
"Tenang dulu. Dengarkan penjelasanku!" bujuk Alexei.
"Aku pamanmu, Ana. Aku kakak ibumu!" Alexei tak ingin bertele-tele. Ammo bisa menembaknya kapan saja, dan dia tidak dalam posisi bisa membalas.
"Apa!"
Ana dan Ammo serempak berteriak.
"Coba buktikan pernyataanmu!" tukas Ana tak percaya.
"Aku punya bukti fotomu dan Nathalie saat kecil. Tapi ada di motorku, di kediaman Oswald," jelasnya.
"Oke. Kita pulang dan buktikan di rumah!" putus Ammo. Ketegangan di udara itu, perlahan mengendur.
*
*
Di ruang tengah, Anmo dan Ana sudah menunggu. Alexei pergi mengambil foto yang dimaksudnya. Tak lama dia kembali dengan membawa sebuah amplop putih usang.
"Ini surat ibumu. Ada foto kalian saat baru berusia lima tahun!" Alexei meletakkan amplop itu di atas meja.
Ana segera meraih dan membukanya dengan tak sabar. Dan dia terperangah melihat foto itu. Disutu keluarganya lengkap. Ada ayah, ibu, dirinya dan Nathalie. Ana bisa langsung tahu, bahwa itu ibunya. Meskipun telah puluhan tahun berlalu, hati kecilnya yakin itu ibunya. Namun bayangan ayahnya, terasa samar dalam ingatannya.
"Aku bisa langsung mengenali ibu. Namun bayangan ayah terasa samar di ingatanku. Aku jg sudah lupa nama ibu dan ayah," lirih Ana sedih.
"Tak apa, aku akan mengatakannya. Ibumu Valentina. Ayahmu Ivan Avraam. Meskipun berasal dari Slovstadt, tapi keluarga kami sudah menjadi warga negara ini, sejak dari ayahku, kakekmu," jelas Alexei.
"Bisakah kau menceritakan tentang keluarga ibuku?" tanya Ana.
"Kami keluarga sederhana. Hanya petani kecil. Di keluarga, ibumu adalah putri satu-satunya. Kami tiga bersaudara. Yang terakhir meneruskan pertanian kakekmu di daerah selatan," Alexei bercerita sedikit.
"Bagaimana ayah dan ibu bisa bertemu? Apa kau tau?" selidik Ana.
"Mereka bertemu semasa pendidikan. Ayahmu bersekolah di negara ini dan satu college dengan Valentina. Mereka saling jatuh cinta dan tak bisa dipisahkan lagi."
"Akhirnya kakekmu meminta Ivan untuk menikahi Valentina sebelum membawanya kembali ke Slovstadt. Di sanalah kalian lahir dan tinggal. Hingga hari kejadian itu."
Ana bergumam. "Jadi, kami bukan tinggal di negara ini...."
Alexei menggeleng. "Bukan! Biar kukatakan padamu. Kami mengetahui kejadian itu, setelah lewat satu bulan. Itupun, aku tak sengaja mengetahuinya. Kau tau, aku tentara negara ini. Dan peristiwa yang menimpa keluargamu saat itu sedang dibahas oleh atasanku."
"Jadi, tak ada pemberitahuan dari sana tentang kami?" tanya Ana heran.
"Tak ada. Setelah mengetahui info itu, ayah menyuruhku mengambil cuti dan membawa kalian pulang untuk dirawat di sini," ujar Alexei.
"Tapi kita tak pernah bertemu," timpal Ana.
"Yah ... seperti yang kau tau. Aku tak pernah menemukan kalian. Awalnya kami kita, Ivan membawa kalian berdua dan meninggalkan kota itu, sepeninggal Valentine. Kami terus menunggu, tapi hingga lebih setahun tanpa kabar, kakekmu kembali mendesakku untuk mencari keberadaan kalian berdua."
"Aku sudah empat kali pergi ke Slovstadt untuk mencari kalian. Dan, sepertinya kehadiran dan pencarianku mendapat perhatian serius dari inteligent negara itu. Aku hampir tak selamat saat terakhir kali. Tapi hal itu justru jadi titik penyelidikan baru untukku. Bahwa kematian ibumu ada campur tangan dari Biro Inteligent negara itu!" tandas Alexei.
"Apa?" Ana sudah pernah berpikir seperti itu juga. Tapi kenapa berbeda rasanya, ketika Alexei yang mengatakan kebenarannya?
"Pantas saja setiap pencarianku, seperti menenukan jalan buntu!" sungut Ana.
"Kau mencari siapa?" tanya Alexei.
"Aku mencari ayah. Yang kuingat, di hari itu ayah pergi. Dan belakangan aku tau bahwa dia pergi membawa Nathalie. Aku bahkan lupa tentang Nathalie!" Ana berkata dengan suara ketus.
"Apa maksudmu lupa tentang Nathalie? Bukankah kau harusnya bersama dia?" tanya Alexei heran.
"Tidak, kami terpisah...." Ana menceritakan peristiwa yang diingatnya dan pertemuannya dengan Nathalie belum lama ini.
"Biadap!" geram Alexei. "Kalian dijadikan kelinci percobaan para maniak itu!"
"Lalu bagaimana dengan Nathalie?" tanya Alexei. Dia baik. Akan kukabarkan tentangmu padanya," janji Ana.
"Jadi sekarang bagaimana menghadapi mereka?" tanya Alexei.
"Aku ingin kembali ke Slovstadt. Tapi mereka sudah menyebar fotoku dimana saja. Aku sudah tak mungkin masuk ke negara itu," kata Ana.
"Di sini saja, dia harus menyamar, agar tak dikenali orang lain!" tambah Ammo. "Dan penyerangan ke kediaman ini serta kantor, juga berasal dari Biro Klandestine!" ungkapnya.
"Itukah sebabnya penampilanmu berbeda? Kau sedang menyamar?" tanya Alexei.
Fotomu yang ini, mirip dengan wajah ibumu saat kecil. Harusnya kau mirip ibumu setelah lewasa," ujar Alexei yakin.
Ana kembali tertawa. Kali ini Ammo ikut terkekeh mendengar asumsi Alexei. Dikeluarkannya foto lama Ana dan dirinya. "Tunjukkan yang mana Ana!" Ammo menguji Alexei.
"Ini!" tunjuknya yakin. "Sangat mirip dengan Valentina saat remaja!" komentarnya lagi.
Ana dan Ammo saling pandang. "Jadi, aku mirip ibu," gumam gadis itu.
"Hei ... kalian jangan terus bersedih!" terdengar suara sapaan dari arah ruang makan. Kursi roda Bibi Harriet sedang didorong oleh Kapten Smith menuju bagian tengah ruangan besar itu.
"Kenapa sangat lama?" tanya Ammo.
"Ada karnaval memenuhi jalan," jawab Harriet. "Aku ingin istirahat," ujarnya lesu.
"Baiklah. Theo, antarkan bibi untuk beristirahat!" seru Ammo.
"Ya, Tuan," sahut Theo. Didorongnya kursi roda Harriet menuju kamarnya.
"Kita juga lebih baik beristirahat sebentar. Ammo belum istirahat sejak kembali dari menjemput jenasah Carl," saran Alexei.
"Aku juga ingin istirahat." Ana berjalan menuju kamarnya.
"Dimana Ariel?" pikirnya. Dia tak melihat Ariel sejak tiba di rumah itu. Tapi Ana juga terlalu lelah untuk mengusili orang lain, saat ini.
Saat Theo kembali, Ammo memintanya menyiapkan kamar untuk Alexei beristirahat. Dan ruang tengah itu kembali sunyi, setelah dua hari yang menegangkan.
*
*
"Apa rencanamu, besok?" tanya Harriet sehabis makan malam.
"Aku harus bekerja dulu. Lusa aku akan mengunjungi Carl palsu," jawab Ammo.
"Bisakah aku ikut ke sana?" tanya Harriet.
"Apa Bibi benar-benar ingin bertemu dengannya? Kurasa itu hanya akan makin melukai hatimu," cegah Ammo.
Harriet menunduk. "Aku akan memikirkannya malam ini. Tapi tolong ... jika kau ingin menemuinya, beri tahu aku dulu. Mungkin aku berubah pikiran," harap Harriet.
Ammo mengangguk. "Aku akan kabari Bibi jika pergi."
"Lalu kau, apa rencanamu berikutnya?" Harriet mengalihkan pandang pada Ana.
"Aku mau pulang. Banyak yang harus kukerjakan," sahut Ana.
"Aku akan ikut denganmu. Masih banyak juga yang harus kita bicarakan," timpal Alexei. Ana manggut-manggut.
"Dan kau siapa? Aku belum pernah melihatmu sebelumnya!" Harriet mengerutkan dahi.
"Aku paman Ana," sahut Alexei singkat.
"Apa!" seru Ariel terkejut.
"Aduh ... telingaku bisa tuli keseringan mendengar teriakanmu!"
Ana mendorong tubuh Ariel menjauh. Diusap-usapnya telinga dengan wajah kesal pada Ariel.
Ammo diam sejenak, seperti sedang memikirkan sesuatu. "Aku ingin membicarakan hal penting denganmu," ucap Ammo pada Alexei.
"Oh? Baik." Alexei mengangguk.
Ammo berdiri dan meninggalkan meja makan. "Mari ke atas," ajaknya.
Alexei mengikuti langkah Ammo menuju ruang kerjanya di lantai dua.
Harriet melihat itu dengan kepala miring dan mata terpicing. Dia memiliki praduga-praduga tentang apa yang akan kedua orang itu bicarakan. Diliriknya Ana yang masih melotot dan bermuka masam pada Ariel.
"Gadis ini lebih terbuka pada Ariel, ketimbang Ammo. Apakah Ammo menyadari itu?" pikirnya.
******