Code Name: ANGEL K05

Code Name: ANGEL K05
19. Penderitaan Maya


Sebelum matahari terbit, sebuah mobil hitam menyusuri jalanan yang mulai menggeliat.


Seorang wanita 30an berambut hitam berpotongan later sebahu, bergegas keluar rumah setelah mendengar bunyi klakson mobil. Dia menyandang tas ukuran sedang dengan tali menyilang punggung. Wanita itu mengenakan T-shirt putih polos dan celana jeans biru cerah. Kesan santai terlihat saat dia melangkah riang penuh senyum.


Pintu mobil terbuka, wanita itu melangkah masuk. Pintu kembali menutup. Wanita itu meraih selembar kain yang tersampir di kemudi. Dia tau bahwa matanya harus ditutup sepanjang jalan. Dia melakukannya. Kemudian mobil melaju membelah jalanan.


Tepat pukul 6, sebuah mobil putih memasuki garasi rumah mungil di pinggir kota. Pintu garasi langsung tertutup begitu mobil berada di dalam.


"Adriana!" seru Ana hangat.


"Kau berhutang padaku untuk ini!" ujar wanita itu ketus sambil membuka ikatan kain yang menutup matanya.


Tapi Ana tersenyum makin lebar dan mengembangkan dua tangannya minta dipeluk.


"Kita bukan bocah 10 tahun lagi! Dimana pasiennya?"


Wanita itu tak ingin membuang waktu.


"Aku hanya merindukanmu ...." kata Ana lembut.


Keduanya berjalan masuk ke rumah sambil bergandengan tangan. Ana membawanya ke tempat Maya.


Wanita itu adalah seorang dokter bedah jantung di rumah sakit kecil. Dia dengan sigap memeriksa luka di perut Maya.


Selama hampir 2 jam, kedua wanita itu berkutat menyelamatkan nyawa Maya. Adriana lebih terkejut lagi ketika memeriksa organ genital Maya. Wajahnya merah padam menahan amarah.


"Mereka brutal sekali ...," ujarnya lirih.


Jarinya sigap memeriksa. Lalu menjahit luka lebar yang ada di sana.


"Ini hanya tindakan darurat. Peralatanmu tak memadai untuk memindai bagian dalam. Dia harus dirawat oleh tenaga ahli," saran Adriana.


"Bantu pegang tubuhnya. Aku mau periksa belakangnya."


Ana membantu dan memiringkan tubuh Maya. Dia bisa lihat ekspresi Adriana berubah.


"Ada apa?" tanyanya khawatir.


Adriana menahan tubuh Maya agar Ana bisa melihat.


"Ya Tuhan! Mereka itu monster!" teriaknya geram. Ana merasa sangat marah pada George yang tak memberikan perlindungan pada agen wanitanya.


"Simpan amarahmu. Bantu aku," tegur Adriana. Sebagai dokter, meski dia merasa marah, dia harus menyimpan emosi dan mendahulukan perawatan pasien.


Pukul 8 pagi. Tindakan darurat itu selesai. Ana menyeka tubuh Maya. Hatinya berdarah melihat rona biru di sekujur tubuh anggota timnya itu. Dia harus mengirimnya jauh untuk perawatan lanjutan dan bantuan psikologis.


"Aku harus kembali sekarang," kata Adriana. Dia sudah membersihkan diri.


"Oke. Mobilku akan mengantarmu. Katakan kau mau diturunkan di mana?"


Ana segera berdiri dan menuju garasi. Dia memilih mobil jenis lain untuk mengantar Adriana. Sebuah SUV dengan tampilan biasa, tapi memiliki fitur komplit.


Ana menset lokasi tujuan Adriana. Memasangkan penutup mata setelah wanita itu duduk manis.


Ana membuka pintu lain yang ada dibalik rak peralatan otomotif. Itu adalah jalan alternatif dimana mobil itu akan keluar. Mobil mulai melaju perlahan dan hilang dibalik kelokan lorong bawah tanah. Ana menutup lagi pintu penyamaran itu.


Dia kembali untuk memeriksa Maya. Kondisi gadis itu masih harus terus dipantau selama beberapa waktu. Ana memeriksa semua peralatan terpasang dengan benar.


Kemudian dia pergi ke basement rumah itu. Selain menjadi tempat penyimpanan bahan makanan biasa, ada lagi satu ruangan dengan alat pendingin.


Di dalam situ tersusun cukup banyak bahan makanan beku. Ana menuju sebuah lemari dan membuka pintunya. Lalu menggeser rak rempah-rempah ke samping.


Ada tombol rahasia di dinding belakang lemari. Ana memencetnya, lalu keluar alat kecil dengan deretan angka. Ana memasukkan kode yang dibutuhkan.


Klik!


Bunyi mekanis terdengar. Lalu dinding belakang lemari itu bergeser. Ana melangkah masuk. Dia segera mengolah hasil pindaian kamera dari kacamata yang dipakainya.


Membuat laporan dan memasukkan semua data yang telah dikumpulkannya. Semua laporannya sudah siap. Ana menimbang baik buruknya melakukan hal ini. Dia tau, George akan semakin memusuhinya jika laporan ini sampai ke atas.


Ana harus bersiap menghadapi badai jika dia memencet tombol enter. Dia mungkin akan segera menjadi target dari banyak pihak yang tidak senang.


Tapi Ana merasa dia tak punya pilihan. Bagaimanapun dia dan timnya telah menjadi target seseorang. Maya sudah jadi korban untuk memperingatkannya. Jadi mari diperjelas, siapa sebenarnya yang memburunya selama ini.


Klik!


Ana memencet tombol enter.


Lalu dia mengambil ponsel. Mengirim pesan untuk semua anggota timnya.


CHEESE DONUT 5


Hape jadul itu diletakkannya di meja. Di lihatnya layar cctv yang mengawasi seluruh tempat ini. Ini adalah properti pribadinya. Harusnya tak ada seorangpun yang tau tempat ini. Namun Ana tetap mengaktifkan sistem perlindungan sejak gerbang masuk dan pagar keliling. Bahkan sensor yang ditanamnya di bawah tanah juga diaktifkannya. Ana tak peduli jika ada yang mati setelah menerobos masuk ke area pribadinya.


******