System Menjadi Pria Sukses

System Menjadi Pria Sukses
System Sukses 160 Rencana Penyelamatan Sandera Dimulai


Chapter 160


Jam sudah menunjukan pukul 23.00 yang mana itu sudah larut malam, waktu yang pas untuk menjalankan rencana yang telah disusun rapi oleh Gina dan juga Firman untuk menyelamatkan anggota Gina yang disandera.


Sebelum pergi menjalankan rencana untuk menyelamatkan sandera, Gina mengajak Firman pergi ke sebuah ruangan untuk mengambil berbagai alat yang akan digunakan nanti.


Firman saat ini berada di sebuah ruangan tempat senjata disimpan, ruangan tersebut berada pada bawah tanah markas mafia Gina, ditemani dengan Gina yang juga ingin mengambil senjatanya.


"Kamu mau pake senjata apa?" tanya Gina kepada Firman yang sedari tadi hanya berputar tidak jelas melihat-lihat koleksi senjata milik Gina.


"Tidak perlu, aku sudah punya senjata sendiri," jawab Firman.


Lalu kemudian Firman mengeluarkan katana Sang Pembantai miliknya yang selalu dibawanya kemanapun Firman pergi, katana Sang Pembantai terlihat tambah menawan dan ada aura-aura mengerikan keluar dari katana tersebut.


Mungkin karena telah memakan banyak sekali korban jiwa yang membuat katana tersebut semakin kuat dari sebelum-sebelumnya. Firman sendiri juga merasakan perbedaan saat memegang katana tersebut.


'Apakah katana ini bertambah kuat setelah membunuh nyawa manusia?' batin Firman bertanya-tanya.


[Ding ... Host Benar Sekali.]


Firman terkejut saat mendengar suara System yang sangat jarang sekali membalas ucapannya, baru kali ini System membalas ucapan Firman tanpa diperintahkan olehnya terlebih dahulu, mungkin karena baru selesai upgrade makanya seperti itu.


"Wahh ... Katana punya kamu keren banget!" kata Gina menatap kagum pada katana Sang Pembantai milik Firman.


Firman juga sangat setuju dengan perkataan Gina tersebut, ia merasa ada hal yang berbeda dari katana miliknya tersebut, entah apalah itu yang berubah yang pasti katana Sang Pembantai menjadi semakin kuat.


"Oh iya, aku juga punya senjata mirip seperti itu di sini, apakah kamu mau melihatnya?" tanya Gina memberikan tawaran.


"Boleh," jawab Firman.


Gina lalu berjalan menuju rak yang ada di belakangnya tempat senjata-senjata tajam disimpan. Ada banyak sekali rak yang berisikan senjata milik Gina di ruangan tersebut, baik itu senjata api, senjata tajam, senjata intelligent, dan masih banyak lagi.


Setelah itu Gina mengambil kursi untuk dinaikinya lalu mengambil sebuah kotak panjang dari atas rak senjata tersebut, Gina lalu turun dari atas kursi dan meletakan kotak panjang tersebut diatas meja yang sudah ada Firman menunggunya.


"Aku dulu pernah membuka kotak ini, isinya adalah sebuah katana yang memiliki warna gelap sama seperti katana milikmu. aku merasa mungkin saja katana milikmu dan yang ada di dalam kotak ini saling berhubungan," ujar Gina menjelaskan.


Lalu Gina membuka kotak berukuran satu meter tersebut yang didalamnya terdapat sebuah katana yang berdiameter sedikit lebih pendek dari katana Sang Pembantai milik Firman.


Katana tersebut tersimpan rapi di dalam kotak dengan dibalut kain berwarna hitam untuk menutupi katana tersebut. Gina lalu mengeluarkan katana itu dan menyerahkannya kepada Firman.


"Darimana kamu mendapatkan katana ini?" tanya Firman penasaran.


Firman bertanya karena ia dapat merasakan sebuah aura yang sama dengan katana Sang Pembantai miliknya, aura haus akan darah manusia yang membuat katana tersebut seperti hidup dengan jiwa didalamnya.


"Aku mendapatkannya waktu berkunjung ke negeri matahari terbit, disana aku menjalin kerja sama dengan salah satu kelompok yang menjalankan bisnis denganku. Entah kenapa mereka memberikan katana itu sebagai hadiah karena aku bersedia bekerja sama dengan mereka," jawab Gina.


"Memangnya kenapa kamu bertanya seperti itu?" tanya Gina bingung.


"Tidak ada apa-apa," jawab Firman.


"Boleh aku ambil katana ini?" tanya Firman pada Gina.


"Ambil saja, lagipula aku tidak begitu mahir menggunakan senjata tajam," jawab Gina.


Sekarang Firman jadi mempunyai tiga katana ditambah katana kecil yang kemarin dipakai Firman membantai Raja dan anak buahnya.


"Terima kasih, chup ... " Firman mencium pipi Gina sebagai tanda terima kasihnya karena sudah diizinkan untuk mengambil katana tersebut.


Wajah Gina sudah sangat memerah karena mendapatkan perlakuan yang begitu romantis dari Firman, padahal dirinya tidak mengharapkan hadiah sama sekali.


Gina lalu mengambil beberapa senjata api dan pelurunya untuk dia gunakan sebagai senjata, Gina memang pengguna senjata api yang sangat handal.


Setelah selesai memilih senjata yang akan mereka bawa untuk berjaga-jaga saat menyelamatkan anggota Gina, mereka berdua keluar dari dalam ruangan untuk berdiskusi sebentar tentang rencana yang akan mereka jalankan bersama dengan anggota Roses Girl yang lainnya.


Rencananya kali ini Firman dan Gina saja yang akan berangkat untuk menyelamatkan sandera, sedangkan anggota lainnya akan bersiap-siap di dekat markas musuh jika nanti Firman dan Gina sudah berhasil membawa sandera keluar.


Awalnya para anggota Roses Girl tidak setuju dengan rencana tersebut, mereka ingin berjuang bersama-sama untuk menyelamatkan rekan mereka. Tapi setelah diberikan nasehat oleh Gina mereka menjadi paham dan memilih mengikuti rencana yang telah dibuat saja.


Sebenarnya rencana ini merupakan ide dari Firman, ia ingin menyelamatkan para sandera terlebih dahulu agar tidak ada drama saling sandera lagi nantinya, jika kelompok Gina langsung menyerang musuh sudah dapat dipastikan pihak musuh akan menggunakan anggota Gina yang dijadikan sandera sebagai tameng hidup untuk mereka bertahan.


Itu bisa mengakibatkan banyaknya korban jiwa berjatuhan bila salah langkah, maka dari itu Firman mengusulkan agar dirinya dan Gina saja yang pergi menyelamatkan sandera mengingat kemampuan mereka berdua yang paling tinggi diantara yang lainnya.


Nanti jika sandera sudah diamankan, baru anggota Roses Girl yang lainnya langsung menyerang markas musuh untuk menghancurkan mereka semua sekaligus membalas atas apa yang dilakukan oleh kelompok yang telah menyandera rekan mereka itu.


"Baiklah kita mulai rencananya!" kata Gina dengan tegas penuh semangat yang membara.


………….


Menggunakan mobil milik Gina, mereka berdua pergi untuk mendatangi markas kelompok yang telah menyandera anggota mafia milik Gina, markas kelompok tersebut berada di negara tetangga dari tempat mereka berada sekarang.


Jarak yang akan ditempuh lumayan jauh dan membutuhkan waktu sekitar 4 jam untuk sampai pada tempat yang akan mereka tuju tersebut, Firman melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi agar mereka cepat sampai sebelum matahari terbit esok hari.


"Sayang, apakah mereka akan selamat? Apa mereka tidak akan disiksa? Mereka baik-baik saja kan? Apakah mereka diberi makan di sana? Bagaimana keadaan mereka semua saat ini?" pertanyaan beruntun diucapkan oleh Gina dengan cepatnya.


Firman mengusap tangan Gina menggunakan satu tangan karena tangan satunya menyetir mobil. Firman tau jika saat ini Gina merasa sangat khawatir pada keselamatan anggotanya, mereka sudah dianggap Gina sebagai keluarganya sendiri.


"Kamu tenang saja, mereka pasti baik-baik saja disana, sudah jangan terlalu panik nanti kamu tidak fokus pada saat kita menjalankan rencana jika terus seperti itu," ucap Firman untuk membuat tenang Gina.


Gina mencoba untuk menenangkan dirinya agar tidak panik atau pun terbawa emosi terlalu dalam, karena itu dapat merusak semua rencana yang telah mereka buat sebelumnya.


Setelah cukup tenang akhirnya Gina bisa sedikit mengurangi kekhawatiran nya, meski masih ada rasa sedih dan takut dihatinya mencemaskan keadaan semua anggotanya yang disandera.


"Aku akan membantu kamu membebaskan mereka dengan selamat, jadi tenang saja ok!" kata Firman yang dibalas senyuman manis oleh Gina.


"Terima kasih sayang!" balas Gina seraya memeluk Firman dari samping karena Firman sedang menyetir.


Mereka melanjutkan perjalanan yang lumayan lama tersebut dengan keadaan gelap karena memang masih malam, Firman berusaha untuk tetap terjaga supaya tidak mengantuk meskipun matanya sudah merasa sangat mengantuk.