Mereka Yang Tak Terlihat

Mereka Yang Tak Terlihat
Tau rasakan


Angga yang sudah kesal dengan kelakuan Wulan segera menggebrak meja " Apakah kau tidak bisa sedikit sopan pada Arum, dia adalah istriku meskipun kau adalah mantanku tapi kau tidak usah mengomentari apa yang istriku lakukan. Istriku mau memesan makanan apapun itu terserah dia aku pasti akan memakannya dan kau tidak usah protes aku mau suka ataupun tidak"


"Angga sudah " lerai Arum


"Sudah Arum kau diam jangan terlalu baik pada orang seperti dia, kau harus bisa membedakan mana orang yang baik padamu mana orang yang akan menusukmu dari belakang. Jadi kau tidak usah banyak bicara biarkan aku bertindak sebagai suamimu dia ini sudah sangat keterlaluan, kelakuannya ini sudah sangat membuatku marah dengan menghinamu dan sebagainya. Aku tidak suka jika istriku dihina seperti ini. Ayo Arum kita pergi dari sini dan cari tempat makan yang lain " Angga langsung menyimpan uang dan menggandeng tangan istrinya untuk pergi dari tempat itu sedangkan Wulan yang dilihat banyak orang merasa malu dia langsung pergi meninggalkan restoran itu juga.


Angga terus saja membawa Arum berjalan sampai mereka berhenti disebuah danau, Angga mengatur nafasnya, lalu membalikan badan Arum untuk saling berhadapan dengannya.


"Aku tidak suka jika ada orang yang membuatmu sakit hati, aku tahu kau sakit hati dengan perkataan Wulan, kau harus membalas perkataannya jika suatu saat ada orang yang ingin menyakitimu, jangan diam saja karena aku tidak akan selalu ada di sampingmu Arum "


Arum meremab tangan Angga " Iya aku tahu tapi aku tidak mau membalasnya juga dengan perkataan yang sama, aku ingin dia sadar sendiri Angga aku tidak mau menyakiti perasaan orang itu, biar aku yang disakiti olehnya tapi aku tidak mau untuk menyakiti hati orang itu , nanti juga Allah akan membalasnya aku tidak perlu membalasnya dengan kejahatan juga atau dengan caci maki juga"


Angga langsung memeluk istrinya dengan begitu erat " kau memang istri yang baik Arum, aku tak salah memilihmu untuk menjadi istriku aku memang benar-benar sudah memilih istri yang tepat untuk menjadi Ibu dari anak-anakku dan juga untuk menjadi pendampingku sampai tua nanti, aku bersyukur bisa mendapatkanmu dan aku juga bersyukur kau mau denganku"


Arum dengan sedikit canggung membalas pelukan Angga merasa aneh berpelukan dengan lawan jenis ini untuk pertama kalinya dirinya melakukan ini, tidak ini bukan pertama kali ini yang kedua kali, yang pertama kali dengan kakak tinggkat maksudnya hantu kakak tingkat itu dia yang pertama namun dia hanyalah sesok hantu bukan manusia.


"Cie pacaran nihh "


Arum langsung melepaskan pelukannya, "iya kita pacaran tapi pacarannya udah nikah, berarti udah muhrim yah " jawab Angga.


Angga kembali mengandeng tangan istrinya "kita cari makan lagi ya Rum, kamu mau makan apa, "


"Aku gimana kamu aja Angga, pasti aku suka kok apapun yang kamu makan "


"Ok deh ayo kita cari makann "


Angga langsung berjalan sambil mengobrol dengan sang istri, banyak yang mereka bicarakan, apapun mereka bicarakaan agar suasana tak begitu hening dan mereka juga tak terlalu kaku, padahal mereka dulu begitu akrab namun sekarang merasa aneh saat menjadi suami istri.