
Chapter 171
Sophia terdiam setelah melihat fakta yang baru saja diperlihatkan oleh Firman hingga membuatnya tak lagi merasakan sakit di tangannya yang tadi ditebas menggunakan katana milik Firman.
"Tidak ...! Tidak mungkin seperti itu! Kau pasti telah merencanakan semua itu kan?! Kau pasti telah memanipulasi fakta dengan membuat seolah-olah keluargaku yang bersalah!" ujar Sophia yang tidak mempercayai fakta yang diperlihatkan oleh Firman.
"Aku bicara jujur, bukan aku yang bicara sebenarnya tapi fakta sebenarnya yang bicara melalui bukti nyata berupa video yang barusan aku perlihatkan dengan ditonton oleh kalian semua," ucap Firman.
"Kau jangan menipuku! Aku tau kau pasti telah merancang semua ini untuk membuat aku merasa bersalah lalu sedikit demi sedikit menjatuhkanku," balas Sophia dengan nada meremehkan.
Entah apa yang ada dipikiran Sophia saat ini, padahal sudah sangat jelas bukti yang diperlihatkan oleh Firman tadi memperlihatkan bahwa keluarganya yang bersalah dan kehancuran keluarga Sophia tak ada sangkut pautnya dengan keluarga Gina sama sekali.
"Kalian semua serang mereka sampai tidak tersisa!" ujar Sophia memerintahkan semua anak buahnya menyerang Firman dan para anggota Gina.
Setelah memerintahkan anak buahnya untuk menyerang Firman dan yang lainnya, Sophia terlihat secara sembunyi-sembunyi pergi menuju belakang untuk mencari kesempatan kabur tanpa diketahui oleh semua orang.
Anak buah Sophia langsung menjalankan perintah ketua mereka tersebut tanpa basa-basi menyerang Firman yang sudah bersiap dengan katana di tangannya untuk menghabisi semua musuh yang menyerangnya.
"Kalian yang meminta ini!" ucap Firman menampilkan seringai kejam.
Firman menghadapi anak buah Sophia sendirian karena kondisi anggota Gina saat ini kurang memungkinkan untuk kembali bertarung, Lina juga terluka karena tadi membantu pertarungan juga sebelumnya bersama rekan yang lainnya.
Sring ...
Tebasan katana Sang Pembantai milik Firman seperti sangat ringan sekali mengayun kesana-kemari tanpa beban sama sekali, menebas tubuh para anak buah Sophia tanpa memberikan belas kasihan sama sekali meskipun banyak dari anak buah Sophia yang sudah terkapar dengan kaki atau tangan terpotong.
"Nikmatilah waktu kalian sebentar lagi!" ucapan Firman bagaikan suara malaikat pencabut nyawa bagi semua anak buah Sophia.
Semua anak buah Sophia tidak bisa berkutik sama sekali saat melawan Firman dalam pertarungan, padahal jumlah mereka ratusan kali lebih banyak ketimbang Firman yang sendirian melawan mereka.
Bahkan menyentuh Firman saja mereka tak mampu melakukannya, dengan sangat mudah Firman membantai habis mereka semua tidak tersisa satupun hingga banyak di antara mayat disana yang keadaannya sangat memprihatinkan.
Mayat tanpa bagian tubuh yang lengkap terlihat berserakan di lantai ruangan tersebut, bahkan bagian organ dalam manusia banyak yang berceceran hingga memenuhi lantai ruangan.
Cairan darah sudah terlihat seperti air yang menggenang di lantai memenuhi setiap sudut ruangan tersebut membuat siapa saja yang belum biasa melihat darah ataupun mayat sudah dapat dipastikan orang itu akan mual saat melihat pembantaian yang dilakukan Firman.
Para anggota mafia Roses Girl yang diketuai oleh Gina, mereka menatap tak percaya dengan apa yang mereka lihat di depan mata saat ini, pembantaian sepihak yang dilakukan oleh Firman terlihat sangat mustahil dilakukan oleh orang biasa.
"Monster!" itulah pikiran semua orang saat melihat keganasan Firman saat membantai semua musuhnya tanpa terkecuali.
Bahkan Gina dan Lina juga ikut terkejut melihat kemampuan yang dimiliki oleh Firman, mereka belum pernah melihat Firman membantai musuhnya hingga habis seperti itu sebelumnya.
Mungkin Gina sedikit tahu tentang Firman dari informasi yang didapatkannya melalui informan yang dimilikinya, tapi melihat secara langsung keganasan Firman itu terasa sangat berbeda bagi Gina daripada hanya mendengar cerita dari orang lain
Ia seperti melihat gambaran manusia yang sangat mengerikan ada pada diri Firman, ini bukanlah Firman yang ia kenal selama ini, Firman yang baik hati dan tidak banyak melakukan hal berbahaya.
"Hey, kenapa diam?" tanya Firman tepat didepan Gina hingga membuatnya kembali sadar dari lamunannya tadi.
"Eh ... Tidak ada apa-apa, kamu sudah selesai sayang?" tanya balik Gina mengalihkan pertanyaan Firman tadi.
"Kamu bisa lihat sendiri, tapi sayang sekali si wanita tadi pergi melarikan diri," jawab Firman terlihat masih sangat geram dengan tingkah Sophia.
"Iya kamu benar, sepertinya Sophia kabur melalui jendela itu lalu pergi keatas," ucap Gina yang melihat jendela ruangan terbuka.
Mereka lalu mengecek pergi ke atas dimana tempat untuk helikopter terdapat disana. Gina, Firman, dan Lina menuju ke atas bangunan untuk melihat apakah masih ada Sophia disana atau tidak, sesampainya di atap gedung mereka hanya melihat bekas helikopter mendarat saja yang ada disana.
Bekas helikopter mendarat tersebut mengisyaratkan jika Sophia telah kabur menggunakan helikopter pergi dari sana yang membuat Gina makin kesal lalu ditenangkan oleh Lina.
"Sialan! J4lang busuk itu malah kabur, aku padahal ingin sekali menguliti wanita busuk itu karena berani menggoda kekasihku!" ujar Gina dengan nada penuh amarah yang ditujukan kepada Sophia.
"Tenang kak, jangan marah-marah terus nanti kakak cepat tua," ucap Lina berusaha menenangkan kakaknya tapi malah membuat Gina semakin kesal karena dikatakan cepat tua oleh adiknya sendiri.
Lina yang ketakutan melihat kemarahan sang kakak yang sulit untuk ditenangkan bila sudah marah, ia langsung pergi menuju belakang Firman guna mencari perlindungan dari amarah kakaknya yang seperti singa betina sedang marah besar.
"Tolong aku kak Firman, ada singa yang ingin menyerangku huhuhu ..." ucap Lina berlindung di belakang Firman sambil berpura-pura menangis berharap dibantu menghindari amarah Gina.
Lina memeluk tubuh Firman dari belakang dengan erat seakan tak mau dilepaskan, Firman sendiri yang baru menaruh katana miliknya ke dalam tempatnya kembali menjadi terkejut melihat Lina yang berlindung kepadanya dari amukan Gina.
"Kau kenapa Lina?" tanya Firman yang tadi tidak mendengarkan ucapan Lina yang sedang mengadu kepadanya.
"Itu bantuin aku kabur dari amukan kak Gina," jawab Lina memperlihatkan wajah imutnya.
Firman yang melihat hal tersebut hanya bisa menghela nafas pasrah karena harus terjebak diantara pertengkaran dua orang kakak beradik berbeda sifat tersebut, di dalam pikirannya Firman berkata, 'Kenapa harus aku yang selalu dibawa-bawa.'
"Hey kamu jangan peluk-peluk sayangku dasar buaya kecil!" teriak Gina melihat Firman yang dipeluk Lina dari belakang.
Bukanya takut melihat kakaknya marah, Lina justru mengejek dengan cara menjulurkan lidahnya ke arah Gina lalu berkata dengan nada ejekan, "Wlek ... Kak Firman melindungi aku dari kakak singa, jadi aku tidak takut lagi pada kakak singa."
"Kau ...! Kemari kau dasar buaya kecil! Akan kuberikan pelajaran berharga untukmu karena telah berani mengejek kakakmu sendiri!" ucap Gina berjalan kearah Lina berada.
Lina yang sekarang merasa takut melihat Gina berjalan kearahnya semakin mengeratkan pelukanya kepada Firman hingga membuat Firman menahan nafasnya karena dadanya ditekan keras oleh Lina.
"Lina stop! Jangan menekan dadaku terlalu keras, aku tak bisa bernafas," ucap Firman lalu dengan cepat Lina melepas pelukannya.
Karena telah lepas dari pelukan Firman, dengan sangat cepat Gina langsung menangkap Lina, hingga Lina tidak dapat bergerak karena tubuhnya dibekap oleh Gina yang badanya lebih besar dari Lina sedikit.
Apalagi bagian depan Gina yang terbilang besar membuat Lina seperti tertekan didekap olehnya, hingga Lina tidak bisa bernafas karena terus ditekan di dalam daging lembut milik Gina.
"K ... Kak Gina, aku tidak bisa bernafas ..." ucap Lina terbata-bata.
Gina melepas dekapanya lalu melihat keadaan sang adik, "Eh ... Maaf aku tidak sengaja mendekalmu terlalu erat hehehe," ucap Gina tertawa pelan seolah tak bersalah.
Sedangkan Lina masih mencoba memperbaiki aliran pernafasan yang tadi sempat terhalang karena didekap sangat erat oleh Gina.
"Ugh ... Lain kali tau keadaan lah kak, punya kakak itu besar dan aku dipeluk olehmu hingga tak bisa bernafas seperti itu!" ucap Lina yang nafasnya sudah kembali teratur.
"Kalian ini baru bertemu kembali malah bertengkar, sudah jangan bertengkar dulu, itu segera bawa semua anggotamu dan beberapa anggota lain yang gugur juga bawa saja sekalian nanti dimakamkan," ucap Firman.
Mendengar ucapan Firman mereka berdua pun langsung melakukan apa yang dikatakan oleh Firman, Gina mengatur anggotanya yang masih ada didalam ruangan tempat mereka disekap tadi untuk segera turun dari gedung ini.
Sedangkan Lina menyuruh anggota lainnya yang sedari tadi sudah berjaga di lantai bawah untuk mengosongkan gedung lalu membawa anggota yang sedang terluka menuju rumah sakit guna mendapatkan penanganan lebih lanjut dari tim medis.
"Bagaimana dengan polisi setempat?" tanya Firman kepada Lina.
"Kakak tenang saja, anggota yang lain sudah mengurus tentang masalah itu, mereka juga sudah mengosongkan area sekitaran gedung ini agar tidak ada orang yang tau apa yang terjadi digedung ini," jawab Lina.
"Baguslah kalau begitu, cepat lakukan evakuasi supaya yang terluka bisa segera mendapatkan pengobatan," ucap Firman.
"Baik kak, anggota yang berjaga dibawa sedang menuju kemari untuk membantu yang terluka," balas Lina.
Lina lalu pergi membantu anggota yang terluka bersama dengan rekan yang lainnya, sedangkan Firman masih berada diatas atap atau tempat paling tinggi yang ada di gedung tersebut.
Angin pada dini hari itu terasa sangat dingin menusuk tulang, apalagi dengan keadaan pada saat ini sedang dalam musim dingin yang membuat Firman makin kedinginan sendirian di atas gedung tersebut menikmati malamnya.
Grep …
Tiba-tiba dari belakang Firman ada yang memeluknya, kemudian Firman berbalik untuk melihat siapa yang memeluknya tersebut tanpa ijin.
Saat ia berbalik ternyata Gina yang memeluknya erat membuat Firman merasa hangat didalam pelukan Gina, mereka berdua menikmati malam indah itu bermesraan berdua di atas gedung sambil melihat pemandangan indah dari ketinggian.
Setelah melalui perjuangan panjang menguras tenaga serta pikiran, akhirnya mereka berdua mampu untuk menyelamatkan semua anggota Gina yang ditangkap, walaupun harus ada banyak anggota Gina yang gugur karena bertarung melawan anak buah Sophia sebelumnya.