Mereka Yang Tak Terlihat

Mereka Yang Tak Terlihat
Semua terbongkar dan selesai


Sekarang Angga dan Arum dituntun kesebuah lorong oleh Adell. Lorong yang tak pernah mereka tahu, itu tempat apa. Namun seketika mereka bertiga mendengar suara seseorang melangkah.


Seketika Angga memasang badan, menghalangi tubuh Arum agar jika terjadi sesuatu dirinya dulu yang diserang.


"Bu pak " kaget Angga.


"Kalian, kemana saja kami mencari kalian " ucap bu Tika


"Kami ada di uks bu " jawab Angga tanpa ingin menjelaskan lebih lanjut.


Saat Arum melihat pak Yandi segera mundur. Dia menjadi takut pada pak Yandi. Dia adalah salah satu orang yang ada didalam mimpi Arum orang yang ditampakan Lidya.


"Rum kamu gapapa " tanya Angga yang merasakan bahwa Arum sedang ketakutan.


"Engga Angga aku baik-baik aja "


"Kalian kenapa ada disini " tanya pak Yandi.


"Kami baru saja datang pak " jawab Angga.


"Hemm baiklah coba kalian minggir dahulu "


Segera mereka berdua memberi celah pada pak Yandi, pak Yandi menatap pintu itu. Yang mengharuskan memasukan sebuah sandi.


"Apa ya sandinya " monolog pak Yandi sambil mengusap-ngusap dagunya.


"Masa bapak ga tau ulang tahun saya " ucap Arum yang tiba-tiba saja berbicara seperti itu dan tatapan Arum sekarang sangat tajam menatap pak Yandi.


"Hah maksudnya Rum "


"Arumm ? " sambil mengerakan kepalanya kebawah dan menyeringai kearah pak Yandi.


Pak Yandi yang mengerti itu bukan Arum faham apa maksudnya. Segera pak Yandi memencet satu persatu dan terbukalah. Benar sandinya adalah ulang tahun Lidya sama seperti teka teki yang tadi.


Mereka masuk, namun alangkah terkejutnya mereka, saat melihat kak Tri sedang ditali disebuah kursi sambil dibekap oleh lakban.


Arum yang melihatnya tiba-tiba berlari dan menghampiri kak Tri melepaskan ikatan itu dan langsung memeluk kak Tri sambil menangis.


"Tri maafkan aku, maafkan kesalahan aku. Aku salah tidak menceritakan satu hal yang harusnya kamu tahu " ucap Arum yang tiba-tiba saja berbicara seperti itu.


"Kamu siapa, apakah ini Lidya sahabatku " tanya kak Tri dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


"Iya ini aku Lidya " dengan suara berbisik.


"Kenapa kamu begitu saja meningalkan ku, tanpa sebuah pesan atau pun apapun, aku terpukul kehilangan kamu, kehilangan sahabat yang aku punya. Kamu kenapa tega lakuin ini "


"Maafkan aku Tri, maaf karena kesalah aku buat , yang membuat aku mati "


Seketika Lidya melepaskan pelukannya dan menatap wajah kak Tri lalu tersenyum dan membalikan badanya kearah pak Yandi dan bu Tika.


Menyeringai sambil mengerak-ngerakan badannya yang seperti orang yang pegal. Lalu mengeluarkan gantungannya yang ada didalam saku Arum.


Dan mengerak-ngeraknnya. Pak Yandi yang melihatnya sangat kaget sangat tidak percaya Arum memegang tanda bukti. Dari mana, Arum bukanlah anak dari sekolah ini maka tak akan mungkin bisa mengetahuinya.


"Bagaimana apa bapak kaget, ada tanda bukti yang bapak lupa hilangkan " tanya Lidya.


"Maksud kamu apa Rum, bapak tak mengerti"


"Aku bukan Arum, aku Lidyaaa " teriak Lidya mengema sampai membuat telinga orang yang mendengarnya sakit.


Bahkan bu Tika dan Tri yang mendengarnya lantas menutup mulutnya tak percaya dengan semua ini. Jadi guru yang memangil Lidya adalah pak Yandi. Jadi selama ini dugaan Tri benar kalau Lidya dibunuh.


Guru yang menjadi patunan mereka ternyata adalah dalang dari semua kekacauan ini.


"Tri, Rey Rey juga ada disana tapi dia tak menolongku. Membiarkan aku mati begitu saja ditangan orang itu " tunjuk Lidya sambil menangis. Mengadukan semuanya pada Tri.


"Kau tau Tri ayah dan ibu sangat terpuruk dan aku tak bisa melihat itu aku aku tak bisa melakukan apa-apa. Aku anak yang tak berguna Tri " lanjut Lidya.


"Aku tak pernah membunuhmu Lidya. Kau jangan mengada-ngada " bela pak Yandi.


"Tidak kamu yang membunuhku. Bahkan kau tega membuat semuanya seperti aku yang bunuh diri. Kau sudah menghancurkan cita-citaku semua yang aku mau kau sudah menghancurkannya kenapa kau tak mau mengakuinya "


Tiba-tiba keluar 2 orang, ternyata itu adalah ayah dan ibu kak Lidya. "Pak satpan " ucap bu Tika.


"Mengakulah pak Yandi, aku sudah mengetahui semuanya. Semuanya aku tau kau pembunuh anakku. Kenapa aku bisa menjadi satpan disini karena aku ingin membalaskan kematian anakku kau sudah menghancurkan keluarga kami. Mengakulah" ucap pak satpan ayah Lidya.


"Kau dan anakmu sama gilanya menghayal ya, aku tak membunuhnya "


"Kenapa aku menghayal ada saksi mata, Rey melihat semuanya dan aku sudah mengetahuinya. Dia menceritakan semuanya padaku. Bagaimana apakah kejutanku ini menyenangkan saat aku membunuh satu persatu muridmu "


"Mana Rey, mana dia sudah mati hah tak ada saksi mata "


"Dasar kamu orang jahat "Teriak ayah Lidya. Tiba-tiba saja berlari sambil membawa kampak dan menancapkannya kekepala pak Yandi.


Lalu pak Yandi tumbang dan hanya bisa menatap wajah ayahnya Lidya. Semua yang dikatakan Lidya adalah benar dirinya pembunuh Lidya "Maafkan aku " ucap pak Yandi disaat-saat dia sedang sekarat.


Ayah Lidya yang memang sangat marah terus saja mengujamkan kampak itu ketubuh pak Yandi, sampai pak Yandi mati.


Bu Tika yang melihatnya sangat histeris, melihat pembunuhan ada didepan matanya.


"Ayah sudah sudah semua tak akan kembali " ucap Lidya.


Ayahnya yang mendengar suara Lidya segera berhenti lalu menangis sejadi-jadinya. Bangkit dari tubuh pak Yandi lalu berjalan dengan tertatih kearah Lidya lalu memeluknya. Memeluknya istri dan anaknya secara bersamaan.


"Benarkah ini Lidya anak ayah, yang pintar cantik dan baik benarkah "


"Iya ayah ini Lidya anak kalian, maafkan Lidya yang sudah membuat kalian berdua melakukan ini. Lidya hanya bisa meminta maaf pada kalian sekarang Lidya harus pergi. Semua sudah terkuak dan Lidya sudah bisa tenang, ayah dan ibu hiduplah dengan bahagia maafkan anakmu ini. Aku harus segera pergi selamat tinggal ayah ibu Tri aku menyayangi kalian semua dan terimakasih pada Arum yang mau membantuku "


Seketika setelah mengatakan itu Arum pingsan "sayang bangun sayang " teriak ayah Lidya.


"Sudah yah Lidya sudah tenang, sekarang kita juga sudah tenang bisa mebalaskan kematian Lidya. Mari kita akhiri dan pergi dari sini" ucap istrinya menengahi


Setelah mencium kening Arum, ayah Lidya berserta ibunya pergi begitu saja meninggalkan tkp dengan senyum yang merekah karena berhasil membunuh pelakunya. Memberi keadilan pada anaknya.


Angga segera mengampiri tubuh Arum, Tri yang masih menangis juga segera menghampiri Arum sedangkan bu Tika hanya mematung diam mencerna semua kejadian ini.


***


Ayah dan ibunya memang sudah merencanakan pembalasan ini dengan matang-matang dan saat ada yang menawari ayahnya Lidya sebagai satpan disekolah ini dirinya sangat senang.


Menyelidiki seluk beluk sekolah ini dan mengitrogasi pacarnya Lidya, yang akhirnya mengaku bahwa dirinya tahu siapa pembunuh Lidya yaitu gurunya sendiri Pak Yandi.


Dari awal dirinya tak percaya Lidya mati bunuh diri dan ternyata benar Lidya di bunuh oleh gurunya. Memang dirinya salah karena melampiaskan pada murid murid yang tak bersalah.


Namun itu dia lakukan agar orang tua murid itu bisa merasakan apa yang dirinya rasakan. Kehilangan anaknnya dan itu karena dibunuh.