
Tak lama kemudian teman teman Angga datang ada 2 laki laki, dan mereka sepertinya membawa makanan, Angga langsung menghampiri mereka berdua "makasih ya udah mau dateng Bima, Dean "
"Iya sama sama ini makanan yang kamu pesen "
Angga langsung mengambilnya dan langsung menyimpannya dekat sang istri, sedangkan teman teman Angga langsung menyalimi ibunya Angga.
"Gak apa apakan kita makan diluar kayak gini, kita harus isi energi dulu "
"Gak apa apa " jawab mereka serentak
Arum dan Hanin segera menyajikannya satu persatu dan mereka duduk lesehan, lalu segera memakan makanan itu dengan lahap energi mereka sudah terkuras banyak.
Tanpa Arum sadari dari tadi Bima menatap Arum, bahkan tak mengalihkan tatapannya dari Arum, sedangkan Arum fokus pada makanannya.
Dean yang melihat Bima terus saja melihat istri temannya langsung menyenggol bahunya, Bima langsung mengalihkan pandangannya pada meliat Dean.
Dean membisikan sesuatu "inget istri orang "
Bima hanya tersenyum miring dan kembali melahap makanannya. Akhirnya mereka selesai juga makan.
"Jadi apa nih yang harus kita bantu " tanya Dean
"Bantuin keluarin barang-barang yang besar nih nanti juga truk yang aku sewa datang ke sini tolong ya "
Mereka menganggukan kepalanya dan langsung masuk kedalam rumah diikuti oleh yang lain, Ayu yang takut sebisa mungkin tak takut.
Saat pertama kali masuk berantakan sekali, sampai sampai mereka hanya melongo saja melihat itu.
"Ini kenapa rumah berantakan banget banyak pecahan piring, kalian gak lagi berantemkan sampai hancurin rumah kayak gini "
Angga langsung menjawab "seperti apa yang gue bilang tadi rumah ini angker "
"Ohh iya aku baru ingat "
Mereka segera masuk dan makin masuk, suasan didalam sudah begitu aneh, Arum yang berjalan terlebih dahul dan membuka kamarnya, alangkah kagetnya saat melihat barang barang yang baru saja mereka bersekan berantakan.
"Kok berantakan lagi sih " celetuk Hanin yang melihat semuanya.
"Emm udah Nin kita beresin lagi aja, mereka lagi main main sama kita "
4 perempuan itu langsung masuk kembali kedalam kamar dan membereskan kembali barang barang yang berantkan, sedangkan para laki laki mengangkat semua barang barang besar untuk dikeluarkan.
Saat Arum masuk lebih dalam lagi kedalam kamarnya perempuan itu sudah ada disana dan mendekati Arum "bantu aku, bantu aku tolong bantu aku, apa yang harus aku lakukan lagi supaya kau takut padaku dan melakukan apa yang aku mau "
Arum hanya acuh saja tak mau menangapinya, Arum melipat pakainnya dan memasukan kembali pada kopernya "bantu aku, aku ingin keluar dari sini "
"Tolong jangan ganggy aku, aku tak bisa membantumu, sudah aku bilang aku tak bisa membantumu"
"Lalu Lia kenapa kau bisa membantunya kenapa, lalu sata giliranku kau tak bisa membantunya kau sungguh tak adik, tak adik sekali "
"Tak semuanya yang berwujud sepertimu bisa dibantu, dan untuk Lia hanya kebetulan saja, aku tak membantunya dia menemui keluargannya sudah ya, kalau kau mau meminta tolong pada yang lain saja jangan padaku karena aku tidak bisa membantumu, tolonglah mengerti jangan seperti ini "
"Tetap saja kau membantunya juga, ayolah bantu aku hanya kau saja yang bisa membantuku, kau yany bisa "
Arum malah keluar dan mengeret kopernya, lalu menyimpannta diluar, Bima yang melihat Arum keluar segera mengikutinya. Dan langsung menepuk Arum dari belakang, sampai Arum kaget.
"Ehh maaf ya "
"Iya gak apa apa "
Saat Arum akan masuk lagi Bima memegang tangan Arum namun Arum langsung melepaskanya "kamu mau kemana kok buru buru banget, ngobrol ngobrol dulu sebentar "
"Gak lama kok, gak akan lama kita ngobrol dulu diluar, kamu kok bisa ya nikah sama Angga, padahal Angga dulu gak pernah bawa kamu ketongrongan loh. Tiba tiba aja nikah sama kamu "
"Kita sahabatan "
"Oh ternyata nikah sama sahabat, ayo sini duduk disini " sambil menepuk tempat duduk sebelahnya. Namun Arum hanya diam saja ditempat.
"Maaf aku tidak mau ada fitnah " setelah mengatakan itu Arum langsung masuk kedalam rumah.
Bima sendiri langsung bangkit dan tersenyum "makin menarik nih "
Bima langsung mengikuti Arum dan ternyata masuk kedalam kamar itu, saat dirinya akan masuk juga tiba tiba.
"Bim ayo bantuin ini " tanya Dean
Bima mau tak mau akhirnya membantu Dean "dari mana sih "
"Tadi deketin Arum dulu "
"Gila ya, dia itu istrinya Angga loh, kamu jangan macem macem deh sama Angga, masih banyak loh cewe didunia ini bukan istrinya Angga aja "
"Ya tapi gimana aku tertariknya sama Arum, maklum waktu nikahkan cuman lihatnya sekilas tapi sekarang langsung lihat tanpa dandan cantik banget, dan makin buat pengen dapetin dia "
"Inget Angga temen sendiri, jangan kayak gitu kasian tau gak sih Angga sama Arum jangan hancurin rumag tangannya "
"Kita lihat aja apa Arum akan jatuh ketanganku, apa dia akan setia sama suaminya."
"Siapa yang setia sama suaminya " mereka langsung mengalihkan pandangannya keasal suara ternyata itu Angga.
Dean sudah sangat takut, takut Angga mendengar semuanya, bisa ancur nih perteman mereka gara gara Bima.
"Engga itu temen aku Angga, biasalah temenku lagi menguji istrinya setia atau tidak "
"Oh gitu ya, yaudah yu kita beres beres lagi, "
"Ayo ucap mereka serentak "
**
Arum duduk disamping Hanin dan "Rum kenapa lama " bisik Hanin.
Arum mengalihkan pandangannya dan menjawabnya juga dengan cara berbisik "tadi ada temennya Angga, tiba tiba mau ajak ngobrol dari gerak geriknya udah kelihatan aneh banget"
"Yang mana, kan ada dua Rum "
"Ya agak gemukan loh yang itu "
"Oh yang itu hati hati aja, selain ajak ngobrol ngapain lagi "
"Suruh duduk disampingnya gila aja kan itu laki laki, kalau bukan temennya Angga udah aku timpuk pake koper, enak aja aku duduk disampingnya dia aja bukan siapa siapanya aku "
"Wah wah gak bener ini mah, kamu harus ngadu sama Angga kalau didiemin gak akan bener, kamu juga harus hati hati apa lagi nanti kalau ditinggal kerja sama Angga, bukan soudzon atau kegeeran ya Rum, tapi harus hati hati deh ahh "
"Iya makannya Hanin, aneh bangetkan baru juga kenal udah kayak gitu, kalau emang mau tanya tanya kenapa gak pas ada Angga aja, ini malah Angga lagi gak ada dia tanya aku dan nyuruh nyuruh aku duduk ngobrol sama dia "
"Hemm ayo kita keluar sama aku, dia berani gak deketin kamu"
Arum mengangukan kepalanya mereka keluar dari dalam kamar dengan berbagai barang, bahkan Hanin sengaja bawa barang banyak, dan tiba tiba saja barang yang Arum bawa menghilang ada yang mengambil ternyata oleh Bima.