Code Name: ANGEL K05

Code Name: ANGEL K05
184. Asumsi Dan Dendam


Ana terbangun pagi sekali dan langsung menyelesaikan file yang tersisa. Dia sedikit terkejut melihat informasi yang ada di situ. Ini info besar. Apakah ada hubungannya dengan pemberontakan klan saat itu yang membuat nenek dan ayahnya melarikan diri keluar dan akhirnya tewas tak tentu rimbanya?


"Aku tak percaya! Ternyata Biro Klandestine lah yang mengotaki dan merencanakan pemberontakan klan. Bekerjasama dengan salah seorang penasehat klan. Aku harus menyelidiki ini lebih teliti lagi," geramnya marah.


Dia menutup laptop dan membawanya ke tempat Khouk. Pria itu lama berada di klan, Dia sudah cukup umur untuk mengetahui banyak hal di sana. Ana mampir di kafetaria untuk mengambil jatah sarapan dan membawanya ke tempat Khouk.


"Pemimpin!" sapa Khouk saat melihat Ana masuk ke ruangannya.


"Kau sudah makan?" tanya Ana.


"Sudah. Sudah minum obat juga," jawabnya.


"Bagus. Sekarang bantu aku dengan melihat informasi ini. Dan jelaskan!" Ana membuka file yang ditemukannya.


Khouk memperhatikan file-file itu dengan seksama. Sedikit terkejut dan tak menyangka. Ana memperhatikan reaksi pria itu. Kadang keningnya mengerut, kadang kepalanya menggeleng-geleng.


Setengah jam berlalu, sambil Ana menikmati sarapannya disana. Akhirnya Khouk mendorong laptop yang sejak tadi diamatinya.


"Kau sudah selesai?" tanya Ana.


"Ya." Khouk mengangguk.


"Saya akan jelaskan yang saya ketahui. Orang yang dimaksud di situ memang termasuk dalam kubu pemberontak. Dia menjadi bagian kubu itu akibat pernikahan. Mereka yang berada di pucuk pimpinan, semua sudah dihukum mati. Termasuk orang yang namanya disebut disitu."


"Tapi saya benar-benar tak menduga kalau mereka menjalin kerjasama dengan Biro Klandestine! Saya rasa, Ketua Klan yang lama juga tidak menduganya," Khouk terdiam.


"Lalu bagaimana dengan keturunan para pemberontak itu?" tanya Hanna.


"Mereka diusir dari klan," jawab Khouk.


"Dugaanku, tewasnya nenekku hingga ketidak jelasan nasib ayah juga adalah campur tangan biro. Bagaimana bisa orang-orang yang menyelamatkan diri bersama nenek juga bisa lenyap tak berbekas? Dugaanku, mereka tewas dibunuh saat menjaga nenek!" ujar Ana.


Khouk tak berani menjawab apakah asumsi itu benar atau tidak. Tapi kemungkinan itu pastilah ada.


"Lalu ayah terlantar dan diasuh oleh seseorang dan diberi nama dengan mengikuti nama keluarga orang itu. Karena berganti nama, maka hidupnya jadi cukup panjang," simpul Ana.


Khouk setia mendengarkan kesimpulan-kesimpulan yang dibuat Ana.


"Apakah kalian pernah selidiki tentang kelompok pemberontak yang diusir itu? Di mana mereka tinggal sekarang, kerja di mana dan siapa saja anak keturunannya?" tanya Ana.


"Saya tidak tahu. Dan klan juga tidak pernah lagi menyinggung tentang hal itu sama sekali. Entah apakah karena mereka ingin klan tetap damai, ataukah memang merasa sudah putus hubungan dan tak peduli lagi. Tapi mereka seolah lenyap begitu saja ditelan bumi!" jelas Khouk.


"Menurutmu, saat mereka terusir dari rumah ke negeri yang tak mereka kenali, kemanakah mereka akan minta bantuan?" desak Ana lagi.


"Pada pihak yang mereka kenal!" angguk Khouk. sekarang dia mengerti jalan pikiran Ana.


"Biro Klandestine! Hanya biro itu yang bisa jadi pegangan mereka saat sedang terombang-ambing tak punya arah tujuan!" ujar Ana.


Khouk mengangguk setuju. Secara moral, Biro akan menampung anggota klan yang terusir akibat kalah dalan pemberontakan yang mereka inisiasi.


"Dan setelah ayah dewasa, ayah justru masuk ke sarang singa itu, seperti mengantar nyawa! Kemudian mereka mengenalinya sebagai penerus klan. Lalu mencoba untuk menghabisi, sebagai bentuk balas dendam atas kekalahan dan pengusiran mereka semua!" Ana menyelesaikan kesimpulannya.


Khouk berpikir keras. Kata-kata Ana ada benarnya. "Lalu apa alasan mereka pada anda?" tanya Khouk menguji.


"Mereka tahu, jika ayah tiada, maka aku atau adikku akan jadi penerus klan berikutnya. Jadi mereka memisahkan kami. Mengirimku ke panti asuhan dan terus mengawasi. Kemudian, pasti ada satu ketika mereka merasa bahwa kehadiranku bisa sangat berbahaya. Maka mereka mengganti wajahku dan menghapus ingatanku. Tapi ternyata itu masih belum berhasil membuatku diam. Akhirnya mereka membuat fitnah agar aku bisa disingkirkan secara legal!"


Ana sampai terengah-engah menahan emosi saat menjelaskan isi kepalanya pada Khouk.


"Itu sangat masuk akal. Berarti, yang menguasai biro adalah anak keturunan musuh klan yang dulu diusir oleh kakek anda!" Khouk manggut-manggut.


"Akhirnya kau mengerti," ujar Ana. Hatinya lega, karena mulai mendapatkan titik terang dari semua penderitaan keluarganya.


*


*


"Ya, bagaimana keadaanmu di sana?" Ayahnya menyapa begitu panggilan mereka terhubung.


"Ayah, aku akan mengirimkan beberapa informasi, langsung ke tangan ayah. Coba ayah selidiki di sana, bagaimana kejadian sebenarnya. Aku akan mencari informasi lain juga di sini," kata Ana.


"Informasi tentang apa?" tanya ayahnya.


"Tentang kerja sama pemberontakan klan yang dihadapi kakek yang ternyata bekerja sama dengan Biro Klandestine!" jawab Ana cepat.


"Dari mana kau mendapatkan informasi tersebut?" Ayahnya terkejut mendengar penjelasannya.


"Dari hasil penyerangan kantor biro di Slovstadt," sahut Ana.


"Kirimkanlah!" ujar ayahnya penasaran.


"Aku sedang mengirimkannya. tunggu saja." Ana menjelaskan semua asumsi yang berputar di kepalanya. Pria tua itu terkejut mendengar asumsi yang sangat detail itu.


"Baik, aku akan memeriksanya dengan teliti. Tapi jangan berpuas diri dulu, sebelum kita mendapatkan bukti yang tak terbantahkan. Misalnya saksi, ataupun bukti lain yang mengindikasikan bahwa asumsimu benar. Jangan sampai terkecoh yang justru akan membuat kita kehilangan bukti sebenarnya!" pesan Ivan Avraam.


"Betul, Pemimpin. Bagaimana jika mereka sengaja menggiring opini kita agar seperti yang anda pikirkan tadi. Lalu, bukti yang sebenarnya akan terkubur dengan aman di dasar lautan!" Khouk mengingatkan Ana.


"Khouk ada benarnya. Jadi kau berhati-hatilah, Jangan terbawa emosi lebih dulu. Kita gali terus segala informasi yang mereka sembunyikan." Ayahnya menambahi.


Ana terdiam. Ayahnya dan Khouk benar. Karena emosi, dia jadi menyimpulkan dengan cepat semua info yang didapatnya tadi. Padahal cctv bahkan belum diperiksanya. "Baik. Aku akan memeriksa info lainnya lagi." Ana mengangguk setuju.


"Bagus! Sementara itu, ayah akan memeriksa file yang kau kirimkan ini. Semua sudah masuk." ujar ayahnya.


"Bila keadaan memburuk, kembalilah ke klan. Kami akan selalu mendukungmu!" pesan ayahnya.


"Ya, Ayah. Tapi untuk sementara aku di sini untuk mencari informasi dan menuntut balas pada orang-orang biro!" ujar Ana geram.


Ayahnya menggelengkan kepala. "Bukankah kau sudah membunuh orang itu dan menghancurkan kantornya. Apa kau masih belum puas?" tanya ayahnya.


"Aku masih belum mendapatkan titik terangnya, Ayah," kelit Ana.


"Dendam itu tak kan pernah akan selesai, Nak. Tak akan ada akhirnya. Hidup dengan dendam itu seperti candu, kau tak kan pernah puas!"


"Kau sendiri yang harus memutuskan, kapan mesti selesai dan berdamai dengan dirimu sendiri serta masa lalu. Hidup dalam dendam hanya akan membuatmu menderita." Ivan Avraam menasehati putrinya, khawatir terjerumus pada dendam tak berkesudahan.


"Aku akan mengingat nasehat ayah.," jawab Ana singkat.


"Ayah harus menjaga kesehatan. Dan Nathalie juga harus menjaga ayah dengan benar. Jangan hanya bermain-main seperti putri manja!" ujar Ana ketus.


"Dia tidak seperti itu. Dia sudah berubah," ujar ayahnya tersenyum.


'Ayah, sudah dulu. ada panggilan masuk dari Ammo!" ujarnya.


"Ya. Sampai jumpa lagi," ujar ayahnya,


Panggilan itu terputus. Ana melihat ponselnya yang terus bergetar sejak tadi. Ada nama Ammo di sana.


"Ya, bagaimana perkembangan di sana?" tanya Ana begitu sambungan telepon itu terhubung.


***********