
Chapter 173
Gina masih memeluk Firman dengan eratnya tak mau melepaskan meski hanya sesaat, hujan yang masih berlanjut membuat suasana yang memang sudah dingin menjadi lebih dingin lagi.
Dirasa hujan akan lama berhentinya, Firman kemudian menggendong Gina yang masih dipelukanya pergi masuk menuju ke dalam gedung kembali, Gina digendong seperti layaknya bayi Koala dengan induknya.
"Sayang, kamu gak bakalan benci sama aku kan, karena ayahku orang jahat yang pernah mencelakai kamu?" tanya Gina tiba-tiba pada saat mereka sedang berjalan menuju lantai bawah.
Firman yang mendengar pertanyaan Gina tersebut menjadi heran padanya, padahal ayahnya sudah dibunuh oleh Firman akan tetapi Gina justru lebih mempermasalahkan Firman yang takutnya malah membenci dirinya karena ulah sang ayah.
"Tidak akan, aku akan selalu bersamamu karena aku mencintaimu dan untuk memenuhi janjiku pada mendiang ayah kamu," jawab Firman agak pelan pada saat mengatakan 'mencintaimu'.
Gina yang tadinya masih lemas tak ingin lepas dari pelukan Firman, seketika langsung mendongak menatap kearah wajah Firman dengan pandangan mata berbinar-binar seperti anak kecil yang diberi hadiah oleh orang tuanya.
Melihat Gina yang menatapnya dengan pandangan seperti itu membuat Firman bingung, ia berpikir ada yang salah dengan kejiwaan Gina ini sampai-sampai sifatnya sering berubah-ubah tanpa sebab.
"Kamu kenapa? Sakit jiwa kah?" tanya Firman yang disambut pukulan pelan didada yang dilakukan oleh Gina.
"Apa katamu?! Kamu nuduh aku sakit jiwa gitu maksudnya?! Aku masih sehat baik fisik maupun pikiran!" balas Gina kesal.
"Mana aku tau, maaf jika aku salah," balas Firman dengan nada santainya tanpa merasa bersalah sama sekali.
"Tau ah! Kamu kenapa sih cuek banget jadi pacar? Padahal dulu pas kita bertemu waktu kecil kamu orangnya baik banget tidak seperti sekarang," ujar Gina bingung dengan sifat asli kekasihnya tersebut.
Mendengar ucapan Gina tersebut bukanya menjawab Firman justru berhenti berjalan lalu menatap Gina yang berada di pelukannya dengan tangan melingkar pada leher Firman serta kaki menjepit perut Firman erat agar tidak jatuh saat digendong.
"Ke ... kenapa sayang?" tanya Gina takut melihat tatapan Firman yang menakutkan.
Firman tersenyum kemudian ia mencium bibir Gina sekejap kemudian melanjutkan berjalan untuk menuju lift lalu memasukinya untuk menuju lantai paling bawah lebih cepat.
"Tidak ada," jawab Firman singkat tanpa ada penjelasan sama sekali.
"Kamu ingin makan apa?" tanya Firman mengalihkan obrolan.
Gina bergaya seperti orang yang sedang berfikir lalu menjawab, "Makan di pinggir jalan aja nanti, sekalian kita jalan-jalan liburan berdua sambil menikmati negara ini."
"Baiklah sayangku," jawab Firman.
Mereka mengobrol kesana-kemari entah membicarakan apapun yang dibahas, meskipun sebenarnya bukan mereka yang mengobrol sebenarnya, karena hanya Gina saja yang mengoceh tak jelas sedangkan Firman hanya mendengarkan saja dengan sesekali membalas jika Firman bertanya.
Setelah beberapa menit di dalam lift, akhirnya mereka sudah sampai di lantai paling bawah gedung, disana terlihat ada beberapa anggota mafia Gina yang masih belum berangkat pulang lantaran hujan masih terus berlanjut belum ada tanda-tanda akan berhenti.
Firman berjalan mendekat ke arah mereka untuk membicarakan sesuatu, "Kamu turun terlebih dulu, aku ingin berbicara dengan Lina dan anggota yang lain," ucap Firman kepada Gina yang semakin bertingkah manja kepada Firman.
"Tidak mau! Mau ngobrol ya ngobrol saja, aku masih mau digendong!" jawab Gina tak mau dibantah.
Firman hanya diam saja karena percuma jika harus berdebat dengan wanita satu ini, hasilnya sudah pasti tetap sama saja, bukanya Firman takut kepada para wanita, tapi Firman lebih memilih diam menuruti omongan Gina untuk membuat dirinya tenang.
Takutnya Gina masih terbayang-bayang dengan masa lalunya setelah mendengar berita mengenai ayahnya yang tewas dihabisi oleh Firman. Jika Firman mau ia bisa saja melawan Gina karena sebagai seorang laki-laki, Firman tidak akan mau diperbudak oleh wanitanya.
"Lina!" panggil Firman.
Lina yang sedang berbicara dengan beberapa anggota lainnya menoleh ke arah Firman yang memanggilnya, kemudian Firman berjalan menghampiri Lina dan yang lainnya kemudian duduk bersama dengan mereka disana.
Sebenarnya Lina dan anggota mafia Gina yang lainnya, bingung melihat adanya Gina yang berada dipelukan Firman yang menempel sudah seperti permen karet yang tak mau lepas darinya.
Padahal citra Gina sebagai seorang ketua mafia paling disegani oleh banyak orang terkenal menakutkan galak dan yang pasti dikenal agak sakit jiwa karena sifat tidak pandang bulunya dalam menyiksa para musuh-musuhnya yang tertangkap.
"Ada apa kak?" tanya Lina agak merasa canggung karena keberadaan Gina yang bertingkah manja kepada Firman.
"Memangnya kakak mau bertanya apa kepada kami semua?" tanya Lina.
"Aku tau kalian itu lumayan terkenal di dunia bawah Eropa dan sekitarnya, tapi apakah kalian tau jaringan sebuah organisasi besar dunia bawah yang bernama Rich Devil atau kami biasa menyebutnya kelompok mafia luar negeri," ucap Firman.
Saat Firman mengatakan nama Rich Devil, seketika wajah semua orang disana menjadi ketakutan, mungkin saking menakutkannya organisasi itu hingga membuat kelompok mafia sekelas Roses Girl saja ketakutan mendengarnya.
"Kami tau mereka, bahkan kami juga pernah sekali bekerja sama dengan organisasi itu tapi hanya bertahan sebentar lantaran ada beberapa masalah diantara kami yang mengakibatkan sekarang kelompok kami dengan organisasi itu menjadi musuh," ujar Lina menjawab ucapan Firman yang tadi.
"Kalau boleh tau, masalah apa yang membuat kalian sampai bermusuhan dengan mereka? Kalian tau sendiri kan jika musuh dari organisasi itu sangat banyak,
Tetapi mereka juga memiliki banyak sekali pertahanan hingga mampu melawan banyak musuh yang menyerang mereka, apa kalian tidak takut jika nantinya akan jadi target serangan organisasi itu?" tanya Firman penasaran.
"Kak Gina yang tau banyak tentang masalah itu, biar dia saja yang menjelaskan," ujar Lina menatap Gina yang terlihat menutup matanya seperti hendak tertidur.
"Gak mau! Kamu saja yang jelaskan Lin, aku ingin tidur saja," balas Gina dengan nada malas.
Mereka semua yang melihat tingkah dan sifat Gina yang seperti itu menjadi sangat terkejut, biasanya Gina akan bersikap dingin kepada siapapun kecuali saat membahas tentang bisnis, jika bicara tentang masalah bisnis maka Gina akan serius meskipun masih dengan ekspresi dingin yang mengintimidasi lawannya.
Tapi justru sekarang mereka melihat menggunakan mata kepala mereka sendiri, bahwa Gina yang mereka lihat sekarang sedang bertingkah manja kepada seorang laki-laki yang entah dari mana mereka tak mengetahuinya.
Sungguh sebuah prestasi yang sangat hebat menurut mereka semua, karena ada ternyata laki-laki yang dapat menjinakan singa betina yang sangat ganas dengan mudahnya seperti itu menjadi seperti kucing yang patuh pada majikannya.
"Kamu jelaskan semuanya tentang kelompok itu, kata Lina tadi kamu yang lebih mengetahuinya," ucap Firman memegang dagu Gina lalu mengangkat wajahnya keatas.
"Tapi aku malas sayang, biar Lina saja ya yang menjelaskan," balas Gina menatap Firman dengan mata memohon.
"Jelaskan!" kata Firman tegas tak ingin dibantah lagi.
Gina yang melihat Firman sudah marah karena dirinya, dengan sigap Gina langsung bangun dari pangkuan Firman lalu duduk di sampingnya dengan ekspresi yang sudah serius hingga membuat para anggotanya menatap hormat pada dirinya.
'Cepat sekali berubahnya,' batin semua anggota mafia Gina.
"Baiklah aku akan menjelaskan sedikit. Dulu kami pernah menjalin sebuah kerja sama untuk membangun sebuah bisnis yang bisa dikatakan ilegal, yaitu membangun sebuah tempat untuk transaksi pr0stitusi yang akan dijalankan oleh mereka.
Sedangkan kelompok ku akan memegang tugas untuk merekrut pegawai yang ingin bekerja ditempat tersebut, tempatnya juga selain sebagai tempat untuk transaksi untuk pr0stitusi, terdapat juga bar serta cafe disana.
Setelah kerja sama berlangsung beberapa tahun semua berjalan normal saja, bahkan bisnis yang kami jalankan berkembang pesat, sampai pada suatu hari aku menemukan sebuah kejanggalan.
Yang mana terdapat beberapa anggota kelompok ku yang dijadikan pelayan di tempat yang mereka kelola, pada akhirnya ternyata benar bahwa mereka menculik anggota kita lalu menjadikanya sebagai pelayan disana.
Kami bermusuhan sampai sekarang karena menyimpan dendam pada peristiwa tersebut, pada waktu itu aku masih berusia 15 tahun dan kelompok ini masih dipimpin oleh ibu angkatku dulu," ucap Gina menjelaskan panjang lebar sejarah kenapa bisa Roses Girl bermusuhan dengan Rich Devil.
Firman yang mendengarkan dari tadi saat Gina bercerita menjadi ikut emosi, apalagi dirinya juga merasakan menjadi musuh Rich Devil itu adalah sebuah hal yang sangat sulit.
Bagaimana tidak sulit jika harus bermusuhan dengan sebuah organisasi bawah tanah paling besar di seluruh dunia, bahkan organisasi tersebut dapat dengan mudah mengendalikan ekonomi sebuah negara yang sangat besar tanpa harus ketahuan oleh badan intelijen negara tersebut.
"Lalu apa kamu tau markas mereka ada dimana?" tanya Firman yang sangat ingin tau ada dimana sebenarnya markas kelompok Rich Devil ini.
"Aku tidak mengetahuinya, markas mereka sering berpindah-pindah tanpa banyak orang yang mengetahui lokasinya, tapi jika kamu bertanya dimana lokasi tempat bisnis pusat mereka berjalan, aku tau tempatnya dimana," jawab Gina.
"Baguslah, nanti kamu antarkan aku kesana karena ada beberapa hal yang ingin aku lakukan," ujar Firman.
"Jangan kesana! Aku tidak mau kamu berurusan dengan kelompok itu, karena aku takut kamu terluka jika berurusan dengan mereka," ucap Gina memeluk Firman.
Firman menatap kearah Lina dan anggota Gina yang lainnya, mereka yang ditatap oleh Firman mengerti apa yang dimaksud oleh Firman, kemudian mereka berdiri lalu pergi agar memberikan waktu berdua untuk Firman dan Gina.
Merasa jika Gina sangat takut kehilangan dirinya hingga khawatir jika dirinya berurusan dengan mafia Rich Devil yang mereka bicarakan tadi, Firman tersenyum menatap Gina yang berada dipelukanya tersebut.