System Menjadi Pria Sukses

System Menjadi Pria Sukses
System Sukses 184 Pergi Ketempat Acara Pelelangan


Chapter 184


Saat ini masih pagi sekitar pukul 07.00 pagi, setelah sarapan bersama selesai tadi Firman dan Gina bersantai sejenak di ruangan khusus yang berada di samping kamar Gina, disana mereka mengobrol kesana kemari hingga tidak terasa satu jam terlewati.


Karena masih pagi membuat Firman dan Gina yang masih merasa lelah karena kemarin harus berurusan dengan pertempuran besar melawan pasukan Sophia, mereka berdua agak enggan untuk sekedar keluar kamar saja.


Tapi mereka tetap harus bergerak untuk bersiap-siap menuju tempat dimana acara pelelangan berada, karena acara tersebut akan dilaksanakan nanti malam yang membuat Firman dengan Gina harus bersiap-siap sekarang.


"Sayang, nanti kita ganti bajunya di hotel saja, sekarang kita memakai pakaian santai saja dan mantel tebal karena cuaca diluar semakin dingin," ujar Gina yang dibalas anggukan kepala oleh Firman.


Mereka Pun bersiap dengan membawa beberapa barang yang penting saja, seperti pakaian ganti dan pakaian formal yang akan mereka gunakan untuk pergi ke tempat acara pelelangan, lalu Firman tidak lupa juga ikut membawa katana Sang Pembantai kesayangannya.


Sementara untuk Gina sendiri barang yang dibawanya jauh lebih banyak daripada Firman, ia membawa baju ganti beberapa pasang entah untuk apa itu nantinya, juga tak lupa membawa barang kosmetik yang biasa dibawa wanita seperti bedak dan lipstick.


Hal yang membuat barang bawaan Gina makin banyak adalah satu koper penuh yang isinya hanya senjata milik Gina semuanya, mulai dari senjata api laras pendek sampai yang senjata api laras panjang, semuanya lengkap dengan perlengkapan masing-masing.


Firman yang melihat barang bawaan Gina sangat banyak tercengang melihatnya, apalagi yang dibawa adalah senjata api, tidak biasanya seorang wanita membawa senjata api yang begitu banyak jumlahnya.


"Untuk apa kamu membawa banyak sekali senjata seperti itu?" tanya Firman sedikit penasaran.


"Hanya untuk berjaga-jaga saja, takut kejadian seperti kemarin terulang kembali nanti saat acara hehehe," jawab Gina tertawa menampilkan deretan gigi putih bersih miliknya.


"Terserah kau sajalah," ujar Firman yang hanya dapat menghela nafas karena mendapatkan kekasih yang berbeda-beda sifat serta karakternya.


Gina mengabaikan Firman yang masih menatapnya dengan pandangan heran, dengan membawa sebuah koper lagi yang terlihat cukup berat, Gina meletakan koper tersebut diatas meja disamping tempat make up miliknya yang ada di dalam kamar.


"Apa itu? Senjata lagi?" tanya Firman yang bisa menebak apa isi koper tersebut.


Gina cengengesan saat Firman berhasil menebak isi koper tersebut dengan benar, "Hehehe ini hanya berisi peluru saja dan beberapa senjata kecil," jawab Gina.


Melihat sifat kekasih nya tersebut, Firman hanya bisa mengelus dada karena tidak tahu lagi harus berkata apa melihat tingkah Gina yang sangat berbeda dari wanita pada umumnya.


Biasanya para wanita akan lebih menyukai membawa peralatan kecantikan ataupun pakaian yang banyak, akan tetapi untuk Gina itu tidak berlaku, memang pakaian yang dibawa Gina lumayan banyak itupun lebih banyak diisi dengan baju santai seperti kaos dan celana pendek.


Namun senjata yang dibawa Gina bukan main banyaknya, tadi sudah satu koper besar isinya penuh dengan senjata, sekarang ditambah satu buah koper kecil yang berisi ribuan peluru dan beberapa senjata kecil didalamnya, sungguh diluar nalar pemikiran para wanita apa yang dilakukan oleh Gina saat ini.


"Kamu yakin akan membawa semua itu?" tanya Firman memastikan.


"Aku sangat yakin sekali, aku ingin membawa semua senjataku," jawab Gina sangat mantap dengan keputusannya tersebut untuk membawa senjata sebanyak dua koper pergi bersama dengannya.


"Tapi kita akan menghadiri acara pelelangan, bukan mau berperang melawan puluhan ribu orang," ujar Firman terlihat tak habis pikir dengan isi pikiran di otak Gina saat ini yang isinya hanya senjata saja.


"Siapa yang tau, bisa saja nanti kita berperang beneran kan," balas Gina tidak mau kalah.


Firman akhirnya hanya bisa pasrah dengan kemauan kuat sang kekasih, bukanya Firman takut atau menyerah, tapi ia juga memikirkan hal yang sama dengan Gina untuk keselamatan mereka bersama jika terdesak dalam situasi berbahaya nantinya.


Mungkin bisa saja nanti mereka berdua akan berada dalam situasi yang genting yang mengharuskan mereka berperang untuk bertahan hidup, jika hanya Firman saja ia bisa bertahan hanya dengan menggunakan dua buah senjata katana miliknya,


Namun untuk Gina yang hanya bisa mengandalkan senjata api saja untuk bertahan, pastinya ia tidak dapat jauh dari senjata-senjata kesayangannya tersebut, Gina lebih suka menggunakan senjata api ketimbang senjata lainnya, lebih efisien kata Gina.


"Apa kamu sudah selesai berkemasnya?" tanya Gina yang melihat Firman hanya duduk saja dari tadi diatas ranjang sambil bermain handphone.


"Aku selesai sudah dari tadi!" jawab Firman agak kesal karena harus menunggu Gina berkemas yang membutuhkan waktu cukup lama.


"Ayo kita berangkat sekarang supaya tidak terlalu malam sampai di kota tempat acara itu diadakan, kamu sudah tau tempatnya dimana kan?" tanya Firman.


"Sudah, semuanya sudah aku persiapkan dengan baik," jawab Gina.


Firman dan Gina keluar dari dalam kamar dengan membawa barang bawaan masing-masing, Firman hanya membawa sebuah tas punggung yang berisi pakaian sedikit dan beberapa buah senjata pistol kecil.


Melihat Gina yang agak keaulitan membawa barang bawannya, Firman mengambil alih dua koper yang berukuran besar untuk dibawakan olehnya, sementara Gina membawa satu koper saja.


Mendapatkan perlakuan manis seperti itu dari kekasihnya, membuat Gina tersenyum senang karena merasa diperhatikan oleh Firman, padahal dirinya hanya berpura-pura saja tidak kuat membawa tiga koper tersebut untuk mengetahui apakah Firman akan membantunya atau tidak.


'Akhh ... Aku jadi semakin sayang kepada dia,' batin Gina menatap punggung Firman yang berjalan di depannya membawa dua buah koper.


Mereka berdua turun kelantai bawah dan bertemu beberapa anggota mafia Roses Girl, saat berpapasan dengan para anggotanya, Gina kembali kedalam mode pemimpin yang berwajah dingin serta tidak banyak bicara.


"Tuan, apakah anda butuh bantuan? Biar saya saja yang membawanya," ucap salah satu anggota Gina.


"Tidak perlu, kalian lanjutkan saja pekerjaan kalian," jawab Firman.


Para anggota Gina kembali menawarkan bantuan tetapi hasilnya tetap sama, Firman menolak secara halus tawaran bantuan dari mereka. Sedangkan dari tadi ada mata yang menatap tajam kearah para wanita anggota Roses Girl yang menawari Firman bantuan tersebut.


Dengan mata tajamnya hingga membuat siapa saja akan merasa ngeri saat ditatap seperti itu oleh Gina, karena merasa kesal Gina menatap para anggotanya yang seperti sedang mencari muka didepan Firman.


Karena terbakar api cemburu melihat sang kekasih tercinta dikerumuni para wanita, dengan sigap Gina langsung memarahi para anggotanya tersebut tapi masih tetap mempertahankan kharisma sebagai ketua kelompok mafia besar.


"Apakah kalian tuli?! Pergi lanjutkan pekerjaan kalian, atau aku akan memberikan pelatihan dua kali lebih berat dari biasanya!" ujar Gina sambil menatap tajam setiap anggotanya yang tadi mencari muka didepan Firman.


Mereka semua ketakutan saat melihat wajah marah ketua mereka tersebut, dengan cepat mereka semua pergi dari sana untuk menghindari kemarahan Gina yang bisa saja semakin meningkat.


"Ayo pergi!" ucap Gina berjalan didepan Firman dengan wajah cemberut.


Firman hanya bisa geleng-geleng kepala karena hidupnya selalu saja dikerumuni banyak wanita, jika orang lain sudah dipastikan akan merasa sangat senang bisa berhubungan baik dengan banyak wanita tersebut,


Namun bagi Firman ini seperti sebuah masalah dan bahagia disaat bersamaan baginya, karena setiap dikelilingi para wanita sudah dapat dipastikan dirinya akan mendapatkan sebuah masalah atau kejadian yang membuatnya bingung harus bersikap bagaimana menghadapinya,


Firman juga merasa bahagia karena hidup dikelilingi wanita membuat Firman selalu terlihat segar dan mendapatkan hiburan lain bersama lara jika sedang kekasihnya.


'Nikmati sajalah, takdirku sudah seperti ini mungkin jadi harus ku terima dengan lapang dada,' batin Firman.


Gina dan Firman sudah sampai di garasi tempat mobil yang akan mereka gunakan untuk pergi ke tempat acara pelelangan berada, karena terlalu banyak mobil yang ada di dalam garasi tersebut membuat Firman bingung harus memilih yang mana.


"Kita pakai yang biasa saja, lagipula barang bawaan kita banyak jadi kurang memungkinkan untuk menggunakan mobil sport," ucap Firman yang memutuskan untuk menggunakan sebuah mobil yang menggunakan energi listrik untuk bahan bakarnya.


Mobil Hyundai ioniq 5 yang cukup bagus dengan kelas mobil listrik yang dimilikinya, mobil ini sangat nyaman digunakan di jalanan kota yang membuatnya cukup diminati oleh masyarakat yang beralih dari mobil konvensional berbahan bakar minyak menjadi mobil berbahan bakar listrik.


Harganya yang bisa dikatakan terjangkau ketimbamg mobil listrik lain yang bisa tembus sampai milyaran, sedangkan untuk mobil Hyundai ioniq hanya dibandrol harga kisaran ratusan juta saja untuk saat ini, harga yang terjangkau membuat banyak orang makin suka dengan mobil tersebut, mobilnya juga cukup cocok digunakan untuk keluarga kecil.


Lagipula untuk tempat pengisian ulang baterai untuk kendaraan sekarang sudah banyak ada ditempat-tempat umum yang membuat para pengguna kendaraan berbahan bakar listrik jadi lebih mudah untuk mengisi ulang daya kendaraan mereka.


Firman meletakan barang-barang di dalam bagasi setelah itu ia masuk kedalam mobil duduk dibangku pengemudi, sedangkan untuk Gina sedari tadi ia sudah duduk di kursi penumpang samping supir.


"Apakah baterai mobil ini sudah terisi?" tanya Firman.


"Sudah, aku jarang menggunakan mobil ini jadi dayanya selalu penuh," jawab Gina.


Firman menghidupkan mesin mobilnya lalu mengeluarkan mobil dari dalam garasi, anggota Gina yang berjaga membukakan pintu garasi supaya Firman tak perlu repot menekan tombol yang ada di samping pojok pintu garasi.


Setelah keluar dari dalam garasi mobil, Firman langsung melajukan mobilnya untuk keluar area markas, setelah dibukakan pintu gerbang depan, Firman menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang karena jalan yang licin akibat terkena salju es membuatnya rawan sekali terjadi kecelakaan bila pengendara kendaraan tidak berhati-hati.


Mereka berdua berjalan menuju tempat acara pelelangan diadakan yang jaraknya cukup jauh dari tempat markas Gina berada, bahkan mereka harus keluar negara terlebih dahulu untuk sampai ke tempat pelelangan.


Gina yang bosan hanya memainkan ponselnya saja untuk menghilangkan rasa bosan nya, sedangkan Firman masih terus fokus ke depan jalan supaya aman dalam mengemudikan mobilnya.