
Ammo memasuki lift khusus menuju garasinya. Di dalam lift, hanya ada keheningan. Keduanya tenggelam dalam pikiran masing-masing.
Tak lama pintu lift terbuka. Mereka keluar. Ada belasan mobil mewah diparkir di sana. Mata Ana membulat.
"Apa kau lupa kalau aku sedang dalam penyamaran sebagai guru yang sederhana? Bagaimana mungkin aku membawa mobil seharga jutaan dollar?!" Ana keheranan.
Ammo tak menjawab. Kakinya melangkah ke satu arah. Ana melihat mobil mungil cantik warna powder blue dan hitam dof. Dia menyukainya, meski dia tau mobil itu juga pasti tidaklah murah. Tapi dia tak menunjukkan ekspresi senang itu pada Ammo. Ana tetap berjalan tenang.
"Apa ini sesuai seleramu?" tanya Ammo saat keduanya sampai di sana.
"Lumayan. Tampilannya sederhana. Apa kelebihannya?" tanya Anna datar.
Ammo tersenyum samar. Dia lalu memencet tombol pada gantungan kunci mobil. 2 pintu depan terbuka naik ke atas. Ammo masuk dan duduk di kursi pengemudi. Anna ikut masuk dan duduk. Pintu kembali tertutup setelah Ammo menencet satu tombol di dashboard. Kunci dimasukkan dan mesin mobil ready.
"Body dan kaca anti puru. Ini untuk mengaktifkan mode Stealth. Ini untuk mengganti warna mobilmu. Ini untuk mengacak radar, merusak sinyal deteksi. Ini mode tembak di depan. Ada 2 penuncur roket ke arah depan. Dan ada 2 lagi untuk musuh di belakang. Kau bisa gunakan ini dan ini...."
Ammo menjelaskan berbagai fungsi tambahan pada mobil vw bettle itu.
Ana mengangkat tangannya mengisyaratkan agar Ammo berhenti bicara. Ada panggilan telpon masuk. Dia mengangkat telepon dan mendengarkan.
"Tanaman yang anda kirimkan rusak. Tolong segera kirim gantinya!"
Telepon ditutup.
Ana tercekat. Itu suara Bill, rekan Maya.
"Aku harus melihat Maya. Dia dalam bahaya!" ujar Ana segera.
Ammo dan Ana keluar mobil. Ana pindah duduk di kursi pengemudi.
Ana mencoba menghubungi Gwen untuk menanyakan Rumah Sakit tempat Maya dirawat.
"Siang Gwen, ini Shasha. Aku teringat asistenmu kemarin dan berpikit untuk menjenguknya selama aku di luar. Dimana dia dirawat?" tanya Ana.
"Dia dibawa ke rumah sakit Sentral. Aku di rumah dan tidak diijinkan daddy untuk melihatnya. Tapi ada orang-orang bersenjata yang menjaganya." Jawab Gwen.
"Apa mereka orang-orangmu? Bisa informasikan jika aku ingin membesuk?" tanya Ana dengan kening mengerut.
"Bukan! Itu sebabnya Daddy melarangku ke sana. Kau juga sebaiknya tidak terlibat."
"Thanks Gwen."
Klap!
Telepon ditutup.
"Tidak!" Ammo menggeleng.
"Gawat! nyawanya terancam!" gumam Ana. Harusnya George mengantisipasi ini dan mengirim orangnya. Tapi George tak menginformasikan apapun. Artinya, orang-orang bersenjata itu bukan kiriman Biro.
'Apa dia mau mengorbankan Maya?' pikir Ana marah.
"Kemana jalan keluar?" tanya Ana lagi.
Ammo menunjuk satu arah. Dia tak bisa ikut bersama Ana meskipun ingin. Bagaimanapun, Ammo juga adalah agen undercover. Dia tak boleh terlihat publik bersama siapapun yang mungkin sedang diperhatikan musuh. Atau semua jerih payahnya selama ini, akan sia-sia.
Ana mulai mengemudi dengan tenang di sepanjang jalan menuju keluar. Jalan ini berkelok-kelok menurun. Jadi, parkir kendaraan Ammo ada di lantai atas.
Hari Minggu, jalanan ramai. Ana memacu mobilnya dengan kecepatan rata-rata. Mobil seperti ini tak boleh sampai ditilang polisi. Bahaya!
Ana berbelok, mengarah ke timur, dimana Rumah Sakit Sentral berada. Diliriknya cermin di atas kepalanya. Ada satu mobil yang terus mengikutinya sejak melewati blok Hotel Oswald.
Ana masih mengemudi dengan santai. Hingga perempatan lampu merah.
Dipasangnya pengacak radar dan sinyal. Dibukanya jalur komunikasi khusus dengan Ammo.
"Ada yang mengikutiku sejak aku keluar parkir di blok hotelmu! Jalur itu sudah tak aman. Kau harus segera menutupnya!" lapor Ana pada Ammo.
"Sial!" Ammo menggertakkan giginya menahan kesal.
'Ada yang menargetkan Ana dan sekarang mereka menemukannya hingga ke sini!' batinnya. Dia harus lebih waspada dengan mata-mata di timnya.
Ammo memperhatikan layar komputer yang menunjukkan jaringan jalan. Dipilihnya gambar jalan dari depan kantornya menuju RS Sentral. Dia menemukan mobil Ana di perempatan City Town Square, menunggu lampu merah.
Ammo mengetik di keyboard.. Lampu depan Ana menyala hijau beberapa saat. Dan begitu Ana meluncur, Lampu itu kembali merah. Ana mengambil jalan lurus ke depan, walaupun seharusnya dia berbelok ke kiri.
Ana dapat lepas dari penguntit yang tertahan lampu merah yang sangat lama di belakang sana.
Di belokan pertama, Ana langsung memutar kemudi. Masuk gang kecil belakang pertokoan yang hanya dilalui mobil pengangkut sampah. Tempat itu kumuh dan sepi. Hanya ada beberapa gelandangan beristirahat diantara jejeran box sampah milik toko-toko tersebut.
Dia harus segera menghilang dari pandangan penguntit itu. Digantinya warna mobil biru itu menjadi kuning muda khas mobil VW bettle. Lalu keluar menuju arah berlawanan. Dia membatalkan rencana mengunjungi Maya. Tapi tidak langsung pulang ke rumah.
******