Code Name: ANGEL K05

Code Name: ANGEL K05
114. Alena 2


Brankar itu sampai di ruangan besar yang dicat putih bersih. Sudah ada seorang dokter lain di sana, bersama dua perawat. Ternyata ada pasien lain yang juga sedang dalam penanganan.


Dokter yang tadi menyambut di depan, menunjukkan tempat dimana Bobby bisa diletakkan. Alexei dan Anthony segera mengangkat dan memindahkan Bobby ke bed yang dimaksud.


"Kami kekurangan tenaga. Bersihkan dan gantikan pakaiannya lebih dulu!"


Dokter tadi mendorong sebuah meja besi beroda berisi mangkuk air dan lap. Ada juga satu set pakaian pasien di letakkan di rak bawah meja itu.


"Aku bisa menanganinya!" sahut Anthony cepat.


"Kau tak butuh bantuan?" tanya Alexei.


Anthony menggeleng. Tangannya cekatan membuka pakaian Bobby. Menyadari Alexei masih mengamati di situ, Anthony berkata tegas. "Aku bisa melakukannya!"


"Oke!"


Alexei keluar dan mencari Ana yang tadi tidak ikut masuk. Dia tak menemukan gadis itu. "Ke mana dia?" pikirnya. Disusurinya kembali jalan masuk yang tadi dilewatinya.


"Anda mau kemana?" tanya Dokter yang tadi menyambut mereka. Dia sedang mendorong meja penuh peralatan menuju ruangan perawatan.


"Apa kau melihat wanita yang tadi bersama kami?" tanya Alexei.


"Aku melihatnya menyeret gadis itu ke toilet. Tolong, jangan tambahi pasien kami!" ujarnya sambil mendorong meja dan berlalu.


Alexei bergegas ke arah toilet yang berjarak tiga meter dari tempatnya. Dari balik pintu tertutup, dapat didengarnya suara gerundelan seseorang dan lenguhan orang lainnya.


Alexei membuka pintu yang tak dikunci. Dilihatnya Ana sedang menendangi Alena yang meringkuk di lantai toilet tanpa bisa melawan balik. Tangan dan kakinya masih terikat kencang.


"Kau bangsat pengkhianat! Karena kehadiranmu timku hancur! Berapa banyak yang mati karena bangsat-bsngsat pengkhianat seperti kalian! Aku akan memburu kalian semua. Semua! Hingga orang-orang yang sedang berkuasa itu!"


"Hentikan! Sudah ... kau bisa membunuhnya kalau begini. Bukankah lebih berguna jika dia hidup?" bukuk Alexei sambil menarik Ana menjauh.


"Jaga dia!" Mata Ana menyorot tajam, memperingatkan Alexei untuk tidak melewati batasan dan ikut campur urusannya.


Alexei mundur dan mengangkat kedua tangannya. "Aku akan mengawasinya di sini. Kau mau ke mana?" tanyanya sambil bersandar di meja wastafel.


Ana tak menjawab. Dia langsung berbalik dan menghilang dengan cepat dibalik daun pintu.


Alexei melihat gadis di lantai itu dengan sudut matanya. Gadis itu menatap balik dengan mata kucing yang minta dikasihani.


"Nona, kau salah paham padaku. Aku adalah orang yang akan menghukum lebih keras, siapapun yang berani menyakiti keluargaku!" Alexei berkata sinis.


Pandangannya yang merendahkan Alena, membuat raut wajah gadis itu langsung berubah. Dia kembali bersikap keras dan tegar. Tampak siap untuk menerima apapun yang akan terjadi padanya.


"Apa kau tau, wanita itu dulu agen terbaik di tempatmu? Dan kalian mengkhianatinya. Tinggal tunggu saja pembalasannya! Dan kau juga akan dibuang oleh mereka jika dianggap tidak berguna. Kemudian diburu The Hunters!" Alexei terkekeh mengejek sikap sok kuat Alena.


Alena mengatupkan rahangnya kuat-kuat. Dia tampak marah ketika atasannya dituduh buruk oleh orang lain.


Ana masuk dengan satu tas besar di tangannya. Dikeluarkannya beberapa peralatan dari sana dan ditaruh dilantai. Dipegangnya satu alat, lalu mendekati Alena.


Gadis itu menggeliat-geliat, menolak ditempeli alat apapun yang dibawa Ana.


"Pegangi dia!" seru Ana jengkel.


Alexei segera membantu memegangi gadis yang terus menggeliat seperti cacing di lantai.


Ana mendekatkan alat di tangannya. Memeriksa ke seluruh tubuhnya.


Kemudian sebuah suara berisik muncul saat alat itu menempel di pundak belakang Alena. "Ketemu!" senyum puas tergambar di wajahnya.


"Panggilkan Anthony kemari jika dia sudah selesai dengan Bobby!"


Alexei segera berdiri dan berjalan ke pintu. "Tunggu!" cegah Ana.


Gadis itu mendekai Alexei dan membisikkan sesuatu. Raut wajah Alexei berubah. Dia mengangguk mengerti, lalu keluar.


Ana kembali memeriksa tasnya. Dikeluarkannya lagi beberapa alat lain. Semua itu diletakkan berjejer rapi di meja wastafel, di atas sebuah kain abu-abu. Ditolehnya Alena dan mendengus merendahkan.


"Kau agen yang bodoh!" celanya kasar. Kebencian dalam suara itu tak ditutupinya.


"Paman sudah katakan hal tadi pada dokter itu?" Ana bertanya pada Alexei.


"Sudah. Mereka akan memeriksanya juga!" sahut Alexei.


Ana mengalihkan pandangan pada Anthony. "Kau adalah yang paling mungkin melakukannya dengan manusiawi!" ujar Ana.


Anthony pucat. Dia mulai bisa menduga apa yang akan dilakukan Ana.


"Tidakkah kau terlalu kejam padanya? Biarpun mereka kejam pada kita, bukankah ini akan terlihat sangat bar-bar?" celoteh Anthony.


"Bersihkan isi kepalamu!" Ana mengetuk dahi Anthony kesal.


"Jika kau ingin dia hidup, maka lebih baik kau yang lakukan. Jika aku yang melakukannya, maka akan kubuang saja tangannya itu, atau membunuh dan melemparnya jadi makanan buaya rawa. Tak perlu bersusah payah!" umpatnya.


Anthony bergidik ngeri mendengar penuturan Ana. "Ap-pa yang harus kulakukan?" tanyanya gugup.


"Sini!"


Ana menunjukkan lagi temuannya di punggung Alena. Anthony sudah jelas sekarang.


"Mengerikan!" ujarnya dengan wajah terkejut.


"Buka di sini dan keluarkan. Maka kau akan menyelamatkan banyak nyawa!" ujar Ana.


"Oke, akan kulakukan!" Anthony sudah siap sekarang.


"Kau orang jahat!" sambil lewat, diinjaknya kaki Alena yang tergeletak di lantai. Gadis itu memekik kesakitan saat mata kakinya diinjak kuat ke lantai keras.


Ana tersenyum samar. Setidaknya sekarang Anthony sudah lebih realistis melihat keadaan mereka. Tidak perlu terlalu baik pada orang jahat.


"Telungkupkan dia di lantai!" perintah Anthony.


Alexei bergerak cepat. Berdua Ana, mereka membuat posisi bahunya jadi lebih mudah bagi Anthony.


Alena masih berusaha berontak dan itu menyulitkan Anthony. "Jika kau ingin mati, maka teruslah bergerak. Aku akan menusukmu. Setelah apa yang kalian lakukan pada Bobby, kupastikan padamu, aku takkan segan untuk membunuhmu, meskipun mereka ingin menyelamatkanmu!" ketus Anthony.


Ancaman itu sukses membuat Alena terdiam. Gadis itu memekik saat pisau bedah digoreskan Anthony di punggungnya tanpa obat bius. Tubuhnya bergetar hebat. Dia bisa merasakan punggungnya seperti dikorek-korek oleh pisau tajam. "Apa yang mereka cari?" pikirnya sebelum pingsan.


"Ketemu!" Anthony mengeluarkan chip kecil yang menempel di tulang bahu bagian belakang Alena.


Ana mengambil chip penuh darah itu dengan pinset. Kemudian merendamnya dalam wastafel yang dibiarkannya tergenang.


"Kau bisa latihan menjahit luka padanya!" kata Ana enteng. Anthony mengangguk. Tangannya yang penuh darah telah sibuk menjahit luka sayatan di punggung Alena, dibantu oleh Alexei.


Ana keluar meninggalkan dua pria yang bekerja diantara genangan darah yang terserak di lantai.


Tak lama dia kembali. Menjinjing ember dan peralatan kebersihan d0i tangan kiri. Lalu satu bungkusan plastik di tangan kanannya.


"Kalian sudah selesai?" tanyanya datar.


"Tinggal pasang perban," sahut Anthony.


"Bisa kalian pindahkan dan bersihkan tubuhnya di bawah shower? Ini baju gantinya!" Ana melemparkan bungkusan plastik pada Alexei.


Dua pria itu memindahkan Alena yang pingsan ke area shower. Mereka harus membersihkan semua noda darah di tubuh gadis itu dan menggantikan pakaiannya.


Sementara Ana sudah sibuk menyiram darah di lantai toilet. kemudian menyeka hingga bersih dengan peralatan kebersihan.


Satu jam kemudian, tempat itu kembali rapi. Tak terlihat ada jejak darah apapun di situ. Alena masih pingsan. Kali ini karena Anthony menyuntiknya dengan obat penghilang rasa sakit.


"Bawa dia kembali ke mobil, dan jaga di situ!" kata Ana pada Alexei.


"Oke!"


Pria itu pergi sambil membopong tubuh Alena yang pingsan.


********