
"Bagaimana perasaanmu sekarang?" tanya Profesor Stone pagi itu.
"Apakah aku berada di ruanganmu?" tanya Ana.
"Ya! Kau menhubungiku tadi malam dan minta tolong. Apa kau ingat itu?" tanya Profesor Stone lagi.
"Ugh ... rasanya memang seperti itu," sahut Ana. "Kepalaku terasa sangat sakit tadi malam," tambahnya lagi.
Saat aku menemukanmu, Kau tertelungkup di meja. Dan mimisan. Aku sudah melakukan pemeriksaan MRI, tapi tidak menemukan keanehan apapun. Jadi hari ini kau akan menjalani sesi terapi perawatan seperti waktu itu!" putus Profesor Stone.
"Tapi sekarang kepalaku baik-baik saja," tolak Ana halus.
"Itu karena aku memberikan obat penghilang rasa sakit," jawab Profesor Stone.
"Oh ... benarkah?" gumam gadis itu. Kemudian dia mengangguk. "Baiklah." Ana setuju dengan rencana Profesor Stone.
"Kau habiskan dulu sarapanmu, Setelah itu kita lakukan sesi terapimu!" Profesor Stone keluar dari kamar rawat Ana.
*
*
"Bagaimana, Apakah kalian sudah mengetahui siapa dia sebenarnya?" tanya Ammo.
"Melihatnya dikawal dengan pasukan lengkap, harusnya dia adalah orang penting di pemerintahan. Tapi kami tak menemukan siapapun di posisi pemerintah yang seperti dia!" jawab Donny.
"Cari lagi. Mungkin bukan pejabat lapis pertama. Tapi dia pastilah orang yang cukup penting, hingga butuh pengawalan sekian banyak orang!" kata Ammo.
"Baik!" sahut Donny dan Ivan.
"Seorang kurir mengirimkan paket Tuan." Julio menunjukkan sebuah surat kepada Ammo.
Ammo memeriksa isi surat itu dan segera memerintahkan Julio untuk membawa masuk apa yang datang.
"Anda yakin?" tanyanya,
"Ya! Itu kiriman dan Romanov," jelas Ammo.
"Baik!" Julio keluar dari ruang kerja.
Tak lama, beberapa pengawal hilir mudik mengangkat beberapa kotak.
"Kalian sudah memeriksa keamanannya?" tanya Ammo.
"Sudah, Bos!" jawab para pengawal itu. Ammo mengangguk.
"Ada berapa banyak yang dikirim ke sini?" tanya Ammo ingin tahu.
"Satu truk, Bos!" jawab pengawal itu cepat.
"Ya, Tuhan ...." Ariel, Donny dan Ivan mengerang sambil memegang kepala tanda pening menghinggapi.
"Tak perlu begitu lebai!" cela Ammo. "Itu adalah informasi yang disimpan dengan perlindungan tinggi oleh biro pusat. Dan Romanov mengirimnya utuh, tanpa melewati penyaringan lagi.
Dalam satu jam, semua kiriman itu telah berada di lantai dua. Tak semuanya cukup untuk dimasukkan ke ruang kerja. Jadi sebagiannya diletakkan di hall dekat pintu masuk ruang kerja.
"Kita butuh tenaga tambahan untuk memeriksa semua ini," cetus Ariel.
Dua temannya mengangguk setuju. Mereka sudah merasa mual lebih dulu, saat melihat banyaknya berkas yang harus diperiksa dengan teliti.
"Untuk itulah kalian dibayar mahal," celetuk Julio.
Ketiga orang itu tak membalas. Karena apa yang dikatakan Julio, adalah kebenarannya.
"Sementara, kalian hentikan mencari pria yang mengganggu Ana. Donny dan Ivan, kalian memeriksa semua berkas ini!" perintah Ammo.
"Oke!" jawab Donny cepat. Meskipun itu segunung, jika terus dikerjakan, maka semua akan selesai juga pada waktunya. Bersama dengan Ivan, dia harus bekerja keras untuk bisa menemukan informasi rahasia dan sangat penting di biro K pusat.
Ariel kembali menjaga mesin komunikasi, dari lapangan dengan Ammo. Setelah informasi keberhasilan malam sebelumnya, tak ada info apapun yang masuk dari Romanov dan Vladimir.
Ammo merasa agak khawatir. Tapi sekarang dia harus memeriksa orang yang menginginkan Ana. Itu hal yang sangat aneh menurutnya. Namun dia masih belum menerima umpan balik yang cocok dengan profil orang di rekaman.
"Apa kalian menemukan sesuatu?" tanya Ammo pada Donny. Kedua orang itu menggeleng perlahan.
"Ada panggilan masuk dari Vladimir!" panggil Ariel.
Ammo mendongakkan kepala untuk mengetahui informasi apa yang akan disampaikan Vladimir.
"Sambungkan!" perintahnya.
"Bos! Sekarang terjadi baku tembak di istana ini. Para tentara itu mendukung rezim ini untuk terus berkuasa!" lapor Vladimir.
"Apakah negosiasi kalian sudah berhasil?" tanya Ammo.
"Belum!" jawab Vladimir.
"Kalian terlalu polos. sehingga memberi pihak lain kesempatan untuk mendekat!" cerca Ammo.
Vladimir tidak menjawab. Mereka memang bergerak terlalu lamban, hingga memberikan kesempatan para tentara mengumpulkan kekuatan untuk menerobos barikade yang mereka buat di halaman istana.
"Singkirkan saja dia. Menurutku, dia hanya ingin menjebakku. Dia pasti sudah tergiur dengan tawaran rezim berkuasa!" perintah Ammo tegas.
"Jika seperti itu, maka---" Vladimir tak melanjutkan kata-katanya.
Kalian hanya bisa menyelamatkan diri sendiri. Mundurlah pelan-pelan, dan tak terlihat!" pesan Ammo.
"Aku akan mengabari Romanov untuk ikut mundur juga!" ujar Ammo.
Kemudian Ammo mendengar suara ledakan keras.
"Apa mereka sudah masuk?" tanya Ammo.
"Sepertinya ada yang meledak di depan pintu istana!" Aku akan melihat ke sana. Nanti kulaporkan lagi!" teriak Vladimir.
"Mundur secepatnya. Biar aku yang membereskan dari sini!" seru Ammo sebelum hubungan itu terputus.
"Ya!" Hanya kata itu yang terdengar diantara bunyi tembakan.
Ammo dan seisi ruangan itu menjadi tegang. Kemenangan Romanov tidak diikuti dengan kemenangan Vladimir. Itu membuat semua rencana jadi mentah! Entah berapa banyak anak buahnya yang tewas saat menjaga tim Vladimir yang menerobos masuk istana. Ammo merasa sangat geram karena dipermainkan oleh orang yang meminta dukungannya.
Ammo duduk di mejanya. Membuka laci meja dan mengeluarkan laptop pribadinya. Dia memeriksa lokasi di mana Vladimir berada dan memantaunya melalui satelit. Pertempuran hebat terjadi di bawah sana. Ammo sedang sangat marah.
"Katakan pada Vladimir untuk mengeluarkan orang-orangnya dari sana!" perintah Ammo.
Ariel segera melaksanakan perintah itu dan mengirimkan pesan para semua orang tersisa untuk segera pergi dari sana.
Ammo bisa melihat bagaimana orang-orangnya ditembaki dari berbagai sisi. Tak akan mudah bagi orang-orang itu untuk kabur dari sergapan tentara. Dengan melihat lebih dekat lagi. Ammo menemukan celah untuk membuat perhatian musuh teralihkan.
Di sisi utara istana itu tak ada anak buahnya yang tersisa. Ammo meluncurkan satu rudal ke titik itu. Julio, Ariel, Donny dan Ivan mengamati serangan Ammo. Seharusnya ada senjata anti rudal di istana itu, untuk menangkis serangan Ammo, bukan?
Meskipun tidak berhasil menghancurkan istana, harusnya kejutan itu cukup untuk memberi waktu bagi anak buah Ammo yang sedang terkepung. Mereka harus bisa menyingkir dari sana.
Romanov sudah mmembawa keluar orang-orangnya!" Ariel membacakan pesan Romanov.
"Bagus!" komentar Ammo. Dia sudah mengarahkan satu rudal lagi ke arah kantor pusat Biro Klandestine. Tak menunggu lama, Ammo segera meluncurkannya.
Ketegangan meningkat, melihat dua titik merah mengambang di layar, berkedip-kedip.
Rudal pertama tinggal satu kilometer lagi. Sementara pertarungan di bawah makin seru dan mengkhawatirkan. Posisi Vladimir terlihat terjepit. Dia terlalu lama bereaksi dengan keanehan pria itu.
Kemudian terlihat titik merah itu meledak, ditandai dengan cahaya merah merambat ke sekitarnya.
Semua mengamati bahwa benar, kejutan yang dikirim Ammo berhasil mengalihkan perhatian para tentara dari mengejar dan mengepung bawahan Ammo. Mereka sibuk mencari rudal lain di udara dan mengaktifkan menangkal rudal di istana. Padahal Ammo tidak mengirim apapun lagi ke sana.
Hatinya sedih melihat beberapa orang berlari menjauh. Ada juga yang saling menempel. Artinya, salah satunya terluka dan diselamatkan kawannya agar tidak tertinggal di sana.
Sekarang, perhatian mereka tertuju pada rudal kedua yang dikirim ke kantor Biro K. Posisinya sudah sangat dekat. Dan tak disangka, di sana tidak ada senjata penangkal rudal. Gedung itu luluh lantak dalam sekejap.
Tapi Ariel, Donny dan Ivan masih merasa tegang, karena Ammo masih berkutat dengan laptop khususnya itu. "Siapa lagi yang mau diledakkannya untuk balas dendam?" pikir Ariel ngeri.
********