
Chapter 104
Karena melihat penampilan Firman yang sangat menyeramkan membuat para pekerja atau warga menjadi ketakutan mereka takut jika akan dihabisi oleh Firman.
Firman sendiri yang melihat tatapan orang-orang kepada dirinya menjadi bingung, berbeda dengan Jia Li yang juga merasa ngeri saat melihat penampilan Firman yang penuh dengan darah di sekujur tubuhnya.
"Kamu tau kenapa mereka bereaksi seperti itu apa sebabnya?" tanya Firman menoleh kearah Jia Li yang ada disampingnya.
"Lihatlah tubuhmu sendiri, sudah jelas mereka takut padamu karena penampilan tubuhmu sekarang," jawab Jia Li.
Firman lalu melihat tubuhnya sendiri dari bawah hingga atas melalui kaca yang ada di ruangan tersebut, betapa terkejutnya ia saat melihat penampilan menyeramkan dirinya di pantulan bayangan pada cermin.
'Pantas saja mereka takut,' batin Firman tau alasan orang-orang menatap takut padanya.
"Halo, kalian tidak perlu takut padaku, aku di sini untuk membebaskan kalian dari sini," ucap Firman memberitahukan kepada para warga agar tidak takut lagi padanya.
Para warga tidak mungkin percaya begitu saja, mereka tadi melihat dengan mata kepala sendiri betapa kejamnya Firman dalam membantai para lawanya tanpa ampun, bahkan terlihat dari kilatan matanya jika Firman sama sekali tidak merasa ragu saat menebas bagian-bagian tubuh para korbanya.
Karena para warga itu terlihat diam saja karena takut, akhirnya ada seorang wanita paruh baya yang maju kedepan untuk berbicara kepada Firman guna membuktikan apakah benar yang dikatakan oleh Firman tadi untuk membebaskan mereka dari pabrik ini.
"Apakah benar tuan ingin membebaskan kami dari pabrik ini?" tanya wanita itu sebenarnya agak merasa takut saat melihat katana Firman yang mengkilat penuh noda darah.
"Iya benar, aku akan membebaskan kalian dari sini," jawab Firman dengan nada tanpa ada kebohongan sedikitpun.
"Lebih baik kamu bersihkan dulu wajahmu itu, mereka malah semakin takut saat melihat kamu dengan darah dimana-mana," saran Jia Li berbisik ditelinga Firman, sebenarnya ia sendiri juga takut makanya menyuruh Firman membersihkan dirinya terlebih dahulu.
"Oh begitu ya, baiklah tunggu sebentar." Firman pergi membersihkan tubuhnya yang kotor serta berganti pakaian menggunakan baju yang pertama dipakai tadi sebelum menyamar menjadi salah satu penjaga.
Setelah selesai mengganti pakaian dan membersihkan darah yang menempel pada dirinya, Firman kembali ketempat awal tadi untuk menemui para warga yang sedang berada di sana.
Saat Firman sampai di sana, terlihat para warga sedang mengobrol membicarakan tentang kebebasan mereka yang dikatakan oleh Firman tadi.
Sedangkan untuk Jia Li saat ini sedang mengobrol bersama wanita paruh baya yang tadi maju bertanya kepada Firman, terlihat jika mereka berdua sudah mulai akrab satu sama lain.
"Bukankah itu ibuku? Tadi dia memakai masker makanya aku kurang jelas melihatnya, tapi sekarang aku yakin itu ibuku, baiklah mari kita buktikan apakah dia benar ibuku atau bukan," ujar Firman melihat kearah wanita yang sedang mengobrol bersama Jia Li.
Saat Firman datang kembali masuk kedalam ruangan tersebut setelah berganti pakaian, orang-orang yang ada di sana langsung mengalihkan pandangan mereka kepada Firman.
Dengan wajah yang tampan serta tubuh atletis membuat penampilan Firman mampu membuat para warga khususnya para wanita terpesona melihatnya, awalnya mereka tidak mengetahui jika pria itu adalah Firman, tapi setelah melihat katana yang berada di pinggangnya mereka jadi tau jika pria itu adalah Firman yang menolong mereka.
Tapi dari ratusan orang yang memandang kearah Firman, ada satu orang yang melihat Firman dengan mata yang berkaca-kaca serta merasakan sebuah rasa rindu yang begitu besar kepada Firman.
Firman melihat ke arah wanita itu dan pandanganya tidak lepas dari wanita tersebut, perasaan rindu yang selama ini ia tahan ternyata membuahkan hasil.
"I.....Ibu..." ucap Firman langsung berlari ke arah wanita itu dan langsung memeluknya.
Wanita itu juga langsung memeluk Firman erat mengelus punggungnya dengan lembut, pelukan itu juga disertai air mata kebahagiaan karena berkumpulnya kembali ibu dan anak setelah sekian lama berpisah.
Benar sekali, wanita itu adalah ibu Firman sesungguhnya yang ternyata selama ini bekerja di pabrik bagian pengolahan, ibunya bernama Mentari atau biasa dipanggil bu Tari, Firman merasa bersyukur sekali karena ibunya aman tidak di apa-apain oleh orang yang memperbudak mereka di pabrik ini.
Firman masih berpelukan dengan ibunya melepas rasa rindu yang selama ini ditahannya. Momen haru pertemuan ibu dan anak tersebut tak luput dari pandangan para warga yang ada di sana dan juga Jia Li yang mana mereka ikut merasa bahagia karena pertemuan tersebut.
Setelah lumayan lama berpelukan akhirnya selesai juga, lalu Firman berdiri disamping sang ibu dengan perasaan sangat senang sekali bisa bertemu dengan ibunya lagi.
"Aku sangat merindukan ibu," ucap Firman dengan senangna.
"Ibu juga sangat merindukan kamu nak," balas Tari menampilkan senyuman bahagia.
"Bu Tari, apakah dia anak bu Tari yang sedang belajar di kota itu, Firman kan namanya?" tanya salah satu warga untuk memastikannya.
"Benar, dia anakku Firman yang sudah kembali," jawab Tari yang disambut sorakan senang dari para warga karena ternyata yang menyelamatkan mereka adalah anak desa mereka sendiri yaitu Firman.
Jia Li yang sedari tadi hanya diam saja sambil tersenyum senang karena bisa melihat momen haru pertemuan ibu dan anak yang terpisah cukup lama.
Firman menarik tangan Jia Li untuk mendekat ke arahnya dan ibunya, setelah dekat Jia Li merasa gugup tiba-tiba karena dihadapkan dengan ibu mertuanya atau masih disebut calon mertua.
"Ini kan tadi yang ngobrol sama ibu, tapi ibu belum tau nama kamu nak, nama kamu siapa cantik?" tanya ibu Tari kepada Jia Li yang mana pertanyaan itu membuat Jia Li malu untuk menjawabnya.
"Na....Nama ku Ji....Jia Li bu..." jawabnya dengan terbata-bata.
"Iya bu, dia namanya Jia Li istriku," sambung Firman menambahkan jawaban dari pertanyaan ibunya.
Ibu Firman langsung terkejut saat mendengarnya, Tari tidak menyangka anaknya akan pulang sambil membawa seorang wanita yang sangat cantik yang dikenalkan sebagai calon istri olehnya, sekaligus senang sebagai seorang ibu yang anaknya telah memiliki pasangan hidup.
"Nak apa kamu serius?" tanya Tari memastikan.
"Iya bu aku serius, meskipun masih calon sih belum jadi istri," jawab Firman jengah karena ketidak percaan yang ditunjukan ibunya.
"Akhirnya aku mempunyai calon menantu yang sangat cantik hahaha kamu pintar memilih istri nak, lihatlah menantuku cantik sekali hahaha," ucap Tari tertawa senang memamerkan calon menantu cantiknya kepada orang-orang yang ada di sana.