Code Name: ANGEL K05

Code Name: ANGEL K05
115. Maya Kabur


Ana pergi ke ruang perawatan di mana Bobby sedang ditangani. Semua dokter dan perawat sibuk dengannya. Ana tak punya pilihan selain menunggu hingga selesai.


"Mau ke mana?" Anthony telah selesai membersihkan dirinya yang terpercik banyak darah.


"Dokter sedang menangani Bobby. Aku akan menunggu di mobil," ujar Ana.


"Baik. biar aku menunggu di sini," timpal Anthony.


"Oke. Kabari aku jika dokter sudah selesai. Aku ingin bicara beberapa hal dengan mereka!" pesan Ana.


"Oke!" Anthony duduk di sofa di sudut ruangan kecil depan tempat perawatan itu.


Ana melihat Alexei duduk santai dengan mata terpejam di kursi driver. Sementara Alena masih pingsan di kursi belakang.


Ana membuka pintu samping depan. Alexei membuka matanya. Dilihatnya Ana duduk di sebelahnya. "Apa mereka belum selesai?" tanya Alexei.


"Belum. Aku ingin kita segera kembali. Tapi ada seseorang yang ingin kutemui sebelum kembali," sahut Ana.


Ana membuka ponsel dan mengabarkan pada Ammo bahwa dia telah sampai dan Bobby sedang ditangani. Ana ingin bertemu dengan Maya dan akan menyerahkan perawatan Bobby dalam pantauan Ammo.


Tak menunggu lama, balasan dari Ammo sampai. "TUNGGU DI SITU."


Ana kemudian menunggu, meskipun tak mengerti apa rencana Ammo.


Lima belas menit kemudian, seseorang mengetuk kaca jendela mobil. Ana menurunkan kaca jendela lebih rendah untuk melihat siapa yang datang.


"Ivan?" panggilnya heran.


"Kau siapa? tanya pria itu heran. Bagaimana seorang wanita paruh baya yang tak dikenalnya, bisa mengetahui namanya?


"Aku Ana!" sahutnya.


"Ah! Kau ... terlihat berbeda. Bos menyuruhku ke sini untuk membawamu melihat Maya," katanya.


"Jadi selama ini kau yang menjaganya," simpul Ana.


"Aku dan Donny," ralat Ivan.


Ana mengangguk. "Di mana gadis itu? Bawa aku ke sana!"


"Ayo!" Ivan berjalan jembali ke arah dia datang tadi.


Ana berbalik sebentar pada Alexei. "Paman, tolong awasi dia!" matanya mengarah pada Alena. Alexei mengangguk.


"Jika Anthony datang, katakan aku akan menemui Bobby nanti!" pesannya.


"Ya. Berhati-hatilah!" sahut Alexei.


"Oke!" Ana berjalan cepat, menyusul Ivan yang tak mengurangi kecepatan langkahnya.


Keduanya menyusuri bagian belakang bangunan itu. Lanjut melewati jalan setapak dengan stepping stone yang ditata apik.


Setelah berjalan hampir lima ratus meter melewati kebun anggur, barulah Ana menemukan dua bangunan mungil lain. Kaki Ivan menuju ke tempat itu. Jadi Ana yakin kalau Maya dirawat disitu. "Syukurlah," batinnya lega.


Mereka segera menaiki anak tangga rumah bergaya pedesaan itu. Rumah kayu bercat hijau lumut berbingkai putih itu berjarak sekitar seratus meter dari rumah berikutnya yang juga tak kalah cantik.


Mereka melewati teras mungil selebar satu meter. Ada satu bangku ayunan di sudut teras dengan background bunga-bunga hollycock yang sedang mekar.


"Aku kembali!" ujar Ivan.


Dia menarik pintu kasa, lalu membuka pintu kedua ke arah dalam. Ana mengikuti. Di ruangan itu ada Donny yang sedang asik menonton televisi. Dia menoleh ke pintu dan mengernyitkan dahi.


"Siapa dia?" tanyanya.


"Ana!" jawab Ivan. Dia menuju ke satu pintu dan membukanya.


"Di mana gadis itu?" tanya Ivan.


"Barusan ke kamar mandi," sahut Donny.


Ana mendengar suara air mengucur. Tapi Maya tidak menyahut. "Maya, ini aku, Ana!" panggilnya.


Maya masih tidak menyahut. Ana merasa hal ini aneh.


"Cari dia di luar!" teriak Ana.


"Sial!" umpat Ivan. Dia langsung mendobrak pintu kamar mandi.


Sementara Ana segera berlari ke pintu dan Melompati teras. Dia berputar ke belakang rumah untuk memastikan. Benar saja, jendela kamar mandi itu sudah terbuka lebar.


"Donny!" kalau dia hilang, kau kugantung!" teriak Ana murka. Ana berusaha menebak, kemana kira-kira Maya kabur.


Ivan terbengong melihat pintu kamar mandi yang terbuka lebar. Dia sangat marah pada Donny. Tapi temannya itu sudah lebih dulu menghilang. Menghindar dari amukan dua orang yang sedang kehilangan seorang pasien.


"Sial!" kenapa dia kabur? Apa otaknya sudah rusak!" gerutu Donny sambil mencari.


Donny mencari ke arah rumah yang satu lagi. Untuk itu dia harus melewati taman bunga dan kebun sayur orang. Donny dan Ivan sudah diingatkan dokter untuk tidak mengganggu penghuni rumah ini. Tapi sekarang dia justru melangkah ke situ.


Ana dan Ivan membagi pencarian. Ana akan memeriksa kebun anggur samping rumah. Sedangkan Ivan memeriksa bagian belakang rumah yang juga masih ditanami anggur dan berakhir di pinggir sungai kecil.


"Di mana Donny?" tanya Ana.


"Dia mengarah ke halaman rumah sebelah sana. Biarkan dia menanggung resikonya!" gerutunya kesal.


"Memangnya kenapa rumah itu?" tanya Ana.


"Tidak tau. Tapi kami sudah dilarang mengganggu ke sana!" jelas Ivan.


"Oke, mari kita mencari?" Ana dan Ivan segera berpisah.


Donny berjalan hati-hati agar tidak sampai menginjak satupun tanaman yang mungkin bisa mengundang amarah penghuni rumah sebelah.


"Maya, jangan bersembunyi lagi. Ana mencarimu. Dia datang jauh-jauh ke sini untuk menjengukmu!" Donny memanggil dengan lembut dan hati-hati.


"Maya, ayo kita pulang. Ana menunggumu," panggilnya lagi sambil memeriksa setiap pot bunga besar. Berpikir sekiranya gadis itu bersembunyi di situ.


Di suatu tempat.


"Tolong, turunkan benda itu. Itu berbahaya," ujar seorang pria tua berkacamata.


Pria itu tidak terlihat takut. Dia sangat tenang dan bisa menyadari bahwa gadis muda yang memegang pisau mentega itu, sedang kehilangan akal sehat.


Dia berjalan ke arah ruang tengah rumahnya sambil terus mengajak gadis itu bicara.


"Apa kau pasien yang tinggal di rumah sebelah?" tanyanya dengan ramah dan tetap fokus.


"Nanti teman-temanmu mencarimu ke sini. Salah seorang sudah sampai di kebun samping," tunjuknya ke arah jendela.


Gadis itu ikut menoleh dan melihat Donny mencari-cari di antara pot bunga.


"Apa kau mau bersembunyi darinya? Aku bisa membantumu bersembunyi," tawarnya.


Gadis itu meragu. Tangannya masih menggenggam kuat pisau mentega yang tadi diambilnya dari meja makan.


Pria tua itu membuka pintu yang ada di sampingnya. "Ini ruang kerjaku. Kau bisa bersembunyi sementara di dalam sana," bujuknya lagi.


Maya melihat ruang kerja yang ditata rapi itu. Dia melepaskan pisau yang digenggamnya begitu saja. Pisau itu jatuh ke lantai marmer dan berdenting nyaring. Tapi gadis itu tidak menyadarinya. Dia tertarik pada sesuatu di ruang kerja. Langkah kakinya tidak ragu sedikitpun untuk masuk ke dalam sana.


Pria tua itu sedikit heran, tapi dia segera kembali seperti semula. "Aku akan menutup pintu sebentar, agar temanmu tak menemukanmu," bisiknya dengan suara rendah.


"Huft, hampir saja." Pria tua itu menggelengkan kepala. Dia menuju ke meja makan yang tadi terpaksa ditinggalkannya. Diraihnya ponsel dan memanggil sebuah nomer.


"Pasienmu di rumah sebelah tampaknya kabur. Dia bersembunyi di ruang kerjaku. Teman-temannya pasti sedang mencari. Segera bawa dia dari sini!" perintahnya.


"Baik!" terdengar jawaban dari seberang. Kemudian sambungan telepon itu terputus.


********