Mereka Yang Tak Terlihat

Mereka Yang Tak Terlihat
Ayudia Batu


Arum segera mengerakan kakinya perlahan kearah Bella. Segera dengan telaten Bella mengelap darah yang ada dikaki Arum lalu diperbannya kaki itu.


"Kamu tau Rum, aku sangat takut apa kita bisa kembali. Kenapa tadi kita ikut-ikutan saran Tinah. Biasanya kita menolak namun tadi kenapa tiba-tiba mengiyakannya saja "


Namun tak ada jawaban. Bella segera mendongakkan kepalanya dan melihat Arum tidur menyenderkan kepalanya kearah tembok


Dengan perlahan Bella membenarkan tidurnya Arum "aku keluar dulu ya Rum untuk mencari teman-teman yang lain. Kamu istirahat saja disini jangan kemana-mana " setelah mengatakan itu Bella segera pergi meninggalkan Arum sendirian.


Arum yang sedang enak-enaknya tidur tiba-tiba mendengar seseorang seperti sedang menulis. Arum segera membuka kedua matanya alangkah kagetnya dia melihat pensil itu bergerak sendiri dan langsung terjatuh begitu saja.


Arum segera bangun celingak-celinguk mencari keberadaan Bella "Bella Bell kamu dimana " teriak Arum yang ketakutan.


Kedubrak jatuh sebuah kotak kecil yang entah datang dari mana, Arum segera turun dan membuka kotak itu. Sebuah kalung. Arum segera menyimpannya kedalam sakunya siapa tau bergunakan.


Namun tiba-tiba dibalik gorden seperti ada orang yang sedang berjalan mendekati Arum. Arum segera memundurkan dirinya "Bell jangan main-main deh keluar cepetan"ucap Arum yang menyakinin kalau itu adalah Bella yang sedang menjahilinya.


"Jangan main-main deh Bell, ga lucu ini belum saatnya buat main-main cepetan keluar ah. Kamu ini kebiasan tau "


Namun orang yang ada didalam gorden itu sam sekali tak menjawab, hanya terus saja berjalan menghampiri Arum dan seketika sosok itu keluar sesosok anak kecil berlari cepat kearah Arum lalu mencekik Arum sambil tersenyum lebar


Arum dengan sekuat tenaga mencoba untuk melepaskannya dan mendorong hantu itu. Segera Arum keluar dari ruangan itu dengan berlari sambil dikejar oleh hantu itu.


"Pergi kalian jangan ganggu aku pergi. Aku pun gak menganggu kalian " teriak Arum.


Namun bukannya pergi sosok anak kecil itu malah terus saja mengejar Arum, sambil tertawa terbahak-bahak mentertawakan Arum yang sedang ketakutan.


Untuk yang kedua kalianya Arum tersandung kembali terduduk. Arum yang sudah tak kuat kembali berdiri segera menutup wajahnya.


"Rum " ucap Bella sambil menguncang tubuh Arum yang sedang ketakutan.


"Jangan sentuh aku, pergi kamu pergi "teriak Arum


"Ini aku Bella, kamu kenapa Rum " tanya Bella yang khawatir.


"Pergi kamu Bell, tega ya kamu ninggalin aku sendirian. Pergi Bell pergi aku gak butuh kamu, kamu jahat udau tinggalin aku sana pergi " teriak Arum histeris dan mendorong Bella cukup keras.


"Kamu kenapa , aku cuman mau cari temen-temen yang lain Rum ga niat ninggalin kamu. Kenapa kamu jadi kasar Rum"


"Terus kamu tadi apa ninggalin aku kan, udah sana pergi jangan deketin aku sana aku ga mau sama kamu Bell" Bella yang sakit hati segera berlari pergi meninggalkan Arum sendirian.


Arum tiba-tiba mendengar bisikan "bunuh dia, bunuh dia bunuh, jangan biarkan dia hidup dia tak pantas hidup, cepat bunuh, bunuh, bunuh "


Arum yang ketakutan segera menyumpal telinganya dan mengeleng-gelengkan kepalanya agar sosok itu pergi."tidak tidak, aku tak mau membunuhnya, aku bukam seorang pembunuh "


Namun bukannya pergi sosok itu malah makin membisikan kata itu, malah sekarnag berteriak dan membuat Arum pusing dan akhirnya pingsan kembali.


Tinah sekarang sedang berdua dengan Feri, memasuki sebuah perpustakaan tua "ngapain kita kesini Tin " tanya Feri yang kebingungan.


"Aku ingin mencari sebuah buku yang bisa mengeluarkan kita dari alam gaib ini "


"Maksudnya kita sekarang ada di dunia hantu gitu, emang beneran ada ya dunia hantu "


"Iya seperti itu lah, kita bisa keluar kalau sudah menemukan sarah. Dia adalah kunci dari keangkeran rumah sakit ini dulu. Mayantnya tak ditemukan Fer. Ya nyatanya kita sekarnag ada didunia gaib. Berarti nyatakan bukan hanya sebuah cerita saja. Cobalah untuk percaya "


"Hemm seperti itu, aku memang bukan orang yang percaya dengan hal mistis. Namun untuk yang satu itu aku akan aedikit percaya"


"Iya iya gimana kamu Fer, udah sekarang bantu aku ya, biar kita semua cepet keluar dari tempat ini aku gamau kalai sampai harus terjebak disini "


"Ya iyalah siapa juga yang mau tinggal ditempat kumuh kotor kaya gini yang ada cuman ada hantu aja yang tinggal disini "


"Huss kamu jangan sompram Fer, please bicaranya dijaga ya "


Feri yang sudah mengerti segera membantu Tinah memcari bukunya dan ketemu oleh Tinah, segera Tinah membukannya satu persatu lembarannya, saat akan membuka yang terakhir ternyata tak ada sudah disobek "Gak ada Fer, kemana ini kita harus cari Fer. Ayo kita cari lagi" ajak Tinah.


"Apakah kau yakin dengan buku itu " Feri entah kenapa ragu.


"Yaudah kalau kamu gak mau bantu aku, biar aku aja sendiri yang mecahin teka-teki ini "


"Iya deh, iya aku bantuin Tin yo kita pergi " ajak Feri yang akhirnya mau membantu Tinah.


"Nah gitu dong, sekali-kali kamu itu percaya sama aku "


Segera mereka berdua berjalan sambil membawa senjata takut nanti terjadi sesuatu atau nanti bertemu dengan orang yang membawa palu itu. Bisa mati konyol kan disini.


Mereka berdua sudah cukup jauh berjalan, lalu memasuki sebuah ruangan yang ternyata disana ada Ayudia yang sedang duduk sambil memegang kedua tangan anak kecil dan itu bukan manusia namun hantu.


Ayudia diapit oleh kedua anak kecil itu "Ayu kamu ngapain disana, cepat kamu pergi itu hantu Ayu mereka berbahaya. Mereka bukan manusia sadar kamu " ucap Tinah mengigatkan Ayu.


"Tenang mereja baik Tin, aku hanya ingin membantu mereka saja, dari tadi aku sama mereka dan mereka baik banget sama aku ramah lagi. Sini deh kamu kenalan dulu Tin"


"Tenang ya, kakak akan membantu kalian untuk menemukan sesuatu yang hilang itu, jadi jangan sedih lagi " ucap Ayu pada dua bocah itu.


"Jangan Ayu, mereka mencari kelingking mereka yang hilang, kamu jangan gegabah Ayu. Memberikan sebuah janji pada mereka yang belum tentu kamu bisa tepati. Pada manusia saja kadang susah apalagi berjanji pada hantu mereka akan selalu menagihnya" teriak Tinah mengigatkan kembali Ayu.


"Tidak aku akan membantunya, tenang saja mereka baik kok Tin, kamu kok takut banget sama mereka. Padahal mereka anak kecil ga usah takut." seraya Ayu mengusap kepala hantu perempuan yang manis itu.


"Iya benar apa kata Tinah, ayolaj jangan keras kepala Ayu, ini demi kebaikan kamu sendiri. Ayo mundur perlahan bangkitlah jangan batu seperti ini " tegur Feri.


"Kalian ini kenapa jahat sekali pada anak kecil, mereka baik. Kenapa kalian tak percaya. Makannya sini kenalan dulu jangan ngeyel cepet sini " minta Ayu.