Code Name: ANGEL K05

Code Name: ANGEL K05
127. Hadiah Sebelum Hukuman


"Coba katakan sesuatu tentang Nick!" kata Ammo.


Kapten Smith menghela nafas. Cara Ammo bertanya ttg Nick sangat halus, tidak seperti interogasi yang mungkin akan menyinggungnya. Tapi ini justru terasa lebih berat bagi Kapten Smith. Karena penilaiannya atas Nick ternyata tidak akurat. Artinya, dia tidak cukup cakap memimpin tim untuk menjaga Ammo.


"Akan terasa basi jika kukatakan bahwa aku tidak tahu menahu tentang pembelotan Nick! Tapi selama lima tahun dia berada dalam tim, dia belum pernah melakukan hal menyimpang. Bahkan membantah pun, tidak." kata Kapten Smith.


"Tapi sebagai atasannya aku bersalah karena kurang teliti, penilaianku tidak akurat dan akhirnya membahayakanmu. Aku jadi teringat peristiwa saat kalian ditembaki ketika menjemput jenazah Carl. Aku sadar kealpaanku bisa membahayakanmu. Aku bersedia dihukum!" ujar Kapten Smith.


Ammo mengetuk-ngetuk jarinya di meja, seperti kebiasaannya jika sedang berpikir. "Saat itu, ketika dia menghilang cukup lama, aku awalnya curiga. Dia langsung tak terlihat begitu aku dan Bibi Harriet melompat dari mobil." Ammo menceritakan kembali peristiwa itu.


"Kemudian aku dengar beberapa tembakan di kejauhan. Saat itu barulah pikiranku kembali mengira dia berada dalam bahaya, demi meloloskanku dari kepungan."


"Tapi setelah mendapat info itu, aku jadi sangat kecewa. Pada siapa lagi aku harus percaya, jika pengawalku sendiri ternyata agen yang dikirim untuk membunuhku?" Ammo sangat kecewa saat ini.


Kapten Smith hanya menunduk. Tak ada kata apapun yang bisa diucapkannya untuk membela diri. Dia mengaku salah. Salah karena tertipu perilaku baik orang-orang jahat!


"Dan satu lagi. Saat aku di sana, dan kau serta Sawyer menyusul, ada dua orangmu yang tidak bersedia mengikuti perintah Alexei, meskipun Theo yang memberinya mandat.


Kapten Smith kembali terkejut. Dia segera mengangkat kepalanya yang menunduk.


Ammo menyerahkan dua nama yang ditulis Theo. "Selidiki dulu. Bagaimanapun, kita tak boleh gegabah!" ujar Ammo.


"Siap, Bos!" sahut Kapten Smith.


Terdengar ketukan di pintu. "Masuk!" panggil Ammo.


Theo masuk membawa teh sore, secawan susu, dan sepiring biskuit kezat. Dia menatanya di meja samping jendela. Kemudian Theo langsung keluar dan menutup pintu lagi.


"Ayo diminum!" Ammo mempersilakan.


Ammo mengangkat cangkir kopinya. Menghirup sedikit aroma wangi teh pilihan Theo. Dituangnya sedikit krim susu ke dalam cangkir teh. Lalu mengaduknya perlahan. Ammo menyesap teh itu sambil memejamkan mata.


Setiap kali Theo menyajikan krim susu bersama teh, Ammo langsung teringat ibunya. Teh kesukaan ibunya yang lain adalah teh dengan krim susu beraroma vanilla.


Kapten Smith ikut mencicipi teh di meja. Teh itu wangi dan menyegarkan. Terasa seperti sebuah hadiah, sebelum memberi hukuman.


"Bawa dua orang itu ke kamp pelatihan dan diselidiki," perintah Ammo.


"Baik!" Kapten Smith mengangguk. Cangkir teh dan tatakannya masih berada di kedua tangannya. Dia siap mendengarkan hukuman terakhir dari Ammo.


"Atur dua puluh orang untuk menambah pengamanan kantor!" perintah Ammo lagi.


"Baik!" sahut Kapten Smith.


Dia tak ingin bertanya ataupun protes. Setelah kehilangan muka gara-gara Nick, apa masih pantas untuk mempertanyakan keputusan atasan?


"Sisa lainnya menjaga seluruh halaman kediaman. Aku sudah meminta Alexei untuk menempatkan orang-orangnya di sini dan menjaga rumah." ujar Ammo datar.


"Siap! Akan segera kuatur!" sahut Kapten Smith cepat.


Ammo menyesap lagi tehnya. Kapten Smith mengikuti dan segera meneguk habis teh enak itu. Perintah sudah diturunkan.


"Baik. Kau boleh kembali!" ujar Ammo.


Kapten Smith meletakkan cangkir tehnya ke meja. Lalu berdiri dan sedikit membungkuk. Kemudian keluar.


Ammo menghempaskan nafas berat yang tadi ditahannya. Dia sangat tidak suka melakukan hal seperti itu pada orang-orang terdekatnya. Tapi kadang hal menyakitkan harus dilalui, agar kita bisa belajar.


Dari jendela itu, Ammo bisa melihat gazebo di kolam teratai. Wajahnya muram. "Betapa sulitnya untuk mempercayai orang-orang, Ibu," bisiknya.


"Aku merindukan kalian," ujarnya lirih.


*


*****


Ana sudah selesai mengurusi.Alena. Dibawanya wanita itu mandi dengan menutup matanya. Menungguinya buang hajat, Menggantikan bajunya. Mengembalikan lagi ke ruang rahasia. Kemudian masih harus membersihkan lantai basah akibat tumpahan air.


"Kau sudah lega sekarang?" tanya Ana. Dia kembali mengikat kuat gadis itu di kursi besi.


"Terima kasih," balas Alena.


"Jangan macam-macam. Kabel listriknya tersambung ke kursimu!" Ana memperingatkan.


"Ya!" jawab gadis itu patuh.


"Ini makananmu. Semangkok mie dingin yang tadi kubawakan. Kau mau?" tanya Ana.


Melihat gadis itu mengangguk, Ana membuka penutup matanya. "Lihat!" Ana menunjukkan mangkuk mie. "Aku bukan orang yang suka berbohong!" sambungnya lagi.


Alena mengangguk. Dan berhubung tangannya diikat ke kursi, Ana terpaksa menyuapinya juga.


"Kau tahanan paling merepotkan!" omelnya jengkel.


"Dia sebenarnya seorang gadis yang tangguh. Sayangnya, salah jalan," pikirnya.


"Apa rencanamu, setelah situasi tenang?" tanya Ana. saat


Tangannya cekatan membereskan mangkuk, sendok, dan gelas plastik. Tak boleh ada satupun benda-benda itu yang tertinggal.dan dijadikan senjata oleh Alena. Instingnya mengingatkan untuk tidak mempercayai gadis itu lebih dari lima puluh persen.


Alena terdiam. Entah dia belum punya rencana, atau memang tak ingin menjawab. Ana juga tak mendesaknya.


Ana sudah berdiri dekat pintu sambil memegang semua sampah bekas makan.


"Tak perlu terlalu kau risaukan tentang rencana. Bagaimanapun, aku belum akan melepasmu dalam waktu dekat. Tapi selama kau kooperatif, maka kau akan tetap hidup!" tegasnya.


"Jangan berpikir untuk lari, daat ini. Karena kau sedang diburu banyak orang!" kata Ana sebelum menutup pintu.


Ana membuang semua sampah yang dibawanya ke tempat sampah di luar rumah. Langit sudah mulai sore. Tapi pamannya belum juga kembali.


Diraihnya ponsel di meja, untuk memeriksa pesan masuk. Pesan Alexei ternyata sudah sampai sejak siang. Mengatakan akan pergi mengurus sesuatu. Tentang urusan tadi pagi, nanti akan dibicarakan langsung.


Kemudian pesan Ammo, mengatakan telah menahan Nick dan sedang menyelidikinya.


"Semua orang punya urusan!" gerutu Ana kesepian.


Dibukanya laptop dan mencoba mencari jalan masuk untuk mendapatkan pesan-pesan rahasia


Hingga dua jam lamanya, pekerjaannya tak membuahkan hasil. Ana menata ulang rencananya. Saudari kembarnya sudah ketemu. Bawahannya juga sudah ketemu semua. Ayahnya juga sudah diketahui jejaknya. Mudah-mudahan segera ketemu juga. Lalu apa lagi?


"Mencari penyebab kematian ibu? Sepertinya itu akan terungkap jika aku bisa bertemu ayah!" gumannya.


"Ayahnya pasti mengetahui pihak yang menghancurkan keluarga kami. Setelah itu rencana pembalasan pun bisa dimulai!" Ana menyeringai penuh amarah.


"Kalian sudah melakukan banyak hal busuk pada banyak orang. Saatnya untuk membongkar kedok dan menghancurkan para pengkhianat!" geramnya penuh emosi.


Kepala Ana mendongak mendengar suara ketukan di pintu. "Ya, sebentar!" ujarnya sambil berjalan ke pintu.


Ana membuka pintu. Seorang pria berpakaian koki, datang membawa satu tas di tangan.


Ana memiringkan kepalanya tak mengerti. "Ada apa?" tanyanya heran.


"Mayor Alexei memintaku membuatkan ini untukmu!" pria itu mengangkat bungkusan tadi ke arah Ana.


"Oh, baiklah. Terima kasih!" ucap Ana sopan.


"Silakan didikmati. Aku permisi!" Pria itu berbalik dan pergi.


Ana kembali masuk rumah dan membuka bungkusan yang diantar. Aroma harum seketika menggelitik rasa lapar. Dibukanya kotak itu dengan cepat. Ekspresinya berubah bahagia.


Di dalam kotak ada sajian iga bakar dengan saus pedas dan mashed potato serta sedikit salad segar. Itu terasa luar biasa. Ana mencari sendok di laci, ketika ada telepon masuk. Itu Alexei.


'Yap!" sahut Ana. Mulutnya tak sabar untuk mulai menyuap sesendok salad.


"Tampaknya kau menyukai menu itu," kata Alexei.


"Hu-umm!" sahut Ana dengan mulut penuh.


"Hahahaha ... Suaramu makan saja sudah membahagiakanku," kata Alexei disela derai tawanya.


Ana mendengarkan saja pamannya mengoceh tak penting di telepon.


"Aku sedang di tempat Ammo. Memeriksa beberapa hal yang ditinggalkan Nick!" katanya memberi tahu.


"Tentang orang tua itu, dia sudah terlanjur pergi. Yapi nanti kita akan cari lagi!" janji Alexei.


"Oke," sahut Ana.


"Selama aku tak ada, kau bisa ambil makan di kantin. Aku sudah meminta koki menyiapkan untukmu," kata Alexei.


"Terima kasih, paman!" sahut Ana.


"Baiklah. Kau juga cepat beristirahat. Kunci pintu rumah. Juga rusngan bawah tanah!" pesannya.


"Oke!" sahut Ana.


Panggilan telepon pun terputus. Ana tersenyum melihat ponsel itu. "Beginikah rasanya punya keluarga?" pikirnya melow.


Pikirannya terbang kepada Nathalie dan pria tua yang ternyata ayahnya itu. "Apa yang dialaminya hingga harus cuci darah terus menerus?" pikir Ana.


"Ahhhh! Masih sangat banyak pertanyaan yang belum menemukan jawaban!" keluhnya jengkel.


********