System Menjadi Pria Sukses

System Menjadi Pria Sukses
System Sukses 43


Chapter 43


Para polisi itu masuk kedalam ruangan tempat rapat sekolahan, semua guru yang ada di sana nampak lega saat para polisi itu datang seakan membawa angin segar setelah melihat pembantaian yang terjadi karena Firman.


Salah satu polisi berbadan gendut berpenampilan layaknya seorang polisi yang berkuasa di sana dengan gaya sok pemimpin nya, saat berjalan perut buncitnya bergoyang goyang layaknya jeli.


"Ulah siapa ini!?" Tanya polisi tersebut melihat kekacauan yang terjadi di ruangan tersebut.


"Ini semua ulah anak itu inspektur Budi." Ucap salah satu guru menunjuk ke arah Firman yang masih diam.


Polisi gendut yang bernama Budi itu adalah kepala polisi di daerah sekitar sini.


Kepala polisi Budi lalu melihat ke arah Firman yang berpenampilan sangat mengerikan setelah membantai banyak lawannya tadi.


"Apa benar nak kamu yang melakukan semua ini?" Kepala polisi Budi bertanya kepada Firman.


"Benar, aku yang menghajar mereka." Jawab Firman singkat tanpa ekspresi.


"Borgol dia." Ucap polisi Budi memerintahkan anak buahnya.


Lalu Firman pun diborgol dan dibawa kekantor polisi untuk dimintai keterangan atas apa yang dilakukannya.


Para orang orang yang ada di sana langsung pergi karena tidak mau terkena masalah juga nantinya karena hal ini.


Sementara untuk para orang yang dihajar Firman mereka dibawa kerumah sakit untuk mendapatkan pertolongan medis di sana.


Firman dibawa menggunakan mobil polisi menuju kantor kepolisian.


Para murid yang melihat Firman dibawa oleh polisi menjadi heran dan sangat bingung dengan apa yang terjadi didalam ruangan rapat tadi.


Mereka tampak merasa ada yang janggal dengan dibawanya Firman oleh para polisi tersebut.


Tapi ada beberapa orang yang tertawa senang saat Firman ditangkap, tidak bukan mereka ialah kelompok geng Riski yang senang saat melihat Firman dibawa oleh para polisi.


..........


Sedangkan di sisi Bu Ika dan Gina saat ini sedang merasa sangat cemas dengan keadaan Firman.


Gina sendiri langsung memerintahkan beberapa anak buahnya untuk mengurus hal ini, namun anak buah Gina tidak bisa melakukan apapun karena di negara ini mereka tidak mempunyai kekuasaan apapun.


Jadi Gina hanya bisa diam menunggu dengan cemas keadaan Firman yang dibawa pihak kepolisian.


'Semoga kau baik baik saja, meskipun aku yakin dengan identitas rahasiamu itu kau akan baik baik saja.' Batin Gina berdoa semoga Firman baik baik saja.


Sementara Bu Ika saat ini sangat panik karena takut murid kesayangannya akan terkena masalah yang lebih besar nantinya.


"Gina, kamu pulang duluan saja ya, masalah ini biar saya yang mengurus Firman pasti baik baik saja." Ucap Bu Ika.


"Tapi Bu, Firman sampai seperti ini karena membela saya, jadi saya.." Sebelum menyelesaikan ucapannya, Gina terdiam karena merasa bersalah pada Firman.


Ini bukan akting atau pura pura sedih, tapi memang tulus dari diri Gina sendiri bahwa dia merasa sangat bersalah atas kejadian yang menimpa Firman.


Coba saja dia tidak penasaran dengan identitas Firman seperti ini, maka Firman tidak akan mendapatkan masalah seperti ini.


Seperti menyiksa orang tapi sama sekali tidak ada rasa bersalah ataupun sedih dalam hatinya, tapi berbeda saat hal itu menimpa Firman.


"Sudah jangan merasa bersalah, saya juga salah di sini karena tidak bisa membela murid sendiri.


Kamu tenang saja ok, saya akan menyelesaikan masalah ini secepatnya." Bu Ika mencoba menenangkan Gina.


Akhirnya Gina pun kembali menuju rumahnya, tapi Gina sesampainya dirumah langsung mencoba mencari cari informasi tentang masalah yang menimpa Firman, seperti siapa yang melapor polisi dan siapa orang orang yang menyerang Firman sebelumnya.


.........


Bu Ika bingung harus melakukan apa, dirinya sama sekali tidak mau sampai hal ini terjadi tapi semua sudah terlanjur kejadian.


"Bagaimana ini, aduh......"


Tiba tiba Bu Ika terpikirkan sebuah ide yang menurutnya bisa membantu Firman terbebas dengan cepat.


Bu Ika mengambil handphone di sakunya lalu menelpon seseorang yang sudah lama tidak dia hubungi.


"Halo Pa." Ucap Bu Ika menyapa orang dibalik telepon yang adalah ayahnya sendiri.


"Hoo ada apa ini sampai sampai anak ku yang jarang sekali menghubungi Papa nya menelpon hahaha." Jawab Ayah Bu Ika.


"Ishh.....Papa aku butuh bantuanmu." Ucap Bu Ika langsung ke topik utama.


"Bantuan? Tumben sekali kamu meminta bantuan, bantuan apa uang, perusahaan, atau yang lain?" Tanya Papa Bu Ika.


"Aku mau minta bantuan Papa buat bebasin temen aku yang ditahan di kantor polisi sekarang." Jawab Bu Ika.


"Teman apa pasangan mu? Aku tidak pernah tahu kamu peduli pada teman, pasti dia bukan temanmu kan hahaha." Ucap Papa Bu Ika menggoda anaknya.


"Apaan sih, dia teman ku Pa dia anak muridku di sekolah tempat aku mengajar." Jawab Bu Ika merasa sedikit kesal digoda ayahnya.


"Apa kamu berpacaran dengan muridmu sendiri? Hmm tapi aku setuju saja jika kalian bahagia hahaha." Tak habis habisnya menggoda anak sendiri.


"Ya....Ya te.....terima kasih Pa." Bu Ika mukanya sudah memerah karena terus digoda Papa nya.


"Hahaha ternyata benar tebakanku, ya sudah nanti Papa akan menyuruh anak buah untuk mengurus masalah ini.


Oh iya titipkan salam untuk calon menantuku itu, dan ingat Papa tidak mau kamu salah memilih pasangan lagi." Ucap Papa Bu Ika menasehati anaknya.


"Iya iya, terima kasih Papa ku sayang." Ucap Bu Ika lalu menutup telponnya.


Sementara di sisi Papa Bu Ika saat ini sedang merenung setelah berbicara bersama anaknya barusan.


"Semoga pilihanmu tidak seperti yang dulu nak, aku hanya ingin kamu bahagia sebelum aku pergi nanti." Ucapnya sembari menatap sebuah foto di depanya.


*Jangan lupa like dan dukungan nya teman teman.


*Maaf kemarin saya tidak up banyak, karena saya setelah ada kegiatan merasa lelah jadi langsung istirahat tidak sempat menulis chapter baru untuk di update kepada kalian.


...Terima Kasih...