
Ana mengendarai mobilnya ke alamat yang dikatakan Alexei. Itu cukup jauh dari kota. Mereka harus melintasi kota atau memutarinya, untuk mencapai tempat itu. Kediaman Ana dan Alexei adalah area yang berlawanan, jika dilihat dari pusat kota.
Mobil mewah itu melintasi pusat kota. Menurut Alexei, trik menghindari keramaian itu sudah sangat umum. Jadi Ana mengikuti saran Alexei untuk melintasi jalan raya di tengah hari bolong.
Cara itu cukup jitu. Terbukti perjalanan mereka lancar hingga ke tempat Alexei. Mobil berhenti di sebuah gerbang besar. Seorang penjaga menanyakan keperluan Ana. Tapi segera terkejut saat melihat Alexei duduk di kursi penumpang.
Pintu gerbang segera dibuka. Mobil itu meluncur masuk. "Hati-hati dan perketat penjagaan!" perintah Alexei.
"Siap, Mayor!" jawab penjaga itu.
Mobil terus masuk ke bagian dalam area itu. "Luas sekali!" komentar Ana.
"Ditempat ini ada barak dan tempat latihan. Harus cukup luas, agar skill mereka terasah!" jawab Alexei.
"Paman benar. Aku juga ingin mencoba latihan lagi. Kemampuanku terasa berkarat karena terlalu lama tugas under cover," ujar Ana.
"Kita bisa latihan bersama!" sambut Alexei senang.
Mobil itu berhenti di depan sebuah rumah sederhana, seperti rumah seorang bujangan.
Alexei membuka pintu dan mempersilakan Ana masuk. Dibantunya memasukkan tas yang dibawa Ana ke dalam. Tas itu terlihat berharga di mata Ana.
"Rumah ini ada satu kamar di loteng. Kau bisa menggunakannya. Gadis itu bisa kau tempatkan di bawah tanah." Alexei membuka datu pintu, yang dikira Ana adalah kamar mandi biasa. Ternyata dibalik cermin besar kamar mandi, adalah jalan tersembunyi menuju basement.
Ana mengeluarkan gadis yang masih pingsan itu dari bagasi. Alexei membantu membawanya masuk rumah. Mereka langsung ke basement yang tidak seberapa besar itu. Hanya ada satu ruangan persegi yang kiri kanan dindingnya diisi berbagai jenis senjata api dan pelurunya. Lalu di dinding terakhir, ada sebuah pintu. Di ruang itu hanya ada satu kursi besi.
Alena kembali didudukkan dan diikat di kursi. Kali ini mulutnya tetap dibiarkan tersumpal kain. Gadis itu masih belum sadarkan diri. Jadi dibiarkan Ana tetap istirahat.
Ana duduk di meja makan yang hanya cukup untuk dua orang itu. Pantry di situ lebih minimalis dari yang ada di rumah Ana. Hanya ada satu kompor listrik, satu zink, dan teko kopi. Di bagian atas ada microwave kecil dan kulkas kecil di bawah meja kompor.
"Tampaknya tempat ini bukan rumah paman!" tebak Ana.
"Ini tempatku saat berkunjung ke sini," jawab Alexei. "Aku sehari-hari tinggal di apartemen kecil di pusat kota. Itu lebih memudahkan pekerjaan jika dekat dengan konsumen," tambahnya.
"Yah, jika apartemen, tak mungkin membawa orang itu masuk!" Ana mengangguk mengerti.
"Bagaimana dengan bawahanmu?" tanya Ana.
"Jangan khawatirkan mereka. Kau bisa mencari informasi dengan tenang di sini!" katanya meyakinkan Ana.
"Hemm ... baiklah. Tapi jika bawahanmu keberatan, aku akan segera pergi!" janji Ana.
"Takkan terjadi!" Alexei keluar rumah. "Dan aku ingin segera bertemu dengan Nathalie!" katanya.
Ana tercenung. Bagaimana dengan Nathalie sekarang? Kenapa Ammo tak memberiku kabar lagi?" gusarnya.
"Jangan terlalu bergantung padanya, Ana!" bisik hatinya mengingatkan.
"Oke. Mari kita retas beberapa pusat informasi!" gumannya jahil.
Dalam dua jam, dia tenggelam dengan keasikan penjelajahan internet. Tapi hanya menghasilkan kegusaran karena informasi yang diharapkannya tidak muncul. Dia sudah mencoba meretas sistem Biro seperti terakhir kali. Tapi tampaknya mereka telah belajar untuk memasang pengaman yang lebih baik.
"Sial!" ujarnya kesal.
Tak satupun informasi yang dibutuhkannya bisa didapat. Bahkan di pencatatan sipil, tak ada juga informasi tentang sosok Ivan Avraam -ayahnya Ana-. Tak ada juga tentang Valentina, ibunya, ataupun pernikahan mereka. Tak ada satu informas pun tentang keduanya, seakan mereka tak pernah ada.
"Orang yang bisa menghapus semua catatan negara, pastilah orang penting!" pikirnya.
"Siapa ayahku? Apa pekerjaannya sebenarnya?" Ana terus memikirkan berbagai teori konspirasi. Tapi, tanpa ada setitik catatan tentang asal-usul ayahnya, maka akan sangat sulit untuk bergerak maju.
Alexei kembali dengan membawa sesuatu di tangannya. "Ayo makan dulu. Kau belum makan siang!" Alexei meletakkan bungkusan makanan di meja.
"Apa Paman membeli makanan keluar?" tanya Ana, sambil membuka bungkusan kertas.
Di dalamnya ada kotak makanan memanjang. Dikeluarkannya kotak itu dan meletakkan di meja. "Harum!" gumamnya.
"Itu makan siang para bawahanku. Kubawa ke sini, untukmu!" jawab Alexei.
"Tentu saja!" Aku pergi ke sana karena sudah lapar. Dan kau terlalu sibuk. Aku tak mau mengganggu konsentrasimu!" jawabnya.
Ana mengangguk. Dia membuka kotak makanan dan melihat kentang goreng, kacang dan ayam dimasak dengan saus tomat. serta satu buah apel.
Ana menikmati makan siangnya dengan lahap. Perutnya memang sudah lapar.
"Paman, apa kau tau asal usul keluarga ayahku? Jika kita tak bisa mencarinya, mungkin bisa mencari berdasarkan silsilah keluarganya!" tanya Ana.
"Seperti yang sebelumnya kukatakan, aku hanya tahu bahwa dia teman sekolah ibumu. Aku sendiri sedang pendidikan militer, jadi tidak terlalu memikirkannya," jawab Alexei apa adanya.
"Apa mungkin Paman Yuri tau sesuatu?" tanya Ana.
Alexei diam. Alisnya sedikit mengerut kala dia berpikir serius. "Entahlah. Mungkin saja!" jawabnya ragu.
Ana masih asik mengetik sambil makan. "Coba kita cari nama Avraam!" celetuknya sambil jarinya menari lincah di keyboard.
"Ada!" ujarnya terkejut, hingga tersedak makanannya sendiri.
"Huk ... huk ... huk!"
"Pelan-pelan!" tegur Alexei. Dia menarik kursi agar bisa ikut melihat apa yang dikerjakan Ana.
"Avram Biehl. Afram Dough. Sebastian Afram...." Alexei membaca nama-nama hasil pencarian Ana.
"Ada ratusan nama yang memakai kata dengan penyebutan sama. Tapi itu jelas berbeda!" Alexei meragukan nama-nama yang ada di situ sebagai Ivan, adik iparnya.
"Haahhh!" Ana merasa makin kesal. Digigitnya potongan daging ayam dengan gemas.
Alexei terkekeh melihat tingkah Ana yang lucu, saat kesal. Dikuceknya rambut gadis itu dengan gemas. "Habiskan makananmu. Lalu bawakan air untuk tahanan itu! Dia bisa dehidrasi jika berhari-hari tak makan dan minum!" Alexei menasehati.
"Biarkan saja dia mati!" Ana menjawab dengan ketus.
"Yahh ... terserah kau sajalah. Mau menghabisi atau membuka mulutnya, aku tak ikut campur!" Alexei membuka pintu dan pergi ke luar, meninggalkan Ana sendiri.
"Hah ... kau jadi kesayangan saja sudah merepotkanku. Dijadikan tahanan malah semakin menyusahkan!" gerutunya.
Ana menyelesaikan makan dan membereskan sampah di meja. Laptopmya diletakkan lagi di atas kasur di loteng yang menjadi tempat istirahatnya.
Tas besarnya juga ada di sana. Itu harta kekayaannya dalam bentuk tunai. Seperti kata Alexei, Ana jangan memakai kartunya dulu untuk bertransaksi sebesar apapun.
Itu sedikit menjengkelkan buat Ana. Dia seharusnya membayar banyak tagihan untuk dua rumah dan satu apartemen. Tapi tak bisa menggunakan uang di rekening yang mungkin sedang dipantau oleh Biro.
Khawatir rumah persembunyian itu sudah diketahui orang dan mungkin akan dihancurkan, Ana menyelamatkan seluruh aset tunai miliknya dari rumah itu. Dua tas besar dan berat. Tentu saja, selain Uang tunai dan beberapa emas, Ana juga memasukkan seluruh koleksi senjata berharganya ke dalam tas.
"Aku harus membeli rumah baru di desa. Yang sederhana saja. Mungkin bisa minta tolong paman untuk menggunakan nama salah seorang bawahannya!" pikir Ana.
Pandangannya jatuh ke meja makan, di mana Masih ada segelas air dan buah apel tersisa.
"Sekarang lebih baik kasih minum dulu orang itu!" gumannya.
Dia turun lagi ke bawah. Mengambil buah apel dan gelas air, dibawamya ke dalam kamar mandi dan memasuki ruangan rahasia di basement.
"Kau sudah sadar. Bagus!"
Ana membuka sumpalan kain yang menutupi mulut gadis itu. "Katakan! Apa perintah yang kau terima, hingga memburu kami! Siapa yang mengeluarkan perintah!" tanya Ana.
Gadis itu hanya diam dan menunduk. Ana menggigit apelnya di depan Alena sambil terus bicara.
"Temanmu yang di pasar itu sudah tewas, meledak di jalan. Dan alat pemancar di tubuhmu sudah kami keluarkan. Tak ada yang tahu kau di mana. Tak ada yang akan menyelamatkanmu!"
Alena terus diam. Tapi Ana tak peduli. Dia sedang ingin bicara sekarang.
*******