
Chapter 177
Mobil yang ditumpangi Firman dan Gina melaju kencang membelah jalanan yang sedikit tertutupi salju es tersebut, meskipun Gina yang menyetir tapi Firman tetap memandu Gina agar tidak sampai salah jalan karena sepertinya Gina belum mengenal jalanan dinegara tersebut dengan baik, takutnya nanti malah tersasar ditempat lain.
Setelah perjalanan beberapa jam, Gina minta bergantian menyetir dengan Firman karena tangannya mulai merasa pegal memegang kemudi terlalu lama, akhirnya Firman yang mengambil alih kursi kemudi sekarang ini.
Perjalanan yang ditempuh Firman menggunakan mobil tidak membosankan karena Gina selalu saja menggodanya entah bagaimanapun caranya, Gina sika menggoda Firman seperti mengatakan kata cinta berulang kali atau sesekali memegang adik kecil Firman untuk menggodanya.
Meskipun Firman agak terganggu dengan hal yang dilakukan Gina tersebut, tapi ia senang bisa mendapatkan teman perjalanan seperti Gina yang tidak membuatnya bosan berduaan dengan Gina di dalam mobil selama berjam-jam.
Hal inilah yang membuat Firman tersenyum lantaran selalu saja mendapatkan hiburan dari tingkah lucu yang dilakukan Gina, beruntung sekali bagi Firman karena mendapatkan Gina yang sangat pengertian.
Mungkin bagi orang lain Gina adalah seorang wanita cantik yang merupakan ketua mafia wanita paling disegani dan memiliki sifat kejam, tapi jika Gina sudah dihadapkan dengan Firman maka sifatnya akan berubah drastis.
Gina akan menjadi gadis manja yang suka menggoda Firman dan tidak ingin jauh darinya meski hanya sebentar saja, Gina menjadi gadis penurut jika bersama dengan Firman yang selalu patuh dengan perkataan Firman apapun itu.
Mungkin itulah yang disebut sebagai kekuatan cinta, sebuah rasa yang dimiliki oleh setiap manusia yang ada didunia, rasa yang berubah menjadi kekuatan sanking dahsyatnya, cinta bisa mengubah sifat seseorang seperti yang dirasakan oleh Gina.
"Sayang, masih lama sampai tujuannya?" tanya Gina yang terlihat kelelahan ingin cepat-cepat istirahat.
"Sabar saja, mungkin nanti siang atau sore kita akan sampai di markas," jawab Firman.
Gina yang mendengar jawaban dari Firman menjadi kaget, lama sekali dari pagi lalu sampai tujuannya sore hari, bisa sakit semua badan jika terus-terusan duduk dalam mobil seperti ini.
"Aku capek sayang, ingin istirahat," rengek Gina seperti anak kecil.
Firman kemudian memencet sebuah tombol kecil yang ada di sampingnya dan tempat duduk Gina pun mulai mundur sedikit demi sedikit ke belakang sampai menjadi seperti tempat tidur yang lumayan nyaman untuk digunakan istirahat.
Setelah dirasa sudah pas, Firman menghentikan tombolnya, Gina terlihat sudah nyaman di tempatnya sembari tiduran dengan enaknya sambil menggunakan bantal kecil untuk sandaran kepalanya agar tidak sakit.
"Nah gini kan nyaman, terima kasih sayang," ujar Gina memejamkan matanya.
Gina tertidur dengan nyenyaknya tanpa menghiraukan keadaan sekitar, mungkin ia merasa sangat kelelahan karena seharian penuh kemarin merupakan salah satu hari paling melelahkan baginya.
Sebenarnya Firman juga merasa kelelahan karena berhari-hari belum bisa merasakan tidur dengan nyenyak, tapi demi kenyamanan kekasihnya Firman menahan rasa lelah serta kantuk yang dirasakan olehnya.
Sementara itu Firman dengan fokusnya menyetir mobil agar lebih cepat sampai ditujuan, sejenak Firman melihat kearah Gina lalu ia tersenyum dan mengelus kepala Gina sebentar menggunakan tangan kirinya karena tangan kanan sedang mengendalikan kemudi mobil.
"Mungkin aku bukan seorang laki-laki yang setia kepada pasanganku, aku tidak bisa menjadikan wanitaku menjadi satu-satunya, bagi orang lain yang menilaiku pasti akan mengatakan aku ini jahat karena memiliki banyak wanita.
Namun mereka tidak tahu saja jika aku sebenarnya tidak tega melakukan hal itu, aku sebenarnya takut untuk menerima kalian semua menjadi wanitaku, aku takut nantinya aku tidak bisa berbuat adil kepada kalian.
Aku takut jika nanti aku mengkhianati rasa cinta yang telah kalian berikan kepadaku, sebagai seorang pria aku tidak mau munafik, aku merasa sangat bahagia bisa memiliki kalian disampingku.
Janjiku untuk menjaga kalian dari segala bahaya akan selalu aku tepati meski nyawaku taruhanya, semoga kalian bisa terus bahagia seperti ini sayang-sayangku," ucap Firman seraya menampilkan senyuman di wajah tampannya.
Firman sebenarnya agak khawatir dengan keselamatan keluarganya saat ini, karena musuhnya yang semakin banyak menjadikan Firman sebagai target untuk mereka buru.
Bahkan tak jarang keluarga atau orang terdekat Firman juga ikut menjadi target para musuh-musuh Firman, maka dari itu Firman berencana menyelesaikan masalah mengenai mafia luar negeri yang semakin membuatnya gelisah.
Kelompok organisasi itu kelihatanya semakin merasa kuat lantaran sudah tidak adanya Firman di negaranya, jadi dikawasan Asia Tenggara dan sekitarnya organisasi mafia luar negeri semakin gencar menjual barang dagangan yang mereka jual kepada para kelompok di setiap negara untuk diedarkan.
Firman juga mendapatkan info dari Junita, bahwa kelompok organisasi mafia luar negeri telah melakukan beberapa kali pembunuhan yang menggegerkan publik.
Mereka menghabisi para kelompok yang tidak ingin bekerja dibawah kekuasaan mafia luar negeri dan juga beberapa kelompok yang berkhianat juga ikut dihabisi tanpa terkecuali.
Takutnya nanti malah keluarga serta orang terdekat Firman yang akan menjadi target mereka selanjutnya, karena tidak dapat kita pungkiri bahwasanya Firman merupakan ancaman terbesar kelompok yang dipimpin oleh Richard tersebut.
Untung saja rumah Firman lumayan dekat dengan rumah Ika, ayah Ika yang merupakan pimpinan kepolisian tertinggi membuat keselamatan keluarga Firman lumayan terjamin karena terus dijaga oleh anggota ayah Ika.
Gina merasa sangat bahagia mendengar ucapan tersebut, sebagai seorang wanita pastinya ia akan sangat senang bila pria nya berjanji seperti itu, Gina kemudian melanjutkan tidurnya karena sudah sangat lelah sekali.
.........
Disebuah rumah besar yang ada di sebuah tempat pinggir pantai yang indah pemandangannya, ada seorang pria yang sedang duduk di kursi balkon kamar miliknya yang berhadapan langsung dengan pantai.
Angin sejuk membuat suasana menjadi sangat tenang, meskipun agak terasa dingin lantaran ini sudah masuk musim dingin yang membuat suhu berkali-kali lipat lebih dingin dari biasanya.
Saat tengah asik menikmati angin pantai yang sejuk dengan ditemani sebotol minuman anggur dan sekotak cerutu yang mahal harganya, tiba-tiba dari arah pintu kamar terdengar ada seseorang yang masuk dengan tergesa-gesa.
"Ada apa sampai kamu datang kemari saat ini? Bukanya kamu katanya sedang menikmati membalas dendam kepada sahabat masa kecilmu itu dulu," ucap Richard.
Orang yang sedang duduk di balkon itu adalah Richard yang dengan santainya bertanya kepada orang yang baru datang memasuki kamarnya, meski Richard belum melihat siapa yang masuk tetapi ia sudah tahu siapa orang itu hanya dari hawa keberadaannya saja.
"Sayang, bantu aku membalas apa yang telah mereka lakukan padaku hiks ... hiks ... aku disakiti oleh mereka sampai seperti ini, padahal aku hanya ingin berbicara tentang masa lalu dengan Gina untuk mengkonfirmasi apakah kejadian waktu aku kecil dulu itu benar atau tidak," ucap suara yang berasal dari belakang Richard yang seperti dari suaranya adalah seorang wanita.
Richard berdiri kemudian membalikan badan untuk melihat orang yang ada di belakangnya tersebut, setelah melihat orang yang ada di belakangnya itu Richard sangat terkejut hingga gelas yang ada di tangannya jatuh ke lantai lalu pecah berserakan.
"Sophia, mengapa kamu sampai seperti ini sayangku?!" tanya Richard sambil membawa wanita yang ternyata Sophia itu masuk kedalam kamar karena diluar semakin dingin.
Mereka masuk kedalam kamar Richard kemudian Richard mengambil kotak obat yang ada di lemari untuk mengobati luka di tangan Sophia yang semakin parah.
Richard mengobati luka di tangan Sophia dengan menggunakan obat yang paling manjur untuk luka parah seperti yang dialami Sophia pada tangan nya saat ini, setelah selesai diberi obat kemudian tangan Sophia yang putus ditutup menggunakan perban setelah sebelum diperban diberikan anti bakteri terlebih dahulu agar lukanya tidak infeksi.
"Bagaimana kamu bisa sampai seperti ini?! Siapa yang telah melakukan semua ini kepadamu?! Katakan siapa yang melakukanya!" Richard sangat marah lantaran sang kekasih tercintanya ada yang menyakiti sampai tanganya putus setengah.
Sophia dengan air mata yang mengalir di pipinya langsung memeluk tubuh Richard lalu menangis di pelukan sang kekasih tersedu-sedu.
"Ini dilakukan oleh kekasih Gina hiks ... hiks ... padahal saat itu aku hanya ingin mengobrol dengan Gina berdua saja untuk menanyakan tentang kebenaran masa lalu keluarga kita, tapi tiba-tiba kekasihnya Gina datang dan langsung menebas tanganku padahal aku tidak melakukan apapun," jawab Sophia dengan jelas kebohongan terdapat pada setiap kata yang diucapkannya.
Sophia memang sangat pandai dalam hal akting untuk membuat orang bersimpati kepadanya, mungkin ini sudah bakat alami yang dimilikinya hingga membuat Sophia dengan mudahnya membuat Richard percaya pada cerita yang diucapkannya barusan.
Terlihat ekspresi marah dari wajah Richard sangat jelas menggambarkan jika dirinya saat ini sedang sangat amat marah kepada orang yang telah menebas tangan kekasihnya.
Bagaimana tidak marah jika ada orang yang tidak jelas dari mana asalnya tiba-tiba menebas tangan wanitanya hingga putus seperti itu, sebagai seorang pria pastinya Richard akan sangat marah mengetahui hal tersebut.
"Siapa orang itu hingga berani membuat wanitaku jadi seperti ini?! Bahkan bila ayahnya meminta maaf kepadaku karena ulah ayahnya itu aku tidak akan memaafkan anak itu!" uhar Richard sangat marah.
"Tolong aku balaskan ini semua sayang, aku tidak mau mereka semakin dibuat senang karena aku jadi seperti ini," ucap Sophia masih dengan air mata palsu yang hanya digunakan untuk memanas-manasi Richard agar emosinya kepada Gina dan kekasihnya semakin besar.
"Kamu tenang saja, aku akan segera mengurus masalah ini dan menjari orang yang telah membuatmu sampai seperti ini, aku akan membalas dia berkali-kali lipat dari apa yang telah kamu rasakan!" jawab Richard.
"Terima kasih sayang." Sophia merasa sangat senang karena dengan bantuan Richard maka balas dendam yang telah ia nantikan akan segera terwujud.
Meskipun satu tangannya telah hilang itu semua tidak menyurutkan keinginan Sophia untuk membalas dengan kepada Gina dan Firman, meskipun Firman pada saat itu telah menunjukan bukti yang sebenarnya tentang masa lalu keluarga Sophia dengan keluarga Gina,
Tapi Sophia tidak mempercayai bukti yang ditunjukan oleh Firman tersebut, Sophia masih teguh dengan kepercayaan yang telah ia yakini dari dulu bahwa keluarga Gina lah yang telah menghabisi keluarganya hingga hancur tanpa sisa.
Itulah yang membuat Sophia sampai rela melakukan apapun demi memuluskan rencana nya untuk balas dendam, sampai Sophia sengaja mendekati Richard agar bisa mendapatkan dukungan dari ketua mafia paling besar di seluruh Eropa bahkan dunia tersebut untuk memuluskan rencana yang telah ia rancang selama bertahun-tahun.
'Tunggu saja kau Gina, aku pasti akan menghabisimu lalu aku akan menikmati kekasih tampanmu itu tepat didepan matamu, supaya kau tau jika akulah pemenangnya dan aku bisa membalaskan dendam keluargaku kepadamu hahaha,' batin Sophia menyeringai kejam.
Mungkin benar kata Firman saat itu, jika Sophia itu adalah wanita yang sakit jiwa atau bisa dikatakan bodoh, Sophia hanya terobsesi dengan dendamnya saja tanpa memperdulikan keadaan dirinya sendiri.
Bagi orang lain pasti akan mengatakan jika Sophia itu merupakan wanita bodoh yang hanya memikirkan dendam saja, padahal tujuan dilakukanya dendam tersebut tidak ada, bahkan dendam itu juga merugikan diri Sophia sendiri karena tidak bisa menikmati hidup selama bertahun-tahun hanya karena lebih mementingkan dendam ketimbang hidupnya sendiri.
Entah apa yang ada dipikiran wanita sakit jiwa tersebut, namun yang pasti rencana yang dilakukan Sophia selama bertahun-tahun hingga membuat hidupnya kacau itu sama sekali tidak membuat arti apapun padanya, hanya membuat Sophia menjadi wanita g1la yang rela melakukan apapun demi menuntaskan keinginannya membalas dendam.