
Chapter 100
Firman maju kedepan menghadapi banyak peluru yang datang ke arahnya tembakan dari para penjaga yang banyak secara bersamaan.
Trang......Trang.......
Bunyi dentingan peluru yang bertabrakan dengan katana di tangan Firman, dengan kecepatan diluar nalar Firman menangkis semua peluru yang datang ke arahnya dengan akurat.
Para penjaga tidak berhenti menembak kearah Firman hingga peluru mereka habis tanpa sisa karena saking borosnya, tembakan yang dilakukan para penjaga pun berakhir dan suasana tegang pun terjadi.
Firman tampak biasa saja meskipun sudah mengeluarkan banyak energinya untuk melakukan gerakan yang sangat cepat untuk menangkis peluru senjata yang ditembakan para penjaga itu.
Para penjaga terlihat kelelahan karena menembak terus menerus juga membutuhkan tenaga saat memegang senjata api.
Melihat Firman yang masih berdiri tegak tanpa bekas luka sedikitpun, hal itu membuat pikiran para penjaga bingung bagaimana itu bisa terjadi, padahal tembakan yang sangat banyak sudah diarahkan pada Firman tapi tidak ada satupun yang mengenai tubuhnya.
"Sebenarnya apa tujuanmu datang kesini?" tanya pimpinan penjaga yang mulai merasakan bahaya dari Firman.
"Menghabisi badjingan seperti kalian," jawab Firman dengan nada dinginnya yang membuat para penjaga itu merinding ketakutan.
Tatapan mata Firman berubah menjadi lebih tajam mengerikan, tatapan yang bagaikan elang sedang memantau mangsanya siap menerkam membunuh si mangsa.
Para penjaga melihat satu sama lain untuk menentukan apa yang akan mereka lakukan selanjutnya guna melawan Firman, si pimpinan kemudian langsung mengucapkan kalimat perintahnya kepada para anak buahnya.
"Habisi dia bersama sama! Dia hanya sendiri sedangkan kita puluhan orang, habisi dia bersama sama!!" ucap si pimpinan memerintahkan para anak buahnya.
Seketika itu pula mereka jadi percaya diri kembali setelah mendengar ucapan dari pimpinannya, rasa takut yang tadi hinggap di pikiran hilang tergantikan dengan keinginan untuk menghabisi Firman.
"Serang.....!!"
"Habisi si sombong itu!!"
"Mati kau sampah busuk....!"
"Semoga kau bertemu ibumu dialam sana hahaha!!"
"Aku yakin orang tuanya menyesal melahirkan sampah seperti dia!!"
Kalimat-kalimat terlontar dari mulut para penjaga itu ada hinaan ataupun hanya kalimat provokasi untuk membuat Firman terpancing emosinya.
Para penjaga langsung maju yang jumlahnya puluhan itu dengan menggunakan pisau yang mereka miliki masing-masing, karena peluru senjata api mereka telah habis.
"Berani menghina ibuku, maka satu jawabanya, MATI!" ucap Firman langsung menerjang maju ke arah kerumunan penjaga itu.
Terjadilah pertarungan antara satu orang melawan puluhan orang sekaligus, dengan bersenjatakan katana nya Firman maju membantai mereka semua dengan begitu kejam.
Satu tebasan terarah kepada seorang penjaga yang hendak menusuk Firman dari belakang, tebasan itu ternyata juga mengenai teman penjaga tersebut yang membuat kepala tiga orang penjaga hilang.
Crasss........
Dhuk.....
Firman mengarahkan tendangan nya untuk menendang tangan para penjaga agar pisau yang digunakan jatuh dan tidak membuat Firman dalam bahaya.
Setelah itu Firman langsung membantai mereka satu persatu dengan berbagai cara, ada yang ditebas kepalanya, ada yang di tebas tangan serta badanya hingga pendarahan hebat lalu tewas menyusul teman-temannya.
Arghhhh......
Akh.....Tanganku......
Di lorong sempit tersebut terjadi pembantaian sepihak yang dilakukan oleh Firman dengan sangat ganas, ceceran darah berserakan sehingga menggenang di lantai hingga membuat lantai yang awalnya berwarna putih menjadi merah darah.
Kata Sang Pembantai yang dipakai Firman sekana membuat jiwa pembunuh berantai Firman muncul, padahal Firman sangat jarang membunuh orang bahkan mungkin belum pernah kecuali pada para lawannya yang menyebalkan.
Semakin banyak darah yang berceceran semakin ganas pula katana itu membantai lawannya hingga habis tidak tersisa.
Para penjaga tadi telah habis tanpa sisa, bagian-bagian tubuhnya tidak ada yang utuh sama sekali, semuanya terpotong dari kaki hingga kepala semua dihajar oleh Firman.
Firman terlihat sangat mengerikan dengan darah yang ada di sekujur tubuhnya yang berasal dari darah para korban-korban keganasan membunuh Firman.
"Ada apa ini? Kenapa aku bisa sekejam itu dalam membunuh orang?" ucap Firman bertanya tanya dengan hal yang barusan ia lakukan.
Firman sendiri seperti tidak merasakan apapun pada saat membantai para penjaga itu, padahal ia baru saja membunuh puluhan orang hanya dalam waktu beberapa menit saja, bukan hanya membunuh tapi bahkan sampai memutilasinya.
Kemudian Firman melihat kearah katana miliknya yang tadinya bilah katana tersebut berwarna putih perak, sekarang telah berubah menjadi warna hitam legam dengan tulisan yang ada di bilahnya berubah warna putih.
Hal itu membuat Firman kaget bukan main, dengan darah yang ada di katana tersebut semakin membuat katana itu sangat menyeramkan membuat siapa saja yang melihat pasti akan ketakutan.
Tapi beberapa saat kemudian darah yang ada di katana itu hilang terserap masuk kedalam katana, ternyata katana tersebut menyerap darah dari para korban Firman tadi hingga membuat energi yang ada didalamnya bertambah.
Energi itu digunakan untuk membuat katana semakin kuat dan tajam, singkatnya semakin banyak membunuh maka akan semakin kuat pula katana tersebut.
"Apa ini katana yang memiliki roh itu?" ucap Firman mengira-ngira.
"Ah tidak mungkin, bisa saja ini hanya katana sakral yang bisa menyerap kekuatan dari darah," Firman masih berpikiran positif untuk saat ini.
Setelah selesai membantai puluhan orang tersebut, Firman kembali ke tempat Jia Li berada laku membuka pintunya. Bukannya disambut dengan senang justru Firman disambut dengan tembakan beruntun yang dilakukan oleh Jia Li kearahnya.
"Ahk pergi......" teriak Jia Li sambil terus menembak kearah Firman.
Firman reflek dengan cepat langsung menangkis semua peluru yang di lepaskan oleh Jia Li agar tidak mengenai tubuhnya yang bisa berakibat fatal nantinya.
Setelah Jia Li menembak tanpa tau arahnya beberapa menit kemudian pelurunya habis dan Jia Li pun berhenti menembakan senjatanya dan bersiap ingin mengisi peluru baru.
Firman langsung berjalan ke arah Jia Li lalu berdiri tepat di depannya sambil mengambil senjata yang dipegang oleh Jia Li.
"Apakah begini caramu untuk menyambut kekasihmu yang baru datang?" ucap Firman sambil menatap Jia Li yang sedang menunduk takut.
Ehh.....
Setelah mendengar kata kekasih seketika itu pula Jia Li langsung mendongak menatap ke arah atas melihat wajah Firman berada tepat di depan matanya. Jia Li yang baru menyadari itu adalah Firman langsung memeluknya dengan erat tidak peduli bau amis darah yang ada pada tubuh Firman.
"Hey berhenti dulu, aku penuh dengan darah jangan peluk dulu," ucap Firman mencoba melepaskan pelukan Jia Li padanya yang sangat erat.
"Gak mau......hiks.....hiks......Maafin aku......" ternyata Jia Li menangis dipelukan Firman karena merasa bersalah telah menembak Firman tadi.
Jia Li sebenarnya hanya mengikuti ucapan Firman sebelumnya yang bilang jika ada orang masuk maka serang saja, jadi Jia Li tidak sadar jika yang ia tembak adalah Firman.
Apalagi dengan wajah penuh noda darah yang membuat Jia Li semakin tidak mengenali penampilan Firman yang sangat mengerikan.