System Menjadi Pria Sukses

System Menjadi Pria Sukses
System Sukses 183 Keributan Pagi Hari Kakak Adik


Chapter 183


Lina berjalan menuju kamar Gina untuk membangunkanya supaya bisa ikut sarapan bersama-sama dengan dirinya dan juga Firman yang sudah siap menunggu dimeja makan.


Setelah sampai di depan pintu kamar Gina, dengan perlahan Lina mengetuk pintu kamar Gina namun tidak ada jawaban dari dalam sama sekali, beberapa kali Lina mengetuk pintu kamar Gina namun hasilnya tetap sama tidak ada yang menjawab.


Sesekali juga Lina memanggil sang kakak dengan suara yang cukup keras disertai dengan ketukan pintu yang terdendengar lumayan kencang, namun hasilnya tetap saja tidak ada balasan dari Gina yang ada didalam.


"Apa kak Gina masih tidur ya? Tapi dia biasanya dipanggil sedikit saja langsung mendengarnya, tapi kenapa sekarang malah tidak ada jawaban sama sekali," gumam Lina menatap pintu kamar Gina yang masih tertutup rapat.


Karena tidak kunjung mendapatkan jawaban dari dalam, akhirnya Lina memutuskan untuk langsung masuk saja karena kebetulan pintu kamarnya tidak terkunci dan dengan mudahnya Lina bisa masuk kedalam kamar Gina.


Mungkin saat Firman keluar kamar tadi ia lupa untuk mengunci kamar Gina, alhasil sekarang pintunya tertutup namun tidak terkunci yang membuat Lina dengan mudah bisa masuk ke dalam.


Lina membuka pintu kemudian masuk dan menutup pintunya kembali, saat memasuki kamar Gina yang pertama kali dilihat oleh mata Lina sudah pasti berbagai hal yang berhubungan dengan Firman, seperti lukisan atau foto yang dipajang di seluruh dinding kamar.


"Ini sudah beberapa kali aku masuk ke kamar kak Gina, tapi rasanya tetap sama saja, mengerikan sekali kak Gina sampai terobsesi dengan pria sebegitunya. Aku harap kak Firman bisa sabar menghadapinya." Lina sangat tau sekaki sifat kakak nya tersebut yang sudah sangat mencintai Firman atau bahkan sudah ditahap terobsesi.


Lina berjalan ke arah ranjang tempat Gina tidur, terlihat Gina masih nyenyak dalam tidurnya dengan tubuh ditutupi selimut tebal, melihat kakaknya yang terlihat sangat nyenyak tidurnya membuat Lina tidak tega saat ingin membangunkan Gina.


Tapi karena sudah ditunggu untuk makan sarapan bersama, akhirnya Lina memberanikan diri untuk membangunkan Gina dengan cara mengguncang tubuhnya dan memanggil namanya berkali-kali, dengan pelan Lina mengguncang tubuh Gina berharap dia cepat bangun.


Lina mengguncang tubuh Gina lalu memanggil namanya dan mengatakan supaya Gina cepat bangun tapi hasilnya masih sama saja, tidak ada tanda-tanda Gina akan bangun, walaupun Lina sudah mengguncang tubuh Gina dengan lebih kencang dari yang tadi tapi tetap saja hasilnya sama.


"Kak bangun ... sudah ditunggu kak Firman buat sarapan bersama ... kak ..." panggil Lina dengan suara agak keras.


Karena sudah lumayan lama berusaha membangunkan Gina tapi tidak kunjung ada respon darinya, Lina memiliki sebuah ide untuk membuat Gina bangun, tapi ide itu sangat beresiko tinggi jika sampai Gina menyadarinya nanti.


Dengan tangan memegang selimut yang membungkus tubuh Gina, tangan Lina langsung menarik selimut tersebut hingga terlepas seluruhnya membuat Gina yang masih tidur dengan nyenyaknya karena rasa hangat menjadi agak menggeliat sedikit karena merasa dingin.


Gina langsung membuka matanya karena merasakan hawa dingin yang sangat amat terasa hingga membuatnya terbangun, tapi yang membuat Gina makin terkejut adalah kehadiran Lina di dalam kamarnya.


"Untuk apa kamu ke sini?!" tanya Gina agak kesal lantaran dibangunkan padahal dirinya masih sangat mengantuk.


Tapi tidak ada jawaban dari Lina, merasa ada keanehan saat melihat pandangan Lina yang mengarah ke tubuhnya serta mulut Lina yang terbuka lebar seperti terkejut melihat sesuatu.


Saat Gina melihat arah yang ditatap oleh Lina, betapa kagetnya ia karena ternyata tubuhnya yang masih polos tanpa pakaian sama sekali terlihat sangat jelas sekali dimata Lina yang membuatnya sangat terkejut.


Bagaimana tidak terkejut, Lina baru kali ini melihat tubuh kakak nya yang sangat indah sekali bagaikan model papan atas dengan bagian depan dan belakang yang besar serta kulit putih bagai salju yang sedang berjatuhan.


"Hey kenapa sampai terkejut seperti itu?" tanya Gina merasa aneh dengan adik angkatnya tersebut.


Padahal mereka sama-sama seorang perempuan yang seharusnya Lina tidak terkejut melihat tubuh polos Gina, tapi sekarang justru sangat terlihat jelas ekspresi Lina yang menampilkan wajah kaget.


"K ... Kak itu apa?" tanya Lina agak terbata-bata sambil menunjuk kasur yang basah.


Saat Gina melihat arah yang ditunjuk oleh Lina, dengan cepat Gina langsung menutup kasurnya menggunakan selimut yang tadi masih ada ditangan Lina, dengan cepat Gina merebutnya dari tangan Lina untuk digunakan menutupi kasur.


Sedangkan Gina sendiri bangsung berdiri disamping Lina dengan perasaan campur aduk antara malu kesal dan jengkel karena Lina dengan polosnya bertanya hal yang seharusnya menjadi rahasia antara dirinya dengan Firman saja.


"I ... Itu bukan apa-apa, kamu mau apa membangunkanku pagi begini?" tanya Gina mengalihkan topik obrolan.


Lina yang baru sadar dari lamunannya akhirnya ingat tujuan awal memanggil Gina untuk sarapan bersama, "Ayo sarapan bersama kak, aku dan kak Firman tadi masak untuk sarapan, kak Firman sudah menunggu di meja makan sekarang."


Gina mengangguk lalu ia langsung berlari menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang terasa lengket sekali akibat permainan panas antara dirinya dengan Firman yang dilakukan berjam-jam hingga membuat tubuh Gina sakit semua dibuatnya.


Sementara itu Lina masih terdiam disamping tempat tidur Lina, entah apa yang ada dipikiran anak yang usianya satu tahun dibawah Firman tersebut, mungkin pikiran Lina sedang berputar-putar entah kemana.


"Eh ... sebentar, aku tadi seperti melihat badan kak Gina ada banyak sekali cairan yang sama seperti yang ada di kasur dan juga di bagian bawah badan kak Gina seperti meneteskan sesuatu yang kental, apa jangan-jangan kak Gina dan kak Firman melakukan itu ...?"


Lina masih bertanya-tanya dalam pikirannya, tetapi setelah memikirkan hal itu terjadi antara Gina dan Firman, membuat Lina menjadi merah wajahnya karena malu memikirkan hal dewasa semacam itu.


"Kamu anak kecil diam saja! Tidak usah mengurusi urusanku!" balas Gina dari dalam kamar mandi.


"Enak saja bilang aku anak kecil! Aku sudah dewasa hump! Pacarmu saja umurnya hanya satu tahun diatasku! Dasar kamu tante-tante genit!" balas Lina tidak mau kalah dengan sang kakak.


"Awas kamu ya! Aku akan memberikanmu pelajaran berharga nanti!" teriak Gina dari dalam kamar mandi.


"Dasar tante genit yang suka pria muda!" Lina masih meledek kakaknya.


"Lina! Aku jamin kamu akan menyesal ini nanti!" ancam Gina berteriak dari dalam kamar mandi dengan perasaan kesal karena terus diejek oleh Lina.


Lina yang mendengar ancaman dari sang kakak langsung kabur menuju tempat makan untuk mencari perlindungan dari Firman, karena Lina sangat yakin jika Firman mampu melindungi dirinya dari amarah kakak nya yang seperti singa betina tersebut.


Sesampainya di ruangan makan, Lina langsung bersembunyi di belakang Firman yang membuat Firman sendiri heran dengan tingkah Lina tersebut.


"Ada apa?" tanya Firman.


"tolong lindungi aku dari amarah singa betina kak, dia sangat menakutkan sekali," jawab Lina dengan wajah sangat ketakutan.


Firman hanya tersenyum kecil melihat tingkah Lina yang takut kepada kakaknya sendiri, padahal ia sendiri yang menggoda kakaknya tapi ia juga yang justru ketakutan setelah diancam sang kakak.


"Aku tidak bisa membantumu, itu urusanmu sendiri dengan kakakmu," jawab Firman dengan nada santainya sembari melihat kedepan yang ternyata Gina sudah selesai mandi dan sedang berjalan menuju ruang makan.


Sesampainya di ruang makan, Gina langsung duduk disamping Firman sedangkan Lina berpindah posisi berdiri disamping Firman yang berlawanan dengan posisi Gina, Lina disebelah kiri sementara Gina disebelah kanan Firman.


"Tapi kan kamu kakakku juga, tolonglah bantu aku ya please ..." ucap Lina memohon kepada Firman untuk membantunya lepas dari Gina.


Gina yang melihat adiknya memohon bantuan dari Firman, hanya menatap tajam Lina yang membuat Lina semakin ketakutan sampai tidak berani melihat wajah Gina.


"Tunggu saja kamu, aku akan menghukummu karena berani menggodaku!" ujar Gina yang merasa sangat kesal dikatakan sebagai tante genit oleh Lina tadi saat dikamar.


"Sudah jangan ribut di depan makanan! Cepat sarapan baru nanti kalian lanjut ributnya!" ucap Firman dengan tegas yang seketika membuat mereka terdiam dengan wajah menunduk patuh.


Lina duduk di kursinya dan mereka pun makan bersama-sama dengan masakan yang dibuat oleh Firman dibantu dengan Lina tadi.


"Sayang, ini kamu yang masak?" tanya Gina.


"Iya, dengan sedikit bantuan dari Lina," jawab Firman.


"Wah ... aku tidak menyangka ternyata kamu sangat pintar memasak, ini masakan yang sangat enak sekali," ujar Gina memakan masakan buatan Firman dengan lahap.


Mereka menghabiskan sarapan hingga selesai kemudian setelah itu Lina pamot untuk memantau kegiatan para anggota Roses Girl yang sedang melaksanakan latihan mereka untuk persiapan jika perang nanti terjadi.


Sedangkan untuk Gina dan Firman, mereka berdua lebih memilih bersantai duduk berdua di sebuah ruangan yang khusus digunakan untuk tempat bersantai dikala senggang, ruangan tersebut letaknya di sebelah kamar Gina.


Gina duduk dipangkuan Firman dengan nyamannya, "Apakah nanti malam kita jadi pergi ke tempat pelelangan?" tanya Gina.


"Sudah pasti jadi, aku ingin mencari informasi yang banyak tentang Rich Devil itu," jawab Firman.


Gina memeluk tubuh Firman semakin erat karena dirinya merasa jika Firman tidak lama lagi pasti akan melakukan sesuatu yang sangat berbahaya, sebagai seorang kekasih tentu saja Gina tidak ingin jika sampai Firman masuk kedalam bahaya hingga membuatnya beresiko celaka.


Merasakan pelukan Gina Yang semakin erat di tubuhnya, Firman membalas pelukan Gina kemudian mengelus kepala dan punggung Gina dengan penuh kasih sayang, tentu saja Firman bisa merasakan rasa khawatir yang ditunjukan oleh Gina kepadanya.


"Kamu tenang saja, aku pasti akan baik-baik saja karena aku memiliki kalian yang selalu ada disampingku," ucap Firman untuk menenangkan Gina.


"Aku harap kamu dapat menepati janjimu itu!" balas Gina.


'Semoga saja,' batin Firman tersenyum.