
Sedangkan Aldi sedang memotret Ayudia yang sudah hancur bertebaran di atas tembok "wah wah ini bagus sekali, pasti akan viral deh kalau masuk tik tok harus direkam ni, siapa tau bisa dapet uang banyak kan dari rekaman ini. Jadi aku tak sia-sia masuk kedalam dunia gaib ini "
"Eh tunggu dimana ya Ayudia, akukan mencarinya kok jadi fokus kesini sih" tiba-tiba saja ada telfon masuk dari Ayudia dengan senang Aldi segera mengangkatnya.
"Hallo Ayu, kamu dimana, aku mencarimu, dari tadi kamu ga ketemu-ketemu. Kenapa ga dari tadi kamu telfon aku coba Ayu "
"Aku ada dihadapan mu Aldi. Masa kau tak melihatnya, aku sangat dekat denganmu "
"Mana tak ada siapa-siapa disini, jangan main-main Ayu, kita tidak sedang disekolah ya, kita sedang dalam bahaya "sambil mengedarkan pandangannya. Melihat sekitar namun tetap tak ada Ayudia bahkan bayangannya saja tak ada sama sekali.?
"Disini Aldi, aku dihadapan mu. Tolong aku Aldi hahaah, tolong aku. Aku terperangkap. Ayo tolong satukan lagi tubuh ini menjadi semula lagi. Aku tak mau menempel seperti ini Aldi, ayo lakukan sesuatu untuk ku Aldi jangan diam saja dan menatapku seperti itu "
Aldi segera mengarahkan pandangnya kearah daging-daging yang ada ditembok. Daging itu bergerak dan mengeluarkan suara "ini aku Ayudia, Aldi bagaimana sudah ketemukan , ayo rekam aku lagi Aldi cepat cepat "
"Tidak tidak, tidak mungkin, ini mustahil ini hanya hayalan ku saja kan " sambil memundurkan tubuhnya dan mengeleng-ngelengkan kepalanya tak percaya dengan semua ini. Dagingnya berbicara menirukam suara Ayudia.
Sedangkan daging itu malah mentertawakan wajah Aldi yang syok dan ketakutan."tidak ini nyata Aldi, nyata seperti yang kau lihat "
Aldi segera memundurkan dirinya menjauh dari sana, lalu segera berlari. Sampai Aldi terjatuh dan kepalanya membentur ke ubin membuatnya berdarah.
Namun itu tak melunturkan semangat Aldi untuk segera kabur dari hadapan Ayudia yang mengerikan.
Angga segera masuk kedalam ruangan sambil menuntun Arum, karena Arum yang ingin turun, saat mendekati pintu masuk ada yang memukul Angga "akh sakit " teriak Angga.
"Maaf Angga maaf kirain aku orang yang bawa palu tadi " ucap Feri dengan wajah bersalahnya.
"Iya gapapa tenang aja Fer, pukulan kamu ga terlalau sakit kok "
"Kalian disini cuman berdua aja, yang lainnya mana " tanya Arum
"Iya , yang lain gatau kemana belum ketemu Rum, Rumah sakit ini kaya labirin. Kita semua hanya berputar putar ditempat yang sama namun susah untuk menemukan satu sama lain" jawab Feri.
"Iya benaelr juga Fer, bagaimana coba carannya kita keluar kalau seperti ini terus. Bahkan teman-teman kita sudah ada yang mati dan yang lain tak tau dimana keberadaanya " timpal Angga
Sedangkan Tinah sedang kebakaran jenggot karena melihat Arum dan Angga berpegangan tangan tanpa melepaskannya sama selali. Bahkan sedang diam seperti ini masih aja lengket. Lalu Tinah tersenyum licik. Akan dia buat Arum selamanya terjebak dalam dunia ini.
Potongan kertanya ada padanya. Lihat saja Angga akan menjadi miliknya seutuhnya. Tak ada Arum lagi, Arum s penganggu harus segera di enyahkan dari dunia ini. Arum lebih baik diam disini saja.
"Lalu Hanin dan Ayudia mereka kemana ya " tanya Arum
"Maaf Ayudia sudah mati " jawab Feri lagi.
Arum seketika lemas tak bisa menahan tubuhnya sama sekali. Untung ada Angga yang menahanya lalu memeluk Arum dengan erat.
"Lihat kami menemukan sebuah kaset siapa tau disini ada petunjuknya, Biar kita keluar dari sini " ucap Tinah mengalihkan Angga dan Feri yang fokus pada Arum
"Dimana harus menyetelnya harus ada komputer " jawab Feri.
"Tidak bisa, aku dan Arum harua mencari Hanin "
"Jangan seperti itu ayo kita tonton sama-sama nanti kita cari Hanin bersama. aku dan Feri ga bisa kalau harus nonton berdua aja " minta Tinah.
"Baiklah " jawab Angga setelah mendapat anggukan dari Arum.
Angga segera melepaskan pelukannya dan mensejajarkan tubuhnya dengan Arum, mengusap air mata Arum dan mengecup kening Arum cukup lama.
Tinah yang cemburu segera berjalam lebih dulu dan menyenggol Arum dengan sengaja, utung saja Angga masih memegangnya.
Angga hanya mengelengkan kepalanya tak mau berdebat dengan Tinah dan akhirnya buang-buang waktu, jadi lebih baik diam saja. Segera Angga mengandeng tangan Arum berjalan mengikuti Tinah
Mereka semua bahkan sudah ada di ruangan tadi segera memasukan kaset itu dan melihat isi dari dalamnya.
"Itu kan pak Nurdin yang meneliti tentang kematian Sarah, ibunya dan korban-korban yang lain " ucap Tinah.
Didalam kaset itu ada 3 orang satu kameramen dan seorang lagi asisten pak Nurdin.
"Pak apa kita akan bisa kembali lagi kedunia kita. Disini sangat menyeramkan sekali." tanya asisten pak Nurdi..
"Tenang saja, selagi ada arwah Sarah kita bisa keluar. Jangan khawatir" jawabnya dengan percaya diri.
"Disini auranya sangat besar, banyak arwah-arwah penasaran berkeliaran" ucap pak Nurdin mengarah pada kamera.
"Pak itu siapa ada orang ternyata disini " ucap asistennya sambil menghampiri orang yang membawa palu besar itu.
"Hallo hallo apa kau bisa membantu kami " ucap asisten pak Nurdin.
Pak Nurdin yang baru ingat kalau itu adalah penjaga alam gaib ini segera meneriaki asistenya "mundur mundur kembalilah, jangan dekati dia berbahaya "
Belum juga asistenya menjawab, asistenya sudah dipalu telebih dahulu kepalanya oleh orang itu. Pak Nurdin dan kameramen segera berlari dengan terbirit-birit.
Sekarang pak Nurdin sedang mengumpat dan memegang kameranya sendiri diruangan yang sekarang Arum dan kawan-kawan berada, sambil memegang sebuah kertas yang diarahkan kekamera.
"kedua temanku sudah mati. Jika kalian terjebak dalam dunia gaib selain bertemu dengan Sarah kalian juga bisa melakukan akhhhh " belum juga selesai orang yang membawa palu itu sudah datang mengusur pak Nurdin lalu membunuhnya.
Sampai darahnya mengenai kamara. "Sialan, kita ga bisa keluar dari sini, percuma dari tadi kita mencari cara untuk keluar " teriak Feri yang frustasi. Perjuangannya sia-sia.
Angga segera melepaskan pegangan tangannya pada Arum lalu mencari keberadaan kertas yang di pegang pak Nurdin. Dia yakin bahwa pak Nurdin mati disini.
Angga sampai membungkuk. Mencari keberadaan kertas itu. Siapa tau masih ada kan.
Tada ketemu "lihat lihat ini yang dibawa pak Nurdikan, benarkan aku ga salah" ucap Angga dengan senyum leganya.
"Iya benar itu Angga, hebar kamu akhirnya kita bisa keluar juga disini dengan selamat meski tampa teman-teman yang lainnya " ucap Tinah senang, sambil mengambil dari tangan Angga