Code Name: ANGEL K05

Code Name: ANGEL K05
198. Ultimatum Ana


Dan Ana memang tertidur. Tidur yang lelap, karena merasa aman. Dua jam berikutnya, pintu kamarnya diketuk dari luar.


Ana membuka matanya dan mengerjap beberapa kali. Terdengar ketukan lagi di pintu. Ana bertanya. "Siapa?"


"Aku!" Itu suara Nathalie.


"Ya, masuklah!" ujar Ana.


Dia bangun dari baring dan duduk di tepi tempat tidur.


Nathalie mendorong kursi roda ayahnya.


"Ayah, bagaimana keadaanmu?" tanya Ana hangat sambil memeluk pria itu.


"Seperti yang kau lihat." Pria tua itu tersenyum lebar.


"Ayah terlihat lelah," ujar Ana setelah menilai keadaan ayahnya.


"Tapi aku senang karena ingatanmu sudah pulih." Ayahnya menepuk-nepuk punggung tangan Ana.


"Kau harus mandi dan bersiap. Nanti terlambat. Acaranya dua jam lagi," Nathalie mengingatkan.


"Tak perlu repot. Biar begini saja," tolak Ana.


"Tidak! Acara hari ini sekalian acara pengangkatanmu sebagai Pemimpin Klan Khaan secara resmi. Jadi kau harus mengenakan pakaian tradisional klan ini," jelas ayahnya.


"Merepotkan sekali," gerutunya.


"Tidak. Kau akan sangat menyukainya," bantah Nathalie.


"Kalau memang kau sangat suka, kenapa kau tidak memakainya?" tanya Ana heran.


"Kita pakai bersama. Ayo ... jangan banyak pertanyaan."


Nathalie menarik lengan Ana ke ruang mandi yang hanya dipasangi sekat. Dua pelayan wanita mengikuti dua gadis kembar itu ke sana.


"Aku akan kembali ke ruanganku dan bersiap," ujar ayah dua gadis itu sebelum keduanya sibuk mandi.


"Ya!" sahut Nathalie cepat. Tampaknya gadis itu mulai hafal kebiasaan ayah mereka.


Dalam setengah jam, keduanya sudah mulai berdandan. Dua pelayan itu keluar ruangan. Namun tak lama kemudian masuk dua orang pelayan yang tampaknya lebih senior dari yang pertama.


Mereka membawa dua setel pakaian khas untuk Anastasia dan Nathalie. Keduanya membungkuk. "Mari kami bantu untuk mengenakan pakaian khusus anda, Pemimpin," ujar mereka serempak. Ana mengangguk mempersilakan.


Kedua gadis cantik itu langsung menghadap masing-masing pelayan yang akan membantu memakaikan pakaian khusus untuk pelantikan pemimpin baru.


"Apa kalian belum selesai?" Suara ayah sudah di depan pintu. Seseorang mendorong kursi rodanya masuk ke kamar Ana. Itu Xander, pengawal ayahnya.


"Selamat datang, pemimpin," sapanya hormat.


"Apa kabarmu, Xander?" sapa Ana.


Dia mengenakan pakaian tradisional klan. Baju dalam warna krem dengan bordiran dari leher hingga ke dada. Di bagian luar, semacam mantel cokelat tua panjang hingga ke mata kaki. Berbentuk kimono yang dipasang melilit. Kemudian kalung besar dan tali pinggang keemasan dipasangkan di tubuhnya. Sebuah ikat kepala dengan bordiran cantik, terlihat seperti mahkota. Tak lupa cincin khusus yang menandai dirinya sebagai pemimpin klan, juga dipasangnya.


"Kabar Baik, Pemimpin. Terima kasih," jawab Xander dengan sikap hormat yang sama.


"Acara akan dimulai dalam setengah jam lagi. Apa kita mau berangkat ke sana sekarang?" tanya Nathalie.


"Biarkan mereka menunggu sebentar. Ada yang mau ayah katakan padanya."


Ana duduk di kursi di depan ayahnya, siap untuk mendengarkan.


"Dalam acara nanti, mereka mungkin akan mengujimu. Jadi bersiaplah dan jangan sungkan untuk menunjukkan jati dirimu," ujar ayahnya.


"Mereka mungkin hanya ingin menunjukkan bahwa kekuatan mereka juga harus dihargai. Mereka ingin kau mengakui dan tunduk pada aturan klan seperti yang telah berjalan bertahun-tahun ini."


"Selain itu, jangan lupa bahwa kita tak bisa menduga dalamnya hati seseorang. Mungkin saja ada yang keberatan kau menjadi pemimpin klan, pada hal belum pernah menginjakkan kaki di sini. Mungkin saja ada yang merasa lebih berhak!"


"Aku tahu." Ana mengangguk.


"Kekuataan dan kekuasaan sangat menyilaukan. Bahkan keluarga saja bisa saling bunuh demi kekuasaan. Apa lagi jika hanya saudara jauh atau mungkin yang tersingkir dari pencalonan, karena kemunculanku."


"Bagus karena kau memahaminya. Aku tak perlu lagi bicara panjang untuk menjelaskannya. Sekarang mari kita berangkat," ujar ayahnya.


Rombongan itu berjalan keluar rumah. Dua pengawal Ana yang telah disiapkan Khouk, ikut mengantar. Selain Xander, Ana baru menyadari bahwa ada seorang pria lain yang terus mengikuti.


"Dia siapa?" tanya Ana pada Nathalie.


"Pengawal adikmu, tentu saja. Dia juga berhak untuk mendapatkan pengawalan. Aku tak mau terjadi hal buruk padanya," jawab ayah.


"Aku setuju," timpal Ana.


"Apa tempat acara dekat?" tanya Ana yang heran karena mereka terus berjalan kaki.


"Itu!" tunjuk ayah, ke arah bangunan yang berada di sebelah kediaman mereka. Ana mengangguk. Mereka berjalan tanpa terburu-buru. Setiap bertemu anggota klan lain, mereka langsung membungkuk, setelah melihat pakaian Ana.


Rombongan itu melewati pengawal yang menjaga pintu gerbang gedung tersebut. Lalu terlihat taman luas yang diatur dengan rapi. Ana mengangguk puas melihat penataan luar gedung pertemuan tersebut.


Mereka melewati lift yang memudahkan ayahnya menuju lantai atas gedung, tempat pertemuan berlangsung.


"Sebenarnya ini gedung apa?" tanya Ana. Kalau hanya tempat pertemuan, bukankah tidak perlu setinggi lima lantai juga.


"Di sinilah semua aktifitas klan diatur, diawasi dan dievaluasi. Ada banyak ruang kerja di sini. Seperti sebuah perusahaan besar. Dan kau adalah pemimpin utamanya," jelas ayahnya singkat.


"Jadi seperti gedung pemerintahan?" tanya Ana.


"Ya. Bisa dibilang begitu," angguk ayahnya.


"Kita sampai." Xander mendorong pria tua itu lebih dulu keluar dari lift. Kemudian menyusul Ana dan Nathalie yang berjalan berdampingan.


"Selamat datang, Pemimpin."


Suara itu menggema, diiringi tepuk tangan saat Ana muncul di pintu masuk. Tapi semua orang itu masih berdiri.


"Tunggu, Ayah," panggil Ana. Dia tak mau masuk ke ruangan yang tak menghormati dan menghargainya.


Xander berhenti mendorong kursi roda dan kembali ke sisi gadis itu. Suasana ruangan tiba-tiba hening melihat Ivan kembali ke dekat pintu masuk ruangan dan Ana tak berpindah juga dari sana.


Gadis itu melempar pandangan ke seluruh ruangan. Dia bisa melihat ketua penasehat itu tersenyum tipis diantara yang lainnya. Dia pasti telah mempengaruhi yang lain.


Tak ingin membuang-bunag waktu percuma, Ana mengangkat tangannya dan menunjukkan cincin yang menjadi tanda sahnya dia sebagai pemimpin klan. Ana ingin melihat, siapa yang masih berani tidak tunduk padanya.


Orang-orang sombong itu saling berpandangan dengan bingung. Jika tidak berlutut, artinya tidak mengakui cincin itu. Dan itu artinya pembangkangan.


Melihat tak ada yang berlutut, ayah, Nathalie dan para pengawal mereka langsung berlutut di hadapan Ana kemudian membuat sumpah setia.


"Sumpah kalian kuterima. Yang tidak tunduk pada Pemimpin Klan, silakan keluar dan turun dari gunung ini!" ujar Ana tegas.


Mendengar kata-kata Ana, para penasehat dan tamu lain tak punya pilihan lain selain ikut berlutut dan bersumpah setia.


"Setelah ini, aku tak ingin melihat ada pembangkangan lagi. Dan nanti aku akan memilih dan mengganti para penasehat lama dengan yang baru dan sejalan denganku!" Ultimatum Ana yang kedua ini, terasa seperti bom bagi para penasehat yang merasa posisinya lebih tinggi dari Ana.


Suara dengung mulai terdengar memenuhi ruangan. Hingga mereka lupa mempersilakan Ana untuk duduk di tempatnya.


*******