu. Dia berlari menuju Oscar yang tergeletak pingsan.
Terdengar suara kunci pintu dibuka. Lalu pintupun terbuka. Sinar silau itu membuat dua orang yang masuk, hanya serupa siluet hitam.
Tapi Nathalie tak lagi ingin tau mereka siapa. Menyelamatkan Oscar jauh lebih penting sekarang.
"Ada apa!" bentak orang di sana. Sebuah senapan diarahkan pada Nathalie dan Oscar.
"Hidung Oscar tiba-tiba berdarah. Lalu dia pingsan!" isak Nathalie kebingungan. "Tolong periksa dia. Kumohon ...."
Salah seorang mengangguk pada yang lain. Orang itu maju mendekat. "Jangan coba6 bersiasat, Nona. Atau peluru akan menembus kepalamu!" ujar orang itu memperingatkan.
"Tidak. Aku tidak berani." Nathalie menjauh dari Oscar, untuk membiarkan orang itu memeriksa.
"Lihat, aku tak berbohong. Dia pingsan begitu saja setelah mimisan." Nathalie merasa tak berdaya sekarang.
Pria yang memeriksa, berbicara melalui radio, meminta pendapat atasannya.
Tak lama, terdengar suara orang-orang berlari. Sebuah brankar didorong masuk, diikuti seorang wanita dengan stetoskop menjuntai di lehernya.
Nathalie memperhatikan dokter itu memeriksa dan memberikan suntikan. Dia merasa sedikit lega, karena ternyata fasilitas di tempat ini cukup lengkap. "Oscar, kau akan baik-baik saja," bisiknya lirih.
Tubuh Oscar diangkat ke atas brankar dan didorong keluar. Nathalie berdiri, dia ingin mengikuti mereka.
"Tunggu, Nona!" dokter wanita itu mencegah Nathalie.
"Kau harus mengatakan apa yang terjadi, padaku. Hanya dengan cara itu kita bisa menolongnya," ujar dokter itu.
"Mari kita berbincang di luar," ajaknya.
"Hah?"
Nathalie sedikit bingung. Karena ternyata dia bisa keluar begitu saja.
"Oscar dibawa ke mana?" tanyanya. Dia bukan orang yang mudah mempercayai orang lain.
"Dia akan diobservasi di klinik. Tindakan selanjutnya, tergantung dari penjelasanmu!" jawab dokter itu.
"Baiklah. Aku akan mengikutinya." Nathalie mengangguk. Dia tak punya pilihan sekarang. Yang penting selamatkan Oscar dulu. Hal lain, bisa dipikirkan kemudian.
"Oscar benar, setidaknya, selama dua hari dikurung, tak ada seorangpun yang berani menggoda dan bersikap kurang ajar," batin Nathalie.
Dokter itu melangkah keluar. Nathalie mengikuti. Tumit sepatu mereka yang runcing, berdetak-detak berirama di ruangan itu. Seorang pengawal masih menunggu di pintu, lengkap dengan senapan di tangan.
Nathalie melangkahkan kakinya keluar ruangan yang telah mengurungnya selama dua hari. Di luar ternyata penuh cahaya. Tempat itu sangat terang, dengan dinding dan atap kaca. Ruangan di situ sangat asri, dengan beragam tanaman hias daerah tropis. Beberapa set coffee table diletakkan berjarak antara satu dengan lainnya. Memberikan sedikit privasi. Meja-meja itu diberi taplak linen putih dan vas bunga krisan aneka warna.
"Rumah kaca yang bagus!" puji Nathalie tanpa sadar.
"Nona!"
Suara panggilan itu menyadarkan Nathalie. Dia sudah tertinggal jauh. Nathalie berjalan cepat menyusul dokter wanita yang sekarang sudah bisa dilihatnya.
"Dia dokter yang cantik dan seksi. Layak dapat nilai delapan" pikir Nathalie.
Dokter itu membawanya menuju sebuah ruangan lain. Ada seorang pria berseragam abu-abu silver yang clean. Berkacamata dan terlihat cerdas. Dia memberi anggukan pada dokter wanita itu saat melihatnya masuk.
Kemudian seorang wanita muda lain dengan seragam yang sama, berdiri melihat dokter dan Nathalie melewatinya.
Wanita itu menyampaikan beberapa laporan yang Nathalie tidak mengerti. Setelah itu, dokter itu memberikan beberapa instruksi. Wanita itu mengangguk dan melakukan pekerjaannya.
Sekarang, dokter dan Nathalie melanjutkan langkah memasuki sebuah ruangan tertutup lainnya.
Ruangan itu seperti ruang periksa dokter. Tidak cukup besar, tapi terlihat nyaman.
Dokter wanita itu duduk di kursi di depan meja besar yang berisi komputer dan peralatan lain. Lalu dia menunjuk kursi di seberangnya.
"Silakan duduk."
Nathalie duduk dengan patuh. Tapi dokter itu belum bicara. Dia masih membuka layar komputernya. Telepon di meja, berdering. Dengan sigap, diangkatnya tpon dan mendengarkan suara-suara dari seberang. Mereka berbincang sejenak, sebelum menutup telepon.
Dokter itu mengetik pada keyboard dan melihat komputer dengan serius. Dahinya yang licin dan sangat putih itu, sedikit mengerut. Akhirnya dia mendesah panjang.
Nathalie bersiap dan berdebar-debar ketika dokter itu mengalihkan pandangan padanya. Pandangan itu sangat serius.
"Aku dokter Sarah. Ahli Neurologist," ujarnya memperkenalkan diri.
"Aku Nathalie. aku—"
Sarah mengangkat tangan, meminta Nathalie berhenti menjelaskan detail dirinya.
"Nona, aku hanya perlu mengetahui tentang penyakit pasienku. Aku tidak tertarik dengan detail orang lain! Apa kau mengerti maksudku?" tanyanya memastikan Nathalie mengikuti aturan yang berlaku di tempat itu.
"Aku mengerti."
Nathalie mengangguk cepat. Dia bisa menebak situasi, bahwa dokter dan petugas medis dilarang ikut campur urusan diluar medis. Jadi dia hanya harus menceritakan yang perlu tentang keadaan Oscar saja.
"Katakan kenapa pria itu bisa seperti itu!" ujar dokter Sarah datar.
*******"