Code Name: ANGEL K05

Code Name: ANGEL K05
135. Pemulihan Ana


"Bagaimana kabarmu?" Donny dan Ivan mengunjungi Ana.


"Kalian juga di sini?" tanya Ana lemah. Dadanya masih sangat sakit.


"Berarti Maya dan Bobby juga di sini! Syukurlah," lirihnya.


"Ya. Mereka dirawat di sini. Bobby sudah mulai membaik!" sahut Donny.


"Maya?" Lirih suara Ana bertanya.


"Menurutku, dia harus dirawat oleh ahli...." Ivan memutar-mutar jari dekat pelipisnya.


Ana mengerti maksudnya. Ivan ingin bilang kalau Maya memiliki gangguan di otaknya. Dan itu membuatnya sedih. Gadis baik dan patuh itu berakhir seperti ini. Dia hanya bisa menunduk.


"Aku harus segera pulih. Aku harus balaskan semua kejahatan ini!


"Ayah, apakah Paman Alexei sudah menghubungimu?" tanya Ana pada ayahnya yang berbaring di bed sebelah.


"Belum. Dia pasti sedang mengurus kejadian di klinik itu!" sahut Ivan.


"Ada kejadian apa di klinik?" tanya Ana heran.


"Sebelum mereka mengejar kita, para pembunuh itu telah membantai seisi klinik. Tak seorangpun yang selamat di sana!" jelas Ivan.


"Apa? Kejam sekali!" Ana memekik kecil. Kemudian mengeluh, karena dadanya terasa sangat nyeri akibat gerakannya yang tiba-tiba.


"Mengerikan! Siapa yang melakukannya?" tanya Donny


"Orang yang menyetrum Maya!" jawab Ivan.


"Perawat sialan itu?" Donny terlihat sangat kesal.


"Menurutku dia bagian dari The Hunters!" bisik Ana sambil menahan sakit.


"Kau terlihat sangat kesakitan. Sudahlah, kami keluar saja. Kau jangan banyak bicara dan bergerak dulu!" Donny dan Ivan pamit keluar.


"Anthony di mana?" tanya Ana.


"Dia sedang menyuapi Bobby," sahut Ivan.


Ana mengangguk. Mereka semua berkumpul di satu tempat. Jika Biro mengetahui, ini bisa sangat berbahaya. "Semoga tempat ini aman," batinnya.


Menjelang sore hari, Alexei datang bersama kiriman peralatan yang pertama. Itu adalah alat cuci darah untuk Ivan, ayah Ana. Besok adalah jadwalnya cuci darah. Hari ini saja dia sudah terlihat lemah, dan tidak turun dari tempat tidurnya.


"Bagaimana keadaanmu?" tanya Alexei.


"Sakit...." rintih gadis itu.


"Lain kali jangan teralihkan! Beruntung kau masih selanat!" omel Alexei.


"Paman, bagaimana dengan Alena? Aku menguncinya di basement!" tanyanya.


"Sudah kuhukum mati!" jawab Alexei.


"Hingga saat-saat terakhir, dia tidak menyesali apa yang telah dilakukannya. Dia hanya memanfaatkan kelemahanmu!" tambah Alexei lagi.


Ana terdiam. "Apa aku memang lemah? Terlalu lembut?" ujarnya dalam hati.


"Mulai sekarang, aku takkan pernah bernegosiasi lagi dengan mereka. Orang-orang yang tak bisa dipercaya!" janji Ana dengan suara geram tertahan.


Alexei dan Ivan Avraam tertegun mendengar ikrar Ana. akankah gadis kecil mereka berubah menjadi gadis yang keras hati nantinya?


"Keras boleh, tapi jangan kehilangan hati nurani!" sela Ivan.


Ana hanya diam tak menjawab. Alexei menghela nafas. "Apa kau pernah dengar tentang The Hunters Sayap Emas?" tanyanya.


Ana mengangkat wajah ke arah Alexei. "Paman dengar dari siapa lagi istilah itu?" tanya Ana perlahan.


"Alena. Dia bilang, tiga pembunuh di kebun anggur adalah bagian dari kelompoknya. Mereka ada dua puluh orang," terang Alexei.


"Dua puluh orang? Alena dan tiga temannya telah tewas. Tiga pembunuh di kebun anggur juga tewas. Apakah George palsu juga bagian dari mereka?" Ana berpikir keras.


"Ketika Alena menyebutnya, kukira akan sehebat apa Sayap Emas itu. Ternyata itu hanya hal yang dibesar-besarkan saja. Nyatanya kau sendiri mampu membunuh lima orang dari mereka tanpa perlawanan berarti!" Alexei tertawa sinis.


"Jika kita telah membunuh tujuh dari mereka, maka artinya masih ada tiga belas lagi yang menunggu. Minus George, jika dia memang bagian dari kelompok itu!" kata Ana.


"Tapi tadi pagi, aku melihat ledakan menghancurkan tempat berkumpulnya para Sayap Emas dan pembunuh bayaran!" kata Alexei.


"Semoga saja ledakan itu menghancurkan pimpinannya sekalian!" geram Ana.


"Pimpinan? Kukira George adalah pimpinannya!" sanggah Alexei.


"Apa paman ingat apa yang tiga pembunuh itu katakan saat mendekati tempat persembunyian kita?" tanya Ana.


Alexei menggeleng.


"Dua orang lain mengingatkan mantan perawat itu. Jika laporannya tidak akurat, maka dia harus menghadap Bos! Berarti ada atasan yang mereka takuti! Dan itu pasti bukan George!" Ana mengurataran kesimpulannya.


Alexei mengangguk, mengakui kecerdasan Ana. Meski tubuhnya sakit, namun otaknya masih bisa berpikir dengan jernih.


Aku ingin segera keluar dari tempat ini!" keluh Ana.


"Jika kau sembuh, paman akan langsung membawamu pulang. Sekarang, berusahalah untuk segera pulih!" Alexei menyemangatinya. Ana mengangguk.


Perawat masuk dan mengantarkan makan malam.


"Tolong hidupkan televisi!" pinta Ivan.


Alexei menyetel televisi. Berita panas hari itu adalah meledaknya beberapa gedung pusat dagang, bahkan pusat kebudayaan negara Slovstadt, di berbagai belahan dunia.


Tiga orang itu terkejut melihat berita tersebut. Itu kerugian besar bagi Slovstadt.


"Ledakan itu terjadi hampir bersamaan!" seru Alexei.


"Lalu?" tanya Ana.


"Begini. Tadi pagi aku melaporkan hasil investigasi bawahanku tentang kafe Red Moon, pada Ammo. Aku juga menyampaikan info yang didapat, bahwa ada yang sedang merekrut pembunuh bayaran, untuk bersama-sama membereskan satu target, Scorpio!" tutur Alexei.


"Apa kau mau bilang, Ammo yang melakukannya?" lirih Ana dengan tengkuk bergidik. Pria lembut itu ternyata pembunuh berdarah dingin!


"Asumsiku begitu. Satu jam setelah laporan itu, bawahanku menunjukkan breaking news itu. Tapi aku belum melihatt berita tentang ledakan di seluruh dunia," jujur Alexei.


"Ammo tak mau lagi membiarkan orang menyerang kediamannya. Dia langsung membasmi dan memberi bonus pada negara itu!" Ana menyimpulkan.


"Bisakah paman membawakan komputerku ke mari, besok?" harap Ana.


"Tentu. Apa lagi yang kau inginkan?" tanya Alexei.


Ana menggeleng. "Paman lelah. Beristirahatlah!" ujarnya.


"Baik. Aku kembali dulu. Besok kubawakan keperluanmu!" janjinya.


"Kau juga harus punya semangat untuk sehat!" ujarnya pada Ivan.


"Tentu. Aku sudah menemukan satu putriku. Maka aku harus lebih sehat agar bisa bertemu yang seorang lagi. Itu akan jadi kebahagiaan terbesarku. Tak ada penyesalan lagi di hatiku, jika sudah bertemu kalian berdua," ungkap Ivan.


Alexei tak menjawab lagi. Suasana hangat sebelumnya, mendadak sendu. Dia tak terlalu suka atmosfer seperti ini.


"Aku pulang," Alexei bangkit dari duduknya dan mencium kening Ana.


Ivan masih melihat ke pintu, meskipun bayangan Alexei telah hilang.


"Apa kalian selalu seakrab ini?" tanyanya diliputi rasa iri.


"Kami belum lama bertemu. Paman Alexei juga mencariku bertahun-tahun. Dia merasa bersalah karena tak dapat menemukanku hingga kakek dan nenek meninggal," cerita Ana.


"Itu sebabnya dia sangat menyayangimu. Misinya hanya menemukanmu!" Ivan menyimpulkan.


"Apa dia sudah bertemu Nathalie?" tanyanya lagi.


"Belum. Ada banyak hal yang harus dilakukannya. Jadi rencana itu terus tertunda," sahut Ana.


"Aku ingin bertemu Nathalie secepatnya!" harap Ivan.


Ana menoleh pada ayahnya yang sedang memandangi langit-langit kamar.


"Sepertinya aku harus meminta Ammo memindahkan Nathalie ke sini," batin Ana.


Ana melihat bahwa ayahnya terlihat sangat lemah. Entah sampai kapan dia mampu bertahan dengan bantuan cuci darah ini.


********