Mereka Yang Tak Terlihat

Mereka Yang Tak Terlihat
apakah karma


Arum sudah kembali lagi kerumah sakit dengan Angga yang selalu ada disampingnya dia rasanya menjadi malu saat Angga berbicara seperti itu, apakah dirinya salah mencintai hantu itu dan membuat Angga kecewa, pusing sekali.


Saat Arum akan pergi masuk kedalam ruanyan Sasa tiba tiba dokter Andrian menghadangnya.


"Ada apa dokter "


"Bibi mu sudah sadar ayo dia ingin bertemu dengan mu, ayo ayo"


'Benarkah dokter, dokter tidak bohongkan "


"Tentu tidak ayo mari kita kesana "


Arum dengan senang segera menghampirinya dan memeluk bibinya yany sedang bersandar "akhirnya bibi sadar juga, aku sangat senang melihat bibi sadar kembali, kapan bibi sadar "


"Bibi baru saja sadar " dengan suara seraknya


"Apakah bibi ingin minum "


Bibinya hanya mengeleng saja dan menatap Arum dengan lekat "ada apa bibi, apakah bibi ingin berbicara sesuatu padaku "


"Apakah kau sudah tau sebenarnya bibi siapa "


"Sudah Arum sudah tau, bibi adalah Saidah anaknya Putri Ayu yang sekarang rumahnya dijadikan sekolah kan "


"Iya kau benar bibi minta tolong jangan sampai paman mu tau ya, bibi tidak mau orang orang tau tentang bibi siapa dan apa masalah yang dulu telah menimpa bibi "


"Iya bi aku akan selalu menjaga rahasia bibi, bibi tenang saja tanpa bibi bicara aku akan menutup mulut ya "


"Makasih ya Rum, makasih banget "


Arum mengangguk dan langsung memeluk bibinya, akhirnya bibinya sadar juga, nanti akan dirinya hubungi suami bibinya.


**


Farah sekarang sedang pulang bersama pak Bima, bahkan mereka berpegangan dan bercanda seperti layaknya sepasang kekasih.


"Bagimana apakah kau senang "


"Tentu aku senang sekali pak Bima "


"Jangan panggil pak Bima dong, apa gitu "


"Kalau kak gimana gak apa apa kan "


"Yaudah boleh deh panggil aja kakak, kan bagus ya kakak dan ade "


"Iya bener ya kak "


Namun karena pak Bima yang tak fokus kedepan dia tak melihat kalau didepannya ada truk besar "awas pakk ada mobil "


Pak Bima yang kaget membanting stir dan membuat mobilnya menubruk pohon besar, Sedangkan Farah dia keluar dari dalam mobil karena tidak memakai sabuk pengaman, pak Bima didalam tercepit kakinya bahkan sudah menekuk.


Orang orang yang melihat kejadian itu segera berlarian kearah sana dan melihat mereka , Farah sudah dikerubungi malahan, dia sudah berlumuran darah, wajahnya yang lebih parah rusak.


Segera warga menghubungi rumah sakit, tak ada berani mengeluarkan pak Bima karena sangat sulit sekali.


Dan tak lama kemudia datang mobil ambulans mereka berdua dibawa kerumah sakit sedangkan pak Bima sudah tak bisa tertolong kembali dia mati ditempat karena sudah parah sekali.


Ada batang pohon pula yang menusuk perutnya. Farah yang masih sadar melihat keadaan pak Bima yany sudah terkulai mati, apakah ini karma untuknya, ya allah kenapa bisa begini kalau saja tadi pulang sendiri semuanya tak akan terjadi, tak akan ada kecelakaan ini, pak Bima juga tidak akan mati.


**


Arum yang memang sedang akan keluar mencari makanan dia melihat pakaian yang dipakai orang itu seperti kenal, dan orang itu pula menatap Arum terus menerus, Arum berhenti dan menatapnya terus menerus.


"Apa itu Farah, tapi kan Farah udah pulang, dari bentuk badannya aja udah keliatan kalau itu Farah, tapi masa sih "


Tiba tiba masuk kembali satu korban dan Arum baru tau kalau itu adalah Pak Bima guru bejat yang menyebalkan.


"Pak Bima, berarti yang itu adalah Farah, apa mereka berangkat bersama "


"Oh itu infonya namannya Farah "


"Baik sus terimasih atas infonya "


Suster itu mengangguk dan pergi begitu saja, Arum segera mengeluarkan ponselnya dan menelfon bu Wati.


"Ya bu Arum ada apa "


"Bu disini ada korban kecelakaan, tapi wajahnya penuh dengan darah, tapi ada pak Bima juga "


"Apa ada Farah, memang hari ini Farah pulang, sebentar saya akan kesana bu Arum, tunggu saja di lobi "


"Baik Bu, saya disini menunggu "


Arum yang binggung tak jadi membeli makanan hanya bisa diam, binggung tak tau harus melakukan apa lagi, kenapa banyak sekali musibah, kenapa banyak sekali yany menimpa muridnya.


"Bu Arum, buuu "


Teriak bu Wati yang baru datang "eh iya maaf saya bu, aku kira bukan ibu "


"Ayo bu Arum kita kesana ayo ayo "


Arum hanya mengangguk dan mengikuti bu Wati, jadi Arum harusnya kemana kekamar bibinya atau Sasa atau melihat Farah.


Sudahlah sekarang mending ikuti dulu bu Wati, apa nanti kamarnya disatukan saja agar lebih mudah dan tak bulak balik kesana kesini.


"Kak "


"Kenapa Sasa kamu keluar kenapa kamu ada disini "


"Aku sedang jalan jalan dan melihat kak Arum makannya aku kesini ada apa kak "


"Farah kecelakaan Sasa "


"Ya ampun bukannya baru saja Farah pulang sama pak Bima "


"Jadi Farah pulang sama pak Bima "


"Iya kak, Farah kam pacaran dengan pak Bima, "


Arum hanya mengangguk saja, berarti mereka kecelakaan berdua, sangat keterlaluan sekali Farah menghianati Sasa dasar tak tau diri.


**


Farah yang sudah selesai diperiksa dan wajahnya diperban juga segera dipindahkan keruangannya dan Arum dan bu Wati mengikutinya dari belakang Sasa sudah kembali lagi kekamarnya.


Saat sudah ada dikamarnya Farah langsung memegang tangan Arum.


"Ada apa Farah, kenapa kau ingin berbicara apa, apa yang ingin kau bicarakan "


"Tenang aku tidak akan meninggalkan mu aku disini. jangan takut "


Farah melepaskan tangannya dari Arum dan menatap Arum teris menerus.


"Farah mungkin ini adalah pelajaran untukmu, mulai sekarang kau berubahlah jangan menjadi Farah yang dulu, jadilah Farah yang baru ya, jangan membuat teman teman mu kembali susah, mengakulah semuanya apa yang telah kau lakukan "


"Sekarang kau sembuhkan dirimu terlebih dahulu ya, tenang aku akan ada bersama mu, aku tak akan kemana mana, tapi aku tak akan selalu ada untuk mu, aku akan menghubungi teman teman mu, agar disini menunggu dirimu "


Dan benar Arum menelfon Novi "hallo bu Arum ada apa, "


"Kau bisa kemari Novi, Farah kecelakaan bersama pak Bima, aku tau kalian sedang ada masalah tapi tolong ibu jaga Farah ya, soalnya ibu tak bisa bulak balik soalnya bibi ibu juga sedang sakit "


"Hah Farah kecelakaan baik bu kami semua akan kesana tenang bu aku akan perho kesana "


Arum mematikan ponselnya dan duduk kembali bersama bu Wati berbincang bincang sedikit dan pada akhirnya diam kembali, karena memang sudah tak ada lagi membicaraan yang harus di bahas, semuanya selesai dan binggung juga harus membicarakan apa, ini dirumah sakit jangan berisik.