Mereka Yang Tak Terlihat

Mereka Yang Tak Terlihat
Pak Dimas


"Nah aku udah dapat tentang sejarah rumah peninggalan Putri Ayu Ningsih kita baca buku ini sekarang"


Arum dan kakak tingkatnya itu ada di sebuah perpustakaan besar di kota ini . Hanya mereka saja yang ada dalam perpustakaan tua ini. Arum segera membaca 1 per 1 halaman dan saat sudah merangkum semuanya Arum segera menarik kakak tingkat itu untuk segera pulang.


"Bagaimana apakah kau sudah menemukannya "


"Ya kita sekarang harus bertemu dengan pak Dimas, dia adalah orang kepercayaan Putri Ayu, kita harus tanyakan sejarahnya pada dia, karena tertulis kalau Putri ayu memiliki hubungan dengan pengacarannya yang bernama Paul. "


"Lalu kenapa kita tak bertemu dulu dengan Paul, sebelum pak Dimana "


"Tidak aku ingin tau dulu dari pak Dimas, tentang sejarah Putri Ayu dan juga pak Dimas, kita kan gak tau cerita yang sebenarnya, apakah Putri ayu selingkuh dengan pak Dimas atau pak Paul, karena aku baca Putri Ayu mengadopsi anak, dia bernama Saidah, kita harus mencari kebenarannya, kenapa Putri Ayu sampai mengadopsi Saidah, apakah ada sesuatu yang disembunyikan "


"Ya benae kita harus membukannya sendikit sendikit, siapa tau dalam kasus itu kita bisa memberi keadilan pada pamanku "


"Ya kau benar Kakak, Kita harus mencari semuanya. Karena na kita nggak tahu siapa orang yang memfitnah Paman kamu, bisa sjaa orang terdekat dari Putri Ayu, karena kan kejadian itu pun terjadi di gedung itu kan Benar kan "


" Iya kamu benar, kamu pintar "


"Lalu kita harus mencari apa lagi, "


"Kita harus mencari kebenaran, tentang kematian Putri ayu dulu deh, kita kumpulin lagi bukti bukti "


" Oh ya aku juga baca kalau Pak Dimas itu dokter kepercayaannya Putri Ayu juga, dan ditubuh Putri Ayu itu terdapat obat-obatan yang Aku pun tidak tahu apa itu dan aku harus mencarinya dulu itu obat apa. "


"Sepertinya ini akan rumit ya, Apakah kamu sanggup Arum membantuku "


"Tentu aku sudah memutuskan untuk membantumu, berarti aku mampu untuk membantu mu kak, aku akan membantumu sekuat aku bisa dan sebisaku "


"Baiklah terima kasih kau sangat baik Arum"


" Itu orang kenapa ya bicara sendiri " ucap orang orang yang melihat Arum dari tadi berjeloteh sendiri.


"Kamu enggak malu Rum, orang-orang bilang kamu bicara sendiri "


"Engga kok, aku gak malu, sekarang kita pergi ke rumah Pak Dimas "


"Apakah kamu punya alamatnya "


"Tentu aku punya alamatnya"


"Kau sangat pintar "


"Tentu saja aku pintar apakah kau baru menyadarinya "


"Baru juga di puju sudah besar kepala "


"Mana kepalaku tak besar kok kak, kakak aja tuh yang kepalannya besar "


"Dih enak aja, sini pegang tangan kakak, kita gandengan "


Arum segera mengangguk, mengadeng tangan kakak tingkat itu dan berjalan dengan riang, tak pedulu dengan omongan orang orang yang menyebutnya gila, yang terpenting dirinya senang melakukan ini.


"Ini rumah pak Dimas"


"Iya, ayo kita masuk, "


Arum segera mengetuk pintunya dan keluar pak Dimas yang sudah sangat tua sekali.


"Cari siapa " ucap pak Dimas.


"Saya mau cari pak Dimas, bapak pak Dimas kan, perkenalkan saya Arum"


"Mau apa kau kemari "


"Saya gak mua bahas itu lagi " sambil menutup pintunya.


"Lo kok pintunya ditutup, terus kita harus ke mana Rum , jalan mana kita " tanya kakak tingkat


"Ayo udah ikut aku aja, pasti akan ada jalan. Nggak mungkin deh dalam satu rumah ada satu pintu aja pasti ada pintu pintu lainnya. Karena rumah aku pun punya banyak pintu, ayo ayo sekarang kita cari "


Arum dan kakak tingkat itu segera mencari pintu yang lain, dan benarkan apa kata Arum ada pintu yang terbuka dengan cepat Arum masuk, di ikuti kakak tingkat itu sambil mengenggam tangannya.


"Pak Dimas "


"Eh kenapa kau bisa masuk kedalam rumahku, bukannya aku sudah menguncinya kan "


"Pak bapak tidak hanya memiliki pintu sant, bapak punya dua pintu, jadi saya masuk pintu belakang, maaf ya pak kalau saya tak sopan tapi ada yang perlu saya bicarakan "


"Apa sebenarnya yang ingin kau ketahui"


"Aku hanya ingin tau sejarah tentang Putri Ayu Ningsih, itu saja pak "


"Untuk apa kau ingin mengetahui tentang Putri, ada urusan apa kau dengan dia "


"Aku tau dimana Saidah, dan aku ingin tau kenapa Saidah tak memiliki sepeser pun harta dari Putri "


"Benarkah, kau tau dari mana tentang Saidah, "


"Tentu aku tau dia, maka ayo ceritakan tentang kematian Putri Ayu "


"Baiklah Putri Ayu adalah orang yang paling di takuti, pada masanya dia adalah orang terkaya dan juga orang tercantik di kota ini, banyak laki laki yang suka padanya, namun dia malah memilih Paul si laki laki tak berguna itu, Saidah adalah anak dari Putri Ayu dan juga Paul s pengecara tak tau diri itu "


"Jadi Saidah adalah anak kandung Putri Ayu "


"Tentu, dia adalah anak sahnya, tapi Putri Ayu memang sengaja menyembunyikan identitasnya, supaya tak ada yang mengetahuinya kalau dia sudah mempunyai anak "


"Lalu pak Dimas sekali menyuntikan obat kepada Putri Ayu, itu obat apa, kenapa pak Dimas selalu menyuntikannya "


"Itu obat vitamin tak lebih, Saidah sejak kecil tak pernah diberi kasih sayang oleh Putri, hanya kekerasan saja yang dia terima, bahkan aku yang selalu mengurus Saidah, Paul ayahnya sama sekali tak peduli, harta dia yang memilikinya, sungguh aku tak habis fikir dengan Paul "


"Baiklah, tapi apakah benar itu obat Vitamin pak Dimas "


"Tentu aku tak mungkin membunuh Putri Ayu, untuk apa aku melakukannya "


"Aku tak berkata seperti itu pak "


"Su sudah kalian pergi dari rumahku, ayo sana pergi " usir pak Dimas.


Akhinya Arum dan juga kakak tingkat segera pergi, karena ini sudah cukup untuk dirinya.


"Bagaimana apakah kau menemukan sesuatu "


"Tentu, aku jadi mencurigai pak Dimas, sepertinya dia dalang dari pembunuhan ini "


"Iya juga ya, dia tadi gugup, lalu kamu tau Saidah ada dimana apakah kau pernah bertemu dengannya "


"Tidak aku hanya mengasal saja, agar dia mengaku, dan berbicara sesuatu denganku, siapa tau kan dengan cara itu dia bisa berbicara, ternyata benarkan dia berbicara "


"Iya kau bener, ku kira kau memang tau keberadaan Saidah "


"Tentu saja aku tak tau kak, aku tau dari mana coba "


"Ya sudah kita teruskan saja besok dan kita akan menyelidiki pak Paul ya, ayo pegang tanganku lagi "


Arum dengan senang hati segera memegang tangan itu dan mengandengnya dengan senang, lalu sesekali bercanda dengan kakak tingkat itu, saling melempar gurauan dan membuat orang orang menyangka Arum gila.