
Arum tiba tiba saja terbangun oleh hembusan angin yang sejuk, saat matanya dibuka dirinya melihat ada kakak tingkat yang sedang diam melihatnya sambil cemberut.
"Ada apa denganmu kak "
"Hemm tidak, ayo cepat bangun kau sungguh kebo aku dari tadi menunggumu, tapi kau tidur saja, ayo bangun segeralah bekerja, ayo jangan jadi pemalas "
"Ist bawel banget ya kakak ini "
Dengen cepat Arum pergi kekamar mandi, dan meninggalkan kakak tingkat itu sendirian.
**
Sedangkan dilain tempat Angga, sedang mencoba menghubungi Arum namun sama sekali tak terhubung, ada apa ini sebenarnya.
"Rum kamu kemana sih, aku pengen bicara sama kamu dan minta alamat kamu sekarang, aku mau pergi kesana temuin kamu, kenapa sih sulit banget "
"Hey ngapain ngomong sendiri "tanga Bella yang memang tempat kerjannya dekat dengan Angga dan mereka berdua juga memang selalu bertemu.
"Aku kok gak bisa ya hubungin Arum, ada apa ya sebenernya"
"Gak bisa gimana, bisa kok, aku aja sering ko nelfon Arum tapi baik baik aja kok, gak ada yang aneh atau yang salah"
"Nih dengerin ya sama lo Bell, beneran gue gak bohong emang gak bisa dihubungi " Angga segera memencet nomor Arum dan tak aktif benar.
Bella segera menghubungi Arum dan terhubung "liat aktifkan, apa kamu di block sama Arum "
"Masa sih di block, gak deh mana mungkin Arum blok nomer gue, Arum bukan orang yang seperti itu "
"Yaudah nanti telfonya pake ponsel aku aja, aku mau kerja dulu ya "
Segera mereka berdua berpisah dan Angga dengan lesu segera masuk kedalam tempat kerjanya dengan fikiran yang kacau, karena sang pujaan hati tak bisa di hungi.
***
Sekarang Arum sudah ada didalam perpustakaan dan diam melamum menunggu ada yang masuk kesini untuk mengambil buku, namun tanpa Arum sadari dari tadi sudah ada yang masuk.
Farah sedang membuly Sasa, dengan kesal Farah menjambak rambut Sasa.
"Heh Sasa kamu jangan kegatelan ya sama pak Bima, tadi dikelas apa apaan kamu pegang tangannya " marah Farah.
"Tidak kok, itu tidak sengaja, sudah lepaskan Sasa kenapa kau sangat tak suka denganku, "
"Ya karena kau patut untuk di benci bukan untuk di bela "
"Aku tidak pernah melakukan apa apa padamu Farah, dari awal aku masuk kamu sudah tidak suka dengan aku, aku tau itu "
"Memang ditambah kau yang berani dekat dengan pak Bima, bahkan kalian pacaran, apa pantas hah, mentang mentang tadi ada pacarnya sok berani ya kamu " sambil menampar Sasa dengan sangat keras
"Awww kau jahat, jahat sekali Farah, kau tak pernah memberikanku ketenangan sekali saja, aku ingin tenang seperti yang lain, bisa berteman dengan siapa pun itu"
"Mati saja bila kau ingin tennang, mati sana jangan ada disekolah ini dan menggangu, kami akan senang bila kau mati "
Arum yang tadinya mengantuk tiba tiba saja samar samar mendengar suara orang sedang bertengkar, dengan perlahan lahan Arum segera berjalan kearah suara itu, ternyata berasal dari pojokan sana.
"Hey sedang apa kalian disini "
Farah yang kaget segera melepaskan jambakannya dab pergi tergesa gesa begitu saja bersama teman temannya.
Sasa segera menundukan kepalannya, sambil menangis."kenapa kau diam saja, biar aku laporkan mereka ke kepala sekolah " saat Arum akan pergi tangannya di pegang oleh Sasa.
Dengan engan akhirnya Arum duduk dan menggengam tangannya Sasa "jangan kak, jangan bilang sama kepala sekolah nanti akan merembet pada pak Bima nanti dia akan terbawa bawa "
"Kenapa kau sangat pedulu, jangan hiraukan guru itu, yang terpenting adalah dirimu, ini sudah sangat keterlaluan, kau tau hal semacam tadi harusnya tidak ada ' marah Arum.
"Iya kak aku tau, tapi jangan laporkan ibu kepala sekolah, aku mohon "
"Aku belum siap kembali kemana pun, aku ingin disini saja bersama kakak "
"Baiklah maka mari peluk aku "
Dengan cepat Sasa segera masuk kedalam pelukan Arum, Arun yang memang tidak punya adik serasa punya adik, Sasa adalah adik keduanya.
Sedangkan adik pertamanya ada Adell, sudah lama dirinya tak bertemu Adell semenjak dirinya yang pindah kemari.
"Pes pes hey hey Arum " tiba tiba saja Arum mendengar suara, dengan cepat Arum mencari asal suara itu ternyata itu kakak tingkat yang sedang mengumpat dari salah satu rak buku.
Arum segera melambaikan tangannya dan dengan cepat kakak tingkat itu sudah ada dihadapannya , Arum segera mengecek keadaan Sasa ternyata dia tertidur.
"Kapan kita akan pergi kerumah pak Paul. Kapan "
"Nanti sore aku masih harus bekerja dan kau lihat aku sedang bersama seseorang "
"Kenapa anak ini selalu menghalangi kita sih "
"Tidak mungkin itu perasaan mu saja kakak, jangan suka begitu pada orang "
"Memang kenyataannya kok "
Kakak tingkat itu segera pergi meninggalkan Arum sendirian namun kembali Arum dikagetkan dengan dering ponselnya.
Ini dari Bella, segera Arum mengangkatnya "Hallo Bell "
"Hallo Rum ini aku Angga, kenapa aku gak bisa hubungin kamu apa nomor aku sana kamu di block atau gimana nih "
"Engga kok, aku sama sekali gak block nomor kamu Angga, aku gak sama sekali lakuin itu "
"Lalu kenapa aku tak bisa menghubungimu ".
."Aku bersumpah sama sekali tak memblock nomor mu."
"Baiklah jangan bahas itu, bagaimana keadaan mu baik, aku rencannya akan menyusul mu kesana "
"Aku baik Angga, tapi disini tak boleh menerima tamu laki laki, "
"Tidak apa kita bertemu diluar saja ya, kau kirimkan alamatnya biar aku mencarinya, mencari tempat yang dekat nantinya dengan sekolah yang kau jaga sekarang perpustakaannya "
"Baiklah Angga, aku akan mengirimkannya, aku kira kamu gak peduli lagi sama aku, karena kamu ya gak nelfon nelfon aku lagi, ternyata aku slaah, aku salah, kamu masih peduli sama aku"
"Iya dong aku peduli, yaudah aku matiin ya Rum "
"Iya Angga "
Setelah sambungan mati Arum hanya bisa tersenyum senang sang pujaan hati akhirnya memberi kabar dan akan menyusulnya kesini.
"Kamu kenapa Rum "
"Ist ngagetin aja sih kak "
"Ih aku tanya baik baik kok. kamu kenapa "
"Aku gak apa apa lagi seneng aja Angga mau kesini, mau susulin aku "
"Oh aku kira hal penting "
"Heyy itu penting kamu tau, jangan asal bicara."
Arum segera mendelik kearah hantu itu dan diam seribu bahasa karena hantu itu sudah bilang kalau Angga tidak penting. Angga itu penting dalam hidupnya sangat penting malahan tak ada yang penting selain Angga seorang.