
Dokter Devan membuka satu ruangan dan masuk ke dalam. "Silakan masuk."
Blake dan Nathalie masuk. Dua pengawal lain, menunggu di depan pintu.
"Anda di sini? Apa yang terjadi?" tanya Blake heran.
"Aku habis operasi," jawab Ana. "Di mana dia?"
"Aku di sini!" Nathalie menjulurkan kepalanya dari balik pintu.
"Ke sinilah," panggil Ana.
Blake menyingkir keluar ruangan, memberi mereka kesempatan bicara. Dia sudah tahu bahwa Ana dan Nathalie bersaudara. Saudara kembar malahan.
"Sepertinya kau punya kuasa, hingga bisa memindahkanku ke sini cuma untuk menjengukmu!" kata Nathalie pedas.
Awalnya Nathalie mengira tempat perawatannya dipindahkan ke tempat yang lebih baik. Ternyata dia dipaksa menempuh jarak sejauh setengah hari, cuma untuk menjenguk gadis yang mengaku sebagai kembarannya itu. Itu menyinggung harga dirinya sebagai putri keluarga terhormat.
Ana menoleh pada ayahnya. Pria tua itu tak melepaskan pandangannya dari Nathalie sejak gadis itu muncul. Ana menghela napas, mulut ayahnya sampai terbuka dan tak bisa mengeluarkan sepatah katapun.
"Kau tak perlu menjengukku jika tak mau. Aku hanya ingin mempertemukanmu dengan ayah!" balas Ana ketus.
"Ayah? Siapa ayah yang kau maksud?" Aku hanya punya satu ayah, Greg Hamilton!" katanya angkuh.
Ana menatap tajam Nathalie. Matanya memperingatkan gadis congkak itu. Kemudian dia menoleh pada ayahnya. Dilihatnya tubuh rapuh itu agak bergetar menahan kecewa. Dan mata sayu itu ditundukkan.
"Ayah sudah dengar kata-katanya. Jika ayah tak ingin melihatnya lagi, maka akan kuminta Ammo melepaskan pengawalan untuk dia dan kekasihnya. Aku tak peduli mereka mati oleh orang-orang itu!" kata Ana menahan emosi.
"Jangan! Tolong jaga dia. Kalian hanya tinggal berdua jika aku tiada!" Ayahnya memohon dengan mata sendu.
"Dia kurang ajar dan sengaja menyakiti kita. Dia tak pantas ayah cari-cari selama bertahun-tahun ini!" bantah Ana. Dengan wajah meringis, dipegangnya dadanya yang terasa nyeri.
"Sudah, jangan emosi dan banyak bergerak dulu. Lukamu bisa terbuka lagi." Ivan menenangkan Ana.
Ana mengatur napasnya, meredakan amarah. Seorang perawat, diikuti Dokter Devan, masuk mendorong kursi roda.
"Tuan Ivan, waktunya anda cuci darah," ujar Dokter Devan.
Ivan mengangguk. Dibiarkannya Dokter memeriksa kondisinya. Setelah beberapa saat, dokter itu mengangguk pada perawatnya. "Bisa dilakukan," katanya.
Pengawal itu membantu tuannya untuk duduk. Membimbingnya menuju kursi roda. Ivan menoleh pada Ana. "Terima kasih, sudah membawanya ke sini," ujar pria tua itu lembut dan penuh kasih.
"Ayah harus semangat, biar kembali sehat," ujar Ana.
Pengawal mendorong kursi roda itu keluar, menuju ruang cuci darah, mengikuti perawat dan dokter di depan.
Di dalam ruangan, Nathalie merasa kikuk. Kata-kata sarkasmenya bukan hanya menampar wajahnya sendiri, tapi juga menodai reputasi keluarga angkatnya. Dia merasa jengah pada keheningan di ruangan itu.
Dilihatnya Ana yang mencoba berbaring diam-diam. Entah apakah itu agar nyerinya reda, atau karena tak mempedulikan Nathalie.
"Jika aku bersikap kasar lagi, dia bisa makin tidak senang. Dan dia punya kekuatan untuk meminta Ammo membatalkan pengawalanku. Pria kaya dan berkuasa itu pasti akan menurutinya," batin Nathalie.
Nathalie memilih untuk mengalah, demi nyawanya. Dia duduk di kursi dekat tempat tidur Ana.
"Kau kenapa bisa dioperasi?" tanya Nathalie.
"Dia ditembak pembunuh!"
Nathalie menoleh ke arah pintu, mencari sosok yang menjawab pertanyaannya. Ada seorang pria agak tua, berdiri terbengong di depan pintu.
"Valentina!" panggilnya sambil bergegas memeluk Nathalie yang terkejut.
"Lepaskan! Siapa kau? Aku Nathalie, bukan Valentina!" bentak Nathalie.
"Ibu? Kakek? Nenek? Apa maksud kalian?"
Kesadaran Nathalie telah kembali. Didorongnya tubuh Alexei menjauh. Mulutnya sudah terbuka untuk kembali mencerca. Tapi seketika mengatup lagi. Keberaniannya mendadak hilang melihat mata Ana melotot tajam penuh peringatan.
"Kau pikir, dengan berlindung di balik keluarga Hamilton, kau akan lebih aman dan berkelas? Mereka bahkan tidak mencari keberadaanmu yang telah hilang begitu lama!" sergah Ana murka.
"Aku curiga, mereka turut andil dalam menghapus memorimu!" tuding Ana tanpa ampun.
"Tidak! Tak mungkin!" bantah Nathalie. "Mereka sangat menyayangiku!" teriaknya keras.
"Huh! Kau hanya anak manja yang belum pernah melihat wajah manusia dengan topeng kepalsuan!" ejek Ana.
"Sudah! Jangan bertengkar ...," ujar Alexei.
Kedua gadis itu akhirnya menahan diri. Nathalie tak ingin memprovokasi Ana. Artinya, dia tak boleh juga bersikap kasar pada keluarga gadis itu.
"Paman, dia harus belajar melihat kenyataan. Suka tak suka, dia adalah bagian keluarga ini. Jika kita biarkan dia terus membodohi diri sendiri, dia akan berakhir di kantong mayat!" sembur Ana sebal.
Nathalie bergidik ngeri. Dia ingat ketika rumah sakit Dokter Armstrong diserang orang tak dikenal. Banyak orang tak bersalah bertumbangan bersimbah darah. "Tidak! Aku tak mau berakhir di kantong mayat!" ujarnya ketakutan.
"Tidak akan. Paman akan melatihmu agar kuat. Tidak masalah jika kau melupakan kami. Selama kami mengingatmu, maka kami akan saling menjaga." Alexei menenangkannya.
Setelah beberapa saat ketakutannya hilang. Nathalie bertanya pada Alexei. Coba ceritakan tentang ... keluarga kita," katanya ragu.
"Yang tadi kau hina adalah ayah kita. Dan Valentina adalah ibu kita. Itu Paman Alexei, kakaknya ibu. Sekarang kau sudah jelas?" tanya Ana.
"Hemm ... perkenalan yang singkat dan padat. Nathalie manggut-manggut.
"Tapi aku tak mengerti satu hal. Kenapa keluarga kita dikejar-kejar pembunuh? Aku bahkan tak berani memegang pisau tajam. Kenapa aku diincar pembunuh juga?" ujarnya penuh tanya.
"Seperti yang kukatakan tadi. Kau suka atau tidak, pembunuh telah menandaimu sebagai penerus keluarga Ivan Avraam. Otomatis kau juga menjadi target untuk dihabisi. Apa kau sudah mengerti?" Ana kembali menjelaskan asal usul mereka.
"Tak bisakah aku hidup nyaman seperti sebelumnya?" keluah gadis itu.
Belajar menerima kenyataan, jauh lebih baik, dari pada bergantung pada bayangan senja.
"Bisakah kalian menceritakan apa yang terjadi pada keluarga kita?" harapnya.
"Duduklah di sini. Paman yang akan menceritakannya," ujar Alexei.
Kali ini, Nathalie mengangguk setuju. "Baik, begini ceritanya," Alexei menceritakan apa yang terjadi pada saat itu.
"Semua berawal dari pengejaran ayahmu ...."
Nathalie manggut-manggut mendengar cerita Alexei. "Apakah ibuku sangat cantik?" tanya gadis itu.
"Ya, dia bunga di tanah perkebunan itu. Kebanggaan kekuarga.
"Dan ayah? Apa dia yang jadi penyebab kekacauan ini? Apa dia akan bersembunyi terus seperti itu?" katanya kesal.
"Dia tidak begitu!" berang Ana.
"Dia hampir mati untuk menyelamatkanmu!" tambah Ana. Kali ini dia sudah tak sabar ingin menjahit bibir gadis itu.
"Kau tak boleh membencinya. Keadaannya sekarang adalah akibat pembantaian orang-orang dari Biro Rahasia Klandestin!" Alexei menerangkan dengan simpel, agar Nathalie mudah memahami.
"Ohh ...."
Hanya itu yang keluar dari bibirnya. Tapi matanya menunjukkan keraguan atas penjelasan itu. Nathalie tidak mengutarakannya, agar Ana tidak lagi murka.
******