
Sekarang Arum dan juga Sasa sudah ada di ruang kepala sekolah, Sasa sesudah menceritakan semuanya meskipun masih ada rasa takut, namun Arum dengan semangat menyemangati Sasa agar tidak takut karena di sampingnya ada dirinya.
Sekarang Farah dan teman temannya sedang dipanggil oleh staf lain untuk segera menemii kepala sekolah, dan mereka berempat sudah udah datang dan duduk.
Farah menatap Sasa dengan melotot dan tidak percaya ternyata dia masih hidup. Tadi pagi memang dirinya dan kawan-kawannya tak mengecek lemari itu, karena kesiangan ternyata orangnya masih ada disini di ruang kepala sekolah.
"Farah kamu jujur kamu membuly Sasa kemarin "tanya kepala sekolah
" Enggak kok kita berempat itu bu kemarin adik kelas kok sama sekali nggak ketemu sama Sasa Beneran deh "bela Farah
"Tapi Ibu dapat laporan dari Sasa dan Bu Arum kalau kamu membuly Sasa dan memasukkan dia ke dalam lemari. Bagaimana kalau sasa meninggal di sana. Apakah kamu tidak memikirkan itu konsekuensi yang akan kamu dapat. Sebenarnya apa yang membuat kamu sampai membuly Sasa dia anak yang baik tak pernah membuat ulah "
"Bu percaya sama Farah mana mungkin aku ngebully Sasa, dia aja kali yang mau diperhatiin sama guru makan nya Bilang sama Bu Arum"
"Saya menemukan Sasa di dalam lemari waktu kemarin saya baru pulang dan mendengar suara tangisan saya buka di sana ada Sasa, yang sudah dilumuri telur, tepung dan juga basah kuyup. Dan tentu lemari itu dikunci mana mungkin Bu, Sasa masuk sendiri, karena yang benci pada Sasa hanya Farah dan teman-temannya saja. Ini bukan pertama kalinya saja bu Sasa dibully seperti ini oleh Sasa dan teman-temannya " Bella Arum.
"Ibu berkata seperti itu karena berteman dengan Sasa, makannya ibu membela dia kalau saja ibu berteman dengan Farah mungkin ibu akan membela Farah "
"Kalau pun saya tidak berteman dengan Sasa saya akan tetap pembela kebenaran, dan kalau saya menjadi teman kamu saya sudah melaporkannya, kamu jangan mengelak terus Farah banyak saksi kamu yang sudah membully Sasa. Apa perlu saya paparkan satu persatu apa saja yang sudah kamu lakukan pada Sasa, apa itu mau kamu saya sebagai saksi disini "
"Sudah sudah kenapa inI jadi ribut " ibu kepala sekolah segera menengahi
"Maaf bu saya hanya kesal saja dengan Farah, dia tidak mau berbicara tentang kesalahannya, apakah perlu saya tanya satu persatu temannya"
"Tidak usah bu Arum, saya sudah percaya dengan apa yang bu Arum katakan. Karena saya tahu bu Arum tidak pernah berbohong dan bu Arum juga saksinya kan "
"Iya bu, terimakasih "
"Baiklah untuk kalian Farah, Dea, Chika dan juga Novi mulai sekarang kalian harus membersihkan kamar mandi perempuan, kelas kalian selama satu bulan penuh, tidak ada penolakan sama sekali ini adalah hukuman paling ringan, jika kalian sampai membully Sasa lagi atau murid-murid yang lain kalian berempat akan saya keluarkan"
"Kenapa seperti itu bu, kenapa ibu langsung percaya dengan ucapan bu Arum, dia kan tidak punya bukti bu, Farah tidak mau melakukannya . Farah akan memanggil ayah Farah untuk sini "
"Silahkan Farah, mau ayah kamu datang ke sini ataupun tidak, ibu akan tetap memberikan hukuman itu pada kalian berempat. Karena ini mengancam nyawa seseorang. Untung saja Ayah Sasa tidak kesini, untuk saja Sasa tidak melaporkannya. Kamu tahu kan ayah Sasa adalah orang yang paling berpengaruh di sekolah ini kalau tidak ada Ayah Sasa maka sekolah ini sudah ditutup dari dulu. Harusnya kamu bersyukur dan berterima kasih pada Sasa karena dia tidak melaporkan kalian pada ayahnya. Kalau sampai dilaporkan bagaimana dengan kalian berempat, saya sudah memberikan hukuman teringan untuk kalian berempat, sampai saya melihat kalian melakukan hal yang membuat Sasa celaka atau sampai ada yang melaporan lagi tentang kalian yang membully Sasa saya tidak akan tinggal diam. Saya akan memberikan hukuman lebih dari ini, selain dikeluarkan kalian tak akan mendapatkan nilai nilai kalaian untuk masuk kesekolah lain "
Farah dan teman temannya, tanpa mengatakan apa-apa mereka langsung pergi meninggalkan ruangan kepala sekolah.
"Sama-sama lain kali kamu bilang Sasa, jangan dipendam sendirian ya. Di sini tidak boleh ada pembullyan seharusnya kamu jangan takut dengan mereka berbicara jangan diam saja"
" Baik bu saya permisi ya "
Sasa segera pergi bersama Arum yang mengandeng Sasa. " sekarang kamu masuk ke kelas, kakak akan masuk ke perpustakaan, sekarang kamu nggak usah takut ya pokoknya kamu harus Lawan mereka "
"Iya bu makasih, aku masuk ya bu "
"Iya Sasa "
**
"Ini nggak bisa didiemin, aku gak mau Sasa sampai menang gitu aja, kita harus beri pelajaran sama bu Arum itu, dia tuh guru baru di sini tapi dia udah songong banget, pokoknya enggak bisa dibiarin. Enak aja harga diri aku di nginjek injek gini sama mereka berdua "marah Farah.
"Udahlah Farah, kita gak usah usik lagi kehidupan Sasa, kalau gak pendidikan kita yany jadi taruhannya, aku mau menyelesaikan sekolah di sini tanpa ada hambatan sedikitpun" protes Novi.
"Oh jadi sekarang Novi jadi seorang pecundang, kamu ingin seperti Sasa ditindas oleh ku, apakah sekarang aku harus pindah haluan saja padamu Nov, kau ini dengan ku sudah berteman lama, kenapa sekarang malah menjadi pecundang seperti ini "
"Aku bukannya menjadi seorang pecundang, Aku hanya takut sekolahku menjadi sasarannya. Kau tahu aku bukan orang kaya sepertimu. aku hanya orang biasa kalau saja aku sampai dikeluarkan Aku tidak akan punya apa-apa dan aku akan menjadi apa nantinya "
"Jangan kau takut ada aku, kenapa kau harus risau, aku akan menanggung hidup mu tenang saja Nov, jangan takut seperti itu kau ini sungguh tak percaya denga teman kecil mu ini, aku akan membantumu jika kita dikeluarkan dari sekolah tenang " ucap Farah sambil menepuk nepuk bahu Novi.
Novi hanya bisa mengangguk, tak mungkin membantah lagi, yang ada nanti dirinya akan sama seperti Sasa di bully terus menerus tanpa ampun.
"Sekarang kita harus balas dendan pada bu Arum, dia saja dulu jangan pada Sasa, kita buat bu Arum tak betah disini agar dia keluar dan tak ada yang membela Sasa lagi, jadi kita bisa leluasa membuly kembali Sasa, apakah kalian setuju "
"Tentu kami setuju, kita lakukan sesuai rencamu aku dan yang lainnya akan ikut apa yang sudah kau rencanakan, "jawab Chika
"Baiklah ayo kita buat rencana, semuanya harus berjalan dengan lancar "
Farah segera pergi sambik tersenyum misterius dan tanpa mereka ketahui dari tadi ada yang mendengar mereka.