
Chapter 175
Gina menoleh ke arah Firman sebentar kemudian kembali melanjutkan berbicara kepada Kalina, "Firman sedang menyetir mobil, nanti saja berbicaranya," ucap Gina membalas Kalina.
"Oh ... baiklah kalau begitu, maaf mengganggu waktu kalian berdua, kalian pasti sedang berkencan kan saat ini?" tanya Kalina.
"Benar kak, hehehe ... sadar diri juga kamu mengganggu kami yang sedang berkencan berdua," jawab Gina dengan nada sombong seperti menang melakukan sesuatu.
"Ya terserah kau saja, asal nanti jika dia sudah disini maka aku yang akan bersamanya, karena aku sama sekali belum pernah berkencan dengan Firman apalagi berduaan," ucap Kalina dengan nada sedih.
Memang benar sekali jika Kalina merupakan kekasih Firman yang belum pernah berkencan dengan Firman sama sekali, apalagi jalan-jalan berdua layaknya pasangan kekasih.
Hal itu dikarenakan Firman yang harus segera pergi menyelesaikan masalah yang tidak bisa ditunda, maka dari itu setelah Kalina baru menjadi kekasihnya Firman mereka sama sekali belum pernah berkencan lantaran kesibukan mereka masing-masing.
"Baiklah kak, aku juga paham bagaimana perasaan kamu, jadi tenang saja kita akan berbagi nantinya hahaha," balas Gina.
"Terima kasih Gina, jangan lupa hubungi aku lagi nanti setelah kalian sampai tujuan," ucap Kalina.
Sambungan telepon dimatikan oleh Kalina, kemudian Firman melihat kearah samping tempat duduk Gina yang tengah memainkan handphone nya Firman sehabis mengobrol dengan Kalina barusan.
"Mau bicara apa dia?" tanya Firman penasaran karena tadi sempat mendengar namanya disebutkan saat Gina dan Kalina berbicara melalui telepon.
"Dia hanya ingin membicarakan mengenai perusahaan katanya, tapi aku menjawab jika kamu sedang menyetir," jawab Gina dibalas anggukan kepala oleh Firman.
Perjalanan mereka terus berlanjut dengan mengelilingi kota yang indah pada dini hari tersebut, Firman yang merasa kelelahan lantaran sudah berhari-hari selalu menyelesaikan masalah tanpa bisa beristirahat dengan tenang.
Firman membawa mobilnya menuju sebuah restoran yang buka 24 jam, rencananya ia akan sarapan bersama dengan Gina karena jam sudah menunjukan pukul 6 pagi, waktu memang cepat berjalan.
Setelah menempuh waktu sekitar 30 menit, akhirnya Firman sampai pada sebuah restoran yang berada di pinggir jalan samping taman, restoran tersebut tidak terlalu besar tapi terlihat cukup ramai untuk ukuran restoran kecil.
"Kita makan terlebih dahulu, lalu kembali melanjutkan perjalanan menuju markas sekaligus jalan-jalan nanti," ujar Firman.
"Yah ... aku kira kita akan jalan-jalan sekarang," ucap Gina sedih.
"Aku ingin istirahat dulu, tubuhku terasa sangat lelah sekali jadi aku tidak mau memaksakan, takutnya akan menjadi buruk juga akibatnya pada diriku jika dipaksakan," ungkap Firman.
"Baiklah, aku juga tidak mau kalau kamu sakit karena kelelahan," balas Gina.
Mereka kemudian keluar dari dalam mobil sambil menggunakan jaket tebal karena suasana hawa dingin sangat terasa sekali hingga menembus kulit saking dinginnya.
Sepanjang perjalanan menuju restoran, Gina selalu memeluk lengan kanan Firman dengan eratnya seperti tak ingin jauh dari Firman walau sekejap saja, sedangkan Firman sendiri hanya diam saja ia juga tidak keberatan dengan tingkah manja Gina tersebut.
Sampailah mereka di depan restoran itu, Firman mengajak Gina masuk kedalam restoran yang terlihat lumayan ramai pagi ini, mungkin karena jam sarapan makanya keadaan dalam restoran jadi lumayan ramai.
Firman mengajak Gina duduk di kursi yang ada di pojok restoran, hanya tempat itu saja yang kosong makanya mereka duduk disana, setelah mendapatkan tempat duduk Gina memesan makanan untuk dirinya sendiri dan juga Firman.
"Sayang, aku boleh tanya sesuatu?" ujar Gina setelah selesai memesan makanannya.
"Tanya aja," balas Firman santai.
"Kamu punya kekasih berapa saat ini?" tanya Gina penasaran, karena tadi saat mengobrol dengan Kalina ditelepon, Gina merasa jika kekasih Firman masih ada lagi yang lainnya selain Kalina.
"Mungkin 6 untuk saat ini," jawab Firman santai.
Firman sedang membuka laptopnya untuk membuka file tentang perusahaan Queen Grup yang baru didapatkannya, ternyata perusahaan itu memiliki beberapa cabang yang tersebar di seluruh dunia dan pusatnya berada di Paris, sebuah kota yang sangat terkenal dengan pusatnya fashion dunia.
"Masa depan tidak akan ada yang tau," balas Firman.
"Tapi kamu bakalan adil kan sama kita semua? Aku takut nanti saat kamu pulang kesini aku jadi kesepian karena kamu sibuk dengan kekasih kamu yang lainnya," ucap Gina dengan nada bicara yang terlihat sedih.
Mungkin itu merupakan perasaan wanita yang pada umumnya, rasa selalu ingin diperhatikan dan tidak mau diduakan, tapi apa boleh buat, Firman mempunyai banyak wanita yang harus ia perlakukan sama, tidak mungkin jika Firman akan mengecewakan mereka semua.
"Aku tidak bisa janji untuk selalu bersikap adil kepada kalian semua, tapi aku bisa jamin bahwa tidak akan ada diantara para wanita milikku yang merasakan kesulitan, aku pasti akan menyelesaikan setiap masalah yang berhubungan dengan wanitaku!" jawab Firman seraya menatap Gina dengan serius.
Gina yang berada di samping Firman langsing memeluknya dengan perasaan bahagia, ia sudah sangat lama menginginkan hal ini terjadi, impiannya sejak kecil ingin hidup bersama dengan Firman.
Makannya Gina sampai rela hidup dipenuhi bahaya dalam dunia bawah demi untuk mencari keberadaan Firman, karena menurutnya informasi yang didapatkan dari dunia bawah itu lebih akurat meskipun sumbernya entah darimana.
"Terima kasih sayang, aku mencintaimu," ucap Gina tersenyum manis.
Firman hanya membalasnya dengan tersenyum saja, tapi terlihat dari wajah Gina memancarkan ekspresi kesal entah apa sebabnya.
"Ada apa?" tanya Firman heran melihat wajah kesal Gina.
"Aku mencintai kamu sayang!" ucap Gina tanpa membalas pertanyaan yang dilontarkan Firman.
Firman membalasnya dengan tersenyum kemudian ia melanjutkan pekerjaannya di depan laptop, sementara itu Gina terlihat semakin kesal lantaran ketidakpekaan yang dimiliki Firman.
"Aku mencintai kamu sayangku!" ucap Gina tepat ditelinga Firman yang membuatnya terkejut.
"Iya terima kasih sayang!" balas Firman kesal karena Gina terus saja mengganggu nya padahal sedang sangat sibuk.
"Hanya itu?" ungkap Gina dengan wajah yang terlihat semakin kesal.
"Hah? Maksudmu apa?" tanya Firman tak mengerti menggapa Gina terlihat sangat kesal.
Bukanya menjawab pertanyaan dari Firman, Gina justru memalingkan wajahnya ke arah lain lalu lebih memilih diam dengan masih mempertahankan ekspresi kesalnya.
Dengan wajah cemberut yang tampak lucu, Gina menggerutu tidak jelas walaupun tak ada yang mendengarnya karena suara Gina yang terdengar sangat pelan.
"Bagaimana sih dia itu, jadi cowok tapi tidak memiliki kepekaan sama sekali terhadap wanitanya! Hump!!! Setidaknya jawab sedikit saja ucapanku tadi 'aku mencintaimu juga sayang' kalau dijawab begitu kan enak mendengarnya, ini malah dijawab dengan senyum saja atau hanya ucapan terima kasih! Dasar laki-laki tidak peka!" gerutu Gina dengan suara pelan tidak begitu jelas suaranya, bibirnya yang maju seperti ikan membuat Gina terlihat semakin lucu.
Firman sendiri masih sangat fokus dengan laptopnya mengerjakan berbagai urusan yang belum terselesaikan tentang perpindahan kepemilikan Queen Grup yang baru didapatkan oleh Firman kemarin malam.
Pesanan makanan mereka datang setelah menunggu selama beberapa menit, Firman mematikan laptopnya lalu mulai makan bersama dengan Gina walaupun semuanya terasa sangat canggung serta mencekam.
Entah kenapa hawa dingin yang dirasakan oleh Firman terasa semakin menusuk, Firman melihat kearah sampingnya dan menemukan sebuah ancaman yang sangat berbahaya.
Bahkan ketua mafia tertinggi pun tidak ada tandinganya jika berhadapan dengan bahaya yang mengancam Firman tersebut, bahaya itu berasal dari tatapan mata Gina yang sangat tajam melihat ke arahnya.
Gina sudah terlihat seperti elang yang mengincar mangsanya dengan mata tajam, merasakan bahaya yang mengintai dari arah Gina berada, Firman hanya bisa diam karena memang ia tidak mengerti apa sebenarnya kesalahan yang telah dilakukan hingga membuat Gina sekesal itu kepadanya.
Memang benar kata orang, jangan pernah sekali-kali membuat wanita merasa kesal jika tidak ingin mendapatkan masalah yang tidak ingin kamu rasakan dalam hidupmu, dijamin menyesal.
'Apa sebenarnya mau dari wanita ini, aish ... lama-lama bisa sakit jiwa aku jika berurusan dengan mereka setiap hati yang tidak jelas ini, tapi tidak apa-apa yang penting aku juga mendapatkan nikmat dan keuntungan hehehe,' batin Firman menyeringai mesum sambil memikirkan para kekasihnya.
Sepertinya Firman sudah terkontaminasi pemikiran mesum seperti saat dirinya kecil dulu, mungkin pemikiran waktu kecil dulu saat menonton video plus-plus kembali teringat di kepala Firman yang membuatnya seperti itu saat ini.