
Ana membawa mobilnya ke rumah pinggir kota.
Hari sudah malam dan tempat itu menjadi semakin sepi lagi. Kali ini, dia masuk lewat pintu depan. Penerangan di teras, membantu menerangi mobil.
"Ini rumahmu?" tanya Ivan. Dia tak mungkin lagi meremehkan Ana setelah melihat halaman rumah yang luas itu. Meskipun tidak terlalu terang, tapi jelas cukup luas.
Ana turun dan membuka pintu rumah. "Jangan berkeliaran sembarangan kalau kalian tak ingin meledak!" Ana memperingatkan.
"Apa kau memasang ranjau?" tanya Ivan dengan nada bercanda.
"Hemm...." Ana mengangguk.
"Apa?" Ivan terpaku melihat halaman luas yang ditumbuhi sejenis rumput halus yang sudah meninggi.
Alexei juga terkejut melihat anggukan kepala Ana. Sebelumnya dia mengira bahwa Ana memasang pelindung untuk rumahnya saja, sudah cukup memadai. Tak disangka, halamannya juga dipasangi ranjau. Tidakkah keponakannya ini terlalu paranoid?
"Bawa dia masuk!" ujar Ana, menunjuk pada Alena. Sementara dia sudah membimbing Maya yang mengantuk, ke dalam rumah.
Ana membawa Maya duduk di sofa depan televisi. Diambilkannya snack dari kulkas untuk menyibukkan gadis itu.
Ivan masuk dengan tangan setengah menyeret Alena. Alexei menyusul di belakang membawa belanjaan mereka sebelumnya.
Ana menggeser rak dan meja dapur, hingga terlihat jalan menuju rumah ruang penyimpanannya di basement. Diambil alihnya Alena dari tangan Ivan. Keduanya segera menghilang di bawah tangga.
"Rumah yang menarik!" komentar Ivan.
"Tutup mulutmu. Apapun yang kau lihat dan dengar di sini, adalah rahasia!" kata Alexei memperingatkan.
"Tentu, rahasia!" Ivan memberi kode tutup mulut dengan jarinya. Dibantunya Alexei merapikan bahan makanan ke dalam rak dab kulkas.
Alexei sudah sibuk menyiapkan makan malam. Perutnya sangat lapar, karena melewatkan makan siang hari itu.
Ana membawa Alena yang masih lemah, ke dalam ruang penyimpanan makanan. Kemudian memasukkannya di ruang rahasia.
Alena sudah mulai sadar. dan mengamati tempat itu.
Ana mengikat gadis itu ke kursi besi yang ada di situ. "Jangan bergerak kalau tak mau tubuhmu hangus terbakar!" ujar Ana dingin. Tangannya membelitkan kabel listrik pada besi kursi.
Mata Alena melotot melihatnya. Dia mulai merasa ngeri pada wanita tua itu. Wanita yang tak punya belas kasihan, dan mampu melakukan hal di luar nalar. Dia masih mengingat irisan pisau pada punggungnya. Matanya menyiratkan rasa marah pada Ana.
Alena terlupa tentang kabel listrik terbuka yang ditunjukkan Ana sebelumnya. Dia bergerak untuk menerjang Ana. Tapi tiba-tiba tubuhnya mengejang, lalu bergetar hebat karena disambar aliran listrik.
"Aaaaaaaaa!" teriaknya nyaring.
"Kenapa sih, orang suka tak mau mendengar kata?" sinis Ana. Dilihatnya tubuh Alena yang terkulai pingsan, setelah kursi listrik itu rebah ke lantai.
"Aku akan mengurusmy nanti!" katanya dingin. Ana keluar dari ruang rahasia itu, dan kembali ke atas.
"Apa kau lupa membayar listrik? Tadi sedikit berkedip-kedip," kata Ivan.
"Gadis itu ingin menjajal setruman listrik!" sahut Ana santai. Dia menuju kamar dan merapikannya agar bisa ditempatinya berdua dengan Maya.
Mereka makan malam. Maya terlihat baik-baik saja. Tapi tidak terlalu bisa merespon sekitarnya. Ana merasa prihatin dengan apa yang menimpa bawahannya.
"Sebenarnya, pengobatan apa yang diterimanya di klinik Dokter Dorjan? Kenapa dia jadi seperti ini?" tanya Ana.
"Dia sudah seperti ini saat kami menemukannya di jalan. Ammo yang mengenalinya. Dan dia sangat lemah. Banyak luka yang yak dirawat dan menimbulkan infeksi. Ammo juga yang menyuruh kami mengantarnya ke klinik itu. Dokter itu temannya." Ivan menceritakan kronologi pertemuan mereka dengan Maya.
"Apa Maya sering disetrum listrik begitu jika tidak patuh?" tanya Ana yang masih merasa marah dengan kejadian siang itu.
"Aku baru melihatnya tadi siang. Selama ini kami terus menjaganya. Tak pernah lepas dari pengamatan!" bantah Ivan.
"Apakah mungkin pria tua itu yang menyuruh petugas medis menyetrum Maya?" duga Ana.
"Apa kau tahu siapa penghuni rumah sebelah itu?" tanya Ana lagi.
Ivan menggeleng. "Tidak! Kami sudah diingatkan untuk tidak mendekati, apa lagi mengganggu penghuni rumah sebelah. Dan kami mematuhinya. Tidak ada insiden apapun, hingga tadi siang!" jelas Ivan lagi.
"Apa yang kau alami setelah ledakan itu? Apa mereka kembali menyakitimu?" Ana berbisik sambil mengelus-elus rambut Maya.
Maya memperhatikannya dan tersenyum senang.
"Apa kau mengenali suaraku? Aku Ana ... aku akan menjagamu!"
"Mari kubantu membersihkan diri, setelah itu kita beristirahat, oke!" ajaknya.
Maya diam sebentar, sebelum menganggukkan kepala setuju.
"Terima kasih makan malam lezatnya, Paman Alexei. Maaf, aku tak ikut membereskannya," pamit Ana sopan.
"Pergilah bantu dia!" Alexei mengangguk dan tersenyum. Diperhatikannya Ana dan Maya hingga hilang di balik pintu kamar mandi.
"Jadi, kau pamannya. Apa pekerjaanmu?" tanya Ivan berbasa-basi.
"Pensiunan tentara," sahut Alexei.
Kedua orang itu membereskan meja makan dan mencuci piring kotor.
"Wah, hebat. Itu sebabnya kau tak terkejut melihat pengamanan rumah ini. Atau ini idemu?" kelakar Ivan. Alexei yak menanggapi.
"Oh ya, apakah gadis tahanan itu tak perlu diberi makan?" tanya Ivan lagi.
Alexei juga terpikir pada hal itu tadi. Tapi dia tak ingin melangkahi kebijakan yang dibuat Ana. Jadi dia hanya mengedikkan bahunya tanda yak tahu dan tak peduli.
Ana dan Maya sudah selesai mandi. Ivan duduk di sofa yang sudah dibentangkan jadi bed darurat. Sementara Alexei masih duduk di kursi depan meja makan sambil menonton televisi.
"Sebentar kuambilkan sleeping bag untukmu," kata Ana.
Alexei menoleh ke arahnya dan menggumam. "Hemm...."
*
******
Malam itu Ammo meminta penjelasan Dokter Dorjan tentang apa yang dialami Maya.
Dokter itu gugup dan tidak menyangka bawahannya melakukan hal seperti itu. Dia tak tau kejadiannya. Dia sedang sibuk mengurus Bobby.
Tapi Ammo tak mudah dipuaskan. "Aku tak ingin mencampuri pasien manapun yang ingin kau rawat. Tapi jangan perlakukan temanku seakan mereka bukan manusia! Aku mau lihat orang itu! Kau sepertinya takut padanya!" ujar Ammo geram.
"Baik!"
Dokter Dorjan melangkah cepat ke pintu dan menunjukkan jalan ke arah dua rumah yang ada di tengah-tengah kebun anggur.
Empat orang memasuki halaman kediaman mungil yang resik itu. Seorang petugas keamanan berseragam hitam segera menahan mereka di pintu.
"Tuan sedang tak ingin menerima tamu!" katanya lantang.
Nick langsung maju dan menyingkirkan orang itu, dibantu seorang pengawal Ammo yang lain.
"Beraninya kau menghadang oemilik perkebunan ini!" geram Nick.
Dokter Dorjan mengetuk pintu dua kali, sebelum berbicara.
"Tuan, aku Dokter Dorjan!" katanya.
"Ada apa? Kejadian tadi siang bukan urusanku!" jawab suara dari dalam.
Wajah Ammo menggelap. Diputarnya handel pintu untuk menbukanya. Tapi itu terkunci.
"Dobrak!" perintahnya.
Dokter Dorjan menyingkir, membiarkan Nick dan temannya melakukan tugas.
"Siapa itu? Jangan lancang! Berani sekali kau menggangguku di saat istirahat!" teriak orang di dalam dengan marah.
Teriakannya dibalas dengan suara kayu pecah dan berdebum. Nick dan temannya berhasil menjebol pintu hingga terlepas dan tergeletak di lantai.
Ammo masuk dengan ekspresi dingin. "Siapa kau, berani mengusirku di propertiku sendiri!" bentaknya marah.
Orang itu terkejut mendengar kata-kata Ammo. Dilihatnya Dokter Dorjan yang menunduk takut. Nick dan seorang pengawal Ammo sudah berdiri di kiri dan kanan, siap meringkusnya.
******