
Chapter 174
Sejenak Firman menatap lekat wajah Gina yang berada di dekapan tubuhnya, wajah cantik penuh kharisma sebagai ketua kelompok mafia besar, wajah seorang wanita tangguh yang hidup mandiri sejak kecil.
Bagi seorang Firman yang juga pernah merasakan hidup susah sejak kecil, ia sangat paham sekali rasa sakit yang dirasakan oleh Gina, ditinggal pergi orang tua yang kita sayangi.
Namun bedanya Gina masih bisa sempat melihat wajah kedua orang tuanya meskipun pada akhirnya harus berpisah, sedangkan untuk Firman ia bahkan tak pernah bertemu dengan sang ayah sejak dari dalam kandungan.
"Sayang, boleh aku tahu ibu kamu bagaimana keadaannya?" tanya Firman lembut sembari mengelus kepala Gina dengan penuh kasih sayang.
Gina yang tadi memeluk Firman dengan eratnya lantaran takut kehilangan Firman jika berurusan dengan organisasi Rich Devil, sekarang ia mendongak menatap wajah Firman yang sangat tampan menurutnya.
"Ibu kandungku sudah meninggal karena keluarga kami dulu pernah diserang oleh sebuah kelompok entah apa sebabnya, ibu dan seluruh anggota keluarga kami tewas pada peristiwa itu.
Kecuali aku dan ayah, kita selamat karena pada saat sebelum peristiwa itu terjadi ayah sudah pergi dengan alasan untuk menyelidiki masalah yang sedang terjadi pada saat itu, yaitu masalah tentang keluarga Sophia.
Sedangkan aku waktu itu disembunyikan oleh ibu di ruangan tempat untuk berlindung yang berada di bawah tanah, ibu berpesan agar aku jangan sampai keluar apapun yang terjadi." bercerita mengenai masa lalu membuat air mata Gina mulai menetes dari pelupuk matanya.
Firman memeluk tubuh Gina untuk membuatnya merasa lebih tenang, Gina juga merasa nyaman berada dalam pelukan Firman yang hangat, apalagi ditambah elusan lembut tangan Firman dikepala Gina yang membuat Gina merasa nyaman didekapannya.
"Jangan pikirkan masa lalu lagi, sekarang ada aku yang akan selalu menjaga kamu sampai kapanpun," ucap Firman kepada Gina.
"Terima kasih sayang, aku semakin mencintai kamu," balas Gina yang sudah mulai kembali tenang tidak sedih lagi.
Mereka lalu melepaskan pelukannya kemudian Firman memanggil Lina dan yang lainnya untuk berpamitan akan pergi bersama dengan Gina untuk jalan-jalan berdua bersama menikmati indahnya kota tempat mereka berada saat ini.
"Kita ingin jalan terlebih dahulu, kalian jika mau kembali ataupun menetap disini silahkan," ucap Firman.
"Kita sebentar lagi mau kembali ke markas kok kak, sekalian ingin membereskan beberapa urusan yang sempat tertunda karena ada masalah ini," balas Lina.
"Benar kata Lina, Queen nikmati saja waktu bersama dengan Tuan Firman, kami yang akan mengurus semua sisa-sisa masalah yang ada," sambung salah satu anggota Gina.
"Terima kasih semuanya, yasudah ayo sayang kita jalan," ujar Gina sudah tidak sabar ingin liburan bersama dengan Firman berdua.
"Di luar masih gerimis, tunggu agak reda terlebih dulu," jawab Firman.
Setelah beberapa menit menunggu akhirnya hujan sudah reda, para anggota mafia Gina kembali menuju markas bersama dengan Lina, sedangkan untuk Gina dan Firman akan menetap beberapa hari untuk melaksanakan liburan dadakan mereka.
Sebenarnya Firman tidak ingin liburan ini, karena urusan dirinya masih sangat banyak yang belum terselesaikan, tapi Firman sudah janji tadi pada saat di atap gedung, pada akhirnya Firman hanya bisa menuruti semua apa yang diinginkan oleh Gina.
Mereka berdua masuk kedalam mobil yang kemarin digunakan, Firman menyetir sedangkan Gina duduk di kursi samping pengemudi.
Firman lalu menyalakan mesin mobilnya kemudian mereka berdua berkeliling menggunakan mobil sembari menikmati indahnya kota pada dini hari yang sepi dari aktivitas orang-orang.
"Kamu kenapa sayang? Kelihatannya seperti sedang banyak pikiran," tanya Gina yang melihat wajah Firman seperti orang yang mempunyai banyak beban pikiran di kepalanya.
"Aku hanya merasa heran, kenapa selalu saja banyak sekali masalah yang mendatangiku beberapa hari ini, padahal masalah pertama saja belum usai malah ditambah masalah baru lagi," jawab Firman.
"Sabar sayang, semakin banyak tanggung jawab yang kamu pikul maka akan semakin banyak pula masalah yang akan kamu alami, semua manusia pasti pernah menjalani masa sulit seperti itu jadi semangat sayangku, aku selalu mendukung kamu," ujar Gina memberikan motivasi kepada Firman agar selalu semangat meskipun masalah datang seperti badai yang tak kenal waktu datangnya.
Firman tersenyum sebentar memandang kearah Gina yang berada disampingnya, ia merasa sangat bersyukur sekali karena dalam hidup yang penuh masalah ini, ia masih diberikan orang-orang yang selalu siap mendukungnya keluar dari masalah yang dihadapi.
Keluarga, kekasih, teman, sampai anak buah pun semuanya ikut serta membantu Firman dalam menyelesaikan setiap masalah yang dihadapinya, seperti yang biasa Firman katakan jika orang terdekatnya berada dalam masalah, maka Firman akan membantunya.
Begitupun sebaliknya, jika Firman memiliki beban pikiran maupun masalah yang sangat sulit untuk dihadapi sendirian, maka orang terdekatnya akan selalu siap sedia membantu Firman meringankan beban tersebut.
Drtt ... Drtt ...
Saat sedang fokus menyetir, tiba-tiba handphone Firman yang ada di sakunya bergetar berkali-kali menandakan ada orang yang menelepon dirinya, karena Firman masih fokus menyetir jadinya ia menyuruh Gina untuk menjawab panggilan telepon tersebut.
Gina mengambil handphone yang ada di saku Firman kemudian ia menjawabnya, "Halo," ucap Gina.
"Halo, ini siapa ya? Firmannya mana?" tanya orang dari seberang telepon yang dari suaranya saja sudah terdengar jelas jika itu seorang perempuan.
"Firman sedang mengemudi, ini aku Gina kekasihnya yang menjawab telepon," jawab Gina.
"Eh ... Kamu kekasih Firman? Benarkah itu?" tanya orang dari seberang telepon, orang itu seperti terkejut saat Gina mengatakan jika ia adalah kekasihnya Firman.
"Iya betul aku kekasihnya, kamu siapa ya?" tanya Gina penasaran karena tidak tertera nama pada nomor orang yang menelepon tersebut.
"Ah ... maaf aku lupa memperkenalkan diri, perkenalkan namaku Kalina, aku asisten sekaligus kekasih Firman juga," jawab orang diseberang telepon yang ternyata Kalina, entahlah kenapa bisa nomor Kalina belum disimpan oleh Firman pada kontaknya.
Gina yang mendengar perkenalan dari Kalina barusan menjadi panik serta bingung harus bersikap bagaimana saat berbicara dengan kekasih Firman yang lainnya, bukanya Gina marah mengetahui Firman memiliki kekasih lain.
Tetapi ia bingung harus bagaimana bersikap kepada saudarinya yang lain, karena Gina yang merupakan kekasih paling baru Firman kemungkinan akan disidak habis-habisan oleh kekasih Firman yang lainnya, sama seperti Jia Li dulu pada saat pertama kali meminta restu pada kekasih Firman yang lain.
"Halo ... Halo ... Gina, apakah kau masih ada disana?" tanya Kalina yang tidak mendapatkan balasan lagi dari Gina.
Gina yang masih terbengong seketika kembali sadar karena dipanggil oleh Kalina, "Iya kak, maaf aku tadi sedang tidak fokus," jawab Gina dengan sopan memanggil Kalina dengan sebutan Kak.
"Owh ... Sudah memanggilku dengan sebutan kakak ya, rupanya kamu sangat berani Gina hehehe," balas Kalina menggoda Gina.
"Lalu kenapa memangnya? Lagi Pula kita akan menjadi saudari nantinya," ucap Gina.
"Baiklah, oh iya, aku tadi ingin berbicara dengan Firman mengenai masalah kantor, jadi apakah bisa kau berikan handphone nya kepada dia?" pinta Kalina.