
Chapter 156
Firman berada di depan meja kerjanya sedang menandatangani beberapa dokumen perusahaan yang memang harus diserahkan pada hari itu juga, dokumen tersebut dari perusahaan penyewaan bodyguard yang dikelola oleh Bagas.
"Sepertinya aku harus segera menuju ke tempat mereka berada agar masalah ini cepat terselesaikan, aku sangat takut bila nanti mereka menyerang keluarga dan orang terdekatku jika aku biarkan terus seperti ini," ucap Firman memandang keluar ruangan yang memiliki pemandangan hamparan pohon lebat.
Setelah selesai mengerjakan dokumen perusahaannya, Firman berjalan keluar ruangan miliknya untuk menuju balkon kamar.
Sambil membawa sekotak r0kok yang ada di sakunya serta korek api untuk menyulut r0kok tersebut, Firman mengeluarkan sebatang dari dalam bungkusnya lalu menaruhnya di mulut dan membakar ujungnya.
Dihisapnya batangan tembakau yang dibalut dengan kertas khusus yang dibeli kapas di ujung satunya lagi untuk memfilter asap yang dihirup oleh penikmatnya.
"Jika sampai aku ketahuan Rina dan yang lainya sedang mer0kok, bisa habis aku diceramahi berjam-jam," kata Firman sembari menghisap r0koknya lalu menghembuskan kembali.
Menikmati pagi yang cerah di balkon kamar ditemani secangkir kopi dan r0kok, membuat suasana pagi pada hari itu terasa sangat tenang damai dan nyaman bagi Firman.
Biasanya pada hari-hari sebelumnya Firman selalu disibukan dengan berbagai misi untuk melawan berbagai kelompok yang harus ia segera selesaikan agar masalah cepat selesai tanpa banyak jatuh korban lagi.
Rencananya hari ini memang Firman ingin bersantai sejenak menikmati masa tenangnya, karena beberapa waktu lagi ia akan pergi keluar negeri guna menyelesaikan masalah mafia luar negeri yang sudah semakin merajalela tidak terbendung.
Tidak terhitung sudah jumlah korban dari mafia luar negeri, mulai dari pengguna obat-obatan terlarang sampai penipuan yang membuat banyak pihak merasa dirugikan.
Firman ingin bertindak cepat supaya masalah itu tidak terjadi kembali dan juga sekaligus menyelesaikan misi yang diberikan dari kepolisian kepadanya untuk segera memberantas organisasi mafia luar negeri tersebut dengan cepat.
..............
Saat sedang menikmati pagi di balkonnya, Firman dikejutkan dengan seorang wanita sangat cantik, berkulit putih bersih, berkaki panjang mulus, rambutnya panjang sebahu warna hitam dengan sedikit warna pirang yang membuatnya terlihat sangat cantik dan menawan.
"Sayang, kamu lagi apa disini sendirian?" tanya Gina yang sudah duduk nyaman di pangkuan paha Firman.
"Tidak ada, aku cuma ingin bersantai menikmati pagi yang cerah ini saja," jawab Firman memberikan kecupan halus pada kening Gina.
Gina tersenyum bahagia, akhirnya saat-saat yang sangat diimpikan nya telah tiba, yaitu bersama dengan Firman menikmati hari yang indah sambil bercanda dan berbicara dengan mesranya.
Mereka berdua duduk di balkon kamar Firman dengan tenang sambil menikmati pagi, Gina bergelayut manja pada tubuh Firman yang atletis dan kuat yang membuat Gina semakin tidak ingin melepaskan pelukannya.
Drtt ... Drtt ...
Tiba-tiba handphone Gina bergetar menandakan ada yang menelepon dirinya, dengan segara Gina mengangkat panggilan telepon tersebut yang ternyata dari anak buahnya di mafia.
"Ada apa?" tanya Gina kembali dalam mode Queen yang dingin tanpa ekspresi.
"I ... Itu Queen, beberapa anggota kita telah ditangkap oleh kelompok musuh, bahkan wakil ketua juga ditangkap oleh mereka dan dibawa ke markas kelompok mereka untuk dijadikan sebagai sandera supaya kita menyerah," jawab anak buah Gina dari seberang telepon.
"Baik, aku akan segera pergi ke sana untuk membereskan masalah ini, kau katakan pada anggota yang lain agar menjaga diri baik-baik supaya tidak menjadi sandera selanjutnya!" ucap Gina dengan tegas kepada anak buahnya tersebut.
"Baik Queen!"
Sambungan telepon pun berakhir dan ekspresi Gina terlihat sangat mengerikan dengan sorot mata yang tajam serta tidak ada senyum di bibirnya, inilah sisi asli dari seorang Queen Roses atau Gina.
Bagaimanapun juga Gina merupakan kekasihnya dan juga anak buah Gina juga termasuk orang terdekatnya juga, sudah sepantasnya Firman merasa khawatir pada mereka.
"Apa mau aku bantu?" tanya Firman mengajukan tawaran.
Gina menoleh ke arah Firman dengan ekspresi wajah terlihat bertanya, "Maksud kamu?" tanya nya bingung.
"Maksudku, apakah kamu mau aku bantu menyelesaikan masalah yang sedang kamu hadapi. Kebetulan juga aku akan pergi keluar negeri untuk mengurus beberapa urusan pekerjaan, sekalian saja aku membantu kamu membebaskan anggota kamu," ucap Firman menjelaskan.
Gina tampak tersenyum saat mendengar penjelasan yang disampaikan eh Firman, ia merasa kekasihnya tersebut sedang khawatir pada keadaan dirinya dan itu membuat Gina senang dan bahagia, karena itu menunjukan bahwa Firman ingin menjaga dirinya agar tidak terkena masalah dan masuk dalam bahaya.
"Tapi ini bukan masalah main-main, musuhku merupakan kelompok mafia terbesar kawasan Eropa saat ini, bahkan juga menguasai beberapa daerah di daratan Rusia juga Amerika," jelas Gina tidak ingin membuat kekasihnya tersebut masuk dalam masalah yang lebih besar lagi.
"Tidak apa-apa, apa kamu tidak tau siapa kekasihmu ini?" balas Firman yang membuat Gina tertawa lucu.
"Hahaha ... Iya juga, aku lupa jika kekasih kesayanganku ini merupakan ketua organisasi geng dan mafia paling besar dan ditakuti di Asia Tenggara."
Setelah mengobrol sebentar membahas masalah yang sedang dihadapi Gina, mereka berdua pun bersiap-siap untuk segera pergi keluar negeri guna menyelesaikan masalah Gina dan juga membebaskan anggota mafia Gina yang ditahan sebagai sandera.
'Sekalian juga aku nanti setelah selesai dengan urusan Gina lalu pergi untuk mengurus tentang organisasi mafia luar negeri, aku harus membicarakan ini dengan yang lainnya terlebih dahulu agar tidak kesulitan nantinya jika mencariku,' batin Firman yang telah merencanakan semuanya dengan sangat matang supaya semua masalah ini dapat terselesaikan secara cepat.
...........
Sementara itu di sebuah tempat yang merupakan markas dari musuh kelompok mafia milik Gina.
Ada banyak sekali anggota mafia Roses Girl, yaitu kelompok yang diketuai oleh Gina yang ditangkap oleh kelompok musuh tersebut, diantara banyak sandera yang ditahan di sana ada seorang gadis muda.
Gadis mudah tersebut merupakan wakil ketua dari mafia Roses Girl yang ditunjuk langsung oleh Gina sebagai wakil sekaligus tangan kanannya untuk berbagai urusan pekerjaan.
"Dasar kau manusia binatang licik! Beraninya menyerang kami secara diam-diam!" ucap gadis tersebut dengan sangat marah tapi tak bisa memberi pelajaran pada musuhnya karena sedang dalam keadaan terikat tali tubuhnya.
"Hahaha ... Kau gadis kecil ternyata sangat lucu, apakah kamu tidak mengetahui reputasi kamu sebagai kelompok mafia yang menyerang secara diam-diam dan bersih tidak diketahui orang lain," balas orang yang merupakan musuhnya.
Gadis itu hanya bisa diam dengan pandangan mata tajam menatap orang yang telah menangkapnya secara diam-diam tersebut, gadis tersebut mengeratkan gigi nya dengan perasaan marah yang sangat besar.
"Aku jamin kau akan menyesali semua ini dasar brengsek!" teriak gadis itu sebelum mulutnya disumpal kain lalu ditambah lagi dengan lakban untuk menutupinya agar tidak dapat mengeluarkan suara.
Gadis itu disandera bersama anggota lainya dengan keadaan sama-sama terikat, anggota yang lainya terlihat masih pingsan tak sadarkan diri karena memang mereka telah dibius untuk menjadikan mereka tertidur kecuali gadis wakil ketua Roses Girl itu yang tadi berbicara dengan musuhnya.
'Kakak, aku harap kamu datang menolong kami pada saat seperti ini hiks ... hiks ... ' batin gadis itu mengharapkan orang yang sudah dianggap sebagai kakaknya datang.
Memang benar sekali, gadis itu menganggap Gina sebagai kakaknya sendiri karena memang sedekat itulah hubungan dirinya dengan Gina yang merupakan atasannya sendiri di mafia dan juga pekerjaan.
Gina juga tak keberatan dengan hal tersebut karena memang dirinya dasarnya suka menolong orang hingga tak jarang sampai dianggap keluarga sendiri olehnya, termasuk gadis yang sekarang dianggap adiknya sendiri tersebut.
Memang mereka tidak ada hubungan darah sama sekali, tetapi hubungan mereka lebih daripada hanya sekedar hubungan darah biasa yang sering terjadi konflik tidak jelas.
Sebuah hubungan antara dua orang wanita yang memiliki masa lalu sama-sama kelam dan hidup tanpa ada balutan rasa cinta dan kasih sayang orang tua apalagi keluarga, jadi mereka bisa menjaga diri masing-masing dengan saling menjaga satu sama lain juga.