
Chapter 98
Pak Tono mulai bercerita awal dari kejadian yang sangat memilukan yang menimpa desa mereka, awal dimana para warga desa banyak yang diperbudak oleh sebuah organisasi.
"Jadi begini nak..."
Pada awalnya di desa ini sangat tenang dan tidak ada konflik sama sekali, tetapi semenjak datangnya sekelompok orang yang mengaku sebagai petugas yang ingin membangun sebuah pabrik di dekat desa mereka semuanya berubah.
Awalnya para warga sangat antusia karena bisa mendapatkan pekerjaan yang layak jika nanti keterima menjadi buruh di pabrik baru tersebut, tapi sayangnya semua itu hanya mimpi belaka.
Saat pabrik jadi dan para warga banyak yang bekerja di sana, ternyata mereka harus tinggal di tempat yang telah disediakan oleh pihak pabrik bahkan tidak ada yang diperbolehkan pulang sebelum memenuhi persyaratan dari pihak pabrik.
Warga desa juga selalu diawasi hampir setiap hari oleh para petugas yang ada di pabrik tersebut, mereka mengawasi warga desa agar tidak ada yang berani melawan mereka yang bisa membuat usaha itu hancur.
"Ibu kamu juga termasuk yang ikut bekerja di sana nak," ucap pak Tono mengakhiri ceritanya dengan ekspresi sedih karena gagal menjaga desa yang sudah ia tinggali sedari dulu.
"Memangnya letak pabrik itu dimana pak?" tanya Firman masih menahan emosinya.
"Letaknya ada di jalan dekat hutan menuju desa ini, tempatnya berada agak jauh ditengah hutan," jawab pak Tono.
"Baik pak terima kasih sudah mau bercerita, saya janji akan membantu supaya warga desa ini bisa lepas dari cengkraman mereka," ucap Firman.
"Terima kasih nak Firman, tapi bapak kasih saran kamu harus berhati-hati karena orang-orang itu sangat kejam sampai tidak segan untuk menghabisimu," ucap pak Tono memperingatkan Firman.
Firman pun kembali masuk kedalam rumah untuk menemui Jia Li membahas masalah ini secepatnya agar cepat selesai dan Firman bisa bertemu dengan sang ibu secepatnya.
Saat masuk kedalam kamar, Firman melihat Jia Li yang sedang menata rambut Wati anak dari pak Tono.
"Ikut aku segera, kita ada urusan yang harus cepat diselesaikan," ucap Firman dengan nada dinginya yang membuat Wati takut.
Firman lalu keluar dari ruangan tersebut sementara Jia Li terlihat sedang mengemasi tasnya untuk menyusul Firman.
"Kakak mau kemana?" tanya Wati memperhatikan Jia Li yang sedang mengemasi barangnya.
"Cowok kakak suruh buat ikutin dia, jadi kakak pamit dulu ya," jawab Jia Li selesai memasukan barangnya.
Ternyata diluar rumah sudah ada Firman yang menunggu sembari menggunakan kacamata hitam yang menambah kharisma tampan Firman, di sana juga ada pak Tono dan istrinya.
"Kita mau ngapain?" tanya Jia Li yang memang tidak tahu akan melakukan apa.
"Selidiki sesuatu," jawab Firman singkat.
"Pak, terima kasih sudah mau menerima saya di sini," ucap Firman kepada pak Tono.
"Iya sama sama nak, tapi ingat kamu harus berhati-hati jangan bertindak gegabah," balas pak Tono.
Lalu Firman dan Jia Li pergi meninggalkan rumah tersebut tetapi mobil mereka masih terparkir di depan rumah ibu Firman dititipkan pada pak Tono untuk menjaganya.
Mereka berjalan sampai ke tengah hutan entah apa tujuannya.
"Sayang, kita ngapain kehutan?" tanya Jia Li yang dari tadi penasaran apa tujuan mereka.
"Kita akan berburu," jawab Firman singkat dan terus berjalan memasuki hutan.
"Hah? Berburu apa maksud kamu?" Jia Li menjadi semakin kebingungan mendengar jawaban dari Firman.
Tapi sebelum Firman menjawab, mereka berdua menemukan sebuah tempat yang sangat besar berada di tengah hutan, tempat itu benar-benar terletak ditengah hutan yang sangat luas ini.
"Apakah ini tujuanmu datang kesini sayang?" tanya Jia Li.
"Mungkin saja," lagi-lagi Firman menjawab dengan singkat tanpa menjelaskan apa yang sedang mereka lakukan.
"Aish setidaknya tolong ceritakan apa yang akan kita lakukan, agar aku tidak kebingungan seperti ini," ucap Jia Li kesal.
Akhirnya Firman pun menjelaskan apa yang akan mereka lakukan dan apa alasan Firman melakukan hal tersebut. Tapi sebelum berangkat Firman sempat berbicara kepada pak Tono bahwa ia akan mendatangi pabrik tempat para penduduk desa bekerja.
Firman akan menyelidiki terlebih dahulu tentang apa yang terjadi di pabrik tersebut, dengan bantuan Jia Li yang lumayan pintar menggunakan senjata Firman berharap rencananya akan berhasil dan bisa mendapatkan apa yang ia mau.
"Jadi maksud kamu kita akan menyusup ke sana untuk membebaskan para warga yang ada di pabrik itu?" tanya Jia Li.
"Kita selidiki dulu apakah itu benar atau tidak, jika memang benar maka kita akan menyusup ke sana untuk membebaskan mereka semua termasuk ibuku," jawab Firman menjelaskan.
"Baiklah aku mengerti, sekarang apa rencananya?" ucap Jia Li.
"Kita di sini saja dulu untuk memantau situasi sampai semuanya jelas." mereka kemudian membuat tempat untuk mengawasi aktivitas pabrik dari sebuah bukit yang ada di dekat pabrik tersebut.
Firman mengeluarkan laptopnya lalu mulai mencoba untuk membobol keamanan yang ada di dalam pabrik melalui jaringannya, sedangkan untuk Jia Li ia bertugas untuk mengawasi area luar dengan teropong untuk melihat situasi yang terjadi.
Tidak lama kemudian Firman berhasil mendapatkan akses untuk memantau cctv yang ada di dalam pabrik tersebut, Firman pun mulai mengawasi satu persatu gambar yang ada lewat kamera cctv.
Terlihat dari gambar jika para pekerja sedang melakukan tugasnya masing-masing dan ada beberapa orang yang sedang berputar-putar mengawasi para pekerja sambil membawa sebuah senjata api dan juga sebuah tongkat kayu.
'Sepertinya apa yang dikatakan pak Tono benar,' batin Firman terus mengawasi cctv tersebut.
Sampai akhirnya malam pun tiba dan terlihat di area pabrik masih aktif dan para pekerja terus dipaksa bekerja meski sudah terlihat ada beberapa yang kelelahan sampai pingsan.
"Apa-apaan itu! Mereka dipaksa bekerja tanpa makanan hingga berjam-jam lamanya!" ungkal Jia Li sangat marah saat mengawasi kejadian tersebut.
"Sabar, kita harus mengumpulkan sebanyak mungkin bukti agar kita bisa melawan mereka baik itu secara fisik maupun hukum nanti jika diperlukan," ucap Firman yang sudah berpikiran jauh kedepan tentang masalah ini.
Firman sebenarnya juga sangat emosi saat melihat kekerasan yang dilakukan tersebut, tanganya sudah tidak sabar ingin menghabisi para petugas penjaga itu, tapi Firman masih berusaha tenang agar tidak bertindak gegabah yang nantinya malah bisa merugikan dirinya.
Firman berpikir untuk mengumpulkan informasi terlebih dahulu sebelum bergerak menyerang mereka, karena Firman yakin jika dibalik semua ini pasti ada orang besar yang memiliki jabatan tinggi sebagai pelindungnya, tidak mungkin bisa ada sebuah pabrik besar yang berada ditengah-tengah hutan jika tidak ada orang ber uang yang membuatnya kan.