
Chapter 215
Mobil yang digunakan oleh Firman melaju membelah jalanan perkotaan yang terlihat ramai karena hari memang masih sore, orang beraktivitas juga masih sangat banyak terlihat di kanan kiri jalan maupun di segala tempat lainnya.
Memang perjalanan Firman saat ini lebih banyak melewati jalanan perkotaan daripada jalan di pedesaan atau hutan, hal itu pastinya karena jarak antara kota tempat Reiko dirawat dengan kota tempat markas mafia Gina berada lumayan dekat, masih dalam satu negara bila dihitung, hanya beda kota saja.
Sepanjang perjalanan Firman terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu yang membuatnya tampak bingung, sangat jelas bisa dilihat dari raut wajahnya yang menyiratkan tanda jika saat ini keadaan Firman sedang kebingungan.
Sebenarnya yang dipikirkan oleh Firman sejak tadi adalah tentang permasalahan dirinya dengan kelompok mafia Rich Devil yang kian lama semakin menjadi lebih besar bahkan membuat keselamatan orang terdekatnya terancam karena masalah tersebut.
Firman memikirkan cara bagaimana dirinya bisa melawan kelompok mafia Rich Devil dengan cepat supaya bisa membuat keselamatan dirinya maupun keluarga dan orang terdekat Firman bisa terjamin. Sebagai seorang laki-laki yang memiliki orang yang harus dijaga pastinya Firman tidak akan tinggal diam saat ada orang lain yang mengusik keluarganya.
............
Setelah berjalan kurang lebih 2 jam menggunakan mobilnya, Firman sampai di kota tempat mafia Gina berada. Meskipun masih membutuhkan waktu sekitar 30 menit lagi untuk Firman mencapai tempat dimana letak markas mafia Gina berada.
Sebelum berjalan kesana Firman berhenti dahulu disebuah restoran pinggir jalan yang terlihat lumayan ramai pengunjung karena Firman datang sangat bertepatan dengan waktunya jam makan malam orang-orang yang membuat suasana tampak sangat ramai di dalam restoran maupun diluar.
Firman masuk kedalam restoran setelah memarkirkan mobilnya di tempat parkir, ia masuk kedalam lalu mencari tempat duduk yang kosong untuk tempatnya menikmati makan nanti, setelah beberapa saat melihat sekeliling akhirnya Firman menemukan ada tempat kosong yang berada di paling pojok restoran tersebut, lalu Firman langsung duduk disana.
Setelah itu Firman memesan makanan kemudian mengeluarkan handphone yang ada di sakunya lalu menghidupkannya kembali sebab Firman sendiri mematikan handphon nya selama 2 hari ini karena sangat sibuk sekali dengan urusan yang harus segera diselesaikan oleh Firman bersama dengan Gina.
Setelah handphone hidup kembali, Firman langsung membukanya dan betapa terkejutnya Firman saat melihat ada ribuan notifikasi baik itu telepon ataupun chat pesan, semua notifikasi tersebut pastinya datang dari para kekasih Firman yang merasa khawatir pada keadaannya.
Sudah pasti mereka semua merasa sangat khawatir, Firman saja sudah telat untuk kembali padahal jadwalnya seharusnya Firman kembali kemarin karena hari ini ia harus memasuki sekolah barunya, akan tetapi rencana tidak sesuai dengan realita, Firman harus menyelamatkan Reiko dari penculikan lalu membawanya ke rumah sakit yang pastinya itu membuat waktu Firman terkuras banyak.
Melihat begitu banyak pesan yang didapatkan, Firman sama sekali tidak membuka sama sekali karena takut nanti ia akan ditanyai macam-macam oleh para kekasihnya tersebut yang memiliki jiwa seperti reporter yang sedang mencari berita.
Firman hanya membuka satu pesan yang berasal dari kekasih yang paling dewasa yaitu Anggita, didalam pesan yang dikirimkan oleh Anggita hanya ada beberapa kata yang menanyakan tentang bagaimana keadaan Firman disana, ataupun bertanya tentang bagaimana keadaan Gina juga.
Setelah membaca pesan-pesan yang dikirimkan oleh Anggita, Firman lalu mengetikan beberapa kata untuk dikirimkan kepada Anggita untuk menjawab semua pertanyaannya sekaligus mengatakan jika dirinya akan telat kembali untuk beberapa waktu karena ada beberapa masalah yang belum terselesaikan.
"Sepertinya aku harus menunda lagi kepulanganku malam ini, padahal aku sudah meminta Gina untuk memesan tiket untuk aku kembali tapi bagaimanapun juga aku harus menyelesaikan semua masalah hari ini juga supaya nantinya tidak ada lagi yang namanya masalah seperti ini," kata Firman menatap lurus ke arah depan seraya memikirkan tentang penyelesaian masalah antara dirinya dengan kelompok mafia Rich Devil yang diketuai oleh Richard.
Sebenarnya Firman sendiri tidak tega meninggalkan para kekasihnya terlalu lama lagi karena ia sendiri juga sudah merasa rindu dengan mereka yang pastinya para kekasih Firman juga merindukan dirinya juga, tapi apa mau dikata, masalah yang dihadapi oleh Firman masih sangat amat banyak untuk segera diselesaikan.
Tidak lama kemudian datanglah seorang pelayan sambil membawa pesanan Firman, setelah itu Firman pun makan malam sendirian sembari ditemani suasana ramai karena banyaknya pengunjung yang ada di dalam restoran tersebut.
Namun saat tengah asyik memakan makanannya, tiba-tiba ada seseorang yang langsung duduk di kursi depan Firman. Kursi di restoran tersebut memang ada dua buah setiap meja, Firman hanya menggunakan satu sedangkan kursi yang satunya lagi kosong tidak ada yang menempati.
Melihat ada orang yang duduk di depannya secara tiba-tiba tidak membuat Firman terkejut karena dirinya masih sibuk untuk menikmati makanan khas Eropa yang rasanya cukup enak untuk dinikmati oleh seseorang yang berasal dari Asia seperti Firman, notabenenya makanan Eropa dengan Asia sangat berbeda baik dari segi rasa maupun bahan untuk membuatnya.
Firman sama sekali tidak menoleh kearah orang tersebut dan malah lebih memilih untuk menikmati makananya, mungkin bisa dikatakan jika tindakan Firman tersebut kurang sopan untuk dilakukan akan tetapi lebih tidak sopan lagi orang yang duduk didepan Firman itu karena secara tiba-tiba langsung duduk tanpa berkata permisi terlebih dahulu kepada orang yang ada disekitarnya untuk menghargai keberadaan mereka.
Sementara itu orang yang duduk di kursi depan Firman malah yang merasa keheranan saat melihat orang di depannya itu tidak bergerak terlihat meliriknya sama sekali padahal ia sudah duduk di depannya tapi masih saja tidak dipedulikan.
"Jika kamu masih mau menikmati makanan teruskan saja, aku yang akan pergi dari sini supaya tidak mengganggu kamu saat makan!" ucap orang yang duduk didepan Firman dengan nada ketus yang terdengar tidak asing ditelinga Firman.
Karena merasa tidak asing dengan suara tersebut membuat Firman menjadi penasaran untuk mengetahui siapa orang yang ada di depannya tersebut, ia pun menghentikan aktivitas makannya lalu mulai mengangkat kepalanya untuk melihat orang tersebut.
Saat mata Firman sudah bisa melihat dengan jelas siapa orang yang ada di depannya itu, betapa kagetnya Firman saat mengetahui jika yang sedang berada di depannya kali ini merupakan kekasihnya sendiri yang baru beberapa waktu lalu resmi menjadi sepasang kekasih, tepatnya waktu sebelum Firman pergi keluar negeri.
"Kalina ..." hanya itu kata yang bisa diucapkan dari mulut Firman karena ia masih merasa kaget melihat sang kekasih ada didepannya saat ini.
Sementara untuk Kalina sendiri hanya diam sambil memandang ke arah Firman dengan tatapan tajam seakan siap merobek daging, dengan tangan dilipat lalu duduk dengan anggun khas seorang yang memiliki attitude baik membuat pesona Kalina tampak sangat memikat di mata para kaum pria.
Bahkan sejak tadi awal saat Kalina baru masuk ke dalam restoran tersebut sudah banyak sekali tatapan yang mengarah kepadanya dengan berbagai maksud yang tersirat. Mulai dari para pria baik muda sampai yang tua semuanya terpesona dengan penampilan Kalina yang sangat cantik dengan menggunakan setelah kantorannya.
Kalina menggunakan pakaian setelan kantor yang memang biasa digunakan olehnya dengan rok selutut lalu ditambah jaket yang digunakan untuk menutupi tubuhnya karena suhu pada saat ini membuat tubuh terasa sangat dingin sekali.
"Iya sayang, apakah kamu masih mau menghabiskan makananmu lagi?! Jika begitu aku pergi saja!" ujar Kalina membalas ucapan Firman tadi.
Firman yang tadi masih melamun langsung segera sadar saat mendengar ucapan Kalina barusan, "Kamu disini saja, aku tidak terganggu sama sekali," kata Firman membalas ucapan Kalina.
"Tadi kamu terlihat seperti ingin aku pergi dari sini, jadi aku hanya mengikuti apa yang kamu mau saja," ucap Kalina kembali duduk di tempatnya.
"Tidak ada, aku hanya sedang fokus makan saja, tidak ada niat sama sekali untuk mengusirmu," jawab Firman.
"Ya terserah kamu saja," ucap Kalina.
Firman pun kembali melanjutkan makan malamnya ditemani dengan Kalina yang duduk di depan dirinya saat ini. Kalina sendiri tadi sudah ditawari makan oleh Firman tetapi ia menolak lantaran bilang jika sudah makan tadi pada saat perjalanan kesini.
Setelah Firman menghabiskan makanannya mereka berdua kembali mengobrol membicarakan berbagai hal mulai dari bisnis sampai keluarga, Firman tentunya tidak lupa menanyakan tentang keadaan para kekasihnya yang berada dirumah dengan ibunya juga.
"Kapan kamu sampai disini dan untuk apa juga kamu pergi dari rumah hingga kesini?" tanya Firman penasaran.
"Aku sampai pada siang hari tadi, lalu untuk tujuanku datang kemari tentunya untuk mengurus mengenai masalah pengalihan perusahaan yang kamu bicarakan beberapa waktu lalu dengan kak Anggi dan aku, kak Anggi memintaku untuk datang langsung mengurus semuanya," jawab Kalina.
Mendengar nama perusahaan barunya disebut Firman sontak saja menjadi penasaran dengan perkembangannya sudah sampai mana, "Bagaimana keadaan perusahaan baru itu? Aku dengar-dengar banyak perubahan yang terjadi," tanya Firman penuh rasa penasaran sekaligus penasaran.
"Semua berjalan dengan sangat baik tanpa ada kendala sama sekali, perusahaan itu ternyata sangatlah besar bahkan mungkin bisa hampir mirip besarnya dengan perusahaan milik kamu yang ada di Asia," jawab Kalina
Firman sangat puas saat mendengar jawaban dari Kalina barusan. "Lalu bagaimana bisa kamu menemukan aku yang ada disini?" tanya Firman penasaran bagaimana caranya sampai Kalina menemukan keberadaan dirinya dikota ini.
"Aku awalnya memang hanya ingin mengurus tentang masalah perusahaan saja, akan tetapi aku merasa sangat merindukan kamu makanya sekalian saja menemui kamu disini, aku menghubungi Gina tadi untuk menanyakan keberadaanmu dimana," jawab Kalina menjelaskan semuanya.
Firman mengangguk mendengar jawaban dari Kalina atas apa yang sudah Firman tanyakan kepada Kalina. Mereka berdua terus melanjutkan mengobrol sekaligus juga untuk mereka melepas perasaan rindu yang sudah lama ditahan karena terpisah jarak yang sangat jauh membuat mereka belum dapat bertemu secara langsung.