System Menjadi Pria Sukses

System Menjadi Pria Sukses
System Sukses 178 Sampai Markas


Chapter 178


Setelah menempuh waktu sekitar 5 jam akhirnya Firman dan Gina sampai juga di markas mafia milik Gina, disana terlihat ada beberapa anggota Ginan Yang berjaga di depan pintu gerbang markas tersebut.


Sesampainya di depan gerbang Firman berhenti memarkirkan mobilnya tepat didepan pintu masuk markas, tadi anggota Gina yang bertugas jaga di depan gerbang langsung menyuruh Firman masuk saja.


Gina yang berada di kursi samping terlihat masih nyaman dengan tidurnya, bisa dilihat Gina sangat nyenyak dalam tidurnya padahal sepanjang perjalanan tidak jarang terjadi goncangan kecil yang membuat mobil sedikit bergoyang.


"Gina bangun, kita sudah sampai," ujar Firman membangunkan Gina yang masih pulas dalam tidurnya.


Firman menggoyang-goyangkan tubuh Gina akan tetapi belum juga mendapatkan respon dari Gina, ia tetap saja tidur dengan nyenyaknya seperti tidak terganggu sama sekali dengan suara-suara yang berasal dari luar.


Karena tidak kunjung bangun, Firman memutuskan untuk menggendong Gina saja masuk ke dalam markas, Firman keluar dari dalam mobilnya kemudian Firman membuka pintu samping tempat Gina berada.


Setelah itu Firman menggendong tubuh Gina seperti tuan putri yang digendong sang pangeran, memang pantas dikatakan seperti itu lantaran paras Firman yang tampan seperti pangeran dan wajah Gina yang sangat cantik layaknya seorang putri di negeri dongeng.


Firman menutup pintu mobil kembali lalu berjalan masuk ke dalam markas dengan Gina yang berada di gendongannya, saat akan masuk kedalam gedung markas, terlihat ada beberapa anggota mafia Roses Girl milik Gina yang sedang berlatih di luar markas.


Mereka berlatih di tengah gempuran hawa dingin yang menusuk tulang sampai membuat badan menggigil hebat, tapi para anggota mafia Gina tanpa menghiraukan hawa dingin yang mereka rasakan terus saja latihan dengan sangat keras.


Latihan yang mereka lakukan sudah seperti di militer saja, karena latihan seperti merangkak di tengah salju yang sangat dingin dengan ditambah beban pada tubuhnya, lalu berenang ditengah danau yang sangat dingin sekali bahkan hampir beku karena saking dinginnya.


Apalagi saat mereka melakukan latihannya hanya dengan menggunakan pakaian ketat kecil tanpa lengan yang hanya menutupi bagian atas d4da mereka saja sementara bagian perut terekspos dengan jelas, lalu menggunakan celana pendek sepaha yang ketat.


Dengan rambut diikat kebelakang lalu kaki tanpa sepatu membuat tantangan yang didapatkan dalam melakukan latihan semakin besar, mungkin bila orang tidak kuat dengan pola latihan seperti itu bisa saja akan terkena hipotermia atau minimal kedinginan hingga jatuh sakit.


"Hebat juga latihan yang mereka lakukan, sepertinya kapan-kapan aku akan melakukan hal yang sama kepada para anggotaku," ujar Firman saat melihat pola latihan ekstrim yang dilakukan anggota Gina tersebut.


Padahal anggota mafia milik Firman sudah melakukan latihan yang berkali-kali lipat dari pola latihan yang dilakukan anggota Gina, tapi masih saja Firman ingin menambah latihan mereka.


Hal Itu dilakukan oleh Firman supaya para pasukanya bisa tahan disegala medan, baik itu pada medan musim dingin sampai medan musim panas yang ekstrim, semua itu demi kebaikan mereka juga makanya Firman melatih mereka dengan keras.


Setelah selesai melihat latihan yang dilakukan para anggota mafia Gina, Firman lalu membuka pintu depan markas kemudian masuk kedalam untuk mencari letak dimana kamar Gina berada.


Firman bingung harus pergi kemana untuk mencari kamar Gina, karena luasnya gedung yang menjadi tempat markas mafia Gina berada lumayan besar, saat tengah berjalan masuk kedalam Firman bertemu dengan salah satu anggota mafia Gina.


Firman memanggil gadis tersebut untuk bertanya dimana letak kamar Gina berada, takutnya nanti jika dirinya mencari sendiri kamar Gina bisa-bisa kesasar di ruangan lain.


"Apakah kau tau dimana letak ruangan wanita ini?" tanya Firman seraya menunjukan Gina yang berada digendongannya.


Saat melihat tubuh Gina yang berada di gendongan seorang laki-laki yang belum pernah dilihatnya, gadis yang ditanya Firman tersebut langsung memasang posisi siaga siap bertarung.


"Siapa kamu?! Kenapa bisa Queen pingsan seperti itu?!" tanya gadis itu menatap Firman penuh kecurigaan.


Firman bingung dengan sikap yang ditunjukan oleh gadis tersebut, padahal ia hanya bertanya dengan sopan dimana letak kamar Gina berada, bukanya jawaban yang didapatkan tapi malah justru pertanyaan bernada ancaman yang Firman peroleh.


"Apa maksudmu?" tanya Firman kebingungan melihat sikap gadis itu.


"Jangan pura-pura bodoh kamu! Sudah jelas kau itu memiliki niatan terselubung sampai membuat Queen pingsan tak sadarkan diri seperti itu! Apa tujuanmu melakukan hal itu hah?!" balas gadis itu semakin curiga kepada Firman.


Firman yang awalnya bingung mengapa gadis itu bersikap aneh kepadanya, akhirnya Firman paham jika gadis itu berpikiran dirinya akan melakukan hal-hal yang buruk kepada Gina yang berada di dalam gendongan tangannya.


"Dengarkan aku ya nona, aku ini hanya bertanya dimana letak kamar dia supaya aku bisa menaruhnya di dalam kamar untuk istirahat, dia juga hanya tidur saja karena kelelahan bukan pingsan," jawab Firman menjelaskan keadaan aslinya yang terjadi.


"Jangan berbohong kamu, disini adalah markas mafia wanita yang mana hanya boleh perempuan saja yang masuk kesini, sedangkan kau seorang laki-laki masuk kedalam sini lalu mengaku hanya mengantarkan Queen? Heh ... kau pikir aku anak TK yang mudah ditipu!" balas gadis tersebut.


Firman hanya dapat menggelengkan kepala saja melihat sifat keras kepala yang ada didalam diri gadis itu, jika terus menanggapi gadis seperti dia mungkin satu hari penuh belum cukup bagi Firman, maka dari itu Firman lebih memiliki pergi saja daripada harus berurusan dengan gadis seperti dia.


"Terserah kau saja, aku permisi dulu!" jawab Firman berjalan pergi dari sana meninggalkan gadis tersebut.


Melihat Firman yang pergi meninggalkan dirinya padahal gadis itu belum selesai berbicara dengan Firman, hal itu membuat gadis tersebut kesal lalu berbalik dan berbicara dengan nada yang agak keras kepada Firman.


"Hey! Mau kemana kau?! Aku belum selesai berbicara denganmu!" ujar gadis itu memanggil Firman namun dihiraukan saja oleh Firman.


Tidak ingin menghiraukan ocehan tak jelas gadis aneh itu, Firman lebih memilih berjalan masuk untuk menuju ruang tamu karena hanya ruangan itu yang Firman pernah kunjungi di dalam markas Gina.


Dengan berjalan santai masuk ke dalam markas milik Gina yang luas, Firman duduk sebentar di sebuah kursi yang berada di ruangan tempat Firman dan Gina melakukan pertemuan dengan para anggota Gina yang tidak ditangkap kemarin.


Pertemuan yang dilakukan untuk menyusun rencana serta berbagi tugas untuk membebaskan para sandera dari cengkraman Sophia. Firman duduk di sofa dengan meletakan Gina di pangkuannya.


Kemudian Firman mengambil handphone miliknya guna menghubungi Lina supaya bisa menunjukan dimana letak kamar Gina berada, Firman mengirim pesan singkat kepada Lina agar menemuinya segera.


Setelah menunggu beberapa menit akhirnya Lina datang dengan tergesa-gesa menghampiri Firman yang duduk di sofa bersama Gina di pangkuannya.


"Ada apa kak?" tanya Lina.


"Antarkan aku ke kamar Gina," jawab Firman singkat.


Lalu Lina mengantar Firman menuju kamar Gina yang ternyata letaknya berada di lantai atas markas berhadapan langsung dengan pemandangan kota yang indah di malam hari.


Saat sudah sampai didepan pintu masuk kamar Gina tersebut, Lina membukakan pintu supaya Firman bisa langsung masuk, kemudian Firman masuk kedalam kamar dan pintunya ditutup kembali oleh Lina yang langsung pamit pergi untuk menyelesaikan urusan lainnya.


Firman masuk dan langsung berjalan menuju ranjang kemudian meletakan Gina di atas ranjang lalu menutupi tubuhnya dengan menggunakan selimut agar lebih hangat, saat Firman hendak tidur juga di samping Gina ia terkejut saat melihat apa yang ada di sekeliling dinding kamar Gina.


Firman terdiam melihat apa yang baru saja ia saksikan saat ini, Firman melihat hamparan foto berbagai jenis hingga lukisan yang sangat indah dengan bentuk yang sama, yaitu wajah Firman yang memiliki berbagai ekspresi.


"Apa ini yang dikatakan Lina pada waktu itu ya, Lina mengatakan jika wajahku ada di setiap sudut kamar Gina," ujar Firman mengingat-ngingat perkataan Lina kemarin.


Firman merinding melihat banyaknya foto dirinya yang ada di dalam kamar milik Gina, seluruh dinding penuh dengan pajangan yang berhubungan dengan Firman.


"Lama-lama aku jadi takut kepadanya, bukan takut karena kekuatan, tapi aku takut dia telah g1la hanya karena cintanya kepadaku huft ... semoga saja hal itu tidak terjadi," ucap Firman melihat wajah cantik Gina yang masih lelap dalam tidurnya.


Chup ...


Firman mencium kening lalu beralih mencium bibir Gina sebentar, "Selamat tidur putriku sayang," ucap Firman sebelum ikut tidur disamping Gina.


Secara tidak sadar Gina bergerak ke samping kemudian memeluk tubuh Firman yang ada disampingnya dan menjadikan tubuh Firman sebagai guling untuk dia peluk, sementara kepalanya berada diatas dada bidang Firman.


Firman hanya tersenyum saja melihat tingkah kekasihnya tersebut, ia lalu mengelus rambut indah Gina dengan penuh kasih sayang, Gina semakin erat memeluk Firman walaupun dengan mata terpejam.


Setelah beberapa menit akhirnya Firman ikut tidur dengan Gina dipelukanya, karena merasa kelelahan yang membuat tubuh Firman merasa kurang istirahat, akhirnya Firman bisa istirahat dengan tenang untuk kali ini setelah melalui berbagai masalah yang menghadangnya bersama dengan Gina.


Mereka berdua tidur sambil berpelukan saling memberikan kehangatan di tengah hawa dingin yang semakin ekstrim.