
Chapter 157
Persiapan Firman dan juga Gina untuk pergi keluar negeri guna menyelamatkan anggota kelompok mafia Gina yang sedang ditahan oleh musuh mafia Gina, mereka menggunakan anggota mafia Gina sebagai sandera agar membuat Gina menyerah.
Seperti itulah konflik yang terjadi antar mafia pada umumnya, mereka akan saling serah satu sama lain untuk menjatuhkan musuhnya ataupun orang yang menurut mereka dapat menghambat bisnis yang sedang mereka jalankan.
Sebelum pergi untuk menyelamatkan anggota mafia Gina dan menyelesaikan urusan dengan organisasi mafia luar negeri, Firman berbicara kepada Bagas yang memang mengantar mereka sampai ke bandara.
Firman menyuruh Gina untuk masuk ke pesawat terlebih dahulu, pesawat yang akan mereka gunakan merupakan salah satu aset milik Gina yang digunakan olehnya kemarin pada saat datang untuk menemui Firman hingga akhirnya mereka berdua menjadi kekasih.
"Aku tidak menyangka ternyata dia sangat kaya sekali, hingga memiliki pesawat pribadi," ujar Firman melihat pesawat jet pribadi milik Gina yang tampak mewah dari luarnya.
"Bos juga memiliki pesawat, bahkan anda memiliki beberapa unit pesawat pribadi baik itu pesawat komersial yang dimodifikasi menjadi pesawat pribadi yang nyaman ataupun pesawat jet pribadi yang memiliki interior mewah dan eksterior atau bagian luar yang indah," balas Bagas.
Firman kaget bukan main saat mengetahui fakta tersebut, informasi baru yang ia dapatkan dari Bagas tentang harta kekayaan yang dimilikinya, bisa-bisanya ia tidak mengetahui hartanya sendiri.
"Sejak kapan aku memiliki pesawat?" tanya Firman penasaran sekaligus bingung, karena mengingat dirinya sama sekali belum pernah membeli pesawat pribadi.
"Itu ide Nyonya Anggita, Bos. Beliau membeli beberapa unite pesawat terbang yang diberikan untuk anda beberapa waktu lalu," jawab Bagas menjelaskan.
Firman memijat keningnya merasakan pusing memikirkan hal tersebut, untuk apa Anggita membelikannya pesawat terbang seperti itu tanpa sepengetahuan dirinya, entah berapa harga pesawat tersebut yang dibeli oleh Anggita untuk Firman.
"Sudahlah, jangan bahas itu dulu," ucap Firman.
"Aku ingin mengatakan padamu supaya menjaga semua anggota kita saat aku sedang menjalankan pekerjaan di luar negeri, aku harap kau dapat menjaga mereka dengan baik tanpa ada masalah sedikitpun, apa kau mengerti?" ujar Firman dengan wajah seriusnya.
"Mengerti Bos, saya akan menjaga mereka dengan baik saat anda pergi!" jawab Bagas dengan tegas.
"Bagus, aku juga menitipkan peliharaanku kepadamu, jangan lupa memberi mereka makan," lanjut Firman yang dibalas anggukan kepala oleh Bagas.
Setelah berbicara dengan Bagas tentang masalah menjaga anggotanya, Firman pergi menuju pesawat yang sudah siap lepas landas terbang menuju tempat tujuan.
Saat memasuki ruangan bagian dalam pesawat tersebut, Firman takjub dengan interior yang sangat mewah serta berbagai aksesoris tambahan yang semakin membuat kesan mewah terlihat jelas dari pesawat jet pribadi tersebut.
Firman masuk berjalan menuju kursinya yang mana sudah ada Gina menunggu dirinya duduk di kursi dengan nyamannya sembari membuka laptopnya seperti sedang melakukan sesuatu.
Setelah Firman duduk, tidak lama kemudian pesawat terbang lepas landas meninggalkan landasan pacu bandara untuk menuju tempat tujuan mereka, pilot membawa pesawatnya dengan sangat baik yang membuat penumpang merasa nyaman saat lepas landas.
Karena biasanya pada saat lepas landas itulah sering terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, kadang karena guncangan angin yang kencang hingga membuat pesawat gagal terbang, ataupun pesawat mengalami sesuatu yang membuatnya tidak memungkinkan untuk lepas landas.
Saat pesawat lepas landas juga penumpang diwajibkan menggunakan sabuk pengaman agar tidak terbentur pada saat terjadi guncangan waktu pesawat lepas landas hingga terbang.
Pesawat terbang tinggi dilangit yang biru beserta awan-awan putih bertebaran. Gina masih sibuk dengan laptopnya melakukan sesuatu, namun bisa terlihat jelas dari wajahnya ekspresi serius diawaj Gina berubah menjadi kesal hingga memukul laptop miliknya tersebut sampai hancur.
"Sialan! Bagaimana caranya aku bisa mencari keberadaan mereka?! Arghh ... " umpat Gina sangat kesal entah karena hal apa ia sampai merasa sekesal itu.
"Kenapa?" tanya Firman pada Gina yang berada disampingnya.
"Sayang ~ aku tidak dapat menemukan keberadaan mereka hua ... hiks ... hiks ... " jawab Gina yang malah menangis keras seperti anak kecil yang direbut permennya.
Melihat kekasihnya menangis, Firman bangkit dari tempat duduknya lalu memeluk Gina dan mengelus kepalanya dengan lembut, memberikan kasih sayang serta perhatian agar Gina menjadi lebih tenang kembali.
"Sudah jangan sedih, aku akan membantumu mencari keberadaan mereka," ucap Firman lalu duduk di kursi yang ditempati Gina.
Firman mengangkat tubuh Gina untuk didudukkan nya pada pangkuan paha dirinya, setelah itu Firman mengambil laptop miliknya yang berada di tas samping tempat duduk dia tadi.
Gina melihat tindakan yang dilakukan oleh Firman menjadi penasaran, hal apakah yang akan dilakukan oleh Firman saat ini, Gina terus melihat apa yang dilakukan Firman dengan seksama sambil bergelayut manja pada leher Firman.
Membuka laptopnya dan menghidupkannya, Firman mulai menjalankan aksinya untuk mencari dimana titik keberadaan anggota Gina yang disekap oleh para musuhnya.
Jari-jemari lihai milik Firman menari dengan indahnya diatas keyboard laptop, jari Firman bagaikan seorang penari yang meliuk cepat diatas panggung dengan indahnya membentuk gerakan-gerakan yang indah untuk dipandang.
Sedangkan Firman jarinya meliuk cepat mengetik setiap tombol yang ada di laptopnya, beberapa menit melakukan beberapa program untuk melacak keberadaan anggota Gina.
Firman akhirnya berhasil menemukan keberadaan mereka, ia lalu memberikan informasi yang baru didapatkannya tersebut kepada Gina yang sedari tadi menyimak setiap gerakan dan hal yang dilakukan oleh Firman.
"Ini letak mereka berada," ucap Firman menunjukan titik anggota Gina berada.
Gina melihat dimana lokasi tempat tersebut berada, "Ini berada disebuah negara yang lumayan dekat dari markasku, namun harus menggunakan transportasi darat jika ingin pergi kesana, karena tidak ada bandara untuk mendaratnya pesawat di negara tersebut," ujar Gina yang mengetahui dimana lokasi tempat musuhnya menyandera anggota mafia miliknya.
"Yasudah, kita mendarat di negara terdekat saja lalu melanjutkan menggunakan mobil untuk pergi ke sana," saran Firman.
"Iya ide yang bagus, kita bisa pergi ke markas ku terlebih dahulu untuk mengambil mobil dan beberapa persenjataan untuk jaga-jaga jika memang harus bertarung.
Ngomong-ngomong kamu bisa bertarung kan sayang?" tanya Gina melihat wajah Firman.
"Apakah kau meragukanku?" balas Firman membalik pertanyaan yang dilontarkan oleh Gin.
Dengan cepat Gina menggelengkan kepalanya, "Tidak sama sekali, aku percaya jika kekasihku ini sangat kuat dan tidak ada tandingannya di dunia ini!" jawab Gina dengan sangat antusias membanggakan Firman.
Firman hanya tersenyum mendengar penuturan dari Gina. Perjalanan yang lumayan lama diatas pesawat tidak begitu terasa karena mereka berdua sering bercanda gurau saling menggoda satu sama lain.
Tidak jarang juga Firman dan Gina membicarakan tentang rencana mereka untuk menyelamatkan anggota mafia Gina dengan baik, agar supaya nantinya tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan terjadi.
Rencana yang mereka buat telah disesuaikan dengan masalah yang sedang mereka hadapi, jadi Firman akan mengikuti Gina karena memang Gina lah yang lebih mengenal medan dan tempat yang akan mereka datangi.
Firman juga berhasil menemukan beberapa bukti yang dapat digunakan untuk melawan musuh Gina kali ini, bukti itu berupa informasi tentang kelompok yang menjadi musuh Gina yang mana informasi tersebut sangat berguna untuk mencari kelemahan dari lawan yang akan mereka hadapi nantinya.
Tidak lupa pula nanti setelah pesawat mendarat lalu pergi menuju markas mafia milik Gina, mereka akan mengambil beberapa persenjataan yang akan digunakan untuk melawan musuhnya nanti jika memang diperlukan.