
Arum yang akan masuk kedalam asrama tak sengaja bertemu dengan pak Bima, pak Bima langsung memegang tangan Arum dan mau tak mau membuat Arum berhenti.
"Ada apa pak Bima yang terhormat "
"Uww bu Arum biasa saja, bagaimana dengan yawaran saya waktu itu "
"Dengar ya pak Bimaa yang terhormat lebih baik bapak bertanggung jawab atas kehamilan Sasa, dari pada bertanya kepada saya tentang penawaran bapak waktu itu, dengan sangat tidak hormat saya menolak itu, saya tidak Sudi bila harus bersama Pak Bima yang brengsek dan tidak punya tanggung jawab sedikit "
"Sok sekali kamu ya, kamu ini hanya penjaga perpustakaan orang baru di sini belum mengenal saya dengan baik sudah menilai saya dengan jelek "
"Tidak perlu mengenal lebih lama dengan anda, karena saya baru melihat anda saja sudah tidak mau. Apalagi ditambah Anda yang memang brengsek dan tak tahu diri saya sangat bersyukur baru bertemu sekarang dengan anda"
Arum dengan cepat segera menghempaskan tangannya yang digenggam oleh Pak Bima.
"Menarik juga itu perempuan " ucap pak Bima sambil pergi dari sana.
Arum saat akan naik ketangga dirinya melihat ada seseorang yang tergeletak namun mengarah membelangi Arum.
Arum dengan penasaran mendekati orang itu dan saat dibalikan badannya kearahnya ternyata itu Sasa, dengan panik Arum segera berteriak.
"Tolong tolong tolong, siapapun tolong " teriak Arum dengan air mata yang sudah mengalir bercucuran.
Semua orang keluar termasuk bu Wati dan juga anak anak yang lainnya. Bu Wati yang kaget segera menghampiri Arum.
"Apa yang terjadi dengan Sasa bu "
"Tidak tau bu, saat saya akan naik kelantai atas Sasa sudah tergeletak begitu saja, tolong panggilkan ambulans bu tolong"
Bu Wati segera menjauh dan pergi untuk menelfon rumah sakit agar mengirim ambulans.
Farah dan teman temannya hanya bisa menatap tak percaya baru saja tadi mereka membuly Sasa, sekarang Sasa tergeletak begitu saja dengan penuh Darah, Farah yang syok perlahan lahan mundur.
Dan menubruk tong sampah membuat penglihatan Arum teralihkan, Arum menatap Farah dengan tajam dan itu membuat Farah takut, tanpa menunggu banyak waktu Farah segera berlari meninggalkan tempat ini.
Ambulans datang dan segera memindahkan Arum kedalam mobil. Arum yang ikut kesana, ikut kerumah sakit. Karena hanya boleh satu orang saja yang ikut.
**
"Farah kenapa kau berlari, kenapa ada apa " tanya Novi
"Apakah kau tak melihat bagaimana bu Arum menatapku, tatapannya sangat tajam dan sungguh menyeramkan. Apakah dia tau tindakan kita tadi pada Sasa, saat aku mendorongnya"
"Tapi aku rasa tak ada orang Farah, karena disana tak mungkin ada yang lewat juga kan, bahkan jarak perpustakaan dengan tempat itu sangat jauh " ucap Dea
"Ya kau benar, semoga saja ucapan mu benar, aku tak mau sampai disalahkan dan nanti kita harus masuk penjara, kuta harus tenang dan seolah semuanya tak pernah terjadi. Kejadian tadi ya " jawab Farah dengan keringat yang sudah membasahi dahinya.
"Ya Farah kau benar, benar sekali, aku tak mau dipenjara aku masih kecil dan masa depan ku masih panjang " sekarang Chika yang berbicara.
"Bu Wati "
"Iya Farah kenapa, kenapa kau seperti ketakutan saat melihat ibu "
"Tidak bu aku, aku tak ketakutan aku hanya kaget saja bu, ada perlu apa bu "
"Jujur pada ibu, apa kalian yang mencelakai Sasa, ayo mengakulah sebelum polisi yang mengitrogasi kalian "
"Hah tidak bu, kami sama sekali tak membunuh Sasa maksudnya tak membuat Sasa celaka, kamu dari tadi ada dikamar bu, benar kan teman teman "
"Iya benar bu, ucap mereka serempak.
Bu Wati langsung mengelilingi mereka berempat menatap wajah mereka dan mengangguk anggukan kepalannya.
"Baiklah kalau ibu tau kalian pelakunnya sudah lah jelek sekolah kita ini "
Bu Wati segera pergi dan menutup pintunya.
"Bagamana Farah ini, bu Wati tiba tiba curiga pada kita, apa yang harus kita lakukan " ucap Chika sambil mengoncang tangan Farah.
"Kau diam lah jangan berisik, kalau seperti ini yang ada bu Wati akan semakin curiga sama kita. Tenang aja kita kan gak tahu tentang s Sasa yang jatuh dari lantai atas ke bawah menggelinding maksudku, kita kan ada di kamar kita hanya mendorongnya saja tak melakukan pembunuhan pada Sasa. kalian harus biasa-biasa saja jangan sampai menampilkan wajah yang pucat ataupun seperti merasa bersalah Kita buktikan kalau kita tak salah memang kita tak salah "
"Iya memang kita gak salah, tapi kita yang memicu Sasa untuk melakukan itu, bisa saja dia melakukan bunuh diri karena tadi katanya sudah lelah karena kita selalu membully, kita selalu mendorong ya memarahinya menjabatnya bahkan sampai menamparnya beberapa kali, lalu harus bagaimana sekarang sudah kejadian seperti ini terus kalau misalnya sampai Sasa bangun dan bercerita yang tidak-tidak pada Bu Wati dan Bu Arum bagaimana habislah kita. Masa depan kita bagaimana terus sekolah kita juga bagaimana. Aku nggak mau menghabiskan sisa hidupku di dalam penjara dan nanti saat keluar aku tak mempunyai satupun teman dan keluargaku menolakku aku tidak mau itu sampai terjadi" cerocos Novi.
"Sudahlah Kalian diam, jangan banyak bicara, kenapa sih kalian tak mau diam dan ikuti apa rencana, hanya perlu mengikuti dengar kalian takkan pernah dipenjara dan aku pun tak akan, jadi berpura-puralah baik-baik saja karena memang kita dari awal tidak bersalah, dianya saja yang terlalu lemah saat di bully seharusnya dia melawan saat kita membullynya. Bukan Diam saja seperti tadi dan pasrah melakukan bunuh diri seperti apa yang kau katakan Novi. Diam saja tak usah banyak bicara dan kalau ditanya bicara kalau kita tidak tahu apa-apa Jadi kalau ada sampai yang memberitahu diantara kota habis olehku"
Farah segera pergi ketempat tidurnya dan merilekskan badannga yang tegang dari tadi.
**
Sedangkan dirumah sakit Arum sedang mondar-mandir menunggu Sasaa yang sedang diperiksa dan juga menunggu ayahnya Sasa untuk datang ke rumah sakit.
Tiba tiba saja dokter keluar dan Arum dengan cepat menghampiri dokter itu.
"Bagaimana keadaan Sasa dok "
"Pasien kehabisan banyak darah dan dia juga mengalami koma karena benturan yang sangat keras. Untuk kandungannya dia keguguran, dan untuk sekarang keadaannya belum bisa dipastikan baik baik saja. Saya permisi "
Dokter itu segera pergi dan Arum dia juga pergi selama perjalan Arum menabrak beberapa orang dan mendapatkan Caci maki pula.
Arum masuk kekamar mandi dan membasuk wajahnya. "apa yang bisa aku bantu "
"Aku ingin orang orang itu mendapatkan balasannya, tak perlu mati tapi buat mereka menyesal.
"Baiklah jika itu keinginan mu, aku akan membantumu dan membalaskan rasa sakit yang diderita Sasa "