
"Selamat pagii.... Apa kau teman Ammo?" tanya bibi Harriet dari arah meja makan. Dia sedang sibuk mengatur para pelayan untuk memperbaiki tatanan meja makan.
Ana terkejut melihat seorang wanita paruh baya di rumah itu. Dia lalu menjawab dengan sopan. "Ya, aku teman Ammo."
Di belakang Ana, Ariel mendengar suara merdu wanita lain. Dia mempercepat langkah, untuk melihat dan berkenalan.
"Aku mendengar suara wanita. Apakah ada orang baru yang menginap di sini?" tanyanya pada Ana.
Ana bergeser, agar Ariel bisa melihat siapa yang ada di ruang makan. Dan raut wajah antusias tadi memudar ketika melihat seorang wanita paruh baya. Meski masih cantik, tetap saja itu hampir seusia ibu mereka.
"Maaf tante, boleh berkenalan? Aku Ariel, teman Ammo," ujar Ariel memperkenalkan diri.
"Aku bibinya Ammo," jawab Harriet.
"Aku tak tau Ammo punya bibi yang sangat cantik," sanjung Ariel lagi.
"Abaikan dia tante. Dia sedang belajar jadi playboy," kelakar Ana, menyindir Ariel.
Harriet tertawa melihat pria muda itu cemberut lucu. Ana langsung ngeloyor pergi.
"Anda mau joging, Nona?" tanya Theo setelah melihat pakaian yang dikenakan Ana.
"Ya. Jika Ammo turun, katakan untuk menyusulku!" teriak Ana sambil berlari keluar.
"Tapi, Tuan Ammo sudah pergi lari sejak setengah jam yang lalu," gumam Theo menggelengkan kepala.
"Anda mau berenang?" tanya Theo melihat Ariel melintas santai. Pria muda itu hanya mengangguk, kemudian berlalu.
"Jam berapa sarapan di sini? Apakah Ammo belum bangun?" tanya Harriet.
"Sarapan sudah sedia pukul tujuh, Nyonya. Dan Tuan Ammo sedang lari pagi ke hutan di belakang," sahut Theo sopan.
"Jika semua orang punya aktifitas pagi, jam berapa sarapan dimulai?" tanya Harriet lagi.
"Sarapan di sini, tidak bisa dipastikan. Siapa yang lapar dan ingin makan silahkan lebih dulu," jawab Theo.
"Anda juga bisa sarapan lebih dulu, Nyonya," ujar Theo sopan.
"Kukira bisa sedikit ramai, jika sarapan bersama. Aku bosan sarapan sendirian," lirihnya kecewa.
Theo mencari kata-kata penghibur, tapi tak bisa menemukannya. Tapi dia akhirnya menemukan sesuatu.
"Apakah anda bersedia saya tunjukkan kolam teratai Nyonya Oswald?" tawar Theo.
"Kolam teratai?" ulang Harriet.
"Ah ... kolam rahasia itu...." Harriet menutup mulutnya. Tak percaya ditawari untuk melihat kolam yang menjadi tempat favorit Ibu Ammo di rumah ini.
"Apakah Ammo tidak akan marah jika ada orang luar yang melihatnya?" tanya Harriet ragu.
"Biar saya yang terima kemarahannya," jawab Theo yakin.
"Jangan begitu ... aku...."
"Mari, saya tunjukkan!"
Theo berjalan lebih dulu ke sayap lain rumah yang sangat jarang didatangi. Harriet mengikuti langkah Theo. Rasa penasarannya lebih kuat ketimbang khawatir pada kemarahan Ammo.
Harriet melihat beberapa pintu, berjarak cukup jauh satu sama lain. Tanda bahwa ruangan itu luas.
"Bukankah ruang bilyar, ada di tempat ini juga?" tebaknya ragu.
"Anda masih mengingatnya dengan baik. Ruang bilyar dan bowling ada di sebelah sini!" tunjuk Theo.
"Apa anda ingin bermain bilyar atau bowling?" Theo berdiri di sisi pintu. Bersiap membukanya jika Harriet ingin sedikit olahraga.
"Tidak. Aku tak suka olahraga, kecuali berjalan di kebun dan taman," tolak Harriet.
"Baik, kita lanjutkan ke kolam teratai." Theo melanjutkan langkahnya yang terhenti. Keduanya kembali berjalan, hingga tiba di sebuah pintu. Theo mengeluarkan rangkaian kunci dari saku celananya. Dipilihnya satu, lalu membuka kunci pintu itu.
"Harriet tak sabar untuk melihat seperti apa kolam teratai yang terkenal itu, sekarang.
"Indah sekali...."
"Oh, ada ikannya juga!" serunya gembira. Harriet mengamati beberapa ikan yang melompat dan berusaha menyundul kelopak bunga teratai.
"Anda bisa menikmati sarapan pagi di sana, jika mau," tawar Theo sambil menunjuk jembatan yang membelah dua kolam.
"Ada apa lagi di sana?" tanyanya tertarik. Diikutinya langkah Theo meniti jembatan kayu yang dicat putih. Jembatan itu lumayan panjang, serta berkelok-kelok.
Terdengar suara gemericik air mengikis keheningan pagi. Sebuah air mancur memercik indah dari patung bunga teratai. Banyak ikan hias warna-warni berenang di sekelilingnya.
Kemudian jalan setapak itu terhenti. "Di sini, Nyonya," Tunjuk Theo ke arah Gazebo mungil yang dinaungi rambatan pohon anggur yang sedang berbunga.
Di belakang gazebo adalah tembok tinggi yang ditutupi rambatan jasmine star. Diatur berselang seling dengan pohon cypress yang tinggi lurus menjulang, menjadi aksen sangat pas. Tidak terlalu mengambil perhatian, tapi juga tidak terlihat kesepian.
"Baiklah, aku ingin sarapan di sini. Jika Ammo bersedia menemani, aku akan senang, sekali."
Harriet sudah memutuskan untuk menikmati paginya yang santai dan menyenangkan. Ammo pastinya telah meminta Theo untuk menghiburnya selama di sini.
*
*
Ammo masuk ke rumah bersama Ana. Dia tak menemukan Theo, justru melihat para pelayan wanita berkumpul di ruang makan. Para pelayan itu ketakutan, karena melanggar larangan. Mereka buru-buru berlari masuk ke dapur.
"Di mana Theo!" suara Ammo meninggi.
Seorang pelayan yang lari paling belakang, terpaksa berhenti dan menyahut. "Mengantar Nyonya Herriet ke kolam teratai, Tuan," jawabnya sambil menunduk ketakutan.
Ammo berbalik dan langsung naik ke lantai atas, tanpa mengatakan apapun. Ana melihat interaksi para pelayan wanita dengan Ammo dengan pandangan bertanya-tanya.
Melihat dia ditinggal sendiri di ruangan, Ana melanjutkan langkah menuju kolam renang. Ariel pasti ada di sana.
Ammo turun dengan pakaian rapi. Dia harus ke kantor hari ini. Theo sudah menunggu di bawah tangga seperti biasa.
"Sarapan sudah siap, Tuan," ujarnya.
"Apa Bibi Harriet sarapan di kolam itu?" tanya Ammo.
"Ya, Tuan," jawab Theo.
"Oke. Buatkan aku sarapan. Dan katakan pada Sawyer untuk menyiapkan helikopter.panggil Nick juga!" perintah Ammo.
Laki-laki tampan itu meletakkan tas laptop di meja ruang tengah. Dia menyalakan televisi untuk melihat informasi terbaru. Tak banyak informasi yang bisa menarik perhatian Ammo. Namun ada satu berita yang mampu menarik perhatiannya pagi ini.
Info tentang penemuan mayat tak dikenal di satu negara kecil, di belahan bumi lain. Jadi, Ammo menyimpan infomasi berita itu, dengan merekamnya.
"Suatu saat pasti berguna," pikirnya.
Theo menghidangkan sarapan. Dan Ammo dengan cepat menyantapnya. Dia harus segera berangkat. Ada jadwal untuk pergi ke beberapa tempat. Termasuk mengajukan permintaan visa untuk perjalanannya dengan Herriet.
Ammo dan Nick segera diantar Sawyer menuju lokasi pertemuan pertama.
"Apa kau sudah menyiapkan PR-mu, Nick?" tanya Ammo.
"Sudah, Tuan." Nick menyerahkan data yang dibuatnya pada Ammo.
"Kau sudah mengatur jadwal, bukan?" tanya Ammo memastikan.
"Sudah, Tuan. Perjalanan pertama kita adalah Hotel di pusat kota," jawan Nick cepat.
"Baik. Sepertinya kau sudah bekerja keras. Pertemuan hari ini bisa jadi batu loncatan untukmu ke posisi lebih tinggi."
Ammo memompa semangat Nick untuk terus belajar jadi asistennya. Nick hanya tersenyum.
Helikopter itu menembus suasana pagi kota yang mulai menggeliat bangun.
*********