Mereka Yang Tak Terlihat

Mereka Yang Tak Terlihat
Akhirnya terjadi juga.


Arum dan juga dan juga Angga sudah ada dirumah meskipun Angga ragu untuk tinggal disini namun bagaimana lagi ini rumah mereka, dan syukuran akan dilakukan besok.


Angga melihat Arum yang sudah membuka kerudungnya, begitu cantik ciptaanmu Tuhan, Arum duduk disamping Angga, dia begitu malu tapi mau bagaimana lagi dia Angga suaminya, Angga berhak melihat dirinya.


Angga yang tadi ketakutan sekarang sudah melupakannya, Angga memegang tangan Arum dan menciumnya "apakah kau sudah siapa memberikannya padaku Arum, apakah kau sudah siapa "


Arum dengan malu malu mengangguk "iya aku sudah siapa Angga kau suamiku, mana mungkin aku tak memberikan hak mu, aku pasti akan memberikannya "


Angga bangkit dan mematikan lampunya, dirinya yakin Arum pasti akan malu, karena dirinya juga pasti akan malu, Angga mencium kening Arum lalu membaringkan badan Arum.


Sebelum melakukan malam pertama mereka Angga membacakan dahulu doa Bismillah, Allahumma jannib naassyyaithaana wa jannibi syaithoona maarazaqtanaa.


Setelah itu Angga mencium kembali kening Arum dan langsung melakukan hubungan suami istri, semoga nanti anak mereka menjadi anak yang sholeh dan slehah.


**


Angga membuka bola matannya dan melihat kearah sampingnya sang istri sudah tak ada,Angga bangkit namun dia lupa dirinya baru saja melakukan hubungan suami istri dengan sang istri.


Tubuhnya masih telanjang bulat, Angga mengambil selimbut dan membersihkan dirinya, setelah selesai Angga memakai pakaiannya yang sudah disiapkan sang istri dipinggi tempat tidur.


Tak lupa Angga membereskan dahulu tempat tidur setelah yakin semuanya beres Angga keluar dari dalam kamar.


Angga terus saja menyusuri rumahnya mencari sang istri, ternyata istrinya ada didapur dengan ibunya, sedang memasak.


"Angga kamu ini bangun siang, bukannya bantu istri malah bangun siang"


Angga hanya mengaruk kepalanya yang tak gatal, binggung harus menjawab apa "hehehe maaf bu kemarin__"


"Iya iya ibu tau pengantin baru, ibu mengerti bagaimana pengantin baru tak usah dijelaskan"


Angga kembali tersenyum dan istrinya juga tersenyum kecil sambil mengambil nasi untuknya.


"Udah Rum ini aja, udah cukup kok kamu udah makan "


"Arum udah makan sama ibu, tadi dia mau tunggu kamu tapi ibu memaksannya untuk makan terlebih dahulu sama ibu, kamu tenang saja istrimu akan aman ditangan ibu, sudah kau makan saja sebelum datang ibu ibu yang akan membantu "


"Baiklah bu "


Arum kembali sibuk dengan ibu mertunya "Rum bagaimana apakah nyaman tinggal disini "


"Alhamdulillah bu nyaman" meski sebenarnya menakutkan.


Arum yang melihat suaminya akan menimpalinnya langsung mengelengkan kepalanya


"Alhamdulillah kalau begitu ibu senang kalau kamu nyaman tinggal di sini, kalau nanti kalian berdua memang betah tinggal di sini Ibu rencana mau beliin kalian rumah di sini rumah ini akan ibu beli "


Angga langsung tersedak yang mendengarnya, Arum langsung memberikan minum pada sang suami.


"Ibu jangan deh nanti Arum kan sama Angga juga mau cari rumah yang lebih gede lagi, nanti juga kan Angga akan punya anak, jangan beli rumah ini ya bu kita cari tempat yang lain yang lebih nyaman dan ramah lingkungan "


"Memangnya kenapa rumah ini juga besar enak ramah lingkungan dan juga tetangga-tetangganya di sini pada baik kenapa ya mau cari yang lain"


"Emm karena Angga pengen cari rumah yang deket kantor bu "


"Begitu ya baiklah ibu tak akan melarang kalian yang penting kalian nyaman"


"Makasih bu "


Angga lega akhirnya ibunya tak kesal dan marah, dirinya tak akan mungkin bisa tinggal disini untuk waktu yang lama..