
Chapter 111
Para warga dan juga Firman telah sampai di depan pabrik yang sudah terlihat sangat berantakan tersebut karena bekas pertempuran semalam melawan Firman.
"Ayo kita bagi jadi dua tim, kelompok pertama akan membuat lubang besar untuk mengubur semua mayat bersamaan, kelompok kedua akan membersihkan mayat serta menyiapkannya untuk dikubur," ucap Pak Tono mengomando semua warga agar melakukan tugas sesuai pembagian yang telah disepakati.
Warga berpencar menjadi dua kelompok, Firman sendiri bertugas untuk memimpin kelompok yang akan membereskan mayat untuk dikubur, sedangkan Pak Tono bertugas memimpin kelompok yang akan menggali tanah untuk mengubur mayat.
Firman bersama para warga masuk kedalam pabrik melalui pintu luar, saat masuk mereka langsung disambut dengan adanya dua orang mayat penjaga pintu yang tewas karena ditembak oleh Jia Li, beberapa warga langsung bergegas membawa mayat tersebut untuk dikumpulkan di luar.
Mereka membawa tubuh para penjaga menggunakan tandu yang dibawa tadi sebelum masuk hutan. Firman terus masuk kedalam menuju tempat dimana pembantaian sebenarnya terjadi.
Sesampainya di ruangan tersebut terlihat hamparan ratusan mayat penjaga yang berserakan tidak menentu, rata-rata dari tubuh para penjaga itu tidak ada yang utuh, entah itu bagian tangan yang hilang ataupun bagian tubuh lainya yang terpotong dengan katana Sang Pembantai milik Firman.
Mengerikan...
Kata itulah yang ada di benak setiap warga yang ikut masuk kedalam ruangan bersama dengan Firman untuk mengurus mayat penjaga, mereka menatap ngeri mayat-mayat para penjaga yang bergelimpangan bagaikan sampah tidak menentu.
"Ayo bereskan, lihatlah sudah ada banyak yang dikerumuni serangga," ucap Firman memerintahkan para warga agar cepat melakukan tugas mereka.
Sebelum melakukan pembersihkan kepada para mayat-mayat tersebut, semua petugas warga yang ikut dalam kelompok yang mengurus mayat akan diberikan baju untuk melindungi diri mereka dari darah ataupun hal-hal lainya yang bisa saja ada pada tubuh para penjaga itu.
Mereka semua melakukan tugas masing-masing membawa tandu serta wadah lainya untuk membawa tubuh para penjaga itu keluar dikumpulkan bersama mayat yang lainya.
Sementara para warga melakukan tugasnya, Firman pergi masuk kedalam ruangan dimana tempat Wirjo bekerja yang ada di lantai atas pabrik yang berisi kantor untuk para karyawan.
Firman menelusuri setiap jalan dengan hati-hati serta memasang mata dengan cermat untuk melihat jikalau ada sesuatu hal yang penting bisa dikumpulkan oleh Firman untuk barang bukti nanti jika melawan kelompok yang menaungi pabrik ini.
Sebelumnya pada saat malam kemarin waktu berkeliling pabrik untuk memeriksa apakah ada barang yang berguna, Firman menemukan ruangan kontrol cctv tapi belum sempat pergi ke sana karena terbatasnya waktu.
Saat ini Firman akan pergi ke ruangan kantor tempat Wirjo bekerja terlebih dahulu baru nanti setelah itu pergi ke ruangan kontrol cctv berada untuk mengecek apakah ada benda yang penting di sana.
Setelah berjalan beberapa menit menaiki tangga lalu sampailah Firman di lantai atas tempat ruangan berada, Firman langsung berjalan menuju ruangan tersebut dan masuk kedalamnya.
Setelah masuk kedalam semuanya terlihat normal layaknya ruangan bos pada umumnya, tidak ada hal yang spesial dari ruangan tersebut kecuali ada sebuah pintu yang ada di samping ruangan, entah pintu apakah itu tapi yang pasti di balik pintu itu ada sebuah ruangan.
Tidak ada hal yang bagus ditemukan Firman, semua hanya berisi data pabrik seperti biasanya tidak ada yang mencurigakan, tapi saat Firman melihat ada sebuah kotak yang berada du atas lemari di pojok ruangan, rasa penasaran Firman menjadi semakin tinggi.
Firman lalu mengambil kotak tersebut dan membukanya, untung saja kotak itu tidak terkunci jadi mudah bagi Firman untuk membukanya tanpa perlu susah-susah mencari alat lain.
Setelah dibuka ternyata di dalam kotak tersebut ada beberapa surat berada di dalam amplop lalu ada beberapa lembar uang pecahan 100 lumayan banyak yang ada di dalamnya.
Tapi yang menarik perhatian Firman adalah adanya sebuah bungkusan warna coklat yang dibungkus menggunakan lakban, bungkusan tersebut lumayan besar karena memakan setengah tempat dari kotak tersebut.
"Bungkusan apa ini? Bentuknya seperti tidak asing," ucap Firman sambil terus menatap bungkusan tersebut.
Karena penasaran Firman pun langsung membuka bungkusan itu menggunakan pisau kecil yang dibawanya setiap saat, ternyata bungkus itu sangat tebal hingga butuh beberapa waktu untuk membuka seluruh bungkusnya.
Setelah terbuka seluruhnya dan hanya tinggal menyisakan sebuah bungkus berwarna hitam yang terakhir, Firman langsung menyobek bungkus itu dan terlihat ada ceceran sesuatu berwarna putih keluar dari dalam bungkusan itu.
Setelah dibuka sedikit terlihatlah isi di dalam bungkusan itu seperti kristal kecil mirip garam, Firman seketika teringat akan sesuatu setelah melihat isi bungkusan tersebut.
"Apakah dugaan ku ini benar, jika memang benar maka semua ini pasti ada hubungannya dengan mafia yang aku lawan waktu itu di hutan," monolog Firman menatap butiran berwarna putih tersebut.
Firman kemudian mengambil sebuah surat yang ada di dalam kotak itu, Firman membaca semua isi surat itu yang ternyata berisi tentang perjanjian antara beberapa pihak yang melakukan transaksi sesuatu.
Sepertinya dugaan Firman memang benar, isi surat itu adalah perjanjian antara perusahaan tempat Wirjo bekerja yang bekerjasama dengan kelompok mafia yang pernah Firman lawan sebelumnya.
Firman bisa mengetahui bahwa kelompok mafia itu sama adalah dengan melihat butiran berwarna putih tadi sangat persis sama dengan barang yang dibawa kelompok mafia yang Firman lawan sebelumnya.
Hal ini membuktikan jika kelompok Wirjo yang telah memesan barang tersebut dari kelompok mafia luar negeri yang Firman lawan sebelumnya, ini adalah bukti besar yang didapatkan oleh Firman.
"Tidak sia-sia ternyata aku kesini, tugasku untuk mengungkap mafia itu menjadi lebih mudah dengan adanya bukti baru ini," ucap Firman tersenyum smirk mendapatkan bukti yang bisa membuatnya lebih mudah mengungkap sindikat mafia yang menjual obat-obatan terlarang.
Firman terus melakukan pencarian berharap ada petunjuk lain yang bisa membantunya, setelah selesai menyusuri setiap sudut ruangan Firman keluar sambil membawa bukti yang ada didalam kotak tadi bersamanya.
Setelah keluar dari ruangan Wirjo, Firman langsung beralih ke ruangan kontrol cctv yang berada di lantai dua pabrik, di sana tempat dimana semua sistem pabrik dijalankan, baik itu kelistrik sampai ruangan untuk mesin-mesin bekerja.
Sampai di dalam ruangan kontrol cctv, Firman langsung menuju tempat utama yaitu layar monitor cctv beserta tempat penyimpanan data yang ada di sana, Firman mengecek semua file yang ada di sana berharap menemukan sesuatu yang bisa memberinya petunjuk penting.