
Ana tak menyangka kalau Sawyer membawa dirinya dan Khouk menuju ke lapangan udara untuk menaiki jet Ammo. Tapi Ana hanya mengikuti saja. Dia menjaga Khouk di belakang.
Satu jam berikutnya, pesawat jet itu mendarat di tempat terpencil yang Ana ingat sebagai base camp Ariel dan teman-temannya. Berarti mereka diarahkan ke kapal selam Kapten Lance.
Saat pintu pesawat dibuka, sebuah brankar dan petugas medis telah menunggu. Dengan cepat mereka mengeluarkan Khouk dari pesawat dan mendorongnya pergi.
"Anda harus bersama dengan mereka saat ini, Nona," ujar Sawyer.
Ana mengangguk. "Apa kau akan langsung kembali?" tanyanya.
"Ya! Bos sangat membutuhkanku saat ini!" katanya.
Ana kembali mengangguk. "Berhati-hatilah." katanya sambil turun dari pesawat. Sawyer langsung menutup pintu pesawat dan memutarnya pergi. Ana mengikuti seorang pengawal yang terus menunggunya.
"Bagaimana kabar Kapten Lance?" tanya Ana.
"Sangat baik, Nona. Kita harus bergegas, Nona," ujarnya. Keduanya berlari-lari di dermaga kayu menuju sebuah kapal selam kecil yang dipakai untuk masuk ke dalam kapal selam lab itu.
Saat Ana sampai di sana, dia langsung menuju ke ruang perawatan umum. Tapi dia ditahan dan tak bisa masuk. "Aku mau melihat Khouk! Bagaimana keadaannya?" jelas Ana.
"Pria itu sedang ditangani dokter. Dia tak berpakaian. Anda yakin ingin masuk?" tanya salah satu petugas medis.
"Di mana Profesor Stone?" tanyanya.
"Di ruangannya seperti biasa," sahut orang itu. Ana ingin pergi ke tempat profesor Stone, tapi dia ragu. Khouk pingsan sepanjang perjalanan. Dia khawatir keadaan pria itu sedang dalam bahaya.
Didorongnya petugas medis itu ke samping dan menatapnya tajam. "Dia orangku! Aku harus melihatnya!"
Petugas medis itu menyerah melarangnya masuk.
Ana melihat seseorang ditutupi kain hijau, dibaringkan di meja. Lampu menyala terang di atasnya.
"Dok, aku hanya ingin tahu, apakah keadaannya berbahaya?" tanya Ana dari kejauhan.
"Dia masih hidup. Kami akan memeriksanya dengan lebih teliti setelah ini." sahut dokter.
Ana hanya bisa mengangguk. Dia tak mungkin berdebat dengan dokter yang baru saja menerima Khouk. Dengan berat hati dia keluar dan menunggu di bangku depan klinik itu.
Diambilnya ponsel dan menghubungi Ammo. "Aku sudah berada di kapal selam Kapten Lance," lapornya.
"Bagus! Kau harus bersembunyi di situ untuk sementara waktu!" perintah Ammo.
"Bagaimana situasi di Slovstadt?" tanya Ana.
"Perkembangannya bagus. Semoga semua sesuai dengan rencana," jawab Ammo.
"Aku dan Khouk tadi berhasil mengamankan beberapa cpu dan laptop sebelum gedung itu habis terbakar," lapor Ana lagi.
Lebih baik kau periksa informasi yang ada di sana. Mugkin bisa membantu kita mengganti pimpinan pusat Biro Klandestine!" harap Ammo.
"Akan ku lakukan!" sahut Ana.
"Beberapa orang yang dibawa Gan, kau kirim ke mana? Apakah bersama dengan para anggota klanku?" tanyanya lagi.
"Tapi aku mengkhawatirkanmu. Jika rencanamu tak berjalan mulus, posisimu akan sangat berbahaya!" Ana mengingatkan.
"Terima kasih sudah mengkhawatirkanku!" sahut Ammo. "Tapi jangan khawatir sampai saat ini, semua masih terkendali," tambah Ammo.
"Baiklah, aku harus bekerja dulu," Sambungan telepon itu terputus. Ana menatap ponselnya. Dia merasa Ammo menyembunyikan sesuatu darinya.
"Apakah keadaan jadi buruk di Slovstadt?" pikirnya khawatir. Ana bangkit dari duduknya dan bertanya pada penjaga, di mana Kapten Lance berada
Ana diantar ke sana. Kapten sedang berada di cafetaria. Dia berbincang dengan seseorang di situ. Ana mendekat dan menyapa.
"Senang bisa berjumpa lagi, Kapten!" sapa Ana.
"Ah, Nona. Kukira anda akan menunggu di klinik," sahut Kapten Lance tersenyum lebar.
"Tadi iya. Tapi aku ingin memeriksa Laptop yang kubawa dari operasi tadi. Apakah ada ahli IT di kapal ini?" tanya Ana.
"Ada. Kau, tolong antar nona ini ke kamarnya dan panggil Kevin untuk membantunya!" Kapten membuat pengaturan bagi Ana.
"Terima kasih, Kapten. Bantuan anda sangat berarti." Ana sangat berterima kasih untuk bantuan itu. Dia bukannya tak bisa menggunakan laptop, tapi karena ini adalah laptop orang lain yang mungkin diberi pengaman, Maka lebih baik orang yang punya kemampuan yang mengerjakannya. Agar segala data penting tidak sampai hilang.
Ana menunggu di kamarnya. Dia juga meminta orang itu membawakan barang-barang yang dikumpulkan dokter dari Khouk. Entah apakah Khouk menyimpan sendiri hasil rekaman cctv, ataukah itu dimasukkan dalam kotak yang berisi cpu. Ana tidak memeriksa hal itu secara detail. Tapi kotak cpu itu telah diamankan oleh Gan di mobil.
Tak lama pintu kamarnya diketuk. "Ya," sahut Ana. Dia berdiri dan membuka pintu. Penjaga tadi membawa seseorang bersamanya. "Ini Kevin, Nona," ujarnya memperkenalkan diri.
"Aku ingat pernah melihatmu waktu itu. Silakan masuk. Aku membutuhkan keahlian IT-mu," ujar Ana.
Kevin masuk dan duduk di kursi depan meja yang ada sebuah laptop di atasnya.
"Aku akan kembali ke klinik untuk meminta barang-barang pribadi pasien tadi," ujar penjaga di luar.
"Oke. Bwa ke sini apapun yang kau temukan. Kami harus memeriksa beberapa berkas penting sekarang!" Ana mengangguk, mengijinkannya pergi.
Kemudian pintu ditutup setelah petugas penjaga berbalik. Di ruangan itu hanya ada Ana dan Kevin. Hal itu sedikit membuat Kevin merasa tidak nyaman karena berdua dengan wanitanya bos.
"Aku ingin kau bisa membuka laptop ini dengan aman dan menyelamatkan berkasnya. Mungkin itu adalah hal penting yang ditunggu Ammo!" kata Ana.
"Baik!" Pria itu segera mengambil laptop di meja dan juga laptop serta peralatannya sendiri. Ana tidak ingin mengganggu. Jadi dia duduk di tempat tidur. Membuka ponsel dan mengirim pesan pada Gan.
Gan telah sampai di tempat persembunyian yang dipilih Ammo. Semua anggota klan senang bahwa aksi hari itu berhasil. Ana meminta Gan menyerahkan cpu yang disimpannya pada orang yang ditunjuk Ammo. Data di dalam kedua cpu mungkin sangat penting. Ana berharap semua data yang tersimpan bisa digunakan untuk menggulingkan rezim yang belum menyerah untuk mempertahankan kekuasaannya.
Pria penjaga akhirnya datang dan menyerahkan semua barang yang ditemukan di tubuh dan pakaian Khouk. Dia juga datang dengan informasi terkait Khouk.
"Orang anda tidak mengalami hal serius. Tidak ada luka dalam. Hanya tulang iga Khouk patah dua. Itu menekan paru-parunya. Dokter sudah melakukan tindakan untuk memperbaikinya. Mereka mengoperasi dan memasang pen di tulang iga pria itu untuk menyambungnya kembali ke tempatnya.
Ana memeriksa benda apa saja yang dibawa Khouk. Ada banyak benda asing yang Ana tak tau fungsinya. Tetapi dia segera menemukan Disk-disk memori yang menyimpan aktifitas di dalam gedung biro.
Sangat banyak disk yang diambil Khouk. Semua disk diberi label tahun. Ini juga harus diperiksa," pikirnya. Dia melihat ke meja. Kevin masih bergulat dengan tugas beratnya di depan laptop.
********