
Chapter 110
Firman dan Jia Li sudah sampai dirumah ibunya, terlihat ada beberapa warga yang sedang berkumpul di depan rumah ibunya Firman entah sedang membahas masalah apa.
"Eh Firman sudah datang, sini nak duduk," ucap Tari memanggil Firman.
Firman kemudian mengikuti ucapan ibunya untuk duduk di sampingnya, diikuti Jia Li yang selalu berada di samping Firman sedari tadi.
Warga yang ada di sana tampak sangat menghormati ibunya Firman, apalagi setelah mereka diselamatkan oleh Firman semalam, mereka menjadi menaruh hormat kepada Firman dan juga Jia Li juga.
Para warga sudah menganggap Firman dan Jia Li sebagai pahlawan bagi desa mereka karena berhasil menumpas komplotan penjaga pabrik yang suka menyiksa para pekerjanya.
"Ada apa ramai sekali di sini?" tanya Firman heran.
"Tidak ada apa apa kok nak, mereka hanya ingin mengucapkan terima kasih secara langsung kepadamu dan Jia Li karena telah menyelamatkan warga dari tempat mengerikan itu," jawab ibunya.
"Betul itu, kami sangat berterima kasih kepada Tuan Firman karena telah membebaskan kami dari belenggu kekejaman pabrik itu," ucap salah satu warga mewakili yang lainnya.
"Tidak apa apa kok Pak, saya hanya menjalankan tugas saja sebagai salah satu warga di desa ini untuk membantu warga desa yang lain sedang kesulitan, dan mohon jangan panggil saya dengan sebutan Tuan, panggil nama saja," balas Firman yang tidak terlalu menyukai jika dirinya dipanggil dengan sebutan Tuan oleh orang yang lebih tua darinya.
Melihat kerendahan hati yang dimiliki oleh Firman membuat para warga menjadi tambah menghormatinya, perasaan kagum saat melihat Firman membuat mereka menjadi senang karena ternyata ada salah satu anak dari desa mereka yang telah sukses di perantauan serta tidak bertingkah sombong.
Para orang tua yang ada di sana juga sangat berharap jika anak mereka bisa mendapatkan pasangan seperti Firman yang baik tutur kata serta kelakuannya.
"Beruntung sekali ya Bu Tari karena mempunyai anak yang sangat berbakti dan baik."
"Apalagi sudah sukses di kota, pintar juga."
"Sudah jadi pahlawan bagi desa, kaya, tidak sombong, baik, sopan, ganteng, paket lengkap pokoknya."
"Andaikan anak gadisku jadi istrinya, hidupnya pasti terjamin."
"Aku berharap anak ku nanti bisa memiliki pasangan seperti sosok Firman."
"Sangat pas dijadikan menantu idaman."
Kalimat pujian terus terdengar dari mulut para warga yang memuji Firman karena kebaikannya, namun ada seseorang yang merasa kesal mendengar ucapan para warga yang terus memuji Firman bahkan ada yang berniat menjodohkan anak gadis mereka dengannya.
Siapa lagi kalau bukan Jia Li yang wajahnya sudah terlihat bersungut-sungut lantaran kesal mendengar omongan para warga yang menginginkan kekasihnya menjadi menantu mereka.
Dengan sangat posesif Jia Li langsung memeluk lengan Firman erat sekaan memberitahukan kepada mereka semua jika Firman adalah miliknya, apalagi dengan tatapan mata tajamnya yang membuat orang-orang terdiam seketika tidak berani lagi berbicara.
"Sudah jangan seperti itu, lihat mereka jadi takut kepadamu kan," ucap Firman lembut mencoba menenangkan kekesalan Jia Li.
"Ya aku juga tidak menginginkannya, juga tidak menolaknya," ucap Firman membuat Jia Li tambah kesal.
Firman kemudian teringat tentang rencana untuk mengubur mayat para penjaga yang ada di pabrik, takutnya jika dibiarkan terlalu lama maka akan membuat penyakit yang dapat membahayakan warga desa nantinya.
"Pak, bagaimana jika para warga pergi ke pabrik kembali untuk mengurus mayat para penjaga yang ada di sana, saya takut jika dibiarkan terlalu lama maka akan mengakibatkan penyakit berbahaya yang bisa membuat warga sakit," ucap Firman.
"Baiklah, saya akan mengumpulkan warga untuk bergotong royong mengubur mayat mereka, tapi apakah saya boleh bertanya satu hal Firman?" tanya orang tersebut yang di iyakan oleh Firman mempersilahkannya untuk bertanya apapun.
"Bagaimana nanti jika ada polisi yang memeriksa orang di pabrik itu? Nanti kamu pasti akan mendapatkan masalah besar jika ketahuan kamulah yang telah membunuh mereka semua," tanya orang itu.
Pertanyaan orang tersebut sontak saja membuat warga lain yang ada di sana terkejut karena baru menyadari hal tersebut, apalagi ibu Firman yang terlihat sangat khawatir kepada anaknya jika nanti harus berurusan dengan polisi karena kasus pembunuhan yang dilakukannya.
"Nak, kamu harus sembunyi jangan kembali ke kota dulu, ibu khawatir kamu bakal ditangkap nanti," ucap Tari sangat takut jika anaknya itu akan dipenjara.
"Betul itu Firman, tante juga menyarankan supaya kamu di sini terlebih dahulu atau pergi ketempat yang aman untuk bersembunyi," ucap Bulan memberikan sarannya.
Warga lain juga terlihat khawatir pada keselamatan Firman jika nanti harus berurusan dengan pihak kepolisian, namun tidak dengan Jia Li yang bersikap biasa saja tanpa ada rasa khawatir sama sekali.
Firman juga terlihat sangat santai tanpa beban padahal orang lain sedang mengkhawatirkan dirinya, Tari yang melihat anak dan calon menantunya sangat santai seakan menganggap enteng masalah ini menjadi sangat heran.
"Kamu tidak khawatir pada keselamatan calon suami kamu nak jika nanti ditangkap polisi?" tanya Tari kepada Jia Li.
"Tidak kok Bu," jawab Jia Li.
"Kenapa bisa seperti itu?" sekarang giliran Bulan yang bertanya karena sangat penasaran bagaimana Firman dan Jia Li bisa setenang itu menyikapi masalah yang sedang mengintai mereka.
"Ya aku tidak khawatir karena Firman sendiri adalah polisi, bahkan jabatanya juga tinggi di kepolisian, tidak mungkin sebagai polisi Firman menghabisi orang lain tanpa sebab yang jelas kan," jawaban Jia Li yang sontak membuat semua orang kaget mendengarnya.
Apa barusan yang mereka dengar? Firman seorang polisi, bahkan jabatannyajuga tinggi di kepolisian? Sungguh mereka tidak henti-hentinya dibuat terkejut oleh pria satu ini.
"Apa benar itu Firman?" tanya ibunya memastikan.
"Benar Bu," jawab Firman seraya memperlihatkan sebuah lencana kepolisian miliknya lalu memasukkannya kembali.
Mereka akhirnya percaya jika Firman memang benar seorang polisi dan tidak khawatir lagi jiak Firman akan ditangkap karena masalah itu.
"Yasudah, ayo kita pergi untuk menguburkan mayat para penjaga itu, walaupun semasa hidup mereka sering menyiksa kita tetapi sebagai sesama manusia kita harus saling menolong dan membantu mereka pergi ke tempat peristirahatan terakhir mereka," ucap Pak Tono mengomando warga untuk pergi ke pabrik guna mengubur para penjaga yang tewas.
Firman juga ikut kesana untuk membantu, sedangkan Jia Li dirumah saja sambil membantu ibu dan para wanita untuk memasak makanan untuk para warga yang ikut membantu gotong royong mengubur mayat di pabrik.