System Menjadi Pria Sukses

System Menjadi Pria Sukses
System Sukses 213 Rumah Sakit


Chapter 213


Masih dengan menggunakan mobil tua yang didapatkan dari garasi bangunan tengah hutan tadi, Firman masih melaju di tengah lebatnya hutan yang tertutupi dengan salju tebal yang membuatnya menjadi semakin terlihat indah sekali dipandang mata.


Perjalanan yang akan ditempuh Firman tidak lama lagi akan mencapai tujuan yaitu sebuah kota yang ada di pinggiran hutan lebat ini. Kota yang berada di sana menurut informasi yang didapatkan oleh Firman lumayan besar dan fasilitasnya juga cukup lengkap untuk ukuran kota kecil yang berada di pinggiran hutan.


Sesuai rencana awal yang telah disusun oleh Firman bersama dengan Gina tadi, mereka akan membawa Reiko menuju rumah sakit terlebih dahulu lalu Firman akan kembali melanjutkan perjalanan untuk menuju markas mafia Gina berada,


sementara untuk Gina sendiri ditugaskan oleh Firman untuk menjaga Reiko selama ada di rumah sakit, hal itu dilakukan supaya Reiko bisa mendapatkan penanganan lebih lanjut dan ada yang mengawasi selama dirinya dirawat, takutnya terjadi sesuatu yang tidak diinginkan kembali terjadi saat Reiko dirumah sakit.


Firman juga berpikir kemungkinan terburuk adalah orang-orang yang menangkap Reiko akan kembali mencari keberadaannya yang pastinya hal itu bisa membuat keamanan Reiko terancam.


"Aku akan langsung berjalan menuju markas, lagipula jarak antara markas dengan rumah sakit yang akan digunakan untuk tempat perawatan Reiko tidak terlalu jauh," ucap Firman setelah mereka keluar dari hutan.


Mereka sudah sampai di sebuah kota yang tidak terlalu besar tapi memiliki banyak sekali penduduk yang terlihat sedang beraktivitas masing-masing walaupun masih dengan keadaan salju menumpuk, penduduk di kota ini tidak terlalu ramai tapi orangnya lumayan aktif walau sedang musim dingin seperti ini.


"Baiklah jika memang begitu, tapi aku minta agar supaya kamu berhati-hatilah, karena aku beberapa waktu ini seperti merasakan sesuatu yang tidak kita inginkan terjadi," ucap Gina menatap Firman dengan pandangan mata yang menyiratkan sebuah kekhawatiran.


Firman melihat kearah Gina sekilas lalu kembali menatap ke arah jalan, "Kamu tenang saja, aku pasti akan berhati-hati dimanapun aku berada," jawabnya.


Mendengar jawaban dari Firman membuat hati Gina sedikit merasa tenang, meskipun tidak bisa dipungkiri jika masih ada perasaan yang mengganjal di dalam hati Gina yang membuat dirinya khawatir pada keamanan sang kekasih tersebut.


Memang benar sekali jika beberapa waktu ini semenjak mereka menyelamatkan Reiko, selalu saja Gina memiliki perasaan yang tidak enak, sebuah perasaan mengganjal yang membuat hatinya menjadi tidak tenang. Namun Gina menahan itu semua karena berpikir mungkin itu hanya pikirannya saja yang terlalu khawatir.


"Didepan sana ada rumah sakit yang cukup besar, aku akan meninggalkan kalian di sana untuk sementara waktu. Aku akan menyusul kamu jika nanti keadaan Reiko sudah mulai membaik, aku harap kamu bisa menjaga dia karena aku yakin orang-orang itu masih mengincar Reiko sampai saat ini setelah tau tangkapan mereka kita bawa lari," kata Firman.


Awalnya Gina memang setuju dengan rencana tersebut, namun sekarang ia merasa penasaran alasan dibalik Firman memintanya untuk menjaga Reiko. "Kenapa kamu tidak membawa kita langsung menuju markas saja sayang? Lagipula di markas aku juga memiliki beberapa dokter pribadi yang pastinya punya kemampuan yang baik," tanya Gina yang masih berpikir untuk mencoba ikut bersama dengan Firman menuju markas sambil membawa Reiko, pastinya Gina tidak ingin berada jauh dari sang kekasih.


"Itu memang pilihan yang bagus, akan tetapi apa kamu yakin jika Reiko mampu bertahan di tengah cuaca dingin seperti ini beberapa jam lagi?" balas Firman bertanya balik kepada Gina yang dibalas gelengan kepala olehnya.


"Maka dari itu aku meminta kamu untuk menjaga Reiko di rumah sakit ini supaya dia ada yang mengawasi dan menjaga sampai pulih nanti," lanjut Firman menjawab pertanyaan Gina tadi.


Mereka sudah sampai didepan rumah sakit tersebut. Tampak luarnya sangat terlihat jika rumah sakit tersebut sangat sepi, hanya ada beberapa orang saja yang beraktivitas disekitaran rumah sakit seperti perawat ataupun beberapa orang petugas kebersihan yang sedang membersihkan tumpukan salju yang menutupi jalan masuk rumah sakit.


Firman memarkirkan mobilnya tepat didepan pintu masuk utama rumah sakit tersebut, ia lalu keluar dari dalam kursi kemudi mobil kemudian berjalan ke belakang membuka pintu mobil yang dimana letak tempat duduk Reiko berada.


Dengan perlahan Firman hendak membawa Reiko masuk kedalam rumah sakit, dibantu dengan Gina yang membukakan sabuk pengaman yang dikenakan pada tubuh Reiko, mereka lalu membawa tubuh Reiko ke dalam rumah sakit dengan keadaan yang pingsan lagi padahal tadi sempat sadar sebentar, hal itu lantaran Reiko masih merasa kelelahan dan merasakan dingin yang pastinya membuat keadaan Reiko sulit membaik.


Firman menggendong tubuh Reiko seperti tuan putri dengan mudahnya karena memiliki kekuatan tubuh yang diatas manusia rata-rata membuatnya sama sekali tidak kesusahan membawa beban tubuh Reiko yang lumayan berat tersebut. Sebenarnya bisa saja Firman meminta dibawakan ranjang rumah sakit yang memiliki roda ataupun menggunakan kursi roda untuk membawa Reiko, namun menurut Firman itu lama alhasil ia memilih cara cepat dengan menggendongnya saja.


Sementara Gina mengekor di belakang Firman sambil membawa satu buah tas yang berisikan beberapa barang yang dibawa oleh Firman. Mereka berhenti didepan meja resepsionis lalu mulai mendaftarkan nama Reiko disana lalu salah satu petugas memberikan kursi roda untuk digunakan sebagai alat membawa Reiko.


Dikarenakan keadaan Reiko yang tidak separah tadi saat kritis, itu membuat Firman tidak terburu-buru dalam memasukan Reiko kedalam rumah sakit. Setelah semua persyaratan telah terpenuhi barulah Reiko dibawa menuju ruangan khusus untuk perawatan dengan dibantu salah satu perawat wanita.


Setelah sampai di depan ruangan yang akan digunakan sebagai tempat Reiko akan merawat, mereka pun masuk kedalam lalu Firman membantu perawat tadi untuk mengangkat tubuh Reiko naik keatas ranjang ruangan tersebut. Firman tidak langsung pergi karena harus menunggu kedatangan dokter yang akan merawat Reiko.


Tidak lama kemudian datanglah seorang wanita dewasa yang masih terlihat cantik menggunakan kacamata disertai dengan jas putih khas seorang dokter lalu rok diatas lututnya, samgat jelas terlihat dokter cantik tersebut merupakan seseorang yang berpengalaman dibidangnya.


Dokter tersebut memeriksa keadaan Reiko sebentar sebelum mulai bertanya, "Maaf untuk keluarga pasien apakan ada disini? Untuk melakukan tindakan operasi membutuhkan ijin dari keluarga pasien," tanya dokter yang baru datang tersebut.


Saat mengecek keadaan Reiko barusan, dokter menemukan ada beberapa luka dalam yang hanya bisa disembuhkan dengan cara operasi serta pendarahan yang dialami Reiko pada lengannya juga harus mendapatkan perawatan khusus sebelum dijahit kembali.


Tentunya semua hal itu membutuhkan izin dari pihak keluarga pasien, semua itu sesuai dengan peraturan yang ada dilarang melakukan tindakan operasi jika tidak mendapatkan ijin pihak keluarga pasien kecuali memang keadaan pasien sudah kritis sekali.


Saat didepan tadi mereka tidak ditanya seperti itu karena memang belum dilakukan pemeriksaan, jadi belum ditentukan tindakan apa yang akan dibutuhkan oleh pasien, baru setelah diperiksa oleh dokter maka akan diputuskan tindakan selanjutnya bagaimana, apakah butuh operasi atau hanya perawatan biasa.


Keadaan menjadi sunyi seketika setelah dokter wanita tersebut bertanya seperti itu, karena baik Firman maupun Gina sama-sama bingung harus menjawab apa karena mereka sama sekali tidak tau keluarga Reiko ada dimana, alhasil mereka pun memutar otak guna mencari cara supaya Reiko tetap bisa dioperasi.


Beberapa menit saling diam sedangkan si dokter tadi sedang menunggu jawaban dari mereka berdua, tiba-tiba Gina terpikirkan sebuah ide di kepalanya yang bisa digunakan sebagai alasan untuk membuat Reiko bisa dioperasi dengan cepat.


"Laki-laki ini adalah suami dari nona Reiko, " ujar Gina secara tiba-tiba sambil menunjuk ke arah Firman.


Sontak saja ucapan yang terlontar dari mulut Gina tersebut langsung membuat Firman sangat terkejut namun masih bisa mengendalikan keterkejutannya dengan wajah biasa saja walaupun dalam hatinya ia sangat bingung dengan alasan yang diucapkan oleh Gina tersebut.