
Chapter 181
Firman masih memainkan tubuh Gina yang berada dipangkuannya, dengan sentuhan-sentuhan tangan Firman yang lembut membuat tubuh Gina merasa seperti sedang dipijat dengan kenikmatan yang tiada tara rasanya.
Dengan lihainya jari-jemari tangan Firman memilin pucuk dua buah gumpalan besar milik Gina yang sudah terlihat menegang karena terus dimainkan oleh Firman sampai Gina kenikmatan dibuatnya.
"Ugh ... Sayang ~ aku sudah tidak dapat menahannya lagi ..." ucap Gina yang langsung berbalik badan menghadap Firman.
Setelah membalikan badanya menghadap ke arah Firman, dengan cepat tanpa berkata apapun lagi, Gina langsung mencium habis bibir Firman dengan kasarnya.
Chup ...
Ciuman yang dilakukan oleh Gina tersebut bersarang tepat di bibir Firman yang terasa nikmat bagi Gina yang merasakannya, ciuman di permukaan bibir yang dilakukan oleh Gina karena Firman masih belum melakukan balasan apapun.
Mungkin karena hasrat sudah diujung tanduk membuat Gina tidak bisa menahanya lagi, dengan bibir seksi miliknya Gina berhasil membuat Firman terbuai akan permainan mulut yang digunakan oleh Gina.
Kedua bibir sepasang kekasih yang saling mencintai tersebut beradu saling menghisap mencari kenikmatan masing-masing serta memberikan rasa nikmat juga kepada pasangannya.
Firman sesekali mengecap bibirnya supaya bisa merasakan bagaimana nikmatnya bibir manis yang dimiliki oleh Gina, sementara itu Gina juga tidak mau kalah, ia melahap habis bagian luar bibir Firman sampai basah tanpa sisa.
Setelah puas bermain-main di area luar, akhirnya Firman memulai dengan memasukan lidahnya kedalam bibir Gina lalu menelusuri setiap sudut yang ada dibagian dalam bibir milik Gina, mulai dari mengabsen setiap bagian lidah Gina yang ada di dalam kemudian merasakan nikmatnya berbagi rasa satu sama lain.
Gina yang merasakan ada sebuah benda yang lembut namun agak kasar permukaannya memasuki mulutnya, Gina kemudian membalas perlakuan Firman tersebut dengan menggunakan lidahnya juga.
Mereka berdua saling beradu lidah memberikan rasa enak pada pasangannya, dengan pengalaman yang dimilikinya, Firman berhasil membuat Gina mengakui kehebatannya dalam hal berhubungan antar pasangan.
Firman lalu melepas ciumannya karena melihat Gina yang mulai kehabisan nafas sangking lamanya mereka berciuman, tidak ingin memberikan ruang untuk Gina beristirahat sekedar mencari nafas kembali, dengan ganasnya Firman menciumi leher jenjang milik Gina.
Kulit putih bagaikan mutiara yang dimiliki Gina membuat Firman betah sekali menikmatinya, bukan hanya sekedar mencium saja, akan tetapi Firman juga meninggalkan bekas kepemilikan berwarna merah di setiap sudut leher sampai dada bagian atas Gina.
"Sayang ~ teruskan sayangku ini rasanya sungguh sangat nikmat sekali ..." ucap Gina meracau tak jelas karena suaranya sudah tertutupi oleh suara-suara halus tanda rasa kenikmatan menjalar keseluruh tubuh Gina.
Firman beralih kepada area depan tubuh Gina yang menonjolkan gundukan bulat besar yang siap untuk disantap kapan saja tinggal menunggu waktu.
Dua buah gundukan besar yang tadi dimainkan oleh Firman dengan menggunakan tangannya dan memelintir bagian pucuk gundukan tersebut yang menegang, namun sekarang Firman bukan menggunakan tangan lagi tapi menggunakan mulutnya.
Tanpa mau berbasa-basi lagi dengan cepatnya Firman menggunakan tangan nya yang lihai dalam memainkan gundukan besar milik Gina tersebut, tangan kanan memainkan dua gundukan tersebut sementara tangan satunya lagi turun ke arah bawah mencari lembah suci milik Gina.
Sedangkan Gina yang menikmati setiap sentuhan yang dilakukan oleh Firman hingga ia mengeluarkan suara penuh kenikmatan, sampai beberapa waktu kemudian tubuh Gina merasa ingin mengeluarkan sesuatu dari area bawahnya.
"Sayang aku ingin keluar ..." ujar Gina agak berteriak.
Firman yang mendengar ucapan Gina tersebut langsung mempercepat permainan tangan di bagian bawah lembah suci milik Gina supaya lebih Gina cepat keluarnya, dengan permainan tangan yang cepat Firman membuat Gina merasa berkali-kali lebih nikmat dari yang tadi.
Karena kenikmatan yang diberikan oleh Firman semakin naik yang mana hal itu membuat Gina labgsung mengeluarkan cairan dari area bawahnya lalu kemudian tubuhnya menjadi lemas setelah keluar untuk pertama kali pada hari ini.
"Waktunya hidangan utama sayangku," ucap Firman berdiri lalu mengangkat Gina dan meletakkannya duduk di tempat ia duduk tadi.
Setelah mendudukan Gina ditempatnya tadi, Firman melepas seluruh pakaian nya hingga tidak tersisa sama sekali menampilkan seluruh tubuh atletis yang dimilikinya yang mana itu membuat Gina menerah wajahnya lantaran malu melihat tubuh Firman tanpa balutan busana.
"Gak tau, cepatlah aku sudah tidak tahan lagi …!" ujar Gina menuntut Firman agar cepat melakukan aksinya.
Wajah malu-malu Gina sudah tergantikan dengan wajah yang ingin segera diberikan kenikmatan oleh Firman, tangan Gina bahkan sudah tergantung di leher Firman.
Mendengar permintaan sang kekasih seketika membuat Firman langsung menjalankan aksinya dengan pertama-tama memposisikan tubuh Gina supaya merasa nyaman dan lebih mudah melakukan hubungan badan nantinya.
Firman mengangkat tubuh Gina kemudian menaruhnya di atas sebuah meja yang kosong karena tadinya itu meja tempat diletakannya minuman milik Firman tetapi minuman tersebut sudah dipindahkan ketempat lain.
Gina melingkarkan tangannya pada leher Firman supaya menahan tubuhnya agar tidak terjatuh ke belakang, dalam posisi kali ini mereka berdua saling menatap mata satu sama lain dalam-dalam.
Tatapan mata yang ditunjukan oleh mereka berdua seperti mengisyaratkan sebuah rasa cinta yang tidak dapat diungkapkan melalui kata-kata, Firman menatap mata indah milik Gina seraya menampilkan senyum di wajah tampanya.
Sedangkan Gina juga menatap mata Firman sambil tersenyum manis yang membuat Firman tidak sabar ingin memakannya sesegera mungkin, setelah cukup lama mereka saling tatap yang mana itu merupakan bentuk komunikasi antara kekasih tersebut.
Karena keinginan di tubuhnya sudah semakin meningkat, akhirnya Firman langsung memasukan tongkat besar miliknya kedalam lembah suci milik Gina yang sudah tidak suci lagi karena ulah Firman saat mereka pertama kali saling menyatakan cinta.
Gina yang merasakan benda besar itu masuk kedalam tubuhnya, ia seketika mengeluarkan suara kenikmatan lantaran tongkat besar milik Firman langsung masuk dengan mudahnya kedalam lembah milik Gina.
Mungkin tongkat Firman bisa dengan mudah masuk kedalam lembah Gina karena tadi cairan milik Gina keluar terlebih dahulu yang membuat bagian luar serta dalam lembah Gina menjadi licin.
Setelah memasukan tongkatnya kedalam, Firman kemudian menggerakkan pinggulnya perlahan-lahan supaya Gina menikmati tersebut dahulu sebelum nantinya Firman bergerak lebih kencang dan kasar.
"Sayang lebih kencang lagi ..." ucap Gina ditengah racauan suara-suara penuh kenikmatan yang dirasakannya.
Firman mempercepat gerakan pinggulnya sesuai dengan permintaan Gina, karena dipercepat gerakan pinggulnya hal itu membuat Gina yang merasakan kenikmatan dibagian bawahnya semakin menjadi-jadi.
Sangking terasa nikmatnya hingga Gina tak berhenti mengeluarkan suara-suara indah bagai kicauan burung yang merdu di telinga Firman, suara Gina tersebut membuat Firman semakin bersemangat menggerakan pinggulnya lebih cepat lagi.
Hingga setelah beberapa waktu bermain seperti itu, Firman ingin mencapai puncak pertamanya, sebelum mencapai puncanya Firman mempercepat gerakan pinggulnya lalu memasukan cairan puncak kedalam lembah milik Gina.
"Ahh ... sayang rasanya sungguh nikmat, apalagi kamu mengeluarkanya didalam huh ... huh ..." ucap Gina yang nafasnya terlihat terengah-engah lantaran sangat melelahkan berhubungan badan seperti itu.
Melihat kekasihnya yang terlihat kelelahan, Firman bukannya berhenti malah ia melakukan kegiatanya kembali dengan secara langsung memasukan tongkatnya kembali ke dalam lembah Gina.
Gina yang masih lelah tentu saja sangat terkejut merasakan lembahnya sudah dimasuki dengan tongkat besar kembali, saat ingin mengatakan sesuatu suara Gina tertahan karena Firman menggerakan pinggulnya secara sangat cepat dan kasar.
Hal itu membuat Gina menjadi tidak dapat memikirkan apapun lagi, yang ada dipikirannya saat ini adalah tongkat milik Firman yang sedang memberikan kenikmatan pada lembah miliknya.
Mereka berhubungan badan selama beberapa jam hingga menjelang pagi, Firman masih terus memompa tongkatnya memasukan setiap tetes cairan lava puncak kedalam lembah merah muda milik Gina.
Cairan lava yang dikeluarkan tongkat Firman yang ada didalam lembah milik Gina meluber keluar karena terlalu banyak yang berada didalamnya hingga membuat cairan lain yang ingin masuk menjadi terdorong keluar.
"Sa ... sayang sudah aku mohon berhenti ... huh ... huh ..." ucap Gina memohon untuk istirahat terlebih dahulu.
Firman pun menghentikan aksinya memberikan Gina waktu untuk mengambil nafas dengan tenang dan mengistirahatkan tubuhnya yang digempur habis-habisan oleh Firman tanpa memberinya waktu untuk beristirahat sama sekali.