
Drone mulai memasuki halaman belakang rumah yang dicurigai Ana. Tempat itu sepi. Jarak halaman belakang yang luas serta posisi drone yang terlalu tinggi, membuat radar pemindai panas tubuh tak bisa bekerja optimal.
Ana memendekkan jarak dengan memasuki halaman belakang lebih jauh lagi. Beberapa pohon tak terawat, menyamarkan keberadaan alat itu. Sekarang di layar laptop dapat jelas terlihat orang-orang di dalam sana. Ada yang masih duduk, ada yang berbaring.
Ana mengamati dengan seksama, yang mana orang yang sebelumnya terbaring di lantai. Setelah dihitungnya, masih tetap ada dua belas bayangan merah di sana. Tapi tak ada lagi orang berbaring itu.
"Apa aku salah menilai? Mungkin saja memang tak cukup tempat tidur, hingga harus berbaring di lantai?" pikirnya.
"Ahh ... otakku telah dipenuhi oleh teori konspirasi. Hal-hal wajar jadi dicurigai," gumamnya tak berdaya.
Ana akan membawa drone itu kembali, ketika mendengar jeritan menyayat yang ditangkap oleh perekam suaranya. Dengan terkejut, Ana mencari asal suara dan melihat pindaian panas tubuh. Tak ada yang berubah di rumah itu.
"Lalu di mana? Perekam suara itu tak bisa menangkap suara yang terlalu jauh!" pikirnya.
"Apakah—?"
Ana terkejut dan berpindah ke rumah sebelah lagi. Dua orang yang dia lihat tadi siang.
"Ya Tuhan!" serunya tak percaya.
Di rumah itu kini ada banyak orang. Masing-masing berkumpul dua kelompok. Suara jeritan pilu wanita terdengar dari sana.
"Mereka menggilir dua orang itu!" teriaknya marah "Biadab!" wajsh Ana merah padam. Dia tak terima perlakuan bejat seperti itu terhadap para wanita.
"Apa yang harus kulakukan? Ayo Ana, berpikirlah lebih cepat!"
"Lapor polisi? Mereka akan kabur begitu mendengar suara sirine!" gumamnya bingung.
"Ahh!" Ana mendapat ide cemerlang.
Drone itu dipindahkan posisinya ke arah depan rumah. Dari jalan masuk yang siang tadi dilewatinya.
Ana merekam semua adegan dan teriakan itu lebih dekat lagi. Orang-orang di dalam sedang bersenang-senang, mereka tak tahu ada yang mengintip.
Ana menyambungkan internetnya melalui berbagai saluran, agar lokasinya tak terdeteksi. Dia membuat siaran langsung ke seluruh dunia dengan nama anonim. Namun Ana menulis dengan jelas, alamat dari tempat kejadian.
Drone itu berada di tempat terlindung. Di samping sebuah pohon besar di halaman depan. Ana memastikan komputernya terus menyala.
Dia segera mengambil perlengkapan lapangannya. Sekarang Ana sudah siap. Berpakaian hitam seperti ninja dan tertutup rapat, lengkap dengan penutup kepala yang memiliki kaca mata infra red sendiri.
Ana keluar dari rumah. Melihat ke kanan dan kiri. Tak ada yang mengintai. Dia dengan cepat berlari dan melompat ke arah pintu pagar depan. Dia harus masuk dari depan, agar tidak dicurigai sebagai tetangga yang usil.
Tiba di depan pintu yang tertutup, yang diyakininya dapat terlihat dari kamera drone. Ana mencoba membuka pintu. Itu terkunci tentu saja.
Dicobanya melihat jendela. Beruntung daun jendela hanya ditutup begitu saja. Gadis itu menyelinap masuk dari jendela yang tak terkunci. Dikeluarkannya dua pistol berperedam dari tempatnya. Dengan cepat dia masuk ke dalam kamar dimana lima orang sedang merubung seorang wanita yang sudah yak bisa bersuara lagi.
Tanpa berkata apapun, ditembakinya mereka satu-persatu. Semua rubuh tanpa bersuara. Peluru menancap tepat di titik vital dan mematikan.
Ana dengan cepat berbalik. Dia bahkan tak menoleh ke arah tempat tidur, agar wanita itu tak perlu terekam oleh kameranya.
Bergegas ditinggalkannya ruangan dan menuju ruangan satu lagi, yang ternyata agak di belakang.
Pintu terbuka. Terdengar tawa dan ucapan-ucapan mesum dari mulut-mulut kotor mereka. Ana langsung masuk dan menembaku mereka semua. Bahkan pria terakhir, yang sedang menegang, menoleh ke pintu dengan ekspresi antara terkejut dan ketakutan.
Ana tak berbelas kasihan. Ditembaknya pria itu tepat diantara dahinya dari jarak satu meter.
Ditendangnya pria itu, yang justru jatuh tertelungkup di atas tubuh si wanita.
"Sudah matipun, kau tak mau rugi!" umpatnya jengkel.
Ana keluar ruangan. Sudah tak ada lagi rona merah di kaca matanya. Tapi hidungnya mencium bau busuk yang kuat dari lantai atas.
"Bau bangkai?" tanyanya sendiri.
Ana naik ke lantai atas. Tempat itu gelap. Ana menyalakan senter di atas pelindung kepalanya. Dan dia segera shock. Dengan cepat, dicarinya stop kontak. Dia menemukannya, kemudian menyalakan lampu.
Tempat itu terang benderang kini. Lampu senternya tak lagi berguna. Sekarang, pemandangan menakutkan terhampar di depan matanya. beberapa tubuh kaku tanpa busana diletakkan sembarangan. "Mengerikan!" lirihnya.
Gadis itu turun, setelah merasa cukup melihat. Dia merekam saat keluar dari jendela yang sama. Lalu rekaman kacamatanya terhenti.
Ana melompat tinggi keluar dari halaman itu, menuju jalanan depan. Dia segera menyelinap masuk lagi ke halaman rumahnya. Membereskan senjata dan mematikan kamera drone. Alat itu segera dibawanya pulang.
Ana memeriksa tayangan siaran langsungnya. Mengejutkan! Banyak sekali komentar yang masuk dan mendukung pembunuh yang menghabisi para penjahat itu. Ana tersenyum simpul. Dia segera mematikan sambungan internetnya. Dia melihat, video itu sudah dicopy oleh banyak orang. Akunnya tidak dibutuhkan lagi.
Ana melepas pakaian hitam, serta perlengkapan lain yang dipakainya ke lokasi, termasuk drone. Semua diletakkan dalam kotak, kemudian dibawa ke basement untuk disimpan.
Ana kembali ke ruang atas setelah menutup rapat basement dan menggeser dinding dapur mundur ke belakang, bersama rak pantry yang melekat padanya. Dinding palsu itu dipastikan tidak bergeser bila didorong.
Ruang dapur kini sedikit lebih luas. Ana menata ulang meja dapur yang bisa diperpanjang sedikit. Sekarang, kesan meja makan itu seperti sebuah kitchen island yang padu.
Ana melihat ke sekitar. Sepertinya semua sudah sesuai dengan harapannya. Ana menyalakan mesin menyedot debu otomatis, lalu menyemprot ruangan dengan aroma lilac yang tajam. Dia lalu masuk kamar mandi dan membersihkan diri, dari jejak aroms yang mungkin tertinggal.
Sudah pukul empat pagi, dan tidak ada tanda-tanda dari pihak berwajib. Ana tak dapat berbuat apa-apa lagi. Dia tertidur setelah memasang topeng dan penyamarannya.
Ana terbsngun saat mendengar suara bel pagar. Dia menggeliat di sofanya yang nyaman. Ana segera memeriksa cctv, melihat siapa yang memencet bel.
"Ya, siapa? tanyanya dengan suara serak habis tidur.
"Kami dari kepolisian, Nyonya. Ingin meminta keterangan," sahut salah seorang polisi di depan pagar.
"Oke. Sebentar."
Ana memencet tombol untuk menyimpan penghalang anti peluru yang melindungi rumahnya semalaman. Lalu dia membuka pintu pagar secara otomatis.
Ana mematut diri di cermin dan merasa cukup puas dengan keadaannya yang agak berantakan dan muka bantal. Dia keluar ke teras, untuk menyambut polisi yang datang, lengkap dengan tongkatnya.
"Selamat pagi, Nyonya. Apa anda pemilik rumah ini?" tanya polisi.
"Bukan. Aku menyewa sejak bulan lalu," jawab Ana.
"Oke. Siapa nama Anda?" tanya polisi lagi.
"Apakah ada yang terjadi? Sejak aku ke sini, tidak pernah ada siapapun yang menyapaku," tanya Ana balik.
"Ada kasus pembunuhan di rumah sebelah, Nyonya. Jadi kami harapkan kerjasamanya," jawab polisi itu.
"Apa!" seru Ana dengan ekspresi sangat terkejut.
"Apakah di sebelah itu ada penghuninya? Aku tak pernah lihat," jawab Ana dengan mimik yang sangat meyakinkan.
"Itu sedang didalami, Nyonya," sahut di polisi. "Sekarang, bisakah kami mendata Anda?" tanyanya lagi.
"Tentu," jawab Ana cepat.
"Silakan duduk. Apa saja yang ingin anda ketahui?" tanyanya.
"Nama Anda?" tanyanya.
"Amanda Willembourg," sahut Ana cepat.
Ana menjawab semua pertanyaan polisi. Disertai pemeriksaan ke dalam rumah, menghabiska waktu hingga satu jam.ana merasa bosan mendengar banyak pertanyaan. Jadi dia menguap lebar beberapa kali, agar polisi itu mempercepat urusannya.
"Pak polisi, anda belum menyebutkan. Yang tewas itu pria atau wanita?
"Sebelas pria tewas, dan dua wanita dalam keadaan kritis.
Ana sampai terlonjak ke belakang sebab terkejut.
"Banyak sekali yang yang tewas?" ujarnya dengan ekspresi takut
*******