System Menjadi Pria Sukses

System Menjadi Pria Sukses
System Sukses 42


Chapter 42.


Penjaga lainnya yang melihat rekan mereka terpental dengan pukulan Firman menjadi marah seketika.


Lalu dua orang penjaga langsung maju menyerang Firman dengan badan besar mereka yang sangat kuat.


Firman langsung mengambil kursi tempatnya duduk tadi lalu melemparkannya ke arah dua orang penjaga itu.


Satu penjaga yang terkena lemparan kursi langsung terjatuh sementara penjaga satunya menatap Firman semakin kesal melihat kejadian barusan.


"Kauuuu.....!!"


Penjaga itu langsung berlari ke arah Firman dengan bersiap melayangkan tinjuan nya yang sangat besar.


Namun berhasil dihindari Firman dengan cara bergerak dengan sangat cepat ke arah samping untuk menghindari jangkauan pukulan penjaga tersebut.


Setelah berhasil menghindarinya, Firman langsung melayangkan tendangan yang sangat keras kepada punggung penjaga itu hingga membuatnya tersungkur maju kedepan sampai menabrak Bramanto yang ada di dekat sana.


"Dasar tidak becus!! Mengurus seorang bocah saja lama sekali!! Sana maju dan habisi bocah itu!!" Ungkap Bramanto marah kepada para penjaganya yang tidak berhasil mengalahkan Firman.


Setelah tiga penjaga tadi terjatuh mereka kembali bangkit kembali dan sekarang mereka tidak mau meremehkan kekuatan Firman.


Satu penjaga yang belum maju juga tidak mau bertindak gegabah dengan langsung maju sendirian tanpa ada rencana.


Akhirnya mereka memutuskan untuk menyerang Firman secara bersama sama agar bisa melumpuhkan Firman dengan mudah tanpa harus ada yang menjadi korban keganasan Firman.


Hiat....


Bhuk....


Arg......


Mereka langsung melayangkan pukulan serta tendangan kearah Firman.


Namun sebuah kejadian epic terjadi, dimana Firman langsung melompat tinggi menghindari pukulan para penjaga tersebut.


Karena tidak dapat menahan pukulan yang mereka lakukan sendiri, alhasil para penjaga itu malah saling pukul satu sama lain sehingga membuat mereka kesakitan karena ulah mereka sendiri.


Mereka pun akhirnya terkapar lantaran kekonyolan yang mereka perbuat sendiri.


.................


Firman setelah selesai menghabisi keempat penjaga tadi, dia langsung menatap tajam ke arah Bramoto.


Bramoto yang di tatap tajam bak mangsa, tubuhnya dengan reflek bergetar hebat. Tak menyangka seorang anak yang terlihat di luarnya lemah, sebenarnya adalah singa yang menyembunyikan diri.


"Ka-kau! Jangan macam-macam dengan saya!?" Kecam Bramoto.


Segera setelah itu dia langsung mengambil ponsel yang berada di saku celananya, segera dia memencet beberapa tombol nomer di layar ponselnya.


Baru setelah itu menghubungi seseorang, dalam percakapan singkat. Firman dapat mengetahui kalau saat ini Bramoto tengah meminta bantuan dari seseorang.


Namun dengan nada yang membentak.


Firman tidaklah begitu naif, dia langsung saja mendekat ke arah Bramoto yang semakin bergetar ketika langkah Firman semakin mendekat.


...


Sedangkan di luar sana, Bu Ika dan Gina yang mendengar ada suara teriakan pria. Mereka tidak bisa untuk tidak penasaran dengan apa yang ada di dalam.


"Gina... Menurut kamu Firman beneran baik-baik saja di dalam sana?"


Bola mata Gina melirik sebentar ke arah wajahnya Bu Ika, lalu kembali menatap ke arah ruang rapat di depannya.


"Mungkin... Saya juga tidak tau Bu, kita cukup percaya saja sama Firman. Pasti dia bisa beresin masalah yang ada di dalam." Jawab santai Gina, walau di hatinya merasa cemas setelah mendengar pertanyaan Bu Ika.


"Semoga saja ya... " Setelah itu mereka berdua kembali dalam diam mereka.


'Enghh... Canggung sekali.' Pikir mereka berdua.


Ingin sekali mereka membuka topik masing-masing, agar suasananya mungkin bisa sedikit mencair.


Dan ketika Gina ingin membuka pembicaraan, beberapa orang pria dengan penampilan layaknya preman datang, dengan masing-masing dari mereka membawa senjata seperti bat dari besi, tongkat besi, juga balok kayu.


Dan jika dilihat dengan teliti, di balik saku pinggang mereka masing-masing, ada terselip pisau dapur.


Gina yang melihat orang-orang itu, tidak bisa untuk tidak menyembunyikan rasa ketakutannya.


'Mereka? Apa mereka di perintahkan Bramoto untuk menghabisi Firman!?' Pikiran Gina sudah macam-macam.


Dia benar-benar tidak habis pikir dengan pemikiran rendah Bramoto. 'Apakah dia tidak takut jika ada yang melaporkan, kalau dia ada hubungannya dengan geng semut api?'


Sebagai seorang ketua mafia, tentunya Gina harus senantiasa bersiaga. Kalau-kalau tiba-tiba ada sekelompok atau seseorang yang mengetahui akan identitasnya.


Dan dia terkejut kala itu, dimana kepala sekolah Bramoto ternyata memiliki koneksi hubungan dengan geng semut api. Yang notabenya adalah organisasi gangster terkenal di daerah itu.


Tidak ada yang menyadari akan kehadiran dari Bu Ika dan juga Gina yang masih terduduk dengan tenang di sudut lorong.


Geng semut api segera masuk ke dalam ruang rapat, mereka tidak mau menjadi masalah kalau sedikit saja telat.


...


Firman yang saat ini sudah berjarak 2 kursi kantor dari Bramoto, ingin langsung menerjang Bramoto dan membuatnya bertekuk lutut di lantai.


Tapi aksinya segera terhenti, kala mendengar suara pintu yang terbuka, dan masuk beberapa orang yang jika di hitung dengan kasar. Ada sekitar 11 atau 13 pria berpenampilan layaknya preman itu.


"Bocah! Mending lu ngejauh dari dia, kalau mau hiduplu masih punya masa depan!" Seorang pria mengancam Firman, sambil menodongkan bat besi yang dia bawa.


Firman melirik sebentar ke arah belakang. 'Siapa mereka? Kenapa penampilan mereka kayak preman?' Batin Firman.


Firman segera mundur, dia tidak mau bertindak gegabah. Memang benar dia memiliki keterampilan bela diri, tapi jika berurusan dengan orang-orang berpenampilan seperti mereka. Firman tau harus berbuat bagaimana.


Kalau dilihat dari sikap orang-orang itu, Firman menyimpulkan kalau mereka adalah preman sewaan dari orang yang di telpon Bramoto.


Melihat Firman yang mundur ketika di ancam pria tadi. Bramoto tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya.


"Heh... ! Dasar bocah miskin, berani-beraninya kau dengan saya." Bramoto langsung kembali ke sikap arogannya.


"Kalian semua, pastikan salah satu anggota bagian tubuh anak ini hancur. Dan kalau bisa... Buat dia cacat selamanya! Sampai ibunya saja tidak mengakuinya sebagai anaknya lagi!"


Mendengar perintah itu, semua pria berpenampilan preman itu segera tersenyum sambil mengangguk. Sedangkan untuk Firman, wajahnya benar-benar sudah gelap.


Tak menunggu para preman itu maju, Firman sudah maju duluan.


Melihat Firman yang berlari ke arah mereka. Para preman itu memandang remeh ke arah Firman.


Mereka mengiranya Firman itu tidak lebih dari bocah yang baru belajar bela diri, jadi tidak ada persiapan sama sekali dari mereka.


Bahkan senjata mereka, mereka turunkan semua. Sama sekali tidak menganggap akan keberadaan mereka yang sebetulnya mengancam mereka.


"Heh... Baru belajar bela diri sedikit saja sudah sombong, bocah. Bakalan gue tunjukin apa itu langit di atas lang-!"


Tinju cepat Firman langsung mengenai bagian wajah pria itu. Ketika masih menempel di wajah, Firman sekali lagi menghentakkan tangannya.


Membuat pria itu terlempar kebelakang, dan menjatuhkan bat yang dia pegang ke lantai.


Firman mengambil bat itu, dia kemudian kembali menatap ke depan dengan tatapan bengis.


Entah kenapa sifat kemanusiaan-nya seperti sirna, ketika banyak dari mereka yang sudah menghinanya. Apalagi Bramoto yang terang-terangan menghina dirinya sekaligus ibunya.


Mereka semua terdiam kala melihat aksi Firman yang begitu memukau.


Firman segera melayangkan bat itu ke arah preman, namun mereka yang sudah tidak meremehkannya lagi. Mereka menahan pukulan batangan besi besar itu.


'Ughh... Kuat sekali tenaga bocah ini!'


Pria yang masih menahan bat yang di pegang Firman dengan bat yang lain. Memerintahkan yang lainnya untuk segera menyerang Firman secara bersamaan.


"Kalian semua! Jangan remehkan dia! Serang secara bersama-sama. Jangan sampai tertipu dengan tampilan luar monster ini!"


Firman tentu tak membiarkan semua ini berlanjut sesuai keinginan orang itu. Dia menambahkan tenaga di pemukul bat besi.


Membuat pria itu terdorong ke samping, dan segera terlempar ke samping ketika sekali lagi Firman menghentakkan tangannya.


Setelah terlempar, Firman langsung menyerang semua orang dengan ganas. Kebanyakan serangan Firman, semuanya mengarah ke bagian vital manusia.


Seperti kepala dan bagian selangka, apalagi dengan keterampilan dokternya. Firman tidak terlalu kesulitan mencari titik-titik vital itu.


Setelah pembantaian sepihak itu usai, Bramoto terlihat sungguh pucat. Dia lalu terjatuh ke lantai sambil bagian bawahnya yang bergetar.


Lalu suara seperti kucuran air terdengar dari selangka Bramoto, yang mana perlahan celana panjang miliknya basah dan mengeluarkan bau anyir.


Sedangkan Firman yang wajahnya sudah tertutupi beberapa bercak darah. Ketika melihat Bramoto yang seperti tikus yang sudah mendekati ajalnya.


Dia langsung mendekat kembali ke arah Bramoto, dan seketika...


Pintu kembali terbuka, memperlihatkan Bu Ika dan Gina yang panik. Sambil menatap ke arah Firman dengan sedikit perasaan takut, kala melihat penampilan Firman layaknya seorang pembunuh.


Setelah jangka waktu yang singkat, dari belakang mereka berdua muncul beberapa pria berpakaian polisi masuk ke dalam ruangan.


*Jangan lupa like dan dukungan mya teman teman.


...Terima Kasih...