
Chapter 169
Sophia sudah berada tepat didepan Firman yang masih diam dengan wajah tanpa ekspresi memandang jijik pada diri Sophia, melihat tatapan yang tidak mengenakan kearahnya seketika itu juga membuat Sophia makin tertarik dengan Firman.
"Halo tampan ~ tatapanmu sungguh membuatku semakin bergairah saja hihihi ... Aku jadi tambah bersemangat ingin bermain denganmu segera, sayangku ~ " ucap Sophia menggoda Firman.
Tangan kanan Sophia terangkat lalu menyentuh wajah Firman dengan lembut menikmati setiap sudut wajah tampan yang dimiliki oleh Firman, sampai akhirnya ia menyentuh bibir Firman yang terlihat sangat menggoda untuk dihisap.
Jika yang digoda oleh Sophia adalah pria lain mungkin sudah dapat dipastikan pria itu akan langsung terjerat godaan yang dilakukan Sophia, apalagi dengan tubuh sangat seksi, bagian depan sangat besar melebihi ukuran wanita pada umumnya ditambah bagian belakang yang juga sangat besar, walaupun wajah Sophia masih jauh dibanding para wanita Firman.
Pakaian yang dikenakan oleh Sophia juga selalu sangat terbuka yang membuat para kaum pria yang melihatnya pasti akan terbius dengan pesonanya, baju minim ketat melihatkan lekukkan indah bagaikan pemain film biru yang melegenda, namun bagi Firman itu semua tidak menarik baginya, karena ia memiliki kekasih yang lebih cantik dari wanita lainnya.
"Bibirmu sangat seksi, bolehkah aku menikmatinya sedikit hihihi ..." ucap Sophia menatap penuh n4fsu pada bibir Firman.
Gina yang melihat kekasih yang sangat ia cintai digoda tepat di depan matanya oleh wanita lain, darahnya langsung bergejolak amarah sudah tak bisa dibendung lagi.
Dengan emosi yang sudah sangat besar hingga membuat Gina tak dapat menahannya lagi, Gina berdiri dari tempat duduknya tak peduli lagi todongan senjata yang mengarah kepadanya sudah siap kapan saja untuk membunuh dirinya.
"Jauhkan tubuh menjijikan milikmu dari kekasihku kau j4lang sialan!" teriak Gina mengumpati Sophia yang telah berani menggoda sang kekasih.
Semua orang seketika itu juga langsung menatap Gina yang berteriak kencang hingga membuat Sophia kesal dan melepaskan kewaspadaannya kepada Firman.
Firman yang melihat kesempatan untuk menyerang terbuka, langsung saja dengan menggunakan katana yang selalu ia bawa di dalam bajunya Firman memotong salah satu tangan milik Sophia hingga terputus tanpa menimbulkan suara sama sekali.
Ahhgg ...
Suara potongan tangan memang tidak terdengar, tetapi suara teriakan Sophia yang merasakan sakit yang teramat pada tangannya yang barusan dipotong Firman seketika membuat para anak buah Sophia terkejut.
Para anak buah Sophia terdiam karena masih kaget saat melihat ketua mereka tangannya sudah terputus satu yang membuat Sophia berteriak histeris kesakitan.
"K ...Kau! apa yang telah kau lakukan b4jingan?! Tanganku yang mulus t ... telah terputus ahkk ..." teriakan Sophia terdengar jelas ditelinga semua orang yang ada di dalam ruangan tersebut.
"Tidak boleh ada yang menyentuh tubuhku selain kekasih dan keluargaku! Apalagi seorang wanita menjijikan sepertimu, tidak akan sudi aku disentuh wanita sepertimu!" kata Firman dengan nada sangat marah memandang Sophia yang masih tidak terima tangannya dipotong.
Anak buah Sophia yang tadi masih terdiam pun akhirnya sadar kembali dan bersiap akan menembak Firman dan teman-temannya, mereka mengangkat senjata api miliknya lalu mulai menarik pelatuk senjata api tersebut.
Tapi saat menarik pelatuk senjata api miliknya, para anak buah Sophia bingung kenapa tembakan tak kunjung keluar, dan betapa terkejutnya mereka saat melihat ternyata senjata api milik mereka telah terbelah menjadi dua bagian dengan peluru yang berjatuhan di lantai.
"A ... Apa yang terjadi?!"
Semua orang bertanya-tanya bagaimana hal itu dapat terjadi, sampai sebuah suara membuat para anak buah Sophia kaget mendengarnya.
"Apa kalian mencari kami?" ucap suara tersebut yang ternyata berasal dari para anggota Gina yang tadi masih pingsan tak sadarkan diri.
Para anggota Gina telah sadar dari tadi tapi mereka berpura-pura masih pingsan agar mendapatkan kesempatan untuk menyerang musuhnya dan disaat sudah mendapatkan kesempatan yang tepat,
Setelah terlepas dari ikatan, mereka semua langsung mengeluarkan senjata tersembunyi masing-masing yang ada di tubuh mereka untuk memotong senjata api milik anak buah Sophia yang menyandera mereka semua.
Anak buah Sophia membuang senjata yang sudah tidak dapat digunakan kembali tersebut lalu mulai menyerang menggunakan tangan kosong untuk melawan anggota Gina yang menggunakan senjata berupa pisau yang selalu mereka bawa pada tubuh mereka.
"Kalian habisi mereka semua jangan sisakan satupun! Cepat lakukan!" teriak Sophia memerintahkan anak buahnya.
Pertarungan pun tak dapat terhindarkan, pertarungan antara puluhan orang berbeda kelompok tersebut berlangsung sengit karena kekuatan mereka bisa dikatakan seimbang.
Sebenarnya anak buah Sophia menang dalam segi jumlah pasukan yang seharusnya membuat mereka bisa memenangkan pertempuran dengan mudah tanpa perlawanan sama sekali.
Namun sayangnya pasukan Gina ternyata lebih kuat dari bayangan mereka, apalagi ditambah dengan senjata yang mereka bawa membuat para anak buah Sophia kewalahan menahan setiap serangan yang dilancarkan oleh anggota Gina.
Sedangkan di sisi Firman yang sekarang berhadapan dengan Sophia di depannya, Firman memegang erat dua buah katana di tangannya yang mana kedua katana tersebut telah melewati berbagai pertempuran besar, katana kesayangan Firman yaitu Sang Pembantai.
"Siapa sebenarnya kau?" tanya Firman yang membuat Lina dan juga Gina yang ada di sampingnya bingung.
"Apa maksudmu kak? Bukanya kakak sudah tau kalau wanita itu adalah ketua mafia musuh kita," ujar Lina.
"Benar itu, dia juga merupakan sahabatku dulu waktu kami kecil tapi karena sebuah kejadian membuat kami terpisah dan menjadi musuh bebuyutan hingga saat ini!" tambah Gina menatap Sophia dengan perasaan campur aduk andara kasihan, sedih, takut, dan sebagainya.
"Aku merasa dia bukan orang sembarangan, juga dilihat dari pasukan yang dia miliki itu sama persis cara bertarungnya dengan pasukan mafia yang dulu pernah aku lawan," ucap Firman yang semakin membuat Lina dan Gina bingung sekaligus penasaran.
Firman sedari tadi memang hanya diam saja melihat kejadian didepanya, akan tetapi yang tidak diketahui oleh semua orang adalah Firman ternyata sedang mengamati semua orang yang ada disana.
Tujuan Firman melakukan pengamatan tersebut tak lain adalah untuk melihat dan mengetahui siapakah sebenarnya Sophia ini, tidak mungkin bagi seorang wanita seperti dia bisa masuk kedalam dunia bawah seperti itu, apalagi sampai mempunyai banyak sekali pasukan yang handal dalam pertarungan.
Sejak awal memang Firman telah mencurigai Sophia makanya ia mencari beberapa informasi tentang dirinya, namun sayang sekali hanya informasi tentang masa lalu antara Sophia dan Gina saja yang dapat ditemukan olehnya.
Sedangkan untuk informasi tentang darimana Sophia bisa membuat mafia sebesar Silent Shadow itu semua sulit untuk didapatkan untuk saat ini.
"Hahaha tak kusangka ternyata kekasihmu itu sangat cerdas Gina, pantas saja dia tak terpengaruh dengan godaan yang aku lakukan kepadanya," ucap Sophia tertawa seperti orang sakit jiwa.
Padahal tadi ia sedang berteriak kesakitan karena tangannya terputus, tapi sekarang ia malah tertawa seperti itu yang membuat semua orang melihat Sophia seperti orang tidak waras.
"Apa maksudmu?!" tanya Lina penasaran.
"Benar sekali apa yang kau curigai selama ini pria tampanku ~ aku bisa memiliki banyak pasukan yang hebat karena bantuan kekasihku yang merupakan ketua dari organisasi besar dan pemimpin perusahaan terbesar di Eropa hahaha, jika kau menghabisiku maka kekasihku pasti akan memburumu sampai keujung dunia," jawab Sophia yang membuat semua orang terkejut, kecuali Firman yang masih biasa saja menampilkan wajah datar.
'Pria mana yang bisa merawat wanita g1la seperti ini, aku sungguh salut pada pria itu,' batin Firman.
Pertarungan antara pasukan anak buah Sophia melawan anggota mafia Gina masih terus berlangsung, sudah banyak korban yang berjatuhan dari kedua belah pihak, namun lebih banyak korban yang berasal dari pasukan Sophia daripada anggota Gina.